Jika kembali diingat, Taehyung tak pasti tahu kapan mereka terakhir berjumpa. Kapan terakhir kali telapak tengannya menggenggam jemari Hara. Untaian kasih yang selalu Taehyung jaga untuk Hara.
Semangkuk ramyeon dan sebotol air mineral dingin menjadi santapannya malam ini sepulang bekerja. Praktis dan mengenyangkan. Terlebih harganya terjangkau dan mudah ditemui.
Patut digarisbawahi bahwa Woo Taehyung sama sekali tidak mempersalahkan jumlah uang yang ia keluarkan. Taehyung adalah seorang perintis sukses dari bisnis yang ia bangun bersama koleganya. Taehyung hanya berpikir untuk mendapati makan malam yang tidak merepotkan karena ia memiliki jadwal penting setelah itu.
Tidak ada hari yang tidak melelahkan bagi Taehyung. Kecuali saat Hara muncul dibenaknya dan menyadari ada alasan baginya untuk tetap bertahan. Dia memiliki Hara untuk dibahagiakannya. Dia memiliki Hara untuk mengantarkan rasa lelahnya pergi.
Ia segera beranjak kala suapan terakhirnya masuk ke dalam mulut. Ia membuang cup ramyeon tadi dan membayar totalnya. Ia melangkah keluar sembari menenggak air minumnya hingga setengah.
Taehyung tidak terburu-buru. Hanya saja tengah berusaha menepati janjinya pada Hara untuk bertemu atau sekadar berjalan malam di sekitar taman kota.
Taehyung tidak lelah? Jelas sekali Taehyung lelah. Bahkan badannya pegal-pegal karena seharian bekerja. Namun mengetahui dia dan Hara akan segera bertemu, tentu ada alasan lain mengapa Taehyung mampu menepis rasa lelahnya sekiranya selama ia dan Hara bersama.
***
Hara menyukai langit malam. Hal yang dirindukannya setiap pagi. Suasana terbaik untuk segalanya. Ia merasa tentram. Tak berhenti ia menghitung butiran bintang yang bersinar malam ini sambil menunggu kedatangan Taehyung yang sudah berjanji akan menemuinya di taman kota tepat pukul sepuluh malam.
Tidak masalah bagi Hara menunggu karena menikmati angin malam yang dingin adalah salah satu kesenangan tersendiri untuknya. Apalagi ia tidak melihat ada yang berlalu lalang sejak 40 menit lalu kecuali orang mabuk yang jalan sempoyongan menuju halte bus.
Ini dia, Seoul. Terdengar keren bagi Hara. Ia lebih menyukai kota dibandingkan dengan pedesaan tempat neneknya tinggal. Menyenangkan bisa tinggal berdekatan dengan orang-orang intelek yang melek akan peradaban dan berpikir secara luas dan terbuka.
"Hara!"
Seruan seorang pria yang tengah ditunggunya. Taehyung datang satu menit sebelum jam yang dijanjikan, "Sudah lama menungguku?"
Wanita itu mengangguk bersamaan Taehyung duduk di sampingnya, "Maafkan aku. Seharusnya aku datang lebih awal."
Hara kemudian menggeleng, "Bukan seperti itu. Kau bahkan tidak telat sama sekali. Aku sengaja datang lebih awal. Bukankah bintang malam ini terlihat begitu banyak daripada sebelumnya?"
Ia tersenyum dan menghela napasnya sedikit berat karena lelah berlari. Meraih jemari Hara, Taehyung mengusapnya perlahan. Berikutnya mereka saling diam. Cukup lama bahkan saat Hara menyadari kesunyian di antara mereka. "Kau tahu?" Sedikit menjeda, "Aku bahagia," suara itu keluar dari bibir Hara.
Taehyung terkesiap. Ia kembali mengulas senyumnya dan menatap jemari Hara pada genggamannya. Mungil dan lembut. Kulitnya putih pucat namun sedikit kemerahan diujung jarinya, "Dan kau tahu?"
Hara menatap Taehyung, "Apa?" Suara dan tatapannya lembut sekali. Taehyung sangat menyukainya.
