TOM : BECOMING A NATION

By AbdulFoo

107 1 1

Manusia kembali ke peradaban awal dan hidup berkoloni setelah perang dunia besar besaran yang menghancurkan s... More

Prologue
1. A Voiceless Vilage

2. Ear Mutation, And The Grayman

18 0 0
By AbdulFoo

Papan rumah ini berderit derit saat aku berjalan keluar. Bukan hanya itu, sepertinya seisi desa ini juga terdiri dari kayu kayu yang sudah dipoles, dan disusun sedemikian rupa hingga bisa menampung manusia sebanyak ini. Dan lagi, aku harus mencari adikku yang menghilang entah kemana setelah meninggalkanku. Merepotkan. Aku berjalan menuju tangga yang berada diluar didekat sebuah rumah, kira kira berjarak 6 rumah dari milik Noora dari arah timur. Tangganya juga terbuat dari kayu. Kupandangi lagi seisi desa yang dikelilingi oleh banyak pohon pohon raksasa. Aku bertanya tanya apakah semua komunitas yang tersebar di bumi juga hidup seperti ini? Mengingat inilah kali pertamaku berinteraksi dengan komunitas lain selain punyaku.

Baru saja aku pijakkan kakiku menuruni beberapa helai papan anak tangga, aku menemukan sebuah lantai lain. Hanya banyak warga desa yang berlalu lalang dan beberapa dari mereka yang membawa keranjang diatas kepalanya. Beberapa saat kemudian seorang pria yang kutaksir sedikit lebih muda dariku datang menghampiriku. "Permisi, apa anda mau turun disini atau masih akan turun kebawah?". Kuperhatikan penampilannya, tubuh bagian atasnya terbuka dan ia memakai celana panjang yang bermotif sama denganku. Kedua tangannya dipenuhi oleh darah yang menetes netes mengenai lantai kayu, sedang tangan kirinya membawa beberapa ekor mutan bertelinga panjang.

"Oh, maaf. Tapi apa kau tau dimana Rumah Makan?"

"Rumah makan berada di lantai 4, masih ada 5 lantai lagi yang harus kau turuni" Ia mendengus. Bau anyir terasa memenuhi hidungku. Ini pasti gara gara bangkai mutan itu.

"Baiklah, terimakasih" Ucapku dan kembali menuruni tangga. Semakin aku menuruni, dan benar saja semakin banyak lantai yang aku jumpai. Setiap lantainya tersusun berbentuk lingkaran yang bergantung pada pohon pohon raksasa. Pada setiap lantainya ada 2 buah tangga kayu yang menjulang tinggi hingga puncak diarah barat dan timur. Dibagian tengahnya, terdapar banyak sekali sulur sulur pohon yang bergantung dan memberikan kesan amazon. Sebagian orang yang kulihat tadi juga memakai sulur itu untuk berayun. Seperti Tarzan. Masyarakatnya juga rata rata menggunakan pakaian dengan motif dan bentuk yang sama. Jarang sekali kulihat kaum Adam yang memakai baju untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Aku jadi minder sendiri mendapati diriku yang memakai atasan, meski tidak berlengan.

Aku kemudian melompat dari tangga ke lantai setelah sampai. Kembali aku berjalan mengitari lantai 4 ini, berbeda dengan di puncak, entah kenapa kayu dibagian ini terasa lebih tebal dan kokoh. Tak ada deritan yang kudengar. Disini, semua orang terlihat berkumpul membentuk keramaian seperti di pasar. Aku berjalan sambil melengokkan kepalaku kiri kanan, mencari sebuah bangunan bernama Ruang Makan. Namun yang kujumpai hanyalah sebuah beberapa bangunan yang dipenuhi oleh persenjataan, beberapa mainan anak anak (aku bisa tahu karena banyak anak anak yang bermain disana). Takut kalau kalau telah tersesat, aku menghampiri seseorang yang sedang bersandar di depan tangga. Rambutnya gimbal dan terkesan acak acakan. "Halo, bisakah kau katakan padaku dimana Rumah Makan?". Ia tak menjawab dan malah memperhatikan penampilanku dari atas kebawah, dan dari bawah keatas, begitu matanya bergerak gerak seakan sedang menginterogasiku.

