Call Home,

Por Anyna__

633 48 12

Bukan hanya tentang Dimitra dan dunianya yang kosong melompong, bukan juga tentang Nata beserta hal hal tak k... Más

II
III - Agas Darespati
IV
V

I - Dimitra

154 13 5
Por Anyna__

His eyes. His gaze. I still remember his gaze was intimidating.

*

085xxxxxxxxx
Test.

Thats how he texted me for the first time. Not a proper hello or casual 'basa basi' for a text--- and his number not saved for almost a month. Maybe.

Kalo kata ayah gue sih, yang modelan begitu tuh nggak ada adabnya.

Kesan pertama dia sebagai orang yang baru gue temui terlalu menjengkelkan, gue bahkan enggan untuk ngeliat mukanya di ke-esokan harinya setelah hari itu. Apalagi sampai nyimpen kontaknya. Ogah.

Klise sebetulnya. Gue dan Dimitra dipertemukan oleh semesta di suatu pagi dimana gue sebagai murid baru sma yang sedang menghadapi perploncoan dan dia sebagai kakak komdis sok galak. Well, di jaman ini emang udah nggak ada lagi yang namanya perploncoan. Tapi apapun namanya, intinya tetep sama aja kan?

Waktu itu gue masih seorang anak ingusan yang baru lulus smp dan baru memasuki fase baru dimana gue jadi anak sma, dan saat itu gue juga masih seorang anak cupu sekaligus beler karena harus bangun pagi pagi buta buat mempersiapkan berbagai tetek bengek demi menghadiri MOS sebagai murid baru. Sedangkan Dimitra adalah panitia MOS komisi disiplin angkatan gue waktu itu dengan almamater khas sma gue beserta slayer abu abu di salah satu lengannya.

Temen temen seangkatan gue biasa memanggil dia dengan sebutan komdis slayer abu abu, karena si ketua komdis pake slayer hitam---- kadang juga ditambahin jadi komdis slayer abu abu yang ganteng itu lho---
Dan gue nggak pernah menyangka sebelumnya kalo Dimitra bisa mempengaruhi hari hari gue setiap harinya di kemudian hari.

"Hey, kamu keluar dari barisan sekarang." tunjuknya ke arah salah satu barisan dari depan sana, dimana tempatnya berdiri memandangi anak anak yang mental tempe akibat tatapan sengit kakak kakak komdis "Saya bilang segera mundur dari barisan, nggak denger suara saya?" suaranya meninggi seolah naik pitam

Gue yang nggak tau pasti dia menunjuk ke arah siapa itu jadi ikut ciut seketika. Rasanya ingin menjerit minta tolong atau sembunyi dibawah ketek ayah sekarang juga.

"Rambut pendek gugus Iskandar Muda. Gugus ungu!" gue baru menyadari kalo tatapannya mengarah ke arah gue, karena diantara semua cewek di gugus ungu alias gugus gue ini cuma gue seorang yang berambut pendek. Kecuali dia manggil temen cowok gue yang literally rambutnya pendek semua.

Gue menatap kearahnya sambil menunjuk ke diri sendiri. Dan dia malah datang dengan langkah cepat seolah mau menghabisi gue secepatnya. Disaat saat begini kakak pendamping gugus gue yang keliatannya selalu baik---- dan emang beneran baik itu nggak keliatan seperti mau menolong adik manisnya yang terancam ini.

Selanjutnya si galak itu malah menarik lengan baju gue seolah nggak mau kalo sampe menyentuh tangan gue sedikitpun dan membawa gue ke belakang barisan sampe sampe beberapa anak lainnya sempet menoleh dan memandang gue iba selama sepersekian detik, karena kalo kelamaan bisa bisa mereka mungkin akan kena omelan rese komdis komdis sok galak di depan sana.

Bahkan Anggi yang berada tepat disebelah gue dan tadi sempet nyenggol lengan gue beberapa kali itu cuma berani menunduk dan seolah ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Ya iyalah, kalaupun jadi dia gue juga pasti bakalan cari aman sendiri dulu.

"Kamu sadar kesalahan kamu?" gue masih menunduk dengan kedua tangan yang gue tautkan kebelakang

"Salah saya apa kak?"

"Baca peraturan nggak?" suaranya nggak lagi menyentak seperti tadi waktu dia meneriaki gue dari depan, tapi entah kenapa malah ganti kedengeran menusuk

"Baca kak."

"Sepatu kamu itu warna apa?"

"Hitam kak."

"Makanya kalo baca itu dicermati yang betul." dia malah ketawa mencemooh gue "Nggak pinter sih!"

Ini orang nyebelinnya setengah mati. Gue udah nggak tahan. Kepala gue nggak lagi menunduk kebawah dan reflek menatap kedua matanya secara langsung. Bodoamat mau dia ngira gue nantangin.

"Tapi sepatu saya emang hitam polos kan kak?"

"Kamu daritadi nggak ngeliat sepatu temen temen kamu yang lain?" matanya melirik ke arah anak anak lainnya seakan mengisyaratkan gue untuk ngeliat mereka semua "Coba liat pelet sepatu kamu. Yang lainnya full hitam kenapa kamu nggak ada takut takutnya pake sepatu pelet putih begini?"

Ya tuhan iya juga ya, kenapa gue baru ngeh sekarang. Lagian beginian doang pake diributin sih, heran gue. Nyari nyari kesalah orang mulu. Gue panggilin setan gatel baru tau rasa dia ntar diikutin kemana mana.

"Tapi sepatu saya kan hitam kak." dengan keberanian yang udah sekuat tenaga gue kumpulin akhirnya gue mengelak dan mencari pembenaran

"Yang komdisnya saya apa kamu?"

Asu. Dia ngomong tepat di depan muka gue sampe muncrat. Walaupun sedikit. Dan mungkin dia juga nggak sadar.

