Terik sinar matahari siang hari ini tidak mematahkan semangat ketiga anak yang sedang melangkahkan kaki nya untuk menaiki sepeda mereka masing-masing, peluh yang sudah membasahi tubuh mereka sendari tadi tidak menghalangi niat mereka untuk terus mengelilingi komplek perumahan mereka.
"Ayo, bang Caklaa, cepetaann!" ucap Arvie. Cakra Abraham Altezza mengayuh dengan cepat sepedanya tersebut. Ia melaju mendahului kedua temannya, Reza dan Arvie.
Cittt..
Tiba-tiba saja Cakra memberhentikan sepedanya, disusul dengan Reza dan Arvie juga.
"Gimana kalau kita lomba balapan sepeda?Siapa yang sampai sini belakangan, dia yang teraktir kita es krim. Setuju?" tantang Cakra.
"AYO!" sahut Arvie dan Reza bersamaan.
"SATUU.. DUAAA.. TIGAA!"
Cakra, Arvie, Reza mengayuh dengan kuat sepeda nya, sesekali Cakra tersalip oleh kedua temannya. Ia tidak ingin kalah, kalau kalah artinya ia harus mentraktir teman-temannya itu. Tidak, lebih baik uang nya untuk membeli mainan daripada harus membelikan dua tuyul itu eskrim.
Cakra memimpin permainan saat ini, ia berada di paling depan. Sedangkan kedua temannya tertinggal jauh di belakang sana. Kemudian ia beralih mengayuh sepedanya dengan kecepatan yang lebih santai, satu-persatu rumah yang ada di perumahannya ini ia lewati. Ada satu rumah yang sangat menarik perhatiannya. Rumah berwarna putih-silver dan gadis yang sedang bermain di halaman rumahnya bersama wanita cantik, yang ia yakini dari kejauhan itu adalah ibu gadis itu, saat ini menjadi fokusnya.
Ia terus mengayuh sepedahnya menelusuri jalan hingga sepeda nya berhenti tepat di depan rumah yang menjadi fokusnya dari tadi.
"Hai, bang Akra kok disini?" tanya gadis itu.
"Iya, Cakra kesini sama siapa?" tanya ibu gadis tersebut.
"Iya, aku lagi sepedahan keliling komplek sama Arvie sama Reza. Tapi mereka lama!" kesal Cakra.
"Yaudah, bang Akra main disini aja sama aku," ajak gadis itu.
"Iya, tapi aku nggak mau main masak-masakan kayak waktu itu lagi ya, Hanin." pintanya dan di setujui oleh Theophania Hanin Yocasta, satu-satunya teman perempuan Cakra saat ini. Gadis yang sangat cantik, putih, memiliki mata yang indah. Hanin, ia sangat suka mengenakan dress, rambutnya selalu terkepang rapih bak puteri raja yang sedang mencari-cari angin di halaman kastil. Sempurna. Ia mendekati kata sempurna. Cakra senang bisa berteman dengan Hanin.
"Bang Akra mau main apa?" tanya Hanin, polos. "Ah iya! Hanin habis beli mainan baru tau, Abang mau liat?" lanjutnya, kemudian diangguki oleh Cakra. Hanin meraih tangan Cakra menarik ke dalam rumahnya.
"Hey, hati-hati!" ucap ibunda Hanin.
Hanin terus menarik tangan Cakra, langkahnya terhenti di depan kamarnya.
"Bang Akra tutup matanya!" kemudian dituruti oleh Cakra. Hanin menuntun Cakra melangkahkan kaki nya ke dalam kamar yang sangat rapih miliknya.
"Oke, sekarang abang boleh buka mata nya pelan-pelan!" perintah Hanin, yang lagi-lagi di turuti oleh Cakra, "TADAAAA!" lanjutnya.
"Lego?" tanya Cakra, bingung.
"Iya, Anin sama bunda beli lego kemarin, soalnya bang Akra nggak mau main sama Anin sih!" jelasnya. Cakra tersenyum, sangat manis.
"Terimakasih, gadis kecil," ucapnya, sembari mengelus puncak kepala Hanin.
Sejam berlalu, matahari yang semula terik menjadi lebih teduh, langit biru telah digantikan oleh senja di sore hari. Cakra lupa kalau ia sedang balapan naik sepeda dengan Arvie dan Reza. Itu artinya ia harus mentraktir kedua tuyul itu, ia menghela nafasnya, lelah.
"BANG ABLAA!" suara itu milik Anthanasios Aggara-Gara-adik Cakra.
Cakra terkejut, sontak membalikan tubuhnya. Disana ada Gara, Arvie, Reza dan Cato Allard Daffin-Daffin-adik Cakra.
"Bang Abla kok disini nggak kasih tau bunda? Katanya mau sepedahan. Mana nggak ajak Gala juga!" kesal Gara.
"Tau nih, bang Cakla katanya ajak balapan. Tapi malah main sama Anin,"
Cakra terkekeh, menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Sini main," ajak Hanin kepada semua yang ada disana.
"Tapi ini sudah sore Hanin, kita harus pulang," kali ini Daffin membuka suaranya. "Bang, ayo pulang, kamu di suruh pulang sama bunda," lanjutnya.
"Tapi Abra-"
"Nggak ada tapi-tapi Abra, pulang." sarkas Carel Aleczander-Carel-kakak ketiga Cakra.
"Iya, Abra pulang," putus Cakra dengan berat hati. "Hanin, Cakra pulang dulu ya, besok kita main lagi sama mereka" pamit Cakra.
Cakra melangkahkan kaki nya menuju halaman rumah Hanin, tepat dimana ia memarkirkan sepeda kesayangannya itu. Sebelum mengambil alih sepeda nya, tidak lupa Cakra menghampiri Reza untuk memembisikan sesuatu kepada Reza.