Pria itu menatapku pongah. Sambil menggigiti kuku jari telunjuk kanannya, ia malah berbalik bertanya kepadaku."Kau siapa?"

"Aku.. pendatang"

Alisnya bertaut. "Pendatang? Kami belum pernah bertemu komunitas manapun" sergahnya lagi.

"Tentu, aku bukan bagian dari komunitas"

Matanya menyipit, ia membebaskan punggungnya dari dinding dan kembali memperhatikanku lekat lekat. "Kau bukan bagian dari komunitas ini, lantas siapa kau? Kenapa kau bisa memakai Grayclothe?"

"Aku.." -- "Tom!!" Aku memutarkan badan dan menemukan sosok Phoebe tengah melambai lambaikan tangannya padaku dari kejauhan. Pasti disanalah Rumah Makan. "Aku pergi dulu" Lalu aku berjalan menjauhi pria tersebut dan sedikit berlari menuju rumah makan. Phoebe masih berdiri disana, didepan pintu masuk. Bibirnya menekuk seolah olah mengekspresikan kekesalannya karena aku terlambat.

"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk memakai bajumu?" Benar kataku, Phoebe kesal. Ia menarik tanganku berjalan masuk kedalam bangunan ini. Aku hanya mengikutinya saja. Terlalu banyak orang ditempat ini, aku bahkan sampai beberapa kali bersenggolan atau bahkan bertubrukan dengan bahu orang orang lain. Aroma bawang dan seledri terasa begitu mendominasi seisi ruangan. Aku seperti kapal yang diombang ambingkan oleh angin di tengah laut, aku kapal dan Phoebe anginnya. Kami kemudian berhenti didepan sebuah meja bundar yang kira kira berdiameter dua kali kaki lembu. Aku menemukan Noora bersama beberapa orang lainnya sedang menikmati makanan mereka terkejut akan kedatanganku. "Duduklah, aku sudah memesankan makanan untukmu" perintah Phoebe padaku. Aku hanya menurutinya lalu menjatuhkan bokongku diatas sebuah kursi yang lagi lagi juga dari kayu tepat diantara Phoebe dan Noora.

Benar saja, didepanku ada sepiring besar berukuran 1/4 perisai yang sudah berisikan seekor tupai kecil yang sudah dikuliti dan disirami oleh kuah yang benar benar kontras sekali bau bawangnya. Tidak ada sendok, hanya garpu dan juga sebuah papan berukuran kecil. Aku terbiasa makan dengan sendok, dan aku spontan menoleh pada Phoebe yang sudah habis setengah piring makanannya. "Gunakan sendok itu" bisiknya lagi. Aku hanya mengangguk angguk lalu mencoba menahan badan tupai itu dengan garpu. "Tusukkan" kata Phoebe lagi. Aku benar benar seperti anak kecil yang diajarkan ibunya sekarang.

Semua orang yang berada satu meja denganku tertawa. Aku cuman bisa melengos sambil terus menusuk nusukkan papan itu. "Dia seperti anak kecil, Noora" Kata seorang wanita berambut sebahu yang duduk tepat didepanku. Tatapannya benar benar mengejek.

Noora melirikku sebentar kemudian kembali fokus pada makanannya"Dia bukan Graypea (=Pendufuk pribumi Gray) asli, Uma. Maklumi saja" Aku sedikit tidaknya merasa tersinggung, karena mungkin saja baru saja kata kata itu dimaksudkan menyindirku.

Orang yang dipanggil Uma itu terkekeh bersama teman temannya yang lain. Mungkin otakku sudah kepalang mendidih sekarang. "Sudah puas kalian menertawakanku?" Geramku sambil meremas batang garpu.

"Dingin. Kami hanya bercanda" Sahut seorang pria yang berjarak 2 kursi dari Uma. Aku mendengus sebal dan kembali memotong daging tupai tersebut.

Phoebe yang sedang menikmati makannya juga ikut berseru,"Apa maksudmu dengan dingin, Koma?" Ah ternyata adik kecilku sudah akrab dengan orang orang disini.