"Maaf kak." akhirnya gue memutuskan untuk ngalah daripada makin panjang

Bukannya menyudahi semuanya, setelahnya ini orang malah lagi lagi menarik lengan kemeja putih atasan baju smp gue seperti tadi dan menyeret gue ke lapangan, ke lapangan lain dimana nggak ada temen temen gue yang lain dibariskan. Gue yang memang masih asing sama sekolah baru gue ini cuma bisa nurut nurut aja sambil cengo sekaligus kebingungan ngeliat ke kanan kiri.

Seluruh anak baru yang lai MOS sekarang ditempatkan dan bakalan diarahkan ke area aula atas atau aula bawah untuk kegiatan yang membutuhkan ruang indoor, seperti untuk istirahat, nyimpen barang pribadi, ngeliatin pemateri sambil ngantuk ngantuk---- atau mungkin yang lain lainnya.

And sadly, komdis rese satu ini malah sengaja menarik gue ke lapangan dimana banyak kelas kelas yang ada isinya--- maksut gue banyak kakak kelas yang lagi nongkrong depan kelas dan otomatis beberapa dari mereka ngeliat ke arah sini. Gue rasa si rese ini sengaja mau ngerjain gue disini.

"Lari keliling lapangan lima kali, saya yang ngitung." perintahnya enteng

Lagi dan lagi gue cuma bisa melongo--- bukannya gue kebanyakan ngeluh. Gue tau gue memang salah. Tapi ngeliat lapangan di hadapan gue sekarang yang luasnya hampir kayak stadion ini bikin gue gelagapan.

"Kak--"

"Mau protes?" dia malah melipat kedua tangannya sok keren dan nunjuk pake dagunya ke depan supaya gue cepet lari "Mau pilih langsung lari sekarang atau mau ditambah jadi tujuh kali?"

Gue sempet ngeliat ke sekililing gue, dan ternyata ada beberapa anak osis yang juga keliatan ikut ngurusin MOS karena gue ngeliat Id card dilehernya. Dan gue beneran jadi bahan tontonan mereka. Pada akhirnya gue cuma bisa menurut dan se segera mungkin lari keliling lapangan supaya nggak semakin berlama lama berdiri dibawah terik matahari yang rasanya menyengat ini.

Kali ini perkataan mama lagi lagi selalu benar, dan gue sepertinya emang kualat karena tadi pagi sebelum berangkat sekolah nggak menyantap sarapan yang disodorkan mama dan udah susah payah mama masak itu. Gue terlalu terburu buru saking takutnya telat di hari pertama MOS hari ini---- ditambah lagi gara gara klaksonan membabi buta mas Jeje dari depan rumah tadi pagi dan membuat gue semakin bingung lari kesana sini---

Baru aja gue mau ngelepasin Id card beserta atribut--- yang gue maksut adalah seutas tali rafia yang di sekelilingnya ada beberapa plastik menggantung berisi enam biji permen---- tapi dia malah lebih dulu menahan gue dengan suaranya.

"Siapa suruh lepas?"

Gue cuma bisa pasrah dan diem kayak orang bisu menghadapi Dimitra. Setelahnya leher gue reflek sedikit ikut maju kedepan akibat tarikan tangannya yang menarik pelan Id card gue dan menatapnya seksama.

"Oke. Natania Syauqi. Ayo segera dimulai. Saya yang menghitung."

Meskipun dia menyebutkan nama gue secara lengkap setelah dapet info dari Id card gue yang dia tarik itu, gue ogah setengah mati mau menyahutinya dengan balik nyebut namanya---- meskipun gue tau siapa panggilannya.

Disaat kedua kaki gue mulai berlari menjauh, dia sedikit mundur kebelakang dan dengan senangnya enak enakan neduh dibawah pohon besar dibelakangnya.

Setelah putaran pertama, gue juga mendengar suara lantangnya yang beneran menghitung jumlah putaran gue mengelilingi lapangan itu---- dan demi tuhan. Suaranya makin membuat isi kepala gue seolah meletup letup, ditambah sengatan terik matahari siang bolong yang membuat gue semakin mendidih di dalam. Suaranya beneran kedengeran seolah negasin kalau gue masih punya sisa EMPAT PUTARAN berikutnya--- padahal di putaran pertama gue udah nggak sanggup lagi.

*




A.N :

Some of you maybe cuma mampir dan iseng baca aja, but if u enjoy this story i suggest you to read "partner hidup" first karena cerita ini bisa dibilang nyambung dengan cerita tsb. Sekedar nyaranin kali aja nanti bingung ini siapa ini siapa hehe. But if you dont mind guys hehe...again...

Dan.....yang kesini karena baca partner hidup, terimaksih banyak banyak. Hope u enjoy this story!😗

Seguir leyendo

También te gustarán

176 23 9
Di balik senyumnya, ada luka yang tak terlihat. Di balik tatapan kosongnya, ada cerita yang tak pernah ia bagikan. 𝗔𝘀𝗮𝗹𝘂𝗻𝗵𝗮𝗿𝗮 𝗔𝘁𝗵𝗲𝗮 𝗗...
105 10 6
Di balik dinding rumah yang hangat, keluarga kecil ini menjalani hari-hari mereka dengan tawa, canda, dan sedikit kekacauan yang justru membuat segal...
209 1 56
Shraddha: Bisikan dari Lorong Tua mengajakmu menyelami misteri kelam sebuah sekolah tua yang menyimpan lebih dari sekadar kenangan. Di balik dinding...
9.2K 1K 16
Terdampar ke dunia anime kesukaan kalian, apa pernah kalian bayangkan? Begitulah yang dialami Rena, ntah mimpi apa yang membuatnya bisa sampai ke dim...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas