"Pergi lo"
Yasella panik saat mendapati Lareska menghampiri Rancaka yang hendak berlalu, Tanpa pikir panjang Lareska memukul rahang Rancaka hingga tersungkur menabrak salah satu meja kantin.
Lareska menatap Rancaka dengan remeh. Menendang pelan kaki Rancaka, dengan tangan Lareska yang ia umpatkan ke saku celana osisnya.
"Ada urusan apa lo sama pacar gue hah?"
Yasella mendelik sempurna. "Res..?"
Lareska menatap Yasella dengan santai seolah memberitahunya agar tenang lewat tatapannya. Rancaka mengepalkan tangan dengan kuat dan menggertakan gigi, sedetik kemudian dia bangkit yang sebelum dan setelahnya mengusap pipi dia karena terasa ngilu.
Rancaka berdiri, menatap seluruh penjuru kantin SMA Renjana dengan tatapan sinis. Lareska dan Yasella masih diam tak berkutik, hingga Rancaka berjalan menghampiri Lareska. Yasella yang melihat itupun hendak menghentikannya, namun tangan Lareska seakan menyuruhnya berhenti.
BUGH!
Semua mata yang menempati kantin sontak mendelik dan sebagian anak perempuan menutup mulutnya dengan tangan atas kejadian 3 detik lalu.
"Zyva!"
Zyva, sahabat Yasella mendapat pukulan di kepalanya oleh Rancaka. Bukan karena apa, ia hanya salah sasaran, Rancaka berencana memukul rahang Lareska namun entah mengapa genggaman tangan ini bisa mendarat pada kepala sahabat Yasella.
Yasella bergegas menghampiri Zyva yang tergeletak di lantai, ia membantunya berdiri dan mendudukkan Zyva ke salah satu kursi kantin terdekat. Mata Yasella memanas, dia seolah mempunyai gejolak membunuh laki laki bernama Rancaka, mantan kekasihnya itu.
Seisi kantin SMA Renjana masih setia menonton pertengkaran mereka, namun tak ada satupun yang berani melapor ke guru. Yasella berjalan mendekati Rancaka, menampar pipinya yang terdapat bekas pukulan dari Lareska. Rancaka yang mendapat perlakuan itupun mencekal pergelangan tangan Yasella kuat dan menatapnya marah.
"Wah udah berani? Kenapa gak dari dulu ngelawannya hah?"
Lareska menepis tangan Rancaka, menatapnya tajam bak pisau yang telah di asah ratusan kali. Tatapan Lareska mampu membunuh hanya dalam satu detik saja, "Jangan sentuh pacar gue"
Memilih mengabaikan, Yasella berjalan mendekati Zyva yang masih memegangi kepalanya. Ia yakin kepala Zyva pusing.
"Jip, lo gapapa? Sorry ya, gara gara gue-"
"Gue gapapa, dia ngapain disini Se?"
"Gue juga gatau, gue takut Jip."
Yasella memelankan suaranya, Zyva yang langsung memahami lantas mengusap pundak Yasella. "Lo tenang dulu ya"
"Bubar! Bubar lo semua! Dan lo, gue tunggu di taman kota jam 7 malem."
Lareska membuka suara, membuat siswa yang berada di kantin berhamburan. Rancaka menghampiri Lareska dan membenarkan kerah bajunya. "Ada nyali ya lo?"
Jidan menepis tangan Rancaka dan menarik Lareska menjauh, "Najis, gausah sentuh"
Jidan pun menatap Lareska dengan tatapan seribu arti, Lareska yang menyadari langsung menatap Jidan dengan tatapan andalan, santai.
"Gue cuma bantu dia"
"Segitunya? Alasan apa lo nolongin Yase?"
"Gak tau"
"Res?"
"Gue gatau, Dan."
Lareska memutuskan berlalu dari kantin yang sebelumnya sudah menghampiri Yasella dan Zyva, Yasella sempat melontarkan kata terimakasih dan maaf. Dan Lareska hanya berpesan singkat, "Kalo dia gangguin lo lagi, kesini."
