PERNIKAHAN KONTRAK

By IU_2493

397K 10.1K 34

(End) Rheazura Keisha Radhisty, seorang gadis cantik yang di paksa menikah oleh kedua orangtuanya. Rhea yang... More

PROLOGUE
PK : Part one
PK : Part Two
PK : Part Three
PK : Part Four
PK : Part five
PK : Part Six
PK : Part Seven
PK : Part Eight
PK : Part Nine
PK : Part Ten
PK : Part Eleven
PK : Part Twelve
PK : Part Thirteen
PK : Part Fourteen
PK : Part Fifteen
PK : Part Sixteen
PK : Part Seventeen
PK : Part Eighteen
PK : Part Nineteen
PK : Part Twenty
PK : Part Twenty One
PK : Part Twenty Two
PK : Part Twenty Three
PK : Part Twenty Four
PK : Part Twenty Five
PK : Part Twenty Six
PK : Part Twenty Seven
PK : Part Twenty Eight
PK : Part Twenty Nine
PK : Part Thirty
PK : Part Thirty Two
PK : Part Thirty Three
PK : Part Thirty Four
PK : Part Thirty Five
PK : Part Thirty Six
PK : Part Thirty Seven
PK : END
EPILOGUE

PK : Part Thirty One

7K 202 0
By IU_2493

"Hey! Kamu pikir aku setua itu!" ujar Rhea sewot sambil menggeplak lengan atas Daffa.

Beberapa pekan terakhir, Rhea menjadi super sibuk dengan kantornya, ralat, kantor Ayahnya yang di percayakan padanya. Hal itu membuat Rhea merasa sedikit tertekan karena baru menyelami namun sudah di hantam oleh kerjaan yang menumpuk.

Rhea menjadi sering mengambil lemburan dan menyebabkan dirinya sering pulang larut dan jarang sekali berkomunikasi dengan anak maupun suaminya ketika di rumah.

Ketika Rhea dan Arsyah kebetulan pulang larut, Azzam akan terpaksa menginap di rumah sang nenek dan akan di jemput oleh sang ayah esok hari menjelang petang. Rhea merasa beruntung sekali karena Azzam yang menurut sekali padanya. Azzam selalu melakukan apa pun yang di katakan sang Bunda tanpa berniat menentang.

"Kantung mata mu terlihat jelas, itu sudah menjelaskan kamu yang terlalu fokus pada kerjaan mu hingga lupa cara merawat diri."

"Aku tersinggung!"

"Maaf kalau begitu, aku hanya berniat bercanda."

Selama ini juga Rhea menjadi dekat dengan Daffa, sang manager keuangan di kantornya.

Terkadang, Arsyah juga merasa terlihat cemburu karena Rhea yang suka bertelepon ria dengan Daffa, padahal Daffa sudah tahu jika Rhea sudah bersuami dan memiliki seorang putra.

Dekat karena bisnis, hal itu yang selalu menjadi alasan utama seorang Rhea ketika Arsyah selalu bertanya mengenai hubungannya dengan Daffa.

"Bunda, Azzam pengen pipis!"

"Pipis? Mau Bunda antar?"

"Tidak usah, Bun. Azzam bisa sendiri," tolak Azzam lalu beranjak dari kursi.

"Hati-hati ya sayang," seru Rhea dan di balas gumaman pelan oleh Azzam.

"Anak mu tumbuh dengan baik, usianya masih lima tahun kurang namun sudah bisa mandiri, hebat!" puji Daffa.

Rhea tersenyum sebentar, dan menyanggah dagunya dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja.

"Dia mewarisi sikap Ayahnya, dingin, monoton, dan perfeksionis," ujar Rhea.

"Kamu tahu sendiri, tadi saat dia bilang ingin pipis, dia berkata begitu dingin walau dengan ku. Dia juga kalau melakukan apa-apa ya harus sempurna, sama kaya Ayahnya, bagaimana pun caranya apa yang dikerjakannya harus selesai dengan sempurna, begitu," timpal Rhea sambil menegakkan posisi duduknya.

