Mistake✔️

By LaelatulHafidah

69K 9K 1.7K

Semua baik-baik saja antara Min Yoongi dan Jungkook-sang putra. Hingga satu kebenaran terungkap, dan membuat... More

Prolog
Mistake 01
Mistake 02
Mistake 03
Mistake 04
Mistake 05
Mistake 06
Mistake 07
Mistake 08
Mistake 09
Mistake 10
Mistake 11
Mistake 12
Mistake 13
Mistake 14
Mistake 15
Mistake 17
Mistake 18
Mistake 19
Mistake 20
Mistake 21
Mistake 22
Mistake 23
Mistake 24
Mistake 25
Mistake 26
Mistake 27
Mistake 28
Mistake 29
Mistake 30 (End)
Epilogue
Si Sulung
Selamat ulang tahun, Ayah!
Ayah terbaik di dunia

Mistake 16

1.4K 231 33
By LaelatulHafidah

Melakukan kesalahan itu wajar. Tapi untuk mengakuinya, tidak semua orang bisa melakukannya.

Senyum miris tercetak di wajahnya, mana kala perkataan Yoongi—sang ayah—kembali berputar di otaknya.

Jungkook ingat sekali, sang ayah mengatakan itu saat dia tak sengaja mematahkan kaca mata miliknya.

Ayah tidak marah. Saat itu, ayah hanya tersenyum. Membawa Jungkook ke atas pangkuannya sembari berkata;

Ayah tahu, kok, Koo yang patahin kaca mata Ayah. Ujung kaca mata Ayah terlihat, waktu Ayah bertanya dan Koo sembunyikan kaca matanya di balik punggung Koo, tadi.

Jungkook terperanjat kala itu. Jadi, usahanya untuk berbohong ternyata sia-sia lantaran sang ayah sudah menangkap basah dirinya.

"Kenapa Ayah pula-pula gak lihat?"

Adalah pertanyaan pertama yang Jungkook pikirkan saat itu.

"Ayah hanya menunggu Koo jujur. Manusia melakukan kesalahan itu wajar. Tapi untuk mengakuinya, tidak semua orang bisa melakukannya."

"Dan Ayah bangga sekali, karena Koo sudah berani mengakui kesalahan Koo dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."

Kesalahan yang dimaksud oleh sang ayah semata-mata bukan perkara Jungkook mematahkan kaca mata miliknya saja. Melainkan Jungkook yang sempat berbohong, sebelum akhirnya mengaku usai mendengar cerita ayah tentang Pinokio, serta hidungnya yang terus memanjang setiap kali dia berkata bohong.

Jika keadaannya berbeda, mungkin Jungkook akan menggoda sang ayah dengan kata-katanya sendiri. Mengatakan hidungnya akan memanjang, karena sudah berbohong padanya selama bertahun-tahun lamanya.

Namun, hal itu tidak bisa Jungkook lakukan sekarang. Kebohongan ayahnya bukanlah hal kecil yang bisa dia jadikan sebagai lelucon. Besar, sangat besar. Hingga Jungkook sendiri tak tahu apa yang harus dia lakukan selain kabur; menyelamatkan hatinya yang sudah hancur oleh kenyataan.

"Kamarnya sudah Ibu siapkan. Sekarang ganti baju lalu tidur, ya?"

Itu Ji Hyun yang bersuara.

Ya, setelah meninggalkan rumah sang ayah, Jungkook memutuskan untuk pergi ke rumah ibunya.

Awalnya Jungkook ragu, mengingat dia pernah menolak ajakan dari sang ibu. Akan tetapi, Jungkook tidak punya pilihan lain lagi. Tidak ada orang—setelah sang ayah—yang bisa Jungkook jadikan sebagai tempatnya pulang selain ibunya.

"Kamar kamu ada di lantai dua, ya, Nak? Naik aja, cuma ada dua kamar di sana, kok. Yang sebelah punya Kakak kamu, Jimin."

Jungkook hanya mengangguk. Mengucapkan terima kasih, lantas melangkah pergi begitu sang ibu kembali ke kamarnya sendiri.

Ibu benar, hanya ada dua kamar di sini. Akan tetapi, Jungkook merutuki dirinya sendiri lantaran lupa untuk bertanya ada di sebelah mana kamar miliknya.

"Kanan, atau kiri?" gumamnya.

Dua kamar itu saling bersebelahan. Kamar kanan dengan pintu berwarna biru, sedangkan kiri dengan cat abu-abu.

Jungkook yang bingung akhirnya memutuskan untuk membuka kamar sebelah kanan. Tidak terkunci. Mungkin ini kamarnya.

Namun, tidak. Agaknya Jungkook telah melakukan kesalahan. Karena begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada seorang pemuda yang kini tengah menatap dirinya dengan raut tak terbaca.

"A-ah, maaf. Sepertinya aku salah kamar," ujarnya, canggung.

"Maaf sudah mengganggu waktu istirahatmu, ya ... K-kak."

Jungkook berencana langsung pergi setelah mengucapkan hal itu. Akan tetapi, suara yang berasal dari Jimin—sang kakak. Berhasil menghentikan langkahnya.

"Jungkook. Itu namamu, 'kan?"

Anak itu menoleh. Mengalihkan pandangannya pada sang empu yang hingga kini tak bergeser sedikitpun dari tempatnya. Tidur terlentang dengan badan sedikit ditegapkan, juga kedua mata yang terus menatap ke arahnya.

"Iya, Kak. Kenapa, ya?"

Jimin menggeleng.

"Tidak. Hanya ingin mengucapkan selamat datang," ujarnya.

"Ah, satu lagi. Semoga kau tidak menyesali keputusanmu untuk tinggal di rumah ini. Ya?"

Jujur saja, Jungkook sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan kakaknya. Namun, Jungkook yang segan untuk bertanya memilih untuk diam. Anak itu hanya mengangguk, lantas melangkah pergi dari sana.

***
Setiap pagi, biasanya hanya ada Jungkook dan ayah di meja makan. Hanya berdua, tetapi entah kenapa terasa begitu hangat baginya.

Berbeda sekali dengan di sini. Yang meskipun terbilang cukup ramai dengan adanya ibu, kak Jimin, juga paman Seoho—suami ibu. Tetap saja tidak bisa mengurangi rasa canggung dalam dirinya. 

"Jungkook yakin, tidak ingin pindah saja? Ibu bisa, kok, cari sekolah yang lebih bagus buat kamu."

"Tidak perlu, Bu. Tanggung juga, soalnya. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan sebelum kelulusan."

Ji Hyun mengangguk, kendati hatinya tidak sepenuhnya setuju dengan keputusan sang putra. Ji Hyun hanya ingin Jungkook melupakan semua tentang Yoongi. Terus berada di sana sama saja memberi Yoongi kesempatan untuk terus menemuinya, dan kembali membuatnya luluh padanya.

"Sudah selesai makannya? Bisa kita berangkat sekarang?" tanya Seoho.

Merasa pertanyaan itu ditujukan padanya, Jungkook lantas mengangguk. Jungkook sudah menolak, tetapi sang ibu tetap bersikeras agar dia berangkat dengan Seoho. Sekalian berangkat ke kantor, katanya.

"Tidak menunggu Kak Jimin dulu, Paman?" tanyanya.

"Kak Jimin sedang kurang sehat. Kalian berangkat saja, ya?"

Alis Jungkook sedikit terangkat begitu mendengar jawaban sang ibu. Jimin tampak sehat-sehat saja, kok. Ya, meskipun wajahnya sedikit—catat, hanya sedikit—pucat, pun makanan dipiringnya tidak berkurang banyak. Tetap saja, rasanya berlebihan jika sampai bolos kuliah dengan alasan itu.

Tapi masa bodo, lah. Untuk apa juga Jungkook pusing-pusing memikirkan kakak tirinya. Masalah hidupnya saja sudah banyak.

***
Banyak sekali harapan juga mimpi Yoongi untuk sang putra. Sepertihalnya Jungkook, Yoongi juga ingin melihat anak itu sukses. Melihatnya mengenakan toga, dan menjadi orang pertama yang putranya cari ketika dia berhasil meraih cita-cita.

Akan tetapi, takdir begitu kejam karena telah merenggut semua itu darinya. Jungkook, anak itu pergi dalam kemarahan. Dia bahkan tidak mengijinkan Yoongi untuk meminta maaf dengan benar.

Yoongi ingin sekali menyusulnya saat itu. Namun, larangan keras dari sang kakak ipar mau tak mau harus membuatnya menurut.

Apa kau pikir Jungkook akan mendengarkanmu? Tidak, Yoon. Bicara padanya sekarang hanya akan memperumit keadaan.

Beri dia waktu. Jungkook sudah dewasa, dia tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang kau pikirkan. Jadi tenanglah. Percaya padaku, putramu pasti baik-baik saja.

Dan Yoongi tidak bisa untuk tidak bersyukur. Saat paginya sang keponakan menelfon, mengatakan jika Jungkook baik-baik saja usai melihatnya ada di sekolah begitu dia sampai di sana.

Meski begitu, Yoongi tidak akan tenang sebelum dia melihatnya secara langsung. Jadi, di sinilah dia sekarang; berdiri di depan gerbang sekolah sembari menunggu kepulangan putranya.

"Kenapa lama sekali?" gumam Yoongi. Pria itu menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya yang saling meremat bahkan sudah mulai berkeringat.

Sungguh, Yoongi tidak pernah merasa segugup ini untuk bertemu dengan putranya sendiri. Namun, memikirkan reaksi apa yang akan putranya berikan saat melihatnya agaknya berhasil membuat pikiran juga hatinya menjadi tak karuan.

"Oh, Jungkook. Itu Ayahmu, 'kan?"

Yoongi sontak mendongakkan wajahnya kala mendengar nama sang putra. Mengulas senyumnya, ketika Jungkook menetapkan pandangannya padanya.

"Halo, Paman. Mau menjemput Jungkook, ya?" tanya remaja lelaki bernama Mingyu itu. Remaja yang sama, yang Yoongi temui di rumah sakit tempo hari.

Yoongi mengangguk.

"Bagaimana kabar Ibu-mu?"

"Jauh lebih baik, Paman. Ibu juga sudah keluar dari rumah sakit."

"Syukurlah," jawab Yoongi.

Jungkook sendiri hanya diam mendengar percakapan Mingyu dengan ayahnya. Hendak pergi ketika Mingyu sudah pamit undur diri, jika saja sang ayah tidak lebih dulu bersuara dan membuat langkahnya terhenti.

"Koo ...."

Jungkook benci mengakuinya. Namun, suara sang ayah yang memanggilnya dengan lirih benar-benar membuat hatinya goyah.

Jungkook tidak suka.

Dia tidak pernah suka mendengar ayahnya memanggilnya dengan nada memohon seperti ini.

"Ayah minta maaf. Ayah mohon, maafkan Ayah, Koo."

Jungkook menggeleng.

Anak itu menundukkan kepalanya, mehanan mati-matian air mata yang sudah mendesak keluar dari pelupuk matanya.

"Ayah akui, Ayah salah. Tapi tolong, jangan hukum Ayah seperti ini, ya? Koo tahu 'kan, Ayah sayang sekali sama Koo. Ayah tidak bisa jika harus berpisah dengan Koo."

"Koo, putra Ayah. Pulang, ya, Nak? Rumah terasa sangat sepi tanpa adanya Koo di sana."

Tidak ada satupun orang yang menginginkan sebuah perpisahan. Begitupun dengan Jungkook.

Berpisah dengan Yoongi adalah sesuatu yang tidak pernah Jungkook bayangkan sebelumnya. Kalaupun harus terjadi, itu tidak dengan cara seperti ini. Jungkook pikir, dia dan sang ayah akan berpisah ketika usia mereka sudah mencapai batasnya.

Namun, fakta bahwa Yoongi adalah penyebab di balik hilangnya nyawa sang ayah kandung, tentu membuat sebuah perbedaan untuknya. Rasa hormat yang telah lama Jungkook tanamkan dalam hatinya untuk Yoongi, kini mulai terkikis secara perlahan. Hanya tinggal menunggu hatinya mati, maka tidak ada lagi yang akan tersisa selain kebencian.

"Sudah selesai, bicaranya?"

Jungkook menghapus kasar air matanya. Dia mendongakkan wajahnya lantas menatap sang ayah dengan tatapan tak suka.

"Sebenarnya apa yang Ayah harapkan dari seorang anak yang kehilangan orang tuanya karena kesalahan Ayah? Maaf? Mungkin akan kuberikan jika saja Ayah mengakuinya dari awal. Tapi tidak, Ayah sendiri yang membuat semuanya menjadi serumit ini. Jadi, terima saja semuanya sekarang, Ayah. Anggap ini sebagai karma. Karena mulai sekarang, Jeon Jungkook. Putramu. Benar-benar telah membencimu."

Tidak ada lagi yang keluar dari mulut Yoongi usai Jungkook menyelesaikan perkataannya. Rasanya dadanya sesak, begitu sesak hingga dia bahkan kepayahan untuk sekadar mengambil napas.

Air mata yang mati-matian Yoongi tahan kini sudah tidak bisa lagi dia kendalikan. Tubuhnya meluruh, bersender pada pilar gerbang.

Yoongi menangis tanpa peduli pada tatapan para pelajar yang kini sudah mulai berhamburan. Total abai, pada Taehyung yang terkejut melihat keadaannya dan berusaha membuatnya tenang.

Jungkook membencinya,

Satu alasan itu sudah cukup untuk membuat semesta milik Min Yoongi hancur tak bersisa.







Tbc.








_________

Hoho, gimana sama chapter kali ini? Paling panjang di antara chapter sebelumnya, kayanya. Tapi untuk feel, gak tau dah dapet atau enggak.

Btw, udah liat pengumuman, kan? Mulai minggu depan Mistake bakal aku up tiap hari sabtu, ya! Kalau enggak up-up, teror aku aja gkpp. Asal jangan teror pake hantu, ya, hehe.

___________________

Continue Reading

You'll Also Like

102K 6.6K 30
Tidak ada orang hebat sebelum melalui rasa sakit.
41.2K 3.6K 27
(Lagi) tentang kakak dan adik. Min Yoongi, Min Jungkook @Maret2021
38.6K 2.7K 35
Bagaimana jadinya jika di benci oleh keluarga sendiri termasuk ayah kita sendiri? Ini kisah seorang Min Yoongi yang selalu mendapat hukuman setiap me...
41.1K 2.5K 36
Jeandra dan segala harapannya untuk bisa merasakan kembali keluarga yang utuh Hope BY: Windicandy
Wattpad App - Unlock exclusive features