Kriiing...
Terdengar nada dering smartphone staf yang sedang mengemudikan mobil. Tak menunggu lama, staf tersebut langsung menjawab panggilan dan menaruh smartphone di atas dashboard mobil.
"Ini dari Music Fever. Apa kalian sedang kemari?" Tanya seseorang dari ujung telepon.
"Iya, kami hampir sampai." Jawab staf tersebut.
"Kami memutar MR pada episode 199. Kami mematikan microphone tanpa sengaja." Jelas pihak Music Fever.
Refleks, ketiga member ENT1TY menoleh ke arah smartphone staf yang sedang melakukan panggilan.
"Apa? Saya tetap mendengar suaranya." Ucap staf tersebut -kaget.
"Ini sebenarnya bukan masalah besar." Ucap pihak Music Fever santai. "Bisakah anda memeriksa apakah CD MR dan AR (All Recorder) sudah diganti?"
"Tidak mungkin. Saya selalu memeriksanya." Ucap staf yakin.
"Tapi kami yakin microphone itu mati." Ucap pihak Music Fever tidak kalah yakin.
"Kami dapat mendengarnya." Ucap staf cepat. "Apa anda pikir hantu yang menyanyikannya?"
Ricky menelan kasar air liurnya. Perlahan, butiran keringat mulai keluar dari leher dan dahi Ricky. Mobil mereka memasuki lorong panjang yang cukup gelap dan tiba-tiba panggilan terputus.
"Halo?" Staf melirik ke arah smartphone. "Hey?"
Ricky menunduk perlahan, nafasnya terasa sesak saat ini. Sementara itu, Shandy dan Zweitson hanya terdiam. Mereka berdua tidak merasakan hal yang sama seperti Ricky. Tidak ada keringat dan nafas masih normal.
"Sial." Staf baru menyadari bahwa panggilan terputus.
Ricky merasakan ada seseorang di belakang yang sedang memperhatikannya -dari bagasi mobil. Keringat yang mengalir pada tubuh Ricky semakin banyak. Ricky meremas ujung bajunya -ketakutan.
꙰꙰꙰
"Apa yang mereka minum?" Tanya Bernice kepada pihak studio kelima member ENT1TY berada.
"Bahan kimia. Mereka meracuni diri mereka sendiri." Jelas seseorang di ujung telepon dengan cepat.
"Gue tau itu! Apa yang mereka minum?" Tanya Bernice cepat dengan nada kesal.
"Pemutih yang biasa anda gunakan untuk membersihkan lantai." Ucap pihak studio.
"Bentar." Ucap Bernice pelan. "Kalau lu minum itu, apa terasa panas?" Tanya Bernice, matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa?" Tanya heran pihak studio.
"Apa lu bakal kepanasan kalau minum pemutih itu?!" Tanya Bernice kesal, keringat mulai mengalir pada pelipisnya.
"Tentu saja!" Ucap pihak studio cepat. "Ini 100% murni dan membakar segalanya dari tenggorokan sampai perut."
Perlahan, Bernice melepas genggamannya pada telepon agensi. Akhirnya, air mata Bernice terjatuh. Bernice mengambil salah satu kertas koran yang berisi foto Radhil.
"Seorang penari latar meracuni dirinya sendiri." Ucap Bernice pelan, menatap foto Radhil.
Di sisi lain, Dimas masih fokus dengan apa yang ada di layar komputernya, tak sedikitpun menghiraukan Bernice.
"Sekarang di sini sangat panas dalam hatiku."
"Sangat panas dalam hatiku."
"Dalam hatiku."
Bernice menyandarkan tubuh, menundukkan kepalanya perlahan.
"Berhentilah mencari." Ucap Bernice pelan.
"Tunggu. Video member lain." Jari Dimas bergerak cepat di atas keyboard. "Ini berhubungan dengan refrain bagian kedua." Dimas mengumpulkan semua video kedelapan member ENT1TY.
"Hentikan!" Nada suara Bernice mulai naik.
Dimas tak sedikitpun mendengarkan ucapan Bernice. Dimas menatap fokus layar komputer, sesekali menyeka keringat yang mengalir pada dahi dan lehernya.
"Percuma aja." Ucap Bernice pelan.
"Ini cocok! Gue bakal gabungin." Ucap Dimas cepat.
"White adalah seorang penari latar yang meminum racun untuk bunuh diri." Ucap Bernice pelan. "Dia kagak ada dalam video musik atau daftar orang yang meninggal!" Lanjut Bernice cepat.
Jari Dimas masih bergerak dengan cepat di atas keyboard. Menggabungkan semua video member ENT1TY dan mencari detik yang sama dalam rekaman, tak lupa mengatur beberapa bagian agar dapat terdengar jelas.
"Berhenti! Kita kagak tau dia siapa!" Dengan kesal, Bernice menarik tubuh Dimas untuk menjauh dari komputer.
"Tunggu!" Dengan tubuh yang sedang ditarik oleh Bernice, Dimas berusaha keras untuk klik tombol 'OK' pada layar.
"BERHENTI!" Bernice masih menarik kerah baju Dimas dengan kesal.
"Tunggu dulu!" Dimas berusaha memanjangkan tangannya untuk menekan mouse. "Gue hampir selesai."
"GUE BILANG, BERHENTI!" Bernice menarik tubuh Dimas dengan sekuat tenaga.
Klik.
Brakkk...
Mereka berdua jatuh ke atas lantai tepat setelah Dimas menekan mouse. Hasil kerja Dimas terputar dalam efek reverse.
"Di sini, di belakangmu."
