Waktu terus berlalu, liburan sekolah Oliver telah berlalu, sudah satu minggu yang lalu Oliver berangkat kembali menuju akademi Trea. Ainsley juaga menjalankan hari-hari biasanya seperti belajar mempesiapkan masuknya ia keakademi Trea.
Dalam pelajaran memang tidak menyulitkan Ainsley walaupun dari awalnya ia masih kesulitan memahami hal-hal baru dengan kemapuannya tapi sebagai gadis dewasa ia dapat mengatasinya, diluar hal itu yang paling menyulitkan adalah kegiatan diluar pembelajaran yaitu kehidupan bangsawan. Banyak hal yang menyulitkan yaitu tata krama bangsawan, pola berfikir bangsawan, etika minum teh, berdangsa, berkuda, latihan pedang dan bertarung, walaupun ia yakin kedua hal ini hanya ia yang menjalani karena jarang nona bangsawan belajar hal tersebut.
Bahkan yang Ainsley dengar dari Oliver kegiatan seperti itu di akademi hanya boleh di ikuti oleh laki-laki saja perempuan dilarang mengikutinya. Makanya kesempatan belajar Ainsley hanya saat berada dirumah.
'Benar-benar diskriminasi perempuan'
****
"Ayah kita harus mampir keistana dulu?" gerutu Ainsley. Situasi saat ini adalah Ainsley dan Davis sedang berada dikereta kuda menuju kearah istana kerajaan.
Pada awalnya Davis mengajak Ainsley ke pusat kota, Ainsley yang mendengar tersebut tentu langsung mengiyakannya, kesempatan yang langka ia diajak keluar tampa harus merengek dulu biasanya Ainsley sulit sekali mendapat izin bila ingin keluar rumah tentu saja Davis yang menyulitkannya makanya saat mendengar ayahnya yang mengajaknya ia sangat bersemangat.
Tapi sayangnya ditengah perjalanan ia diberitau bahwa merka akan mampir sebentar di istana dan mendengar hal itu Ainsley serasa dikhianati oleh ayahnya.
"Hanya sebentar, setelah itu baru kita kekota." Ainsley yang mendengar itu tidak bisa menolak lagipula sepertinya sebentar lagi mereka akan sampai.
Tak berselang lama Ainsley dan Davis telah samapi di istana, Davis kesini bertujuan bertemu bangsawan yang sedang bertugas diistana makanya sebelum itu davis menuju kesini. Ainsley yang tidak mau mengganggu pekerjaan ayahnya pergi menuju taman yang biasanya dan memutuskan menunggu disalah satu bangku taman, ini lebih baik dari pada menunggu di ruangan ayahnya setidaknya ia bisa melihat taman bunga yang cantik.
Ainsley duduk sendirian di taman yang luas, ditemani angin yang sepoi-sepoi serta aroma bunga dan pohon yang ia hirup terasa menenangkan, itu membuat Ainsley serasa mengantuk ia pun memejamkan matanya sebentar menikmati suasana tersebut.
Tiba-tiba.
"Oh ternyata ada orang disini." Ainsley mendengar suara didekatnya otomatis membuka matanya dan melihat laki-laki yang sudah berdiri didepannya.
'Bagaimana aku tidak sadar ada orang yang menuju kesini?'
"Ah, ternyata nona Ainsley sedang berada disini?"
Didepannya sosok laki-laki yang berambut pirang dan bermata biru laut berkilau menatapnya dengan senyum yang menawan, dia adalah Rhys Anderson Trea, putra mahkota kerajaan Trea. Tinggi putra mahota sekilas sama dengan Oliver tapi yang dilihat Ainsley tingginya mungkin lebih sedikit dari Oliver, memiliki kulit putih yang berkilau dan wajah yang rupawan tidak salah bahwa sebagian nona-nona bangsawan atau bahkan seluruh perempuan di kerajaan Trea menyukai putra mahkota.
Dengan jujur Ainsley mengakui bahwa Rhys Anderson Trea memang tampan, didalam novel memang digambarkan bagaimana rupawannya sang tokoh utama tapi tidak disangka bahwa aslinya benar-benar apa yang digambarkan, seperti ukiran patung yang nyata.
Saat pertemuan pertamanya dengan Rhys di pesta, Ainsley tidak terlalu menggubrisnya karena dalam jiwa Ainsley yang dewasa sosok putra mahkota dikala itu hanyalah seorang bocah saja jadi ia tidak memperhatikan ketampanannya dan lagipula mereka tidak pernah berinteraksi langsung, tidak menyangka bahwa saat ini ia tengah berhadapan langsung dengan tokoh utama. Bila ia gadis-gadis lainnya pasti akan pingsan.
"Salam yang mulai putra mahkota." Ainsley yang sadar dari keterkejutannya langsung memberi salam kepada Rhys.
"Kalau boleh tau apa yang dilakukan nona Ainsley disini?" tanya Rhys.
"Saya sedang menunggu ayah saya yang mulia." Jawab Ainsley dengan sopan.
"Jadi tuan Carson sedang ada di istana. Apakah aku mengganggu waktu nona disini?"
"Tidak sama sekali yang mulia, bukahkah taman ini milik keluarga kerajaan bila yang mulia ingin menggunakannya saya akan undur diri."