"Nanti malam kita main lagi," bisik Cakra.
"Jangan lupa traktiran es krim nya Bang," bisik Arvie pada Cakra, ia mengacungkan ibu jarinya, pertanda 'iya', membuat kedua mata Arvie dan Reza berbinar.
"Ayo pulang!" ajak Cakra kepada adik dan kakaknya itu.
Senja menjadi malam, matahari pun sudah di gantikan tugasnya dengan bulan. Saat ini seorang anak laki-laki menggemaskan sedang menunggu gilirannya mendapatkan makanan. Wanita cantik di depan sana sedang menyiapkan makanan untuk kakak-kakaknya, dan kini giliran ia yang mendapatkan makanan.
"Bun, hari ini makan pakai ayam bakar kesukaan Abra ya?" tanya anak itu.
"Iya, Abra makan yang banyak ya sayang," sahut ibunda Cakra-Nanda-sembari mengelus puncak kepala anaknya ini.
"Bang Abla mam nya jangan banyak-banyak nanti Gala nggak ke bagian!" sinis Gara.
Di samping Gara ada gadis manis yang menatap Cakra dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, adik perempuan Cakra-Sherianne Estella.
"Anne, kenapa?" tanya Nanda.
"Nggak kok bun." jawab Anne, singkat. Nanda tersenyum seraya menghampiri anak bungsunya-Sybella Hermione Oretha-Ella. Gadis mungil yang sangat menggemaskan.
"Hai, anak manis," ucap Nanda sembari mencubit gemas pipi Ella. "Anak bunda mau mam juga, hm?" lanjutnya, sambil tersenyum. Senyum adalah kewajibannya, terutama di depan anak-anaknya. Senyumnya akan terus merekah.
"Maaf, telat turun."
--000--
Hari ini, tepatnya tanggal 8 Desember Sybella Hermione Oretha usianya genap 3 tahun. Nanda yang sudah dari jauh-jauh hari menyiapkan pesta untuk anak bungsu kesayangannya akhirnya pun tiba. Di ruangan serba warna Pink-Putih ini, Ella semakin terlihat menggemaskan dengan balutan gaun berwarna Pink.
Jangan lupakan Sherianne, anak manis ini ingin kalah dari adiknya. Beberapa hari lalu, ia merengek meminta gaun yang sama dengan Ella, katanya 'kalau Ell cantik, Anne juga harus cantik!'. Nanda di buat gemas oleh anaknya ini, kemudian ia segera meminta anak buahnya untuk membuatkan gaun yang sama dengan Ella untuk Sherianne.
Senyum merekah terpacar dari wajah Sherianne, sendari tadi tidak ada hentinya ia berucap 'Anne cantik ya bunda?' 'bang, Anne cantik ya?' 'Ala, Anne cantik kan?' 'bang El, Anne cantikk!' sangat menggemaskan.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya seluruh tamu undangan tiba di pesta ulang tahun Ella. Tak henti-hentinya ucapan selamat ulang tahun serta doa di ucapkan oleh tamu undangan yang telah hadir di ruangan tersebut. Ada beberapa dari mereka yang langsung menyambar makanan dan ada juga yang memberikan hadiah kepada Ella terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat, acara puncak pun di mulai, Sybella yang di dampingi oleh bunda serta kakak-kakak nya, terutama Anne yang sudah setia berdiri di sebelah Nanda sendari tadi. Kini suara tepuk tangan dan nyanyian selamat ulang tahun terdengar memenuhi seluruh ballroom hotel tersebut. Dan..
fyuuhh..
--000--
"YEAYY! ANNE DAPAT KADO JUGAA!" seru Sherianne.
"GALA JUGA!" sahut Gara yang tidak ingin kalah.
"Udah-udah, semua nya dapet kok"
Cakra sendari tadi larut dalam pikirannya. Ia ingin bermain sepeda bersama Arvie dan Reza, ia bosan. Rasanya ingin pergi saja dari rumah ini dan pergi bermain.
"Daf, bang Abra mau ke kamar aja boleh nggak sih?" tanya Cakra.
"Sana!"
"Ck," kemudian Cakra diam, dan topang dagu.
"Hoamm,, Bun..da!"
"Kenapa? Ell ngantuk?" tanya Nanda yang di angguki oleh anak bungsu-nya ini.
"Abra juga bun," sahut Cakra tiba-tiba.
"Ayo ke kamar Abra," ajak Nanda sembari
"Bunda duluan, nanti Abra nyusul,"
Nanda beranjak dari duduknya kemudian melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga menuju kamar Ella. Sebenarnya Ella dan Sherianne tidur dalam satu kamar yang sama, hanya saja kasur mereka berbeda. Sebelah kamar Ella dan Sherianne yaitu kamar Cakra, Daffin dan Gara. Setelah sampai di depan pintu kamar berwarna pink dengan ukiran nama 'Sherianne Estella & Sybella Hermione Oretha'. Nanda membuka knop pintu tersebut, melangkahkan kakinya mendekati ranjang anaknya, lalu membaringkan Ella dengan hati-hati.
Nanda mengelus puncak kepala anak bungsu nya sebelum ia pergi menghampiri Cakra. Selepas itu, ia bangun dan melangkahkan kakinya kembali menuju luar, meninggalkan Ella yang sudah terbiasa tidur sendiri, lalu ia berniat untuk menghampiri Cakra katanya juga mengantuk. Baru saja ia menutup pintu kamar anak bungsunya, alangkah terkejutnya kala ia melihat pemandangan di depannya.
brukk..
"ABRA!"
---000---