Keluarga Tiara dan Rafa kini sudah sampai di Jakarta, di bandara Halim Perdanakusuma mereka telah di jemput oleh supir pribadi dari keluarga Tiara dengan 2 mobil.
"Line aku langsung pulang aja ke rumah, besok kita sambung lagi rencana pernikahannya" izin Lisa
"Oke nanti suruh supir ku aja yang antar kalian pulang"
"Ardi Lala kalian ikut bunda pulang" titah Aline.
"Makasih bunda"
Rencana mereka ke Jakarta untuk menikah tidak di ketahui oleh siapa pun, dan yang akan di undang juga hanya keluarga dekat dari Tiara dan Rafa.
Kini keluarga vino sudah sampai di rumah dan di sambut oleh penghuni rumah yang lainnya. Rasanya begitu capek ingin mereka beristirahat.
"Lala sama Ardi tidur di kamar tamu ya kamarnya ada 2 kok nanti biar bi Salma yang nunjukin ke kalian" ujar Aline.
"Alaska Ara kalian langsung istirahat aja jangan lupa loh bantuin adeknya naik lift jangan naik tangga" lanjutnya.
"Bi Salma"
"Iya ada apa nyonyak"
"Tolong antarkan Lala sama Ardi ya Bi biar mereka bisa istirahat"
"Baik nyak"
"Kalian istirahat dulu biar bunda yang masak buat makan malam"
Semuanya mengangguk dan memasuki kamarnya masing-masing.
19.00
Jam makan malam pun tiba, baik Tiara, Lala, Ardi dan Alaska turun dari kamarnya menuju meja makan.
"Ayo yang banyak makannya jangan sungkan"
"Ara mau mam pake apa sayang" tawar Aline
"Pake ayam rica sama sayur bund" ujar Tiara.
"Makan yang lahap ya kalian"
Mereka menyantap makanan dengan hening dan tenang tanpa ada suara yang keluar katanya biar tambah khidmat dan nikmat.
Setelah selesai mereka semua duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
"Ayah mau besok kamu sama Rafa langsung ke KUA untuk daftar pernikahan sesuai kesepakatan 3 hari lagi kalian menikah" putus vino.
"Jangan lupa kamu sama Rafa juga bawa persyaratan" lanjutnya.
"Besok kamu sama Rafa ikut bunda fitting baju di butiknya bunda" ujar Aline.
"Bunda Ara mau kebaya sederhana aja gak usah yang terlalu mewah yah ada kan bun" tanya Tiara
"Ada kok nanti kalian ikut bunda, Lala Ardi besok kalian juga ikut temani Ara sama Rafa"
"Ashiaaap bunda"
Sinar matahari masuk melewati celah jendela kamar Rafa, ia bangun dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual khusus cukup lama.
30 menit kemudian Rafa telah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya sampai ABS terlihat 6 kotak, serta rambut basah yang di kipas-kipas kan ke udara menambah kadar kegantengan dokter kandungan ini.
Rafa juga telah izin kepada kepala rumah sakit untuk pergi ke Jakarta mungkin hampir 1 Minggu disana.
"Sarapan dulu Rafa" titah Lisa.
"Iya"
"Asyik bentar lagi aku nambah ponakan" seru Ziea.
"Nikah aja belum zie kan ada Arka ponakan kamu" timpal Rafa
"Ya iya emang tapi kan kalo nambah ponakan nambah seru jangan lupa nanti langsung gas bang"
"Kamu ini masih bocah gak usah mikir kaya gitu" ketus Rafa.
Lisa merasa jengah melihat kedua anaknya adu jotos ia pun melerai keduanya.
"Berisik!! Kalian makan cepat"
"Kamu Rafa udah siapin persyaratan buat daftar pernikahan kan" tanya Lisa
"Udah ma udah aku siapin semuanya"
"Good boy"
Ia pun sudah sampai di rumah yang begitu mewah dan besar bernuansa putih milik keluarga Tiara.
Tok... Tok ...
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam mas ini siapa ya" tanya Bi Salma yang membukakan pintu untuk Rafa.
"Saya Rafa Bu, calon suami dari Ara!! Ara nya ada kan Bu didalam" Rafa sangat ramah sekali dengan bi Salma.
