Kobaran api yang menjulang tinggi tadi sudah padam bersama barang barang yang hangus terbakar olehnya. Hanna menyuruh temannya untuk lanjut mengurus identitas baru Hoseog yang belum sempat ia selesaikan karena membantu gali kubur. Kini hanya ada Hoseog dan Hanna saja yang duduk di bawah sinar rembulan. Sama-sama tidak berniat mengisi kekosongan malam. Suara jangkrik pun terdengar jelas masuk ke telinga mereka.
"Aku merasa Tuhan tidak ada untukku. Menyebalkan sekali." Hanna melempar kerikil yang sembarang ia ambil di dekatnya. "Kalau kau, apa taggapanmu tentang Tuhan?" Hanna menatap Hoseog. Disaat seperti ini memang paling cocok untuk membicarakan Tuhan.
"Akhir akhir ini aku merasa Tuhan semakin nyata. Dengan adanya kamu di sampingku aku semakin percaya akan adanya Tuhan." Hoseog menoleh, pandangan mereka bertemu. "Setiap kita bertemu, setiap kali kau ada di sampingku, setiap ada kesempatan untuk melihtamu walau hanya sebentar, aku selalu bersyukur dan sangat berterima kasih kepada Tuhan berkali-kali sampai batinku capek karena rasa bersyuur yang tiada habisnya tapi aku selalu ingin berterima kasih kepada Tuhan."
"Kau adalah tempat pulangku untuk beristirahat." Tatapan Hoseog menjadi lebih dalam, sangat intens. "Aku tidak bisa menemukan kata yang lebih tepat untuk perasaanku ini. Aku menginginkanmu, Hanna. Aku ingin kau menjadi bagian dalam hidupku."
Mendengar perkataan Hoseog perasaan Hanna menjadi berubah, dia menjadi.. sedih. Melihat takdir di depannya siap menjemput Hoseog akan pergi membuatnya tidak bisa berbuat apa apa. Hanna mengalihkan perhatiannya ke depan, tidak bisa melihat raut wajah Hoseog lebih lama.
"Aku iri dengan temanmu, dia pasti selalu ada untukmu dan bisa mengantikan posisi Tuhan untukmu. Sedangkan aku? Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dia. Rasanya menyedihkan ketika mengingat aku yang selalu membutuhkanmu di sampingku dan perasaan itu tidak terbalas. Posisi itu sudah ada yang mengambil sebelum aku hadir dalam hidupmu. Apa aku salah?"
Hanna tidak menjawab. "Di dalam hidupmu, peranku itu apa?" tanya Hoseog putus asa.
"Kalau bagimu aku adalah rumah, maka kau adalah penghuniku, Hoseog. Kau pelengkap kehadiranku disini. Rumah itu membutuhkan kebahagiaan dari penghuninya. Kau tahu kenapa rumah tak berpenghuni disebut rumah berhantu? Karena rumah itu menangis sepanjang malam karena kekosongan yang ia rasakan mengundang para hantu untuk menghiburnya alih-alih sebagai penghuni."
"Kau pembawa kebahagiaan kecil yang berharga padaku. Rasanya aneh jika kau menghilang begitu lama di hadapanku. Maaf karena sudah membuatmu merasa seperti itu." Tambah Hanna.
"Kata katamu membuatku merasa spesial. Kata-kata yang indah. Terima kasih." Hanna terkekeh tanpa suara, malu mendengar pujian dari Hosoeg.
Suara langkah semakin terdengar seiring waktu berjalan. Temannya sudah selesai mengurus identitas baru Hoseog. "Kau belum beli mesin pemadat juga?" menyerahkan sebuah amplop coklat berisi KTP, KK, dan Akta kelahiran yang masih hangat pada Hanna.
Mesin pemadat memudahkan Hanna untuk menghilangkan mayat pembunuhan sekaligus barang bukti, mampu membuat tubuh manusia menjadi sekepal tangan saja. "Mahal. Kalau kau mau, belikan aku itu." Hanna dan Hoseog berdiri mengusap bokongnya masing masing membersihkan debu yang menempel.