Terdengar suara pelan seorang laki-laki dari hasil lirik yang baru saja dikerjakan oleh Dimas. Bernice hanya terdiam sembari mengatur nafasnya. Sementara itu, Dimas menoleh cepat ke belakangnya -panik sekaligus takut.
Perlahan, Bernice menoleh ke arah video musik White yang masih terputar. Bernice membelalakkan matanya kaget ketika menyadari adanya bayangan merah salah satu penari latar yang terlihat samar berada di belakang Radhil. Bayangan tersebut mengikuti semua gerakan yang dilakukan oleh Radhil.
"Di sana, rambut putih..." Dimas menatap video takut, suaranya bergetar. "Ada penampakan. Seorang penari latar."
"Syuting pertama!" Ucap Bernice kaget.
꙰꙰꙰
Sekarang member ENT1TY sedang melakukan make up ulang sebelum benar-benar naik panggung. Tidak ada sedikitpun interaksi di antara mereka, semuanya terlarut dalam pikirannya masing-masing.
"Iya, halo? Kak Joshua?" Ucap salah satu staf -sedang melakukan panggilan.
"Joshua?" Patrick mengambil smartphone staf tersebut. "Lu udah sampe?" Patrick berjalan pelan. "Peringkat pertama?"
"Kenapa anda sangat berkeringat?" Tanya salah satu staf yang sedang memberikan make up kepada Ricky.
"Di sini agak panas, kan?" Ricky tersenyum canggung.
Tidak sampai satu detik setelah Ricky mengatakan kalimat tersebut, senyumnya memudar begitu saja. Memori Ricky tiba-tiba memutar semua kejadian sebelumnya. Ketika Fiki sedang recording ulang. Ketika Fajri sedang pengambilan video solo. Ketika Fenly sedang live streaming. Ketika Gilang sedang melakukan dance solo. Ketika Farhan sedang mengikuti Survival Challenge. Mereka semua mengatakan kalimat yang sama.
"White, 5 penari latar, bersiaplah." Ucap salah satu pihak Music Fever. "Jumlahnya ada 8, kan?"
Salah satu staf menghampiri ketiga member ENT1TY yang masih terduduk di depan meja rias.
"Bukannya kita punya 6 penari latar?" Tanya Ricky pelan.
"Tidak. Selain kalian bertiga, kita punya 5 penari latar." Ucap staf santai. "Ayok."
Setelah menatap kaget ke arah staf, Ricky terdiam sejenak.
"Apa kami punya waktu?" Tanya Ricky pelan.
"Mungkin 3-5 menit. Cepat ya." Staf membalikkan tubuhnya.
Semua penari latar dan staf keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan ketiga member ENT1TY.
"Kita harus berhenti sekarang." Ucap Zweitson pelan, menyeka keringat yang mengalir pada lehernya. "Miss Bee bener, kutukan ini mungkin belum selesai."
Ricky tak menjawab, menunduk ketakutan. Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang mendekati mereka.
"Ricky." Patrick berdiri tepat di samping Ricky. "Lakuin yang terbaik. Gue serahkan semuanya." Patrick menepuk pundak Ricky. "Anggap ini penampilan terakhir lu. Lu kagak nyesel, kan?" Patrick tersenyum tipis.
"Seolah Ricky punya pilihan lain." Ricky tak menoleh ke arah Patrick sedikitpun sembari menangkis pelan tangan Patrick.
Senyum Patrick seketika meluntur. Patrick terdiam, menatap kaget ke arah tangannya.
"Lagipula Ricky udah bertahan sejauh ini." Ucap Rick pelan. "Tolong beri kami waktu. Kami akan segera keluar."
Patrick menoleh ke arah Shandy dan Zweitson yang tertunduk -tak sedikitpun melihat ke arahnya. Patrick mengerutkan dahinya heran. Namun, Patrick memilih untuk keluar ruangan -tanpa bertanya.
"Kita kagak bisa lanjutin ini." Ucap Shandy pelan dalam tunduknya. "Kecuali lu mau bernasib sial."
"Kutukan itu udah berakhir." Ucap Ricky pelan -berusaha meyakinkan dirinya.
Dengan cepat, Ricky membuka akun fansite ENT1TY pada laptop agensi yang tertinggal di sampingnya.
Video menyeramkan dari ENT1TY (8/8)
"Gue kagak mau mati." Zweitson menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
Ricky membuka tiga video terbaru, mulai dari video Zweitson, Shandy, hingga dirinya sendiri. Unggahan tersebut menunjukkan video 2 detik mereka dengan saturasi dominan merah, membuat wajah mereka seolah terbakar. Namun, tidak seperti member lain, video mereka bertiga tidak menghasilkan lirik apapun dan hanya terputar bagian musik.
"Video ini...?" Zweitson tak menyelesaikan kalimatnya.
Dengan cepat, jari Ricky mulai bergerak di atas keyboard dan berusaha menghapus ketiga video mereka. Buffering terjadi cukup lama. Dengan takut, Ricky menyeka keringat yang mengalir pada lehernya.
Satu...
Dua...
Tiga...
Menghapus gagal. Coba lagi?
Refleks, mereka bertiga menatap kaget layar laptop. Dengan cepat, Ricky kembali mencoba. Namun, hasilnya tetap sama. Tiba-tiba, laptop tersebut error dan terus mengeluarkan pop up setiap frame video mereka. Semakin lama, gambar yang ditampilkan pada pop up tersebut semakin mengganggu. Dalam video, wajah mereka bertiga berubah menyeramkan. Wajah yang rusak, mulut terbuka lebar, mata hitam -seperti berlubang.
"ARGHHH..."