"LO CEMBURU SAMA WARIA?" tawa Renata pecah begitu Sienna mengakhiri sesi cerita. Mata cewek itu sampai menyipit, tidak menyangka dengan cerita yang baru saja dilontarkan temannya.
Sienna mendengkus sebal, padahal tadi Renata sudah berjanji untuk tidak menertawakan kisahnya. Namun, siapa yang bisa menahan tawa? Ketika mendengar cerita bodoh Sienna dengan wajah yang masih menggemaskan tanpa mengenal usia. Respons Renata adalah respons yang sama seperti keluarga Sienna di rumah orang tuanya waktu itu. Bhanu membeberkan kepada saudara yang lain membuat Sienna lagi-lagi menjadi bahan olokan dan kejahilan.
Renata menarik napas dalam-dalam seiring dengan tawanya yang mereda. "Seharusnya lo selidiki dulu, jangan asal tembak."
"Ya abis gimana? Dia bilang cuma buat cari diskon sama baca berita, tiba-tiba ada foto profil cewek yang nelpon. Siapa yang nggak curiga coba? Kesannya kayak lagi sembunyiin selingkuhan tau!" Sienna meninggikan intonasi suara, memangku bantal sofa di ruang tamu rumahnya. "Sialan, ternyata buat beli gituan di bencong." Tangannya menjulur, menunjuk rangkaian play station yang baru dipasang Jeriko semalam.
"Masih mending, daripada cowok lo main sama cewek lain. Lo bisa lihatin dia di sini lagi main game," sahut teman SMA Sienna yang sedang berkunjung ke rumahnya sore ini. "Kan nanti bisa romantis-romantisan sama Pak Jer di kursi. Saling memangku, mengecup, dan tiba-tiba Lula punya adek."
Sienna menutup kuping mendengar ucapan nggak beres temannya. Beruntung, Lula sedang bermain di rumah tetangga jadi anaknya nggak akan bertanya macam-macam. "Pikiran lo nggak pernah bersih."
"Selagi sama yang halal, trabas!" seru Renata, "Kalian itu kan pasangan yang mendekati sempurna, ya. Paras oke, berpendidikan, sikap baik, rejeki lancar, dan harmonis. Kemungkinan ada orang ketiga sangat kecil, bahkan nggak ada!"
"Siapa tau? Selingkuh itu bisa terjadi kalo ada kesempatan, Re."
"Jangan gitu, Na. Jeriko tugasnya ngurusin ratusan karyawan, istilahnya bermacam-macam cewek pasti ada di tangan dia. Nggak bisa menyimpulkan gitu aja kalo cewek yang nelpon adalah selingkuhan."
Sienna mengangguk dalam hati. Dia tidak mengerti kenapa waktu itu sampai kebakaran jenggot hanya karena melihat orang yang menelepon Jeriko, bisa saja itu teman kantornya, kan? Seharusnya Sienna memikirkan warna-warna bahagia yang Jeriko berikan selama ini, menahan emosinya agar tidak terjadi keributan yang menjadi retak.
"Kalo misal, amit-amit nih ada orang ketiga. Pasti yang ganjen itu ceweknya duluan. Cewek mana sih yang nggak terpesona sama pria anak satu kayak Jeriko?" beber Renata lagi.
"Termasuk lo?" goda Sienna.
"Eh enggak ya, sori! Walaupun suami lo emang ganteng dan kaya raya, gue tetep punya komitmen sama Mas Wira."
Sekarang Sienna yang dibuat tergelak sama raut kesal Renata. Sienna mengakui, kalau cewek dengan postur tinggi ini memang sudah tergila-gila dengan suaminya sejak pertama bertemu dan Renata bukan tipe yang mudah baper sama orang lain.
Omong-omong, tujuan Renata ke mari adalah untuk mengucapkan terima kasih ke Jeriko dan Sienna lantaran suaminya langsung diterima bekerja setelah interview kemarin. Renata juga membawakan brownies kesukaan Sienna.
"Gak kebayang deh kalo rumah tangga gue terancam sama hal-hal kayak gitu," decak perempuan berambut pink itu.
"Beberapa hari yang lalu lo bilang kalo ada apa-apa didiskusiin sama suami. Nah, harusnya kalo ada yang mencurigakan diobrolin dulu." Renata teringat pada wejangan Sienna saat ia menggadai cincin nikah.
"Iya-iya ampun, kanjeng."
***
Di luar dugaan, selagi Renata membuang kardus brownies di tempat sampah luar, mobil Jeriko sudah terparkir di halaman rumah. Renata melirik jam tangan yang melingkar, belum ada jam lima sore membuatnya agak heran. Nggak lama, Jeriko turun dari mobil dan tersenyum begitu melihat sahabat istrinya itu.
"Main, Re?"