"Aku juga bahagia. Ada kau di sisiku." Taehyung bersungguh-sungguh ketika mengatakannya. Seolah apa yang ia rasakan di dalam hatinya, ia bicarakan tanpa dilebih-lebihkan. Hara begitu berharga sampai rasanya Taehyung terlampau bahagia dan tidak tega karena harus meninggalkan Hara yang hidup sendiri di Kota ketika Taehyung pergi bekerja.
Wanita itu butuh waktu untuk mendengar kalimat Taehyung lebih lama sebelum ia menyunggingkan bibirnya dan memuntahkan kekehannya.
"Aku rindu padamu," pria itu merebahkan kepalanya di bahu Hara dan seketika wangi lembut itu semakin menyeruak ke dalam hidungnya. Jemari panjang itu perlahan mengisi setiap sela jari Hara. Merapatkannya dan saling menggenggam. Mereka saling diam beberapa saat sebelum Taehyung bersuara lagi, "Hara-ya.."
"Hm?"
"Apakah menurutmu aku pasangan yang tepat bagimu?"
Hara mengangkat alisnya dan mengangguk, "Tentu saja. Ada apa?"
Taehyung menggeleng, "Bukan begitu, hanya saja aku tidak sabar memperkenalkan dirimu pada orangtuaku. Pasti mereka senang sekali," ia tersenyum membayangkan sambutan orangtua Woo kepada Hara nanti.
"Tae.."
"Ya?"
"Kau mencintaiku, kan?"
Kepalanya tetiba bangkit dan menatap Hara sedikit bingung. Ia merasa diragukan, "Hei. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku mencintaimu. Sangat!"
Hara menahan tawanya ketika melihat ekspresi kaget Taehyung yang menggemaskan, "Kau tidak perlu marah begitu!" Nadanya sedikit manja tetapi tetap lembut.
Kecupan singkat berhasil menghantam pipi kiri Taehyung dan giliran Hara yang merebahkan kepalanya pada bahu Taehyung, "Aku juga."
"Apa?" Balasan Taehyung terdengar sedikit jengah takut-takut kalimat yang selanjutnya dikeluarkan Hara juga tidak masuk akal.
"Cinta padamu."
Lantas raut Taehyung berubah dan pipinya memerah. Ia salah tingkah mendengarnya, "Kau pandai sekali membuat orang tersipu."
Tanpa mengubah posisi kepalanya, Hara menatap bentangan langit gelap di hadapannya, "Kau tersipu?"
"Aku baru saja mengatakannya."
Hara tersenyum. Menurunkan pandangannya dan menemukan tautan jari mereka di antaranya dan Taehyung, "Itu berarti, aku sudah berhasil membuatmu kembali jatuh cinta padaku, ya?"
Tangan Hara ikut terangkat saat Taehyung membawa genggaman jari mereka dan mengecup punggung tangan Hara beberapa kali dan menciumnya lalu berkata, "kau selalu berhasil melakukannya, Hara. Kau selalu membuatku jatuh cinta padamu setiap saat bahkan ketika aku melupakan diriku sendiri."
Taehyung melanjutkan, "Hara-ya.. aku beruntung memilikimu."
Demikianlah ketika langit malam membawa kedamaian di tengah-tengah mereka. Membawa ketenangan dan kehangatan lalu saling mengutarakan cinta, sembari berharap yang di antaranya menjadi abadi. Namun, benang merah yang tampak jelas perlahan terlihat samar. Angin dingin membuatnya kendur dan ringkih. Akankah sebuah takdir yang mengikat mereka dapat menopang keduanya? atau melepas salah satunya untuk bisa tetap bertahan?
| To be Continued
_______________________________
Halooo!!! Thankk uu readers! u made it to the end! Selamat datang, dan selamat bergabung dalam bagian dari kisah Woo Taehyung dan Jung hara selama beberapa waktu kedepan. Percaya, bahwa setiap cerita itu berhak mendapatkan akhir yang bahagia, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Saksikan terus kisah mereka yaaa! Stay tuned untuk part selanjutnya!
By love, Tacha