Lareska meletakkan kertas bertuliskan nomor telepon, entah sejak kapan ia memiliki dan menyiapkan itu. Yasella pun menatap nomor tersebut, "Res, lo-
Belum usai dengan kalimatnya, Yasella menghela berat. Terlintas memori memori satu tahun lalu bersama Rancaka.
Flashback on
"Caka, kamu sayang gak sih sama aku?"
"Sayang"
"Kenapa kamu sering mukulin aku?"
"Karena gue gak suka liat lo deket deket sama cowok lain"
"Karena gitu doang kamu mukulin aku?"
"Ya."
"Inget ya Ce, kamu dengerin apa kata aku. Apapun itu, kamu bantah sekali aja.. Habis."
Gadis yang di panggil Ace itu menunduk dalam, meraskan punggungnya yang masih nyeri akibat pukulan dengan kayu tadi malam. Hatinya sakit, tapi disisi lain ia begitu mencintai laki laki yang memukulnya. Entah ia bodoh atau apa, tapi memang kenyataanya seperti itu.
"Aku mau ke Bali sama Zyva, nemenin dia nemuin orangtuanya."
"Gak"
"Ka.."
"Gue bilang apa tadi, Ce? Kurang jelas?"
Rancaka menarik rambut ponytail Ace hingga membuat kepala gadis itu mendongak keatas. Ace hanya meringis dan mengangguk pelan.
"Bagus" Rancaka melepaskan genggaman dirambut Ace dengan kasar, "Lain kali gak usah minta gue ngulangin kata kata"
Flashback off
Hujan mengguyur habis jalanan malam itu, Yasella mempercepat langkahnya. Ia akan pergi ke rumah Zyva malam ini, hanya untuk mengunjungi dia karena dia bosan berada dirumah. Tapi siapa sangka hujan justru turun dengan lebatnya ketika dia baru 20 langkah dari rumah.
"Sial."
Sesampainya di depan pintu gerbang kediaman Zyva, ia membuka handle pintu yang tidak dikunci. "Jip gue sampe" Hening.. "Jipaaaaa!" Hening..
"JIP-AKHHH!"
"Buset lo ngapain anjir kaget gue"
"Lo yang ngapain sialan kagetin gue lo make masker mana hujan lagian ini lampu rumah lo kenapa gini banget dah nyalain kenapa udah kaya main film horor dah gue, lo ya gue panggil panggil eh-"
"SHHHHH! Hancur nih rumah gue dengerin ocehan lo Se! Diem ah!"
Yasella memasang wajah kesal, mendudukkan pantatnya pada sofa rumah Zyva dan akhirnya mengambil satu toples cemilan disana. Zyva yang entah kemana itu dibiarkan oleh Yasella, hingga ia datang membawa 2 minuman hangat.
"Susu, Se"
"Susu kudanil bukan? Gue alergi susu sapi, biasa minum susu kudanil. Seger di tenggorokan."
"Bacot gue tahan amat temenan ama lo ya Se"
Yasella berpangku dada, "Iyalah gue kan cantik."
"Najis"
Zyva duduk diseberang sofa Yasella sembari menghapus masker wajahnya, membiarkan Yasella yang menyetel lagu dengan volume full. "Buset telinga lo gak pecah Se"
"Eh Se, gue penasaran sama kejadian tadi di sekolah. Lares segitunya amat nolongin lo, mana sampe di tonjok sama Caka."
Yasella mengadahkan kepalanya, menghembus nafasnya kasar. Jujur, dia sendiri pun tidak tau apa maksud dan tujuan Lareska,
"Gue juga gatau, yahhh anggep aja emang dia mau nolongin gue. Yang gue khawatirin justru Caka, Jip. Dia ngapain coba? Dia make seragam yang sama kayak kita, itu artinya dia anak Renjan juga."
Zyva mendekatkan duduknya di sebelah Yasella, menepuk pundak gadis itu sekali. Ia mengingat sesuatu yang di katakan Lareska.
"Bubar! Bubar lo semua! Dan lo, gue tunggu di taman kota jam 7 malem."
DEG
"Se, ikut gue."
Zyva beranjak dari sofa dan berlari kearah kamar, dia mengambil cardigan serta celana training. Ia memakai celana training tersebut lalu menyampirkan tasnya di pundak.