"Hehehe, iya." Renata tertawa canggung, kemudian melangkah masuk bersama Jeriko. "Makasih, ya, Jer, suami gue udah keterima kerja. Kekuatan orang dalem emang mantep lah." Gadis itu mengacungkan jempol membuat Jeriko terkekeh.
"LHOOOO UDAH PULANG?" Sienna yang lagi bermalas-malasan di sofa terkejut mendapati suaminya yang tumben banget sudah di rumah saat matahari belum terbenam. "Aduh belom nyiapin makan malem," paniknya, langsung ngacir ke dapur melihat-lihat bahan yang ada di kulkas.
Jeriko duduk di ruang makan setelah mencuci tangan, memerhatikan istrinya dari sini yang terlihat grasak-grusuk itu.
"Nggak usah. Ayo makan di luar aja," katanya sambil mencomot sepotong brownies yang sudah dipindahkan ke piring.
"Beneran? Kerjaanmu udah beres, Mas?" Sienna menghentikan aktivitasnya, lalu Jeriko mengangguk sebagai balasan. "Oke, aku samperin Lula sekarang."
Sebelum keluar, Sienna menghampiri Renata. "Maaf banget nih bukan ngusir. Tapi, lo harus pulang sekarang, Re."
"Santuyyyy, gue emang mau pulang abis buang sampah tadi." Renata nyengir seraya memakai tas selempangnya. "Selamat bersenang-senang, keluarga cemara!"
***
Motor Jeriko melaju membelah jalan raya yang cukup ramai di sore hari. Ada Sienna yang duduk di belakangnya dan Lula di depannya. Keluarga kecil itu tengah menikmati suasana sore bersama, hal yang sangat jarang mereka lakukan selama ini. Lula senang, tentu saja lantaran dia sudah lama nggak jalan-jalan.
Entah mau ke mana lagi, akhirnya Jeriko membelokkan motor ke mall yang nggak jauh dari rumah mereka. Apalagi, langit mulai menggelap dan perut mereka sudah berontak minta diisi. Sienna juga setuju, dia bilang mau makan di salah satu restoran seafood yang ada di sini.
"Ma, Pa, aku punya bisnis baru," ucap Lula setelah pelayan mencatat semua pesanan mereka dan pergi. Orang tuanya langsung mengerutkan kening dengan kompak, menunggu Lula melanjutkan. "Tadi banyak yang mau main PS-nya Papa. Aku bilang, kalo mau main bayar satu jamnya tiga ribu karena di dunia ini nggak ada yang gratis. Mereka setuju, hebat kan bisnisku?"
Mata Sienna membulat. "Papa cuma beli yang stiknya dua, kamu jangan aneh-aneh, La."
"Kan bisa gantian, lumayan buat tambahan jajan aku," jawabnya tanpa dosa.
"Kamu cerita kalau Papa beli PS?" Kali ini Jeriko yang bertanya. Ia dapat melihat Lula manggut-manggut sebagai respons. "Nggak bisa, Lula. Itu belinya sama Om Bhanu."
"Papa sama Om Bhanu kan sibuk. Daripada PS-nya nggak dipake, mendingan kita sewain aja."
Jeriko mengacak rambut anak sulungnya. Ucapan Lula memang terdengar masuk akal, tetapi Jeriko nggak akan menyetujui ide bisnis ala-ala Lula itu.
"Siapa yang ngajarin begitu, hm?"
"Aku lihatin Om Ical punya kamera, tapi jarang dipake. Terus disewain biar dapet uang." Lula memang sering memerhatikan sesuatu dan langsung bisa mencerna dengan baik. Makanya ibu Sienna selalu was-was, tidak boleh ada yang sembarangan bicara atau bertindak kalau dekat Lula.
"Ide kamu udah bagus mau bisnis, tapi Papa nggak setuju. Belum saatnya, La, kamu fokus belajar sama main aja. Lagipula itu barangnya Papa sama Om Bhanu, gak boleh sembarangan nanti rusak. Kamu nggak mau barang orang jadi rusak gara-gara idemu, kan?" tolak Jeriko sambil tersenyum. "Kalau banyak temen kamu yang main ke rumah, terus rumah jadi kotor dan berantakan. Kasihan Mama, capek harus beres-beres lagi. Emangnya kamu mau bantu?"
Sienna hanya diam menyaksikan kedua orang kesayangannya. Lula yang banyak omong, untungnya diimbangi dengan sikap solutif Jeriko yang sabar.
Percakapan mereka terhenti saat ada pelayan yang mengantar pesanan.
"Kita makan dulu, oke?" Jeriko mendorong makanan pesanan Lula ke arah anaknya.
"Ya udah deh, nggak jadi buka bisnis," kata Lula dengan suara lesu.
"Boleh bisnis, tapi nanti ya kalau Lula udah gedean." Sienna ikut nimbrung biar suasana hati Lula membaik.
