ZERO [Completed]

By bataspatah

3.4K 259 4

Asha: "Aku mencintai sahabatku sendiri. Seharusnya tidak begini, karena hatinya bukan untukku." Zero: "Ela, p... More

Prolog
Jambu Air
Bunga Matahari
Sketsa Wajah
Kafe Kita
Secangkir Kopi
Kelengkeng
Pulang
Warung Bu Jum
Jeruk Kimkit
Berbeda
Es Kolding
Keripik Singkong
Taman Hijau
Tukang Kebun
Warung Bakso
Awan Hitam
Rela
Pahit
Aku adalah Asha
Selamat Malam
Rumah Zero
Hadiah
Anak Motor
Khawatir?
Lega
Bimbel
Sungguh-Sungguh
Geng Ribut
Roti Isi
Dokter
Steak
Luka
Pemandangan dan Kamu
Indah
Kabar apa?
Keadilan untuk Zero
Bekerja Sama
Menang
Ibu Tercinta
Senang
Pisang Coklat Keju
Cemburu
Berhasil
Aku, Kamu, Kita
LDR?
Rava, Aku Memilihnya.
Senang dan Rindu
Final
Juara
Percaya
3 Bulan
Hujan
Harapan
Tertusuk
Berpisah?
Perpisahan
Berani dan Dewasa
Tidak Selesai

Ayam Semur

60 6 0
By bataspatah

Kalau pergi kerja di perjalanan memakan waktu sekitar lebih dari 15 menit, pulangnya malah bisa sampai rumah kurang dari 10 menit. Abang memarkirkan motornya di garasi sedang aku langsung melenggang masuk rumah, tidak sabar buat menerjunkan badan ke kasur. 

Baru saja pejamkan mata dua detik, abang membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Suatu kebiasaan agak menyebalkan yang melekat pada dirinya, yang buat tambah sebal ketika urusannya sudah selesai tapi pintu kamar gak kembali ditutup seperti semula. Makanya kalau habis mandi aku selalu mengunci pintu untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. 

"Gak makan?" 

Aku masih mempertahankan mata yang terpejam, "Nanti."

Setelah mendapat jawaban bukannya pergi, aku merasakan bang Pratama turut duduk di kasur. "Lagi ada masalah ya?"

Aku menggeleng, "Cuma capai." 

"Kalau gitu berhenti aja kerjanya."

Mataku seketika terbuka, membalikkan posisi badan yang telentang jadi tengkurap. Aku melirik wajah bang Pratama layaknya elang yang lagi cari mangsa, "Enak aja!"

"Habisnya waktu di jalan dari kafe sampai rumah, wajahmu lesu banget. Kayak habis kalah tawuran."

Aku melempar bang Pratama dengan bantal, "Aku gak pernah tawuran. Memangnya abang, yang waktu sekolah dulu hampir tiap bulan babak belur?"

Bang Pratama menangkis bantal dengan mudah, dia tertawa karena teringat akan kenakalannya semasa remaja. Ayah itu sering dipanggil ke sekolah karena ulah bang Pratama dan teman-temannya yang suka cari masalah. 

"Bang," aku memanggilnya ragu, tapi aku pengen bertanya pada seseorang tentang sesuatu yang mengusik pikiranku. Mungkin bang Pratama bisa membantu. Hanya saja, aku tidak mau abang tau masalah yang tengah melanda hidupku. Jadi, aku memilih alternatif lain dengan cara sedikit mengarang cerita. 

"Apa?"

"Aku lagi bingung, nih. Temanku ada yang curhat, tapi aku gak tau gimana kasih solusi untuk dia!"

"Temanmu? Neisha atau Dame?"

Aku tersenyum sambil menjawab asal, "Neisha." 

Neisha dan Dame adalah teman dekatku di sekolah. Neisha dari keluarga yang serba punya, ayahnya seorang pilot dan ibunya pramugari. Anak pertama dari dua bersaudara. Tubuhnya tinggi dan putih seperti sang ibu, kalau coba jadi model majalah mungkin dia akan lolos tanpa seleksi. Rambutnya selalu berubah layaknya bunglon setidaknya sebulan sekali, kadang warna hitam, coklat, karamel, biru, hijau, abu-abu, sampai merah mudah. Sama seperti warna matanya yang selalu tertimpa lensa supaya lebih mempesona. Neisha cukup populer, penampilannya juga mampu menarik perhatian banyak pria. Tapi sejak kecil dia diajarkan untuk tetap berada di jalan yang lurus dan tidak neko-neko, berasal dari keluarga yang menanamkan sikap dan perilaku yang baik.  

Kalau Dame wanita perantauan dari Medan yang agak tomboy, keterbalikan dari Neisha. Tinggal bersama nantulangnya di Jakarta. Anak terakhir dari 5 bersaudara. Rambutnya yang hitam bergelombang selalu di kuncir kuda. Si ceria yang paling suka minum jus alpukat di kantin, bahkan kami sering diminta pesan minuman yang sama supaya dia bisa minta. Tapi bukan teman namanya kalau tidak membuatnya kesal, karena kami belum pernah mengikuti kemauannya untuk turut minum jus alpukat. 

Jangan tanya mereka kemana waktu liburan semester begini, kenapa tidak jenguk ayah yang sedang sakit? atau kenapa kami tidak menghabiskan liburan besama? Jawabannya karena mereka punya kesibukan masing-masing untuk memanfaatkan masa liburan. Neisha sedang berlibur ke Singapura, sedang Dame pulang ke kotanya. 

"Kenapa dia?" tanya abang, aku mulai kembali bercerita.

"Jadi gini, dia lagi bingung. Dia jatuh hati sama sahabat laki-lakinya, tapi ternyata sahabatnya itu sudah punya cewek. Jadi, dia memutuskan berhenti berharap dan melangkah maju ke depan untuk meninggalkan perasaan yang tak terbalas."

"Kok, seperti hubungan kamu sama Rava?"

Aku memukul paha abang, "Ini Neisha! Serius dong, mau kasih pendapat atau tidak?" 

"Maaf, ayo lanjut lagi!"

"Terus, tiba-tiba ada cowok yang dekatin Neisha, kasih banyak perhatian untuk dia. Neisha mulai nyaman sama kehadiran si cowok. Tapi, Neisha baru tau kalau ternyata dibelakang cowok itu diam-diam sudah punya cewek."

"Zero sudah punya cewek?"

Aku mengerjapkan mata, mau marah tapi tidak bisa. Sepertinya memang sejak awal menjadi salahku, karena memilih abang situkang ledek untuk jadi teman cerita. "Neisha bang, Neisha." gerutuku menekan nama Neisha agak lama dengan gigi yang dirapatkan.

"Ah, iya, Neisha. Maaf lagi."

"Yah. Neisha!" tegasku. 

"Terus kenapa sekarang? Dia bingung kenapa?"

"Bingung sama perasaan sendiri. Menurut abang aku harus gimana?" 

Abang tertawa hebat, sedang aku mengumpat untuk bibir sendiri yang kecepolosan. Topeng yang sejak tadi aku kenakan malah aku sendiri yang membukanya. Sungguh aku tidak punya keahlian untuk berbohong. 

"Neisha atau Asha?" 

Aku hanya menghela napas. Sudah tidak ada pertahanan untuk lanjut bohong lagi.

"Jadi ceritanya kamu sedang patah hati untuk kedua kali?"

Aku mengangguk malu sambil memperbaiki posisi jadi ikut duduk di kasur, "Ini sebenarnya cinta itu rumit, atau aku saja yang kurang beruntung sih?"

Abang mengelus puncak kepalaku tapi lebih cocok disebut mengacak ujung kepalaku. Karena rambutku yang berantakan semakin jadi awut-awutan dibuatnya. "Bukan kurang beruntung. Kamu cuma diminta buat menunggu, karena cinta yang tepat itu datangnya memang agak lambat, Asha."

"Gapapa kok, lambat. Tapi maksudku, kalau memang mereka tidak untukku, kenapa aku malah dibuat jatuh hati? Kenapa mereka datang kalau hanya untuk singgah? Seharusnya, sejak awal aku dibuat tidak bertemu saja sama mereka!"

"Kalau seperti itu, gimana kamu bisa belajar? Gimana kamu bisa tambah dewasa kalau tidak pernah patah hati?"

"Memangnya abang pernah? Secara kan, abang laki-laki. Dan pelaku dari segala patah itu lebih banyak sumbernya dari laki-laki!"