"Hah kemana anjir hujan"
"Taman."
"Ha"
Zyva memegang kedua pundak sahabatnya itu, menatap matanya yang masih menyirat kebingungan disana. Zyva menghela nafas untuk mengatakan sesuatu pada Yasella.
"Lares ngajak Caka ketemu, dikantin tadi bilang jam 7 malem di taman kota. Lo gak inget?"
Yasella diam dengan tatapan kosongnya, menyadari satu fakta menyakitkan lagi, "Buruan"
Setelah berperang melawan pemikirannya, Yasella pun keluar dari rumah Zyva yang diikuti Zyva dari belakang.
"Ehh mau kemana lo pada?"
Berly baru saja menuruni mobilnya di depan rumah Zyva, tanpa pikir panjang Yasella menarik tangan Berly masuk ke dalam mobilnya lagi, kini Yasella lah yang mengambil kuasa setir mobil Berly.
"Eh anjir Se lo baru belajar nyetir kemaren gue ngeri bangsat awas gue aja."
Yasella menatap kedua sahabatnya tanpa dosa, lantas ia melompat kearah kursi belakang dan membiarkan Zyva yang mengambil alih. Mereka pun saling tatap, "Jalan anjir" Berly protes.
"Gue kan gak bisa nyetir"
Berly menoyor kepala Zyva dan mengganti posisinya, kini Berly sendiri lah yang mengambil alih mobil milik kakaknya itu
"Bego banget punya temen, kemana nih?"
"Taman kota."
☆ Vanilla ☆
"Ace gak cerita sama lo siapa gue? Ck, gak sepenting itu ternyata gue."
Rancaka berpangku dada menatap air mancur di depannya, Lareska yang dengan santainya mendengarkan ocehan Rancaka dengan memasukkan kedua tangan ke saku celana training.
"Ace?"
"Yase, lo bahkan gak tau nama panggilan Ace? Baru dua hari pacaran ya?"
Lareska menatap Rancaka heran sembari mengulum bibir bawahnya, pikiran Lareska sedang berperang antara ia mencari tau atau ia biarkan aja. Sesungguhnya, Lareska saja bingung kenapa dirinya niat malam malam hujan seperti ini menemui orang yang tidak ia kenali.
"Gue emang pacar Yase, gak peduli gue mau nama dia Ace Siti Soimah pun. Intinya dia pacar gue. So, jelasin. Lo siapa dan ngapain."
Rancaka menepuk pundak Lareska, "Siap dengerin ini?"
"Lama."
Lareska membalikkan badan hendak meninggalkan Rancaka, ia sama sekali tak suka basa basi. 4 langkah menjauh, ia kembali membalikkan badannya.
"Gue mantan Ace, cinta pertama dia."
Seru Rancaka, Lareska menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikeluarkan oleh Rancaka. Namun, 10 detik hening ia sama sekali tak mendengar sepatah katapun. Lareska kembali membalikkan badan menjauh dari Rancaka.
"Gue harap lo gak kaget setelah denger itu dari Ace!" Dari kejauhan 5 meter, Rancaka meneriaki Lareska. Lareska pun berhenti berjalan dan bergumam lirih.
"Gak usah bertingkah lo, gembel."
Lareska menatap 3 gadis berlari ke arahnya, memicingkan matanya sebentar lalu mengumpatkan tangannya pada saku celana trainingnya.
"Lares! Caka mana? Lo gak di apa apain kan sama dia? Lo gak dibunuh kan? Gue baru inget kal-"
"SSSSTTT"
Berly, Zyva dan Yasella mengatur nafas mereka yang tak beraturan. Tetesan gerimis dimalam itu pun membuat dahi keempat remaja itu basah. Taman yang sepi, hanya ada keempat, ah kelima remaja itu disana.
Lareska menarik tangan Yasella menjauh dari kedua sahabatnya itu, Yasella hanya diam. Mengikuti langkah kaki Lareska hingga berhenti di sisi kanan taman.
"Lo ngapain aja sama Caka?"
"Lo kenapa putus sama dia?"
Kedua insan itu bertanya di waktu yang sama, membuat Lareska berdecak dan Yasella mendengus. Lareska diam seolah mempersilakan Yasella bertanya terlebih dahulu, namun hening.