"Oalah calonnya non Ara toh!! Non Ara ada didalam sudah menunggu Aden bersama tuan dan nyonyak"
Rafa langsung berjalan menuju ruang tamu yang disana sudah ramai dengan yang lain.
"Assalamualaikum ayah bunda" sapa Rafa lalu mencium punggung tangan orang tua Tiara dengan sopan.
"Waalaikumsalam"
"Ayo duduk dulu Rafa" ajak Aline.
"Iya bund".
"Kamu sudah siap kan Rafa, pagi ini kalian harus ke KUA terlebih dahulu, KUA nya Deket sama komplek perumahan ini" ujar vino.
"Sudah yah, Rafa udah siapin semuanya"
"Nanti kamu juga harus ke butik bunda dan setelah itu membeli cincin pernikahan" ujar Aline.
"Gue gak ikut ya bro, biasa ada meeting sama klien di kantor" ujar Alaska.
"Ziea suruh mampir dong bang ke kantor gue biar gue tambah semangat gitu".
Rafa menatap jengah Alaska yang mencoba pdkt dengan Ziea.
"Telepon aja sana ngapain kamu nyuruh saya" sinis Rafa.
"Kalo ditelepon sama gua Ziea pasti gak mau"
"Usaha dong kamu kan laki" timpal Aline.
"Bang Alaska kurang gentle nih gitu aja udah ciut" ledek Lala.
"Laki kok gitu!!" Ardi meledek.
"Yaudah kalian kalian cepet berangkat gak usah ladenin Gitar bocah ingusan ini" vino melerai.
"Gitar?" Beo Rafa, Lala dan Ardi.
"Kalian jangan cengo gitu, gitar itu nama kesayangan ayah buat Alaska"
"Kok bisa yah" tanya serentak.
"Karena nama lengkap Abang itu Alaska gitaris Airlangga, makanya ayah selalu manggil bang Alaska gitar kalo di rumah nah kalo di luar ayah baru manggil Alaska lagi" Tiara menjelaskan membuat semuanya yang tadi cengo langsung paham.
Rafa, Tiara ,Lala dan Ardi sudah memasuki mobil milik Rafa dengan merek Range Rover berwarna hitam, Lala dan Ardi duduk di tengah berdua sedangkan pasangan yang akan menikah tentunya didepan dong.
"Mas seneng bentar lagi kita bakalan menikah Ra" ucap Rafa bahagia sambil mencium punggung tangan Tiara sedangkan tangan kanannya untuk menyetir.
"Ara juga seneng mas, maaf ya waktu itu Ara sempat nolak mas buat jadi suami Ara" Tiara menunduk.
"Hei sayang gapapa kok mas ngerti posisi kamu waktu itu yang belum siap" Rafa melirik ke arah Tiara dengan pandangan terus ke depan.
"Aku takut gak bisa jadi istri yang baik buat mas" lirih Tiara.
"Kamu akan selalu jadi istri dan ibu yang terbaik buat aku sama Arka jadi jangan beranggapan seperti itu lagi"
2 orang yang sedang duduk di bangku tengah memandang pemandangan di depannya dengan tatapan jengah.
"Kalo bukan bunda yang nyuruh kita gak akan mau ikut sama kalian" sindir Ardi.
"Panas ya Ar kek ngeliat setan romantisan, ini lagi mobil mahal tapi AC kok jadi panas gini" sindir Lala.
Rafa dengan sengaja memutar tombol AC sampai full ke belakang.
"Busyet si bapak malah di full in AC nya kan dingin pak berrrrrr" Ardi kedinginan.
"Kan kata Lala AC nya panas kan makanya saya naikin sampai full" Rafa tersenyum smrik.
"Kecilin pak dingin banget" Lala menggosokkan tangannya beberapa kali.
"Makanya jangan main sindir kalo iri kenapa kalian gak pacaran aja" celetuk Tiara.
"Gue sama si Ardi kutu buluk pacaran?" Tanya Lala menunjuk dirinya dan Ardi.
"Gak mungkin tsayy, kita cuma sahabatan doang gak lebih gak usah ngaco deh Ra"
"Tidak mungkin antara cewek dan cowok sahabatan tanpa melibatkan perasaan" ujar Rafa.
