Hi, balik lagi. Selamat malam.
Sebelum baca, sabi kali kalo tekan tanda bintang dulu?
Happy Reading 🥰
.
.
.
Sore ini suasana kamar Alta cukup ramai setelah kedatangan kedua sahabatnya, Yoga dan juga Ardan. Mereka datang sekitar satu jam yang lalu untuk menjenguk Alta yang sedang tidak enak badan. Walaupun Alta sendiri merasa dirinya sudah baik-baik saja.
"Btw, besok lo mau masuk sekolah atau nggak?" Ardan melempar pertanyaan pada Alta yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Masuklah, bentar lagi kita udah sibuk sama ujian," jawab Alta lantas membenarkan posisi menjadi duduk.
"Nggak kerasa njir, bentar lagi kita lulus." Yoga terkekeh kecil sembari mengunyah cemilan yang diberikan Azila tadi.
"Perasaan baru kemarin kita MOS, lari keliling lapangan," sambung Ardan yang langsung diangguki oleh Yoga.
"Itu artinya kalian udah tua!" celetuk Alta menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Kek lo nggak tua aja," cibir Yoga.
"Di antara kalian berdua, umur gue yang paling muda," balas Alta tidak ingin kalah.
"Lo sama gue beda tiga bulan doang anjir, nggak usah belagu!" Ardan mendelik menatap Alta yang tertawa.
"Tapi setidaknya gue lebih muda tiga bulan dari lo!"
"Serah lo."
Obrolan mereka terhenti saat pintu kamar terbuka dan menampilkan Satria yang datang membawa kantong plastik berisi makanan.
"Wiiih, ada yang datang, nih!" seru Yoga untuk pertama kalinya.
"Mau makanan, nggak?" tawar Satria sembari meletakkan barang bawaannya tadi di atas meja.
"Kalo rezeki, nggak boleh ditolak!" seru Yoga kemudian meraih kantong keresek tadi dan membukanya, ia mengeluarkan semua makanan yang dibawa Satria.
"Lo mah kalo soal makanan nggak pernah nolak!" cibir Ardan menatap Yoga yang hanya tersenyum lebar.
Satria mengarahkan pandangannya pada Alta yang duduk di atas tempat tidur.
"Lo nggak mau?" tawar Satria.
"Gue masih kenyang." Alta menggeleng, karena ia memang baru selesai makan.
"Btw, Alena di mana?" tanya Satria, karena saat datang ke sini, ia hanya bertemu dengan Kenzo yang kebetulan tengah bersantai di teras rumah.
"Lagi di dapur sama Bunda. Kayaknya mereka lagi bikin sesuatu," jawab Alta.
"Biasalah, pendekatan antara calon mertua dan calon menantu," celetuk Yoga membuka suara dengan mulut penuh makanan.
"Makanannya ditelan dulu, baru ngomong!" peringat Ardan kemudian menyerahkan minuman kaleng pada Yoga.
Dan di saat yang bersamaan, pintu kamar kembali terbuka menampilkan Alena yang datang membawa nampan berisi makanan dan juga minuman.
"Makanan datang!" seru Alena antusias, gadis itu melangkah membawa nampan tadi dan meletakkannya di atas meja.
"Anjir, makin kenyang aja gue di sini." Yoga bersorak gembira saat melihat kue bolu yang dibawa Alena tadi bersama beberapa minuman dingin.
"Bang Satria, kapan ke sini?" tanya Alena saat menyadari keberadaan Satria.
"Sekitar lima menit yang lalu," jawab Satria. Alena hanya mengangguk, ia mengarahkan pandangannya pada Alta yang tengah menatapnya.
"Kak Alta, mau ngemil?" tanya Alena.
"Nggak. Aku masih kenyang." Alta menggeleng sembari tersenyum.
"Ya udah, deh. Lena mau balik ke dapur dulu. Papay!"
Sepeninggal Alena, Alta bangkit dari duduknya kemudian ikut bergabung dengan ketiga temannya. Mereka duduk di atas karpet sembari bersenda gurau.
"Ujian tinggal sebentar lagi ...," seru Yoga sembari bersenandung kecil.
"Dan setelah itu kita masuk dunia perkuliahan," celetuk Ardan.
"Anjay, statusnya bentar lagi ganti jadi mahasiswa," timpal Satria.
"Kalo gue, selain ganti status jadi mahasiswa. Status gue juga bakal nambah jadi kepala keluarga!" ucap Yoga membuat Alta, Ardan maupun Satria langsung menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Setelah pengumuman kelulusan, gue bakal nikah," kata Yoga dengan senyum lebarnya.