"Seharusnya lo gak perlu tau soal ini, Res. Ini terlalu pribadi buat gue, dan lo yang-"
"Baru lo kenal?"
Yasella mengangguk, ia menundukkan kepalanya dalam sembari memainkan kuku panjangnya. Lareska mengalihkan pandangannya ke arah lain, kembali mengumpatkan tangan pada saku celana trainingnya.
"Setelah ini gue gak berurusan lagi."
Yasella mengadahkan kepalanya menatap tubuh tinggi Lareska, ia tersenyum simpul mendengar ucapannya.
"Makasih ya, Res. Lo udah nolongin gue, malah sampe lo repot dateng disini hujan hujan nemuin Caka"
"Gapapa, lo hati hati. Dia keliatannya gak baik deket deket sama lo."
Tentu, dari kesan pertama Rancaka kepada Lareska saja sudah tidak baik, menghajar tanpa tau kebenaran. Cih, manusia apa Rancaka itu. Hati Yasella lega bercampur khawatir, khawatir jika Rancaka melakukan hal hal yang sama seperti dulu. Pasalnya, Yasella kabur dari hadapan dan hidup Rancaka dulu. Walaupun bukan ia yang memutuskan pergi, ia di paksa menjauhi Rancaka dan bersekolah disini, SMA Renjana berharap tak dapat menemui seorang Rancaka, namun ternyata salah. Belum apa apa saja, satu orang sudab menjadi korban, hati Yasella sungguh tidak tenang.
"Tuhan, bantu aku."
Prok prok prok
Suara tepukan tangan terdengar dari sisi kiri taman, kedua insan itu menoleh secara bersamaan. "Caka"
"Malah mesra mesraan disini. Eh, Ce kamu ga ceritain soal aku ke pacar kamu? Jahat banget sih?"
"Pergi, gausah ganggu cewe gue." Lareska menarik tangan Yasella agar mundur, sementara Yasella memiliki perasaan bercampur aduk, takut, khawatir, lega, dan bingung.
"Res, lo gak perl-"
"Gak ada yang ngizinin lo bicara."
Tabrak Lareska ketika ia menduga kalimat Yasella, ia berjalan mendekati Rancaka lalu seolah membersihkan pundaknya yang tak kotor.
"Ini gue terakhir ngomong sama lo ya, gausah. ganggu. cewe. gue. paham? Yase cuma milik gue, gak ada yang boleh nyentuh."
Rancaka tak bergeming, ia malah menarik sudut bibir kanannya tajam. "Milik lo emang milik lo, tapi bekasan gue." Ia membisikkan hal itu namun Yasella masih bisa mendengarnya. Yasella yang mendengar itupun menampar keras wajah Rancaka hingga kepalanya menoleh. Yasella mengepalkan tangannya erat, seolah ingin meninjukan kepalan tersebut pada wajah Rancaka.
"Brengsek"
Lareska memandang tidak percaya, ia menangkap arti dari perkataan Rancaka yang tidak tidak. Namun Yasella segera menampiknya, "Bukan, dia bukan nidurin gue."
Rancaka semakin tersenyum sarkas memandang yang katanya sepasang kekasih ini dengan remeh, Lareska semakin bingung. Menatap Yasella seolah meminta penjelasan tapi mulutnya enggan untuk memintanya. Dan dalam hati Lareska pun berkata bahwa, "Lo gak perlu tau Res, ini bukan urusan lo"
"Jelasin dong sayang."
Rancaka mencolek dagu Yasella yang langsung di tepis oleh Lareska, dan akhirnya kata kata yang tak ingin Lareska katakan kini ia katakan.
"Jelasin, Se."
Dedauan basah tertiup angin malam bersamaan dengan perintah Lareska, udara dingin benar benar menusuk tulang. Tak hanya itu, jangkrik yang bersahutan pun memecah hening ketiganya.
"Gue kira lo paham yang gue bilang tadi, Res"
"Jelasin."
Terbesit kejadian satu tahun lalu di kepala Yasella, iya memejamkan matanya rapat seolah enggan mengingatnya kembali.