"Lalu bagaimana tanggapan suami mu mengenai hal ini?"

"Maksud mu mengenai Azzam?" tanya Rhea dan mendapatkan anggukan pelan dari Daffa.

"Dia malah meninggi, dia selalu bilang, benih saya memang benih unggul, tidak salah jika putra saya mewarisi apa pun tentang saya," ujar Rhea sambil terkekeh.

"Ternyata Pak Presdir bisa bercanda juga, ya," sergah Daffa sambil tertawa pelan.

"Bunda!"

"Iya sayang?"

"Tadi, saat Azzam keluar dari toilet tidak sengaja menyenggol seorang wanita dan membuat kopinya tumpah lalu mengenai bajunya, jadi Azzam meminta maaf, namun wanita itu tidak terima dan berakhir Azzam memberikannya kartu debit milik Bunda," ujar Azzam polos.

Rhea terdiam sesaat, memang dompetnya di simpan di tas kecil milik Azzam.

"Azzam, astaga! Bagaimana bisa kamu memberikannya begitu saja? Lalu, kamu beri tahu pinnya? Tunggu, memangnya kamu tahu?" tanya Rhea sambil mengambil dompetnya di tas Azzam, mengecek beberapa kartunya dan ternyata benar, satu kartu debitnya tidak ada satu.

"Ayah yang memberitahu," jawab Azzam mantap.

"Sialnya dia juga mewarisi sifat boros Ayahnya!" ujar Rhea sambil menepuk pelan dahinya.

***

"Ayah!"

"Hey Son!"

Happ!

"Putra Ayah sudah berat ternyata, bagaimana jalan-jalan bersama Bundanya? Senang?"

"Sangat senang! Lihat--Azzam di berikan mainan robot sama Om Daffa! Bagus kan Yah?"

"Iya bagus, dimana Bunda?"

"Masih di luar, Yah, mungkin mengobrol dengan Om Daffa, karena tadi kita di antar pulang sama Om Daffa," jelas Azzam.

Arsyah menurunkan Azzam dan membiarkannya untuk bermain dengan mainan barunya. Arsyah hendak menghampiri sang istri namun niatnya pupus ketika baru sampai di pintu, malah berpapasan.

"Hey, saya mencari mu, habis dari mana?"

"Tadi mengobrol sedikit dengan Pak Daffa, kenapa?"

"Tidak apa sih," sahut Arsyah sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.

"Katanya Mas pergi? Kenapa masih di rumah?"

"Ah itu, entah kenapa acaranya batal."

"Batal di hari H? Astaga, bagaimana bisa dia seperti itu. Seharusnya Mas bilang jika acaranya batal, Mas bisa ikut dengan ku," ujar Rhea.

"Sudah tidak apa, sudah masuk jam makan siang, mau makan di luar?"

"Memang Mas senggang?"

"Tentu saja, itulah mengapa saya mengajak."

"Kalau begitu, boleh," sahut Rhea sambil mengangguk. Rhea menyetujui saja karena mungkin beberapa hari kedepan Rhea kembali di sibukkan oleh kantornya, dan makan siang bersama dengan keluarga kecilnya sangat mustahil di lakukan.

"Kalau begitu bersiaplah, saya juga akan bersiap," titah Arsyah.

"Mas sudah rapih, memangnya mau memakai apa lagi?"

Bukan tanpa sebab Rhea berkata sedemikian, memang Arsyah saat ini sudah berpenampilan rapih dengan celana bahan hitam dan kemeja navy yang lengannya sengaja di gulung hingga siku.

"Blazer saya masih di atas, saya harus mengambilnya dan juga rambut saya belum tertata rapih, dan lihat--saya juga masih memakai sandal, Rhea."

Oh my! Rhea melupakan sifat suaminya yang perfeksionis. Rhea tertawa pelan.

"Padahal begitu saja sudah rapih, lho," gumam Rhea pelan.