"Heh, ngadi-ngadi lo kalo ngomong. Pacar aja nggak punya, sok-sokan mau nikah!" ledek Ardan sekilas menonyor kening Yoga membuat si empunya menggerutu.
"Dibilangin nggak percaya. Gue emang mau nikah!" ucap Yoga.
"Nikah sama siapa?" tanya Alta menatap Yoga dengan tatapan datar, karena Alta tahu kali ini Yoga tidak berbohong dengan ucapannya.
"Cewek. Namanya, Keiza," jawab Yoga.
"Keiza?" gumam Ardan mengarahkan pandangannya pada Yoga.
"Keiza Adista Maharahi, bukan? Anak Bahasa-1?" tebak Alta yang langsung dijawab anggukan oleh Yoga. Sontak saja hal itu membuat Ardan melongo tak percaya.
"Anjir. Kok lo bisa dapetin tuh cewek?" seru Ardan tidak percaya, karena Keiza termasuk siswi yang jarang berinteraksi dengan pelajar yang lain. Keiza lebih banyak diam jika di sekolah, tak heran memang jika banyak murid yang tidak terlalu mengenalnya.
"Keiza termasuk cewek yang pendiam, dan gue liat dia jarang ngobrol sama cowok," ucap Alta membuka suara.
"Karena hal itu bikin gue tertarik sama dia," sahut Yoga sembari meneguk minumannya.
Sementara Satria hanya menjadi penyimak di antara ketiganya karena ia beda sekolah.
"Keiza bilang sama gue kalo dia nggak mau pacaran. Ya udah, gue datang ke rumahnya nemuin orang tuanya. Gue izin buat nikahin dia setelah kita lulus sekolah," tutur Yoga yang langsung mendapat tepuk tangan dari Ardan.
"Gue speechless!" Ardan menggelengkan kepalanya masih tidak percaya.
"Tapi gue salut sih sama keberanian lo," puji Satria kembali membuka suara setelah diam beberapa saat.
"Awalnya gue nggak percaya diri buat ngelakuin ini, tapi setelah gue pikir lagi. Ngapain juga pacaran lama-lama, mending langsung halalin aja. Pacarannya nanti setelah nikah," ucap Yoga dengan kekehan kecilnya.
"Ekhem." Alta berdehem singkat saat mendengar beberapa kata terakhir yang dilontarkan Yoga tadi. Ia malah bersiul ria membuat Ardan langsung menatapnya.
"Keknya ada yang kesindir nih," ledek Ardan menatap Alta dan Satria secara bergantian.
"Diem. Kita nggak kenal! Nggak usah nyindir!"
"Lo jomblo mending diam. Nggak usah ngeledek!" Satria melempar kaleng bekas minuman miliknya hingga berhasil mendarat dengan sempurna di kening Ardan.
***
Suasana sekolah masih seperti biasa, para pelajar berhamburan keluar kelas saat bel istirahat pertama berbunyi nyaring. Banyak dari mereka lebih memilih mengunjungi kantin untuk mengisi perut yang mulai berbunyi minta diisi.
Alta dan kedua sahabatnya berjalan bersisian di koridor kelas sepuluh menuju kantin.
"Lo nggak mau nyamperin cewek lo?" Ardan menyenggol lengan Yoga membuat si empunya menoleh.
"Siapa?"
"Itu si Keiza." Ardan menunjuk seorang siswi berhijab yang kebetulan baru saja keluar dari perpustakaan.
Mendengar nama Keiza disebut sontak membuat Yoga langsung mengikuti arah pandang Ardan.
"Biarin aja. Gue sama Keiza udah sepakat, sebelum nikah kita harus jaga jarak dulu."
"Kalian nggak pacaran?" tanya Alta sekilas melirik ke arah Keiza yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Nggak." Yoga menggeleng. "Gue kan udah pernah bilang kemarin. Kalo gue sama Keiza bakal pacaran setelah nikah," sambungnya.
"Istilahnya, pacaran mode halal," imbuh Ardan yang langsung diangguki oleh Yoga.
Ketiganya memasuki kantin dan langsung duduk di bangku yang kebetulan kosong.
"Mau pesan apa?" tanya Yoga membuka suara.
"Kayak biasa," jawab Alta.
"Kalo lo?" Yoga mengarahkan pandangannya pada Ardan.
"Mi ayam."
"Oke." Yoga langsung ngacir menuju stan makanan.
Sembari menunggu Yoga kembali. Ardan dan Alta memilih berbincang santai mengingat sebentar lagi kelas dua belas akan sibuk untuk menghadapi ujian.