"Lebih banyak bukan berarti seluruhnya kan?"

Aku mengangguk, benar juga. "Berapa kali patah hati?"

"Gak dihitung. Lagian patah hati itu pengalaman untuk buat kita jadi tambah dewasa. Jadi, lebih banyak lebih baik dong?"

Aku tersenyum. Lebih banyak lebih baik. Berapa banyak lagi patah hati dari semesta yang harus aku hadapi dan lewati?

"Bercanda!" seru abang menyenggol bahuku, "Silahkan bersedih hari ini, tapi jangan berlarut-larut sampai lupa makan. Kamu memang lagi patah hati, tapi jangan sampai siksa diri sendiri."

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba dering teleponku berbunyi. Dari nomor yang tidak dikenal tapi aku tau dari siapa, soalnya foto Zero terpampang jelas di layar ponsel. 

"Yang lagi diceritain nelpon tuh! Diangkat, siapa tau penting. Mungkin ada sesuatu yang belum sempat dia jelaskan, Sha. Lagian tidak ada salahnya kan untuk memaafkan kesalahan orang lain?"

Bang Pratama beranjak pergi dari kamar, seperti biasa dia tidak tutup pintunya lagi. Aku menghela napas, apa lagi yang akan dia jelaskan? Mau berdalih kalau yang dikatakan om Bagas adalah suatu kesalahpahaman? Aku menggeser layar ponsel untuk menolak panggilannya. 

Aku beranjak menutup pintu, mau ganti baju tidur lalu berniat untuk makan. Karena kalau nyaman dan kenyang, tidurnya bisa nyenyak sampai pagi. Tapi baru ditinggal satu detik untuk tutup pintu saja, dering telepon kembali berbunyi. Aku menolaknya lagi. Lalu pesan darinya masuk sebelum aku selesai ganti baju. 

"Diangkat, Asha. Sebentar saja."

Aku menghela napas, laki-laki satu ini sangat teguh. Akhirnya aku pilih jawab panggilan teleponnya meski dengan rasa enggan yang melintas.

"Halo." 

"Kenapa?" tanyaku langsung tidak membalas sapaannya. 

"Sudah sampai rumah?"

"Sudah, mau tidur."

"Sudah makan?"

Aku tak langsung jawab. Tidak tau! rasanya menyebalkan ketika dia masih saja kasih perhatian. Yang membuat kepala ku marah adalah kenyataan bahwa perhatiannya ternyata bukan hanya untukku saja. 

"Sudah." jawabku bohong. 

"Aku tidak tau kenapa kamu bersikap dingin. Pesanku tidak dibalas dan teleponku juga tidak diangkat. Aku bisa cari tau semua tentang kamu, alamat rumah, nomor telepon, sampai hari ulang tahunmu. Tapi untuk membaca pikiranmu, aku selalu gagal. Aku tidak akan tau kenapa kamu marah kalau kamu tidak bicara. Aku minta maaf, Asha."

"Simpan saja maafmu. Disini aku yang salah karena terlalu berharap!"

Aku mengakhiri panggilan secara sepihak. Dengan sesak yang menguasai dada, aku berlari menuju dapur. Seperti kata bang Pratama, patah hati boleh tapi jangan sampai siksa diri sendiri.

Aku melahap nasi dan ayam semur masakan bi Tami tanpa selera.






--



See u!

Continue Reading

You'll Also Like

1.1K 104 9
Pengalaman dalam kisah percintaan ada untuk dijadikan pelajaran agar kita bisa lebih berhati-hati dalam mengenal suatu hubungan. Acha, gadis yang akh...
2.1M 250K 44
Mimpi adalah bunga tidur. Namun bagaimana jika mimpi menghantuimu, mengekangmu pada setiap sudut kesunyian, menjebakmu tanpa tahu jalan keluar? Mimp...
1.9K 331 42
"Loe mau gak jadi pacar gue?" tanya Alex dengan perasaan gugup. "Maaf aku gak bisa nerima kamu ada seseorang yang aku cinta," jawab Sandra lalu perg...
2.9M 142K 44
Tentang perjodohan dan juga luka. ~~~ Menikah dengan kakak kelas yang selama ini di cintainya sama sekali tidak membuat Rea bahagia. Rea pikir perjod...
Wattpad App - Unlock exclusive features