Orang yang dipanggil Koma tadi tersenyum tipis, "Disini, kami selalu menggunakan isyarat dalam mengatakan sesuatu. Seperti tadi, Dingin (=Chill) untuk tenang. Dan juga untuk mendinginkan kepala yang sedang mendidih tentu saja" ia melirikku nyeleneh. "Aku Koma. Dan seharusnya kau hanya harus menusuk tupai itu dengan garpu, dan gigiti dia. Sampai hari pembalasanpun kau takkan bisa memotong daging tupai dengan papan tumpul itu" Semua orang yang ada di meja ini tertawa.

"Terimakasih, Koma" Balasku singkat dan mempraktekkan sarannya. Phoebe menyikut bahuku. "Apa?"

"Perkenalkan dirimu!" Bisik Phoebe. Sedikit memerintah. Aku mengerti dan mendehem hingga seisi meja ini menoleh padaku.

"Aku Thomas. Panggil saja Tom"

"Tom si serangga yang akan menyengat bila kau digigit?" Sahut orang yang lainnya disebelah Koma. Aku menggeleng. "Kupikir namamu TomCat" Sontak seisi meja tertawa. Lagi lagi aku hanya bisa mendengus dan mencicipi makananku. "Namaku Laurie". Aku tersenyum padanya.

Dan berikutnya orang orang yang berada di sebelahnya secara berturut turut memperkenalkan diri. Koma, Laurie, Uma, Puma, dan juga Lyin.

Kami berbincang bincang siang itu dan sesekali juga bercanda. Aku bertanya kepada mereka kenapa desa ini begitu tenang dan hampir semua warganya selalu berbisik bisik. Dan juga kenapa semua telinga orang yang menghuni komunitas ini berwarna kemerah-merahan. Alasannya adalah karena efek radioaktif yang dihinggapi oleh buyutnya. Mereka sangat yakin buyut mereka adalah keturunan sebuah pulau di bagian selatan Jepang. Dan itulah kenapa mereka mendapatkan mata sipit. Meski perkembangan zaman mengakibatkan beberapa mata sipit hilang dari sebagian warganya. Telinga orang orang di Gray sangatlah sensitif. Kau tak diperbolehkan berbicara disini karena itu dapat menyakitkan gendang telinga mereka. Begitu sensitifnya mereka hingga dapat mengetahui suara musuh yang sedang bernafas dalam radius 2km darinya.

Kami terlarut dalam perbincangan hangat hingga hampir setiap orang di rumah makan ini berdiri berbarengan. Termasuk Uma, Koma, Lyin, Puma , Laurie dan juga Noora. Aku terheran heran kenapa mereka semua tiba tiba berdiri. Aku sempat melirik Phoebe yang berada disebelahku, tapi dia malah menggeleng tidak tahu. Aku kemudian memutuskan berdiri bersama mereka, begitupun Phoebe. Semua mata terpejam, aku tak mengerti kenapa. Tempat ini mendadak menjadi lebih hening daripada sebelumnya. "Apa yang mereka lakukan?" Bisikku pada Phoebe. Spontan semua orang membelalakkan matanya lalu menyeringai padaku.

"Ssstt!!!"
***
"Grayman? Bukannya kalian Grayman?" Tanyaku saat mengikuti ke-enam orang ini berjalan menuju anak tangga. Phoebe mengikut saja dibelakang kami.

"Bukan, Tom" balas Laurie. "Grayman itu seperti petarung. Petarung yang harus menjaga keamanan desa"

"Oh ya? Jadi kenapa kita harus ke lantai dasar sekarang?" Sambungku lagi.

"Berlatih!" Sahut Puma yang berada beberapa langkah didepanku.

"Disini, kami selalu dilatih setiap sorenya hingga menjelang matahari terbenam. Dan kemudian beberapa dari kami akan dipilih untuk berpatroli sepanjang malam" Terang Koma. Kami berlima satu persatu menuruni tangga dan mencapai lantai paling dasar. Tapi masih berada di tempat yang berjarak cukup tinggi dari dasar tanah. Kukisar kira kira berada di ketinggian 100m.