Hingga tanpa sengaja pandangan Ardan tertuju pada pintu masuk kantin dan melihat keberadaan Alena.
"Cewek lo," beri tahu Ardan menunjuk Alena menggunakan dagunya.
Alta menoleh ke belakang dan benar saja, gadis itu terlihat menuju stan minuman. Tidak lama setelah mendapat apa yang dibeli, Alena kembali keluar dari kantin.
"Lo nggak samperin?" tanya Ardan melirik ke arah Alta yang hanya diam saja.
"Biarin aja," jawab Alta singkat.
"Makanannya datang!" seru Yoga kemudian meletakkan nampan berisi makanan pesanan mereka bertiga.
"Thanks."
Yoga berbalik untuk mengembalikan nampan tadi ke pemiliknya. Dan setelah selesai, ia kembali menemui Alta dan Ardan kemudian menikmati makanan mereka masing-masing.
"Ehh btw. Lo kapan mau ngenalin calon istri lo ke kita?" Ardan membuka suara setelah keheningan beberapa saat, ia menoleh ke arah Yoga meminta jawaban. Begitu juga dengan Alta yang melakukan hal yang sama.
"Gue nggak tau." Yoga mengedikkan bahunya sembari menikmati makanannya.
"Nanti malam aja gimana? Sekalian kita kumpul-kumpul juga," ucap Alta.
Yoga diam beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara. "Gue nggak berani janji. Soalnya Keiza agak susah di ajak keluar, kalo gue ke rumahnya palingan gue ngobrol sama Ummi atau Abi nya," tuturnya.
"Tapi coba nanti gue izin ke orang tuanya," putus Yoga yang langsung dijawab anggukan oleh Ardan dan juga Yoga.
"Oke, kita tunggu."
Mereka kembali menikmati makanan sembari berceloteh ria dan tertawa bersama. Bahkan saling bertukar makanan yang masih tersisa sedikit.
Hingga tidak terasa bel masuk kedua berbunyi nyaring berhasil menghentikan obrolan ketiganya.
"Ayok ke kelas," ajak Alta bangkit dari duduknya.
"Skuy!"
"Sekarang jam pelajaran apa?" tanya Yoga.
"Sejarah," jawab Alta.
"Aishh, pelajaran paling gue benci." Yoga hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Belajar yang rajin, bentar lagi kita ujian." Ardan tertawa sembari merangkul pundak Yoga.
Mereka bertiga melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua gedung sekolah karena kelas mereka berada di sana.
Namun, saat sampai di depan koridor kelas Bahasa, tanpa sengaja pandangan Yoga tertuju pada Keiza yang kebetulan berdiri di ambang pintu kelas.
Sadar atau tidak, Yoga melempar senyumannya, tapi tidak berselang lama karena Keiza memutuskan kontak mata lebih dulu.
"Ekhem!" dehem Alta yang ternyata sedari tadi memperhatikan Yoga dan juga Kenzo.
"Kenapa lo?" Yoga mengarahkan pandangannya pada Alta dan menatap sahabatnya dengan tatapan tanda tanya.
"Nggak ada." Alta menggeleng tapi bibirnya terlihat menahan senyum.
"Aneh lo pada." Yoga melangkah lebih dulu, berjalan lebih dulu meninggalkan Alta dan juga Ardan.
"Diiih, dasar nggak jelas."
***
Saat pulang sekolah, Alta tidak langsung ke rumah melainkan ia berkunjung ke kantor Kenzo terlebih dahulu. Entah kenapa, Alta ingin bertemu Kenzo untuk membicarakan sesuatu.
Sesampainya di kantor sang ayah, Alta bergegas turun dan melepas helm full face-nya. Ia berjalan memasuki gedung dan menyapa beberapa karyawan yang kebetulan berada di lobi kantor.
Alta berjalan memasuki lift kemudian menekan tombol lantai di mana Kenzo berada. Sembari menunggu, Alta membuka ponselnya hanya untuk membalas pesan yang dikirim Alena beberapa menit yang lalu.
Pintu lift terbuka berhasil mengalihkan perhatian Alta, ia kembali memasukkan ponselnya ke tempat semula kemudian melangkah menuju ruangan Kenzo.
"Selamat siang, Mbak," sapa Alta pada wanita yang ia ketahui sebagai sekretaris ayahnya.
"Selamat siang juga."
"Ayah saya ada di dalam?" tanya Alta ramah yang kemudian dijawab anggukan oleh wanita tersebut.
"Terima kasih."
"Iya, sama-sama." Wanita itu sekilas menundukkan kepalanya pada Alta yang langsung dibalas senyuman oleh cowok itu.