"Ogah." Dia menolak. "Kau," memanggil bocah yang tak ia ketahui namanya. "KTPmu sudah tidak bisa dilacak. Kau tak perlu khawatir."
Akhirnya mereka berdua pergi mengendarai mobil Hanna setelah dia memastikan isi amplop sudah lengkap. Hanna mengendarai mobilnya, di tengah perjalanan Hanna menyerahkan amplop itu kepada Hoseog.
"Kau boleh melihta-lihat. Itu identitas barumu."
Suara amplop yang terbuka terdengar merdu. Hoseog mengeluarkan beberapa kertas yang ada di dalam, matanya menjelajahi setiap kata demi kata.
"Nijiro?" terdengar kebingungan. Hanna diam diam menahan tawa. "Siapa dia?" tanya Hoseog.
"Itu nama barumu, Bodoh." Tawanya lepas.
"Nama baruku?" masih belum mengerti apa apa.
"Iya. Aku juga memakai nama baruku. Hanna itu nama baru, Mamoko nama asliku." Hoseog masih saja diam, masih sibuk melihat identitas barunya. "Kau tidak suka nama barumu, ya? Padahal aku yang meminta temanku secara khusus agar kau diberikan nama aktris favoritku." Hanna terdengar kecewa.
"Bukan begitu, aku hanya kebingungan. Maaf." Hoseog memasukkan kertas-kertasnya kembali ke tempatnya. "Mamoko, nama yang cantik." Hanna tersenyum lebar. Dia mendengarkannya rupanya. "Jepang, ya?"
"Benar, kau akan menetap disana nanti." Ucap Hanna. "Oh iya, karirmu jangan berhenti sampai disini saja, kau harus melanjukannya nanti di Jepang. Disana juga banyak penari HipHop."
"Pasti. Aku bukan tipe orang yang mudah menyerah." Hanna menoleh ke samping melihat Hoseog sambil tersenyum lalu kembali melihat ke depan karena menyetir.
Sesampainya di kantor imigrasi Hoseog langsung mengurus data dan menyerahkan KTP, KK, dan Akta kelahiran kepada layanan disana. Setelah selsai mengisi data dan hal lain tinggal menunggu beberapa hari sampai paspor jadi.
Hoseog memasukkan dompet tipisnya ke dalam saku celana belakang, karena tidak ada orang lain selain mereka disana dikarenakan sekarang jam-jamnya orang sudah tertidur lelap Hoseog jadi mudah menemukan Hanna yang duduk diantara jejeran kursi. Hoseog menghampiri Hanna yang sedang meemejamkan matanya kelelahan. Hoseog ikut duduk disebelahnya. Menyadari akan kehadiran Hoseog di sebelahnya Hanna memindahkan kepalanya bersandar di bahu Hoseog.
Lampu disni tidak terlalu terang bertanda dayanya yang sebentar lagi mati, wanita yang tadi melayani Hoseog juga pergi kebalik pintu khusus pegawai untuk beristirahat, suara deru napas Hanna sangat terdengar di telinga kiri Hoseog membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dia sanggup berdiam disana beribu-ribu tahun lamanya hanya bersama Hanna seorang, walaupun tidak melakukan apa pun selain meminjamkan bahunya pada Hanna dia sudah sangat menyukainya, seakan dia mampu memiliki Hanna sepenuhnya.
=
Selama menunggu paspor jadi Hoseog menumpang tinggal di rumah teman Hanna itu. Agak jengkel ketika Hanna meninggalkannya sendirian disana berdua dengan pria yang ia benci. "Kau pikir kau bisa menumpang di rumahnya?" perkataan dari pria yang ia benci dua malam yang lalu masih teringat dengan jelas di antara kumpulan memori.