Untuk pertama kalinya aku baru memijakkan kaki di tempat yang sama sekali tidak terbuat dari kayu disini. Meskipun ada, itu hanya untuk lantai latihan yang berada di tengah. Oh iya, kau pernah melihat Colosseum yang berada di Italia? Seperti itulah gambaran tempat pelatihan para Grayman. Ada banyak kursi penonton yang disusun dengan tinggi dan letak yang tidak sama. Dipertengahan bulan, akan diadakan sebuah perlombaan untuk menentukan siapa yang paling kuat dari setiap Grayman. Aku masih abu abu tentang pertandingan ini.

Kami ber-8 lalu satu persatu memasuki pintu masuk tempat latihan itu. Aku duduk disamping Phoebe dan disebelah kananku Laurie. Jujur saja, baju Laurie yang benar benar terbuka itu membuatku risih. Dia tak memakai atasan apapun melainkan hanya memanfaatkan rambut untuk menutupi asetnya. "Kau akan menyukai ini Tom" ocehnya. Aku berusaha tetap fokus pada arena tetapi tetap saja mataku tak dapat berkompromi. Sementara aku sibuk dengan duniaku, Phoebe juga sibuk berbincang bincang dengan Noora. Aku melihat sekitar dan mendapati beberapa orang yang sepertinya juga Grayman memasuki tempat ini. Ada banyak sekali. Kutaksir mungkin sekitar 20 orang.

"Deng! Deng!" Aku tersentak kaget mendengar sebuah lonceng berukuran cukup besar dibunyikan. Suaranya sangatlah nyaring. Beberapa saat kemudian aku mendengar seperti sebuah pengeras suara yang baru saja dibunyikan. "Kempo dan Laguna" kemudian bunyi itu mati. Aku mencari cari asal suara namun tak menemukannya.

"Siapa Kempo dan Laguna? Dan apa maksud dari bel tadi?" Tanyaku pada Laurie yang benar benar antusias.

Laurie menselonjorkan kakinya dan merapikan posisi rambut di dadanya, "Mereka itu pion pion yang akan diadu satu sama lain" katanya santai.
"Apa maksudmu?"

"Mereka akan diadu di arena ini. Kau tidak pernah menonton pertandingan gladiator ya?" Aku terdiam. Memang aku belum pernah menonton video itu yang katanya pernah dilakukan pada tahun 2049 di sebuah negeri bernama Italia. Tapi aku pernah membaca sebuah artikel tentang dua orang yang diadu sampai mati di sebuah arena untuk menjadi hiburan bagi penonton.

"Mereka benar benar bertanding gladiator?" Tanyaku dengan cepat

"Ya. Hanya saja tak akan ada yang mati disini" Lagi lagi aku terdiam. "Kau lihat sajalah"

Selang beberapa menit kemudian, terlihat dua orang pria dengan masing masing kapak dan juga pedang di tangan mereka memasuki arena. Semua orang bersorak sorai kecuali aku. Dinegeriku, pertumpahan darah adalah suatu yang haram diceritakan. Hanya militer yang boleh ikut campur ataupun turun langsung dalam hal itu. Namun melihat fakta yang kutemukan di luar Neverlandia hal seperti ini begitu lumrah terjadi, membuatku sedikit tertekan. Begitupun Phoebe yang tampak tegang disebelahku. Dua orang pria itu tak memakai atasan apapun. Hanya sebuah cawat kecil yang menutupi bagian pribadi mereka dibagian selangkangan. Laurie malah semakin bergairah menteriaki mereka sedang Uma dan juga Puma (mereka kembar) malah mengadakan taruhan. "Kau lihat Tom? Aku yakin Kempo yang akan menang" Pekik Laurie disebelahku

"Siapa itu Kempo!?" Aku balas memekik dan sesaat kemudian kulihat telinga Laurie menjadi merah padam. Aku langsung menutup mulutku saat itu juga. "Maaf"

"Kempo orang yang memakai Kapak" Ucap Noora. Aku hanya mengangguk angguk dan menyaksikan jalannya pertandingan. Laguna maju dengan pedangnya sedang Kempo mundur beberapa langkah dari tengah ring. Pria berpedang itu tampak sumringah saat menghadapi Kempo yang terus menerus mencari sudut mati di arena. Laguna semakin beringas dan mulai mengayunkan pedangnya pada tubuh Kempo. Ia menghindar dan berlari menuju tengah arena.

Meski masih terasa hening, aku bisa mendengar beberapa orang berteriak."Ayunkan kapakmu! Bodoh!". "Laguna! Hajar dia! Incar kepalanya!"