Anak itu akhirnya nurut, sebenarnya Lula nggak pernah neko-neko. Hanya ingin mengutarakan pendapatnya, tapi kalau ada yang bisa menjelaskan dengan baik, dia pasti patuh.
"Kamu kok tumben pulang cepet, Mas?" Sienna bertanya sembari menyantap cumi saus padang.
"Iya, Papa kok udah pulang?" sahut Lula ikut terheran.
Jeriko sempat mengelap mulutnya dengan tisu sebelum merespons, "Nah, kebetulan kalian nanya. Tadi sempet lupa gara-gara Lula mau bisnis." Jeriko menyelipkan tawa di tengah jawabannya. "Semua kerjaan Papa udah dipegang sama temen Papa yang lain."
"Terus, Papa udah nggak kerja?" Lula sedikit kaget. "Kalo Papa sama Mama nggak kerja, aku makan apa dong? Tuhkan, kita sewain aja PS Papa."
Sienna menatap Jeriko penuh penasaran.
"Bukan gitu," Pria anak satu itu menjeda kalimatnya. "Ada sedikit masalah di kantor cabang Bekasi, mulai besok Papa ngurusin kantor itu. Jadi, kerjaan Papa di sini diambil alih ke temen yang lain deh," jelas Jeriko. Lula yang setengah paham, mengucapkan 'oh' dengan panjang lalu melanjutkan makannya lagi.
Beda sama Sienna yang kelihatan nggak suka sama penjelasan Jeriko. "Bekasi itu jauh lho, Mas."
"Nggak jauh, Na, dua jam kurang kalo lewat tol."
"Emangnya ada masalah apa, sih?"
"Penggelapan dana. Ya, biasalah aku mantau kinerja karyawan-karyawan sana."
"Pak Valen, Pak Valen ikut nggak? Dia kan kepala akunting tuh." Sienna teringat sama salah satu rekan suaminya yang bekerja di bagian keuangan.
Jeriko memberi jeda hampir satu menit untuk menjawab pertanyaan singkat Sienna, cowok itu menggaruk pelipisnya. "Oh, enggak. Pak Valen ngurus laporan di kantor ini aja. Kalo yang berangkat sama aku, langsung manajer keuangan, Na. Sama-sama manajer gitu."
Sienna yang gantian terdiam, menyelami manik suaminya yang sedang berusaha meyakinkannya. Alasan Jeriko memang cukup masuk akal, tapi sepertinya ada yang ... mengganjal di pikiran Sienna. Entah apa itu.
Jeriko membuka ponsel, menyodorkan sebuah surat elektronik di hadapan Sienna. Isinya kurang lebih tentang tugas yang akan dilakukannya beberapa hari ke depan. "Ini, aku ada suratnya kalau kamu ragu."
Tangan Sienna menerimanya, membaca isi surat itu. Memang ada nama suaminya beserta tiga nama lain yang asing untuk Sienna. "Kamu bakal pulang malem?"
"Iya, aku izin dan minta maaf ke kalian. Nggak usah nunggu Papa pulang beberapa hari ke depan, ya?" Jeriko menatap Sienna dan Lula bergantian.
"Papa lembur?" tanya Lula.
"Bisa dibilang begitu. Papa dipercaya buat nanganin masalah di kantor yang lain."
"Oh, jadi gajinya nambah?" Mendengar itu membuat suasana mencair. Sepertinya pikiran Lula sudah terkontaminasi sama uang, bukan sama Bobi lagi.
"Pokoknya cukup, La," jawab Jeriko nggak menyebut detail tentang upahnya.
"Emangnya kamu nggak capek, Mas? Aku yakin temen-temen kamu yang di sini tetep minta bantuan ini-itu ke kamu. Kerjaanmu jadi double."
"Mau gimana lagi? Tapi, kalo pulang lihat kamu sama Lula langsung hilang capeknya." Jeriko sedikit menggombal supaya Sienna nggak khawatir.
"Tapi, setiap hari Minggu jalan-jalan, ya, Pa?" pinta bocah berusia enam tahun itu.
"Oke, kita jalan-jalan." Jeriko langsung menyetujui.
"Yeayy!"
"Hei, nggak apa-apa, kan?" Jeriko beralih, melihat Sienna yang rautnya masih agak berbeda itu.
"Hmmm, jangan capek-capek pokoknya, Mas." Sienna mengembalikan lagi ponsel Jeriko. Bagaimana pun dia nggak bisa menolak perizinan Jeriko karena nama suaminya sudah tertulis jelas di surat itu.
***
Halooo, aku boleh minta vote dan komennya nggak? Kalo nggak juga gapapa sihh, tapi aku mau tau wujud kalian wahai silent readers xixixi.
Makasih yang masih baca cerita ini :D
-110322-