Hoseog dilarang ke luar rumah dia jadi tidak merasa bebas selama disini, bukan berarti dia ingin cepat cepat pergi justru dia menunggu Hanna yang mengunjunginya di sela sela pekerjaannya di bar hanya untuk melihat keadaan Hoseog. Teman lamanya ternyata tak seburuk yang ia kira, dia lebih banyak berada di kamarnya. Yang Hoseog tahu, isi kamarnya minim pencahayaan, hanya beberapa lampu tambahan berwarna hijau disana, pantas saja dia memakai kacmata. Kamarnya juga sangat misterius, pernah sekali berpikir untuk pergi diam diam mengintip isi kamar teman lama Hanna saat dia pergi bekerja sebagai dokter, tapi tidak bisa, pintunya dikunci.
Disini terdengar biding karena suara hentakan kaki yang berjalan bersama koper yang ditarik, suara pengumuman jadwal penerbangan terdengar paling keras diantara semuanya, anak kecil yang rewel tidak mau pergi, juga sekumpulan remaja sedang tertawa yang ingin pergi berlibur.
"Sudah yakin nggak ada yang ketinggalan?" Hanna bertanya sekali lagi.
Hoseog tertawa kecil. "Yang kubawa kan hanya ponsel, dompet, dan paspor semua barangku sudah kau buang, tidak ingat?"
"Ah, iya juga. Maaf."
"Tidak apa."
Hanna merogoh saku celana kulitnya lalu mengambil ponsel Hoseog di genggaman tangannya. "Ponsel barumu." Yang mendapat ponsel baru tiba tiba terkesima melihat harta barangnya yang menjadi keluarga barunya nanti disana. "Sudah ada nomorku disana, kalau sudah sampai kabari aku. Aku akan mengirim alamat rumah yang akan menjadi rumahmu nanti."
"Aku sudah punya rumah?!" Hanna mengangguk. "Aku jadi merasa tidak enak menerima semua ini dengan percuma."
"Itu rumah lamaku, kok."
"Apa?"
"Rumah yang kau tempati nanti adalah rumah lamaku." Ulang Hanna. Hoseog menatap Hanna lama. Lalu mengecup bibir Hanna dengan cepat. Mata Hanna membesar, tangannya menutupi bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan milik Hoseog. "Gila! Aku bisa dipenjara kalau mencium anak dibawah umur!!"
"Umur baruku sekarang setara denganmu, tenang saja." Hoseog tersenyum, lain dengan Hanna yang menatapnya tak percaya. "Kak," panggil Hoseog."
"Aneh, barusan kau bilang umur kita seumuran." Ujar Hanna yang baru mendengar Hoseog memanggil dengan sebutan Kakak. "Apa?"
"Kalau--" Ada panggilan masuk dari ponsel Hanna, dering bunyi ponsel terdengar dari telinga mereka masing msaing. Hanna sedikit menjauh untuk memberi sedikit privasi untuk dirinya sendiri setelah Hoseog memperbolehkan Hanna untuk mengangkat teleponnya terlebih dahulu.
"Halo." Sapa Hanna untuk orang dibalik ponselnya. Sedikit kesal karena teman lamanya menelepon disaat waktu yang tidak tepat.
"Hanna," suaranya terdengar tergesa-gesa. "Kita dalam masalah."
Hanna diam sebentar di tempat, mencerna semua hal yang tak ia mengerti. Masih mendengarkan penjelasan dari ponsel yang bersuara, menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang melihat Hoseog yang mengangkat alisnya lalu bertanya, "Ada apa?" Hanna menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Pergi." Perintah Hanna. "Cepat pergi kalau kau tidak mau masalah ini menjadi lebih serius." Hendak bertanya apa yang sedang terjadi meminta penjelasan, namun Hanna lebih dulu pergi meninggalkannya sambil berbicara sendiri pada ponselnya kalau dia akan segara datang secepatnya kesana. Kini Hoseog mengerti.
Di bandara pada pukul 04.57, dua orang berlari dengan kekhawatiran besar jika semuanya akan terbongkar, berlari dari arah yang berlawanan, dengan arah tujuan yang berbeda. Berusaha untuk membantu satu sama lain dengan caranya sendiri-sendiri.
Tamat.