'Kenapa aku bertemu dengan ia disini bukankah kakak sudah berangkat ke akademi seminggu yang lalu?' dumel Ainsley, sejujurnya orang yang paling ingin dijahuinya adalah Rhys karena tidak ingin terjerat masalah yang tidak diperlukan, tidak menyangka bahwa mereka akan bertemu berdua disini.
Rhys yang mendengar ucapan Ainsley tertegun kemudian tertawa "Hahahaha kau sungguh menarik nona Ainsley tidak heran Oliver sampai begitu protektifnya kepadamu." Ainsley yang mendengar ini bingung 'kenapa ia tertawa apa dengan masuknya aku memiliki efek kupu-kupu ketidak warasan tokoh utama?'
Rhys merasa tertarik dengan Ainsley, selama ini tidak ada orang yang segitu ingin pergi dari sisinya apalagi perempuan. Bila itu nona bangsawan lainnya pasti akan berusaha menahannya agar berlama-lama bersamanya atau setidaknya mengobrol. Tapi Rhys merasa bahwa Ainsley seakan-akan tidak betah bersamanya dan ingin segera meninggalkannya.
"Aku kembali keistana karena ada yang perlu kuurus tidak menyangka bahwa akan bertemu denganmu disini. Oliver pasti akan mengamuk mendengar hal ini."
"Yang mulia dan kakak saya sepertinya sangat dekat." Ainsley mencoba mengalihkan tapik karena bingung bagaimana ia akan membalasnya.
'Padahal kedepannya mereka akan menjadi saingan cinta.'
"Yah kau bisa menganggap begitu." Jawab Rhys dengan enteng yang membuat Ainsley bingung 'Jadi dekat atau tidak?'
"Bukankah sebentar lagi kau akan masuk akademi setelah kelulusan kami?"
"Benar yang mulia." jawab Ainsley. Ainsley menyadari bahw Bahasa yang digunakan Rhys sudah tidak formal seakan-akan ia berbicara kepada temnnya saja.
"Sayang sekali aku tidak bisa melihat." ucap Rhys dengan lesu.
'Dia sedang merayu? Seingatku di novel tidak dijelaskan bahwa ia seorang playboy.' Mendengar ini Ainsley bingung bagaimana membalasnya.
"Bu-bukankah kakak saya akan menjadi asisten yang mulia kedepannya?" Ainsley mencoba ,engalihkan embicaraan lagi.
"Ya, Oliver memang pantas mendapatkanya, ia memiliki kempuan untuk itu."
"Kakak memang rajin belajar, saya sering melihat ia diperpustakaan, kakak juga sering mengajari saya belajar. Saya yakin kakak tidak akan mengecewakan yang mulia." Ainsley terus mengoceh tentang kehebatan Oliver ya walaupun kadang terdenga berlebihan tampa disadari Rhys menatap Ainsley.
"Kau sangat suka dengan Oliver?"
"Kakak sangat hebat dan baik terhadap saya."jawab Ainsley dengan yakin dan senyum yang tulus. Mendengar itu membuat Rhys tertegun.
"Yang mulai? apakah ada yang salah?" tanya Ainsley karena ia khawatir dengan tiba-tiba keheningan Rhys ia berfikir karena terlalu banyak mengoceh jadi Rhys merasa bosan dan menganggapnya aneh padahal ia hanya spontan menceritakan kakaknya saja atau Ainsley berfikir ia melakukan hal yang tidak sopan membuat Rhys terkejut tapi Ainsley yakin bahwa apa yang delakukan tidak memiliki kesalahan.
"Ainsley ayah sudah selesai mari kita..." Suasana itu terhenti karena Davis yang tiba-tiba muncul. "Salam yang mulia putra mahkota."
"Ayah."
"Tuan Carson."
"Apakah saya mengganggu pembicaran anda?" tanya Davis yang melihat suasana mereka agak berbeda.
"Tidak tuan Carson, saya hanya menyapa nona Ainsley saat berada ditaman dan berbicara sebentar. Sepertinya tuan Carson akan pergi?"
"Ahhh iya, saya sudah janji kepada putri saya akan mengajaknya ke pusat kota tapi ada keperluan yang perlu saya urus disini jadi saya mengajaknya sebentar kesini."
"Begitu, kalau begitu silahkan bila tuan Carson dan nona Ainsley ingin segera pergi kekota."
"Kalau begitu kami permisi yang mulia, ayo Ainsley!" ajak Davis kepada putrinya. Ainsleypun memberi salam kemudian mereka berdua pergi meninggalkan Rhys sendirian ditaman tersebut.
******
Ainsley dan Davis sudah berada didalam kereta kuda dan sedang berada dalam perjalanan menuju pusat kota.
"Ainsley apa yang tadi kau bicarakan Bersama yang mulia?" tanya Davis penasaran.
"Tidak banyak, hanya basa-basi dan membahas tentang kakak." jawab Ainsley seadanya.
"Ohhhh begitu." Setelah itu Davis tidak membahas perihal pertemuan dengan putra mahkota lagi.
'Sepertinya yang mulia langsung memanggil Ainsley dengan 'nona Ainsley' apa karena yang mulia akrab dengan Oliver jadi yang mulia merasa tidak sungkan lagi? Huffff...Sepertinya aku banyak berfikir.'
Hal itulah yang Davis fikirkan selam di perjalanan.
_________________