Memang, selama berumah tangga dengan Arsyah, Rhea tidak pernah, ralat, belum pernah melihat Arsyah mengenakan celana pendek atau sejenisnya yang pendek-pendek. Arsyah selalu memakai setelan casual dan resmi, seperti setelan suit, tuxedo, jas, blazzer, kemeja, celana bahan, dan lain sebagainya, termasuk setelan piyama, bahkan sepatu juga harus mengkilap, itulah mengapa ketika keluar rumah, Arsyah selalu berpantofel, sepatu kets memang ada, hanya saja Arsyah jarang memakainya. Ini sangat menjengkelkan bagi Rhea, suaminya benar-benar sangat monoton.

Suatu hari Rhea pernah membelikan sebuah celana jeans pendek untuk Arsyah, namun sampai sekarang Arsyah tidak pernah memakainya, dan selalu terlipat rapih di lemari baju.

"Azzam, ayo rapihkan mainan mu dan kita keluar untuk makan," ajak Rhea.

"Iya Bunda!" sahut Azzam antusias lalu mulia merapihkan mainannya.

Arsyah sudah kembali turun dengan menenteng sebuah blazer yang dia maksud, dan rambutnya juga sudah rapih memperlihatkan dahinya.

Rhea menghela napasnya jengah, dan mendekati Arsyah.

"Dulu Mas sudah berjanji pada ku untuk tidak merubah gaya rambut!"

"Lho, dari dulu gaya rambut saya selalu begini, Rhea," ujar Arsyah sambil memakai blazernya.

"Tidak, tidak!!" sergah Rhea sambil menggeleng ribut.

"Hey, mau apa?" tanya Arsyah seketika memundurkan dirinya ketika Rhea hendak menyentuh rambutnya.

"Mau membereskan rambut mu!"

"Lain kali jangan begini, tidak sopan, Rhea," tegur Arsyah dengan lembut.

"Ih, aku mau Mas rambutnya kaya dulu!"

"Itu cukup saat kamu lagi hamil Azzam."

"Mas!"

Oke, Arsyah memilih mengalah menyerahkan rambutnya untuk di tata oleh istri galaknya ini. Arsyah menunduk sedikit untuk memudahkan Rhea mengakses rambutnya. Dulu saat masih bersama Prima, Arsyah enggan sekali sama orang yang hendak menyentuh rambutnya, bahkan saat itu, Prima tidak sengaja membuat rambut Arsyah berubah, hal itu membuat Arsyah marah dan mendiami Prima. Oh ayolah ini hanya rambut, dan kenapa harus marah? Kata itulah yang selalu terngiang-ngiang di kepala Arsyah.

"Rambut mu sudah memanjang, di ikat juga bisa."

"Apa kamu berniat mengikat rambut saya?"

"Ya jelas tidak, lah! Nah, sudah! Begini kan makin tampan," ucap Rhea merasa puas dengan hasil kerjanya.

Arsyah melihat dirinya di pantulan cermin yang sengaja di pasang tepat di tangga. Rambut hitamnya yang nampak sudah panjang, tadinya Arsyah hanya menyisirnya dan membuatnya rapih dengan hair spray. Namun kali ini istrinya malah membuatnya lebih rinci dengan menarik sedikit poninya dan menutupi sebagian dahinya.

"Lumayan juga," gumam Arsyah mengakui.

"Lain kali, aku yang akan menata rambut Mas, tidak ada penolakan!"

"T-tapi ...."

"Pergi ke kantor juga aku yang menatakan!"













Tbc

Continue Reading

You'll Also Like

1.2M 104K 42
TAMAT May contain some mature convos. Menjadi janda selama bertahun-tahun membuat Rhea menjadi nyaman untuk sendiri. Terlebih, kehadiran Aksara memb...
547K 11.9K 51
Azila Rivesha tak menyangka, di umur yang ke 24 tahun ia menikah dengan seorang pengusaha kaya. Yang sialnya mereka terhubung dalam pernikahan kontra...
2.5K 114 5
Ana Jannairah, seorang gadis desa,gadis cantik si penyuka hujan. Baginya hujan adalah sesuatu yang menyenangkan dikala masalah datang. Hingga suatu h...
Wattpad App - Unlock exclusive features