Laguna berlari kesetanan mengejar Kempo yang terus berlari berkeliling keliling lapangan sambil membawa kapak yang cukup besar di tangannya. Kenapa Kempo tak langsung menyerang Laguna saja? Secara teori, tentu saja yang menang Kapak jika dihadapkan dengan pedang.

"Lagunaa!! Ayunkan pedangmu!!" Kali ini Laurie yang berteriak sambil meloncat loncat. Kembali aku tak bisa fokus dengan pertandingan. Keadaan semakin sulit bagi Kempo saat Laguna berhasil melukai bagian betisnya. Darah segar mencuat dari sana dan membuat Kempo jatuh tertunduk. Ia bersimpuh di tengah tengah arena dengan darah yang mengalir deras dari betisnya. Laguna mengangkat pedangnya tinggi tinggi bersiap untuk menusukkannya di badan Kempo, namun dengan sigap Kempo bangkit dan melayangkan sebuah pukulan telak dibagian selangkangan Laguna. Aku bisa melihat dia mengerang dengan jelas disini. Pedangnya terjatuh dan dia menutupi bagian pribadinya dengan kedua tangan. Kempo bangkit dan melayangkan kapaknya pada bagian pinggang Laguna dan lagi lagi darah segar muncrat seperti Pie selai stroberi yang ditusuk pisau. Laguna lagi lagi mengerang kesakitan. Puma pada akhirnya membayar sesuatu pada Uma (aku tak tahu apa dengan apa ia bayar taruhannya).

Aku tak bisa melepaskan mataku dari arena melihat Laguna yang kesakitan karena pinggangnya berhasil dirobekkan oleh kapak milik Kempo."Masih belum berakhir?" Tanyaku.

"Akan begitu terus, sampai salah satu dari mereka mengangkat telapak tangannya" Balas Laurie santai sambil merapi rapikan rambut. Benar saja pertarungan itu masih berlanjut bahkan sampai ketika kedua pinggang Laguna berdarah. Baru ia mengangkat tangannya dan bel dibunyikan. Laguna jatuh tersungkur di arena dengan bersimbah darah.

Satu menit. Bahkan sampai tiga menit. Tak ada satupun paramedis yang datang menolongnya. Aku melengok ke sebelahku dan menemukan Phoebe dan Noora sudah tidak berada disampingku lagi. Kempo sudah kembali ke tempatnya sedang Laguna mengerang kesakitan sendiri di tengah tengah sana.

"Cepatlah berdiri, bodoh! Kami ingin pertandingan selanjutnya!"."Berdiri Lagunaa!!" Telingaku panas karenanya. Jelas Laguna tak bisa berdiri lagi. "Apa tak ada yang akan menolongnya?" Tanyaku pada Laurie.

"Dia akan pergi sendiri" Balasnya lagi lagi santai. Dan benar, Laguna bangkit dan berjalan terseok seok menuju pintu keluar arena.
***
Phoebe sudah tertidur disampingku. Sedang aku sama sekali tak bisa tertidur dan lebih memilih bermenung di jendela menopang daguku dengan sebelah tangan sambil melihat langit yang ditutupi oleh dedaunan pohon pohon yang mengelilingi desa ini. Bulan bersinar dengan begitu terangnya dan dikelilingi oleh bintang bintang yang tak kalah indahnya. Aku tercenung mengingat masa masa dimana aku dan teman temanku digedung arkeologi selalu melakukan selfie yang mendunia dengan kamera buatan kami sendiri dengan latar langit malam. Masa masa itu begitu indah dan menyenangkan. Pernah juga masa dimana aku terpaksa harus tidur dibawah bulan karena meleset dalam latihan tembak menembak. Aku menyesali semua kenapa mereka termakan omongan busuk si penjilat Honda?

Aku jadi geram sendiri dan mengacak acak rambutku. Beberapa Grayman tampak berpatroli diluar. Ada 3 Grayman yang berpatroli disetiap lantai. Dan penduduk desa tak diperbolehkan pergi keluar dari rumahnya jika Grayman telah berpatroli. Ingin rasanya aku memanjat pohon itu dan duduk diatasnya lalu melihat keindahan langit.