"Ogah pak saya sama Lala, mending saya cari yang lain aja"
"Mereka sama-sama jomblo kan Ra" tanya Rafa.
Tiara mengangguk "Iya mereka jomblo pas kalo pacaran sih" Tiara menaik turunkan alisnya.
"Udah deh mending fokus sama acara kalian berdua jangan bahas gue sama si kutu buluk ini" Lala frustasi bundah...
Akhirnya mereka sudah sampai di KUA yang tidak jauh dari komplek perumahan vino tadi.
"Selamat pagi pak"
"Selamat siang juga mas dan mbak ada keperluan apa ya" tanya bapak yang menjaga di depan.
"Saya kesini mau daftar pernikahan" ujar Rafa.
"Ohh silahkan masuk dan langsung masuk ke ruangan pak Dahlan saja" suruh bapak tadi.
Mereka berempat berjalan menuju ruangan pak Dahlan dan Alhamdulillah pak Dahlan sudah berada di dalam ruangannya.
"Selamat pagi pak"
"Pagi mas dan mbak ada keperluan apa kesini"
"Saya mau daftar nikah pak bisa kan"
"Tentu saja bisa, sudah bawa persyaratan kan yang di perlukan untuk menikah" Rafa mengangguk dan memberikan berkas ia dan Tiara kepada pak Dahlan.
Pak Dahlan menerima berkas mereka berdua dan melihat lihat isinya.
"Kamu Tiara anaknya pak vino Airlangga kan" ucap pak Dahlan sangat mengenal vino.
"Iya pak saya anaknya pak vino"
"Gak nyangka vino bentar lagi punya menantu, vino itu sahabat saya semasa SMA" jujur pak Dahlan.
"Kalian menikah berapa hari lagi, atau Minggu, bulan?" Tanya pak Dahlan.
"3 hari lagi pak"
"Wah cepat juga ya, oke akan saya urus semuanya dengan cepat dan 3 hari lagi kalian akan menikah" ujar pak Dahlan menutup berkas Rafa dan Tiara
"Mbak dan mas yang di belakang mau daftar juga kesini" tanya pak Dahlan.
Lala dan Ardi menyernyitkan keningnya kenapa pak Dahlan ini sangat kepo.
"Saya hanya mengantar Ara dan pak Rafa saja pak tidak ada niatan daftar nikah" ujar ardi.
"Kasian loh mas, mbaknya kasih kepastian menikah dong jangan di gantung terus" goda pak Dahlan.
"Eh eh enggak pak kita cuma sahabatan saja tidak ada niatan nikah pacaran saja tidak" elak Lala.
"Zaman sekarang mbak cowok sama cewek sahabatan itu tidak mungkin tidak melibatkan perasaan" celetuk pak Dahlan.
"Ppftttt" Tiara dan Rafa menahan ketawa mereka saat melihat wajah Lala dan Ardi yang polos itu.
"Pak Rafa Ara ayo pulang udah selesai kan" ucap Ardi yang ingin cepat pulang karena sudah tidak kuat mendengar sindiran pak Dahlan tadi.
"Yaudah pak kita pamit pulang dulu" ucap Rafa berpamitan.
"Jangan lupa foto berlatar biru besok pagi saya tunggu disini" ya Rafa dan Tiara belum melakukan foto berlatar biru.
Setelah dari kua mereka berempat ke salah satu toko berlian untuk membeli cincin pernikahan mereka nanti didapatkan cincin yang bentuknya sangat sederhana dan elegan.
Lanjut ke butik milik Aline, disana sudah ada Aline yang menunggu bersama Arka yang tengah di pangku dan juga 2 orang asistennya.
Hanya butuh waktu 2 jam fitting baju telah selesai. Baju yang sangat sederhana dan di lihatnya begitu mewah. Padahal keinginan Tiara mereka menikah ingin sederhana saja tapi Aline yang bersemangat untuk memilih kebaya. Ia juga tidak menyewa gedung untuk Tiara dan Rafa menikah mereka menikah di kediaman keluarga mempelai wanita yaitu Tiara.
To Be Continued