Alta kemudian bergegas membuka pintu ruangan Kenzo dan menemukan pria itu tengah bergelut dengan beberapa berkas di hadapannya.
"Ayah!" seru Alta membuat Kenzo langsung mendongakkan pandangannya. Pria itu terlihat terkejut karena kedatangan Alta yang tiba-tiba.
"Altair." Kenzo bangkit dari duduknya sembari membenarkan posisi jas yang ia kenakan.
"Tumben ke sini. Ada apa, Nak?" tanya Kenzo berjalan menghampiri Alta yang sudah duduk di sofa.
"Nggak papa, Alta pengen aja main ke sini," jawab Alta singkat. Ia melepas tas ransel yang tersampir di pundak kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Ayah masih kerja?" tanya Alta melirik ke arah meja kerja Kenzo yang terdapat beberapa tumpukan kertas.
"Iya. Ada beberapa file yang harus Ayah selesaikan hari ini," jawab Kenzo.
"Ya udah, Ayah selesaiin dulu kerjaannya. Biar Alta temenin."
"Kamu pengen sesuatu?" Bukan pertanyaan melainkan tebakan yang dilontarkan Kenzo pada Alta.
"Hehe." Alta hanya terkekeh sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Anak Ayah pengen apa, hmm?" Kenzo bertanya sembari mengacak rambut Alta dan menatap putra kesayangannya.
"Tapi Ayah jangan marah yaa ...," ucap Alta pelan yang kemudian dijawab anggukan oleh Kenzo.
"Jadi ... Alta pengen belajar bisnis kayak, Ayah," cicit Alta membuat Kenzo seketika mengerutkan keningnya.
"Alta, pengen punya penghasilan sendiri. Soalnya Alta mau ...." Alta tidak melanjutkan ucapannya, ia malah terdiam membuat Kenzo semakin menatapnya bingung.
"Mau apa? Ngomong aja, selagi itu bagus buat kamu. Ayah nggak bakal marah." Kenzo mengelus pundak Alta seolah memberi isyarat pada cowok itu untuk kembali berbicara.
Alta menarik napas panjang kemudian menghembusnya secara perlahan. Alta lantas menceritakan keinginannya pada Kenzo untuk menikahi Alena nanti setelah gadis itu lulus sekolah.
Sementara Kenzo tanpa sadar tersenyum mendengar cerita Alta. Ia memperhatikan putranya dalam diam.
"Jadi, sambil nunggu Alena selesai sekolah. Rencananya Alta mau belajar bisnis sama Ayah. Setidaknya Alta punya tabungan yang cukup buat nikah nanti," ucap Alta menyelesaikan ceritanya.
"Kamu mau nikah muda?" tanya Kenzo membuka suara.
"Iya." Alta mengangguk mantap.
"Sebenarnya, Alta punya tabungan. Nggak seberapa sih, tapi rencananya Alta mau buka usaha," ucap Alta.
"Usaha apa?" tanya Kenzo penasaran, ia dengan senang hati mendengarkan curhatan putranya.
"Alta pengen bikin caffe. Kebetulan tadi Alta liat di sekitar kantor Ayah nggak terlalu banyak toko yang buka. Rencananya Alta mau bikin caffe atau resto, setidaknya saat jam istirahat kerja karyawan ayah bisa nyantai di tempat Alta," tutur Alta panjang lebar.
Kenzo tersenyum hangat, ia tidak menyangka ternyata Alta mempunyai pikiran seperti itu. Karena memang rencananya, Kenzo juga ingin membuka resto di sekitar kantornya. Hanya saja, hal itu belum bisa tersampaikan karena kerjaan yang lain masih banyak.
"Kamu perlu berapa dana untuk membuka usaha ini?" Pertanyaan itu keluar mulus dari bibir kenzo membuat Alta seketika mendongakkan pandangannya.
"Ayah, bakal dukung semua keputusan kamu. Dan sekarang sebut berapa dana yang kamu perlukan."
Alta menggeleng pelan. "Alta masih punya tabungan, biar nanti Alta pake tabungan Alta aja."
"Nggak usah. Uang yang yang itu kamu simpan aja, kamu nggak perlu pake uang tabungan kamu."
Alta tersenyum lebar mendengar ucapan Kenzo. "Makasih, Ayah."
"Sama-sama. Ayah bangga sama kamu." Kenzo menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang terpancar dari wajahnya.
"Selebihnya nanti kita bicarakan di rumah sama Bunda kamu juga."
To be continued.
Gimana sama part ini? Semoga kalian suka.
Jangan lupa spam komentar sebanyak-banyaknya.
See you next part.