Aku menghela nafas panjang dan melempar pandanganku ke sulur sulur di tengah desa ini.

"Kau belum tidur?" Aku tersentak dari lamunanku dan berpaling pada pemikik suara.

"Noora? Apa yang kau lakukan disini?" Aku balik bertanya padanya. Ia berjalan dan menarik sebuah kursi kemudian duduk disampingku. Rambutnya masih dibiarkan jatuh tergerai begitu saja. Ia menepikan rambut yang menutupi matanya dengan tangan lalu juga ikut menopangkan kepalanya di jendela.

"Maaf tentang pelatihan tadi sore"

"Maaf?" Aku mengernyit. "Kenapa?"

"Adikmu. Ia menangis sejadi jadinya saat melihat Laguna meraung kesakitan" Noora menerawang ke langit. "Pasti sulit bagi kalian menerima kenyataan bahwa kalian diburu oleh rakyat kalian sendiri" Aku tersentak dengan pernyataan gadis yang ada didepanku ini. Bagaimana dia bisa tahu?. "Aku adalah anak dari kepala komunitas ini. Dan aku tahu semua hal tentang Neverlandia yang bahkan tak diketahui oleh orang lain" Aku masih terdiam mendengarkan ceritanya.

"Dulu, salah satu petinggi di negara kalian pernah mengadakan kerjasama dengan komunitas kami. Tapi mereka mengkhianati kepercayaan kami dan membuat semua penduduk benci akan bangsawan serta penduduk Neverlandia" Matanya menatap tajam pada langir malam. "Kalian adalah ancaman bagi kami" Sekarang ia menatapku dengan lekat.

Tenggorokanku tercekat. Adrenalinku memacu. "Kenapa kau tidak melaporkan kami?" Sambungku.

Ia terkekeh sambil menunduk. Sebagian rambut yang ia selipkan ditelinganya jatuh. "Meski aku adalah native , idealismeku tak sama dengan ayahku sendiri, si ketua komunitas. Kau tahu, Hirohito Honda telah membunuh ibuku yang begiru berarti bagi kami"

Honda. Nama itu lagi. "Benarkah?" Tanyaku. Noora mengangguk, mencoba tegar.

"Aku tahu Paullie dan Honda adalah dua orang yang berbeda. Aku tahu Honda sengaja membuat komunitas komunitas kecil seperti kami membenci kalian hanya untuk memusnahkan Paullie. Aku tahu pasti, Paullie berbeda dengan Honda" Air mata Noora menggenang dibagian pelipisnya. Baru saja aku mencoba menghapus air mata itu, tapi Noora sudah mendahuluiku melakukan itu.

Aku menelan ludah saat melihat Noora yang lagi lagi termenung memandang langit. Senyumku mengembang sendiri saat memperhatikannya. Sebagian dari diriku begitu tersayat saat mengetahui Ibunya dibunuh oleh Honda.

"Noora?" Ucapku sangat lambat. Ia hanya meng-hmm menandakan ia masih mendengarkanku. "Aku minta maaf atas semua perlakuan Honda"

"Ya, itu bukan urusanmu"

Lagi lagi aku hampir terjebak dalam saat saat canggung bersama Noora. Lidahku mendadak kelu. "Jujur,.. orangtuaku juga dibunuh Honda. Ia mengadakan propaganda dengan petinggi lainnya untuk menjatuhkan keluargaku dan memaksaku untuk diusir dari negeri sendiri" Ucapku sambil terus memandang tajam pada langit langit.

"Aku turut berduka cita untukmu"

Lagi lagi aku kembali lagi tercekat. "Boleh aku minta tolong padamu?"

Noora mengangguk.

"Bisa kau jagakan Phoebe untukku lusa saat aku menyelinap masuk untuk membunuh Honda?"

Continue Reading

You'll Also Like

160 22 7
kisah 7 orang saudara beserta ketiga sahabatnya dalam menghadapi kejahatan yang kini telah kembali dan mengancam keselamatan dunia sihir..
214 7 13
Mereka dipertemukan kembali di kehidupan ini.Dimana di kehidupan sebelumnya mereka terpisahkan oleh kejamnya peperangan antar negeri.
Wattpad App - Unlock exclusive features