Flashback on
BRAKK
Badan Ace menabrak papan tulis bekas digudang sekolahnya, SMP Jinarta. Badannya terasa remuk, sakit, panas, Ace tidak menyukai rasa itu. Dia pun berusaha bangkit dan kembali di hempaskan dengan kasar.
"Diem atau lo mati."
Mendengar perintah itu, Ace diam. Menahan rasa sakit di badannya, sekaligus di hatinya. Laki laki yang ia cinta itu lah yang membanting badannya ke papan, dengan tak berperasaan sedikitpun. Terlihat samar Ace mengangguk, memegangi dada serta pinggang sambil menatap mata kekasihnya itu.
"Ka.. Please udah, ini sakit banget."
"Lo sayang kan sama gue?" Ini sudah bukan pertanyaan lagi bagi Ace, baginya ini ancaman. Seolah ia harus mengangguk atau menjawab 'iya' agar penderitaannya selesai, setidaknya untuk hari ini. Yasella pun mengangguk, berkata parau dan pasrah.
"Iya, aku sayang sama kamu, Ka"
Rancaka mengelus rambut Ace nya, miliknya, kuasanya. Mengecup pucuk kepala gadis itu, dan meninggalkannya sendirian di gudang sekolah. Yasella menghela nafas sedikit lega, lagi lagi ia berfikir penderitaannya akan selesai. Setidaknya hari ini.
Ace berusaha berdiri, menopang badannya yang remuk bak di jatuhkan dari lantai 13. Nafasnya berat, dadanya sakit, matanya penuh kunang kunang, "Sakit..."
Flashback off
☆ Vanilla ☆
Lareska membuka handle pintu kamarnya, merubuhkan badannya dikasur, menatap langit langit dan sekejap memejamkan matanya, dalam pandangan Lareska terbesit kata kata Yasella "Dia nyiksa gue" ia mengusap wajahnya kasar.
"Gue... Kenapa peduli?"
TING!
Lareska menoleh ke nakas, diatasnya terdapat ponsel Lareska yang berbunyi. Dengan malas ia buka pesan tersebut dan...
+6281393******
| Gue mohon, jangan kasih tau siapa siapa
| Ah, ini gue. Yase.
Lares menghela nafasnya, dengan cepat ia membalas chat dari Yase.
+6281393******
| Gue mohon, jangan kasih tau siapa siapa
| Ah, ini gue. Yase.
| Gue bukan tipe cowok yang lo pikirin.
| Thanks, udah ya Res lo udah bantu banyak.
| Ok
Hampir melempar ponselnya ke kasur, Lareska mendapat panggilan dari Ona. Ia baru sadar, seharian ini ia tak mengabari pacarnya itu. Dengan cepat pula ia menekan fitur hijau.
"Ona, sorry aku tadi sibuk."
"Res? Kenapa?"
"Gak papa, maaf ya sayang"
"Iya aku ngerti, udah makan? Mau aku anterin makan gak?"
Lareska terdiam, bagaimana bisa ia mengabaikan Ona yang seperti ini demi gadis lain. Gadis yang baru saja ia kenali, terbesit rasa bersalah yang amat di hati Lareska.
"Ah, gak udah Ona. Aku udah makan"
"Gitu? Udah belajar?"
"Aku baru... Sampe."
"Darimana?"
"Ona, maafin aku ya. Aku sering ilang, gak bales chat, bahkan gak izin sama kamu"
"Ssstt gak papa Ares. Yang penting kamu udah makan"
Lareska tersenyum, beruntung sekali ia memiliki kekasih seperti Ona. Tapi lagi lagi wajah imut Yasella terpapang jelas di benaknya, membuat ia mematung. 5 detik... 10 detik...
"Ares!"
"Eh, maaf. Ona kamu tidur sana udah malem besok kita ke timezone. Kangen kan?"
"Asikk! Oke Res see u tommorow!"
Panggilan berakhir, Lareska membanting ponselnya di kasur, berharap setelah ini ia fokus kepada Ona.
"Vanilla gue..."
.
.
.
to be continued...
TBC
notifikasi kalian candu aku loh, makanya yu kasi aku notif! biar cepet up juga aku!
Jidan Langkata