BAGIAN 27
Aldavian itu tipe orang yang sulit menyesuaikan diri dengan tempat baru. Seperti semalaman tadi, Aldavian tidak bisa tidur sama sekali meskipun sebelumnya sudah disambut baik oleh keluarga Alyssa termasuk Sean. Well yeah, Alyssa tidak main-main dengan ucapannya yang siap menampung Aldavian di rumah keluarganya.
Pintu kamar yang terketuk dari luar membuat Aldavian yang baru saja keluar dari kamar mandi melanjutkan langkah menuju pintu. Aldavian menarik daun pintu dan langsung mendapati wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga di rumah ini yang meminta Aldavian turun untuk sarapan pagi bersama.
“Ya nanti saya turun, Mbak,” respon Aldavian singkat.
Entah kapan terakhir kali Aldavian makan pagi bersama disertai obrolan ringan seperti kali ini, yang jelas Aldavian lebih sering makan pagi sendirian di unit apartemen. Kadang jika tidak sempat, Aldavian hanya menyantap roti atau parahnya berangkat dengan kondisi perut yang masih kosong.
“Pa,” panggil Alyssa.
Aldavian mendongak melIhat ke arah Alyssa yang duduk di sebrangnya. Ia diam-diam memperhatikan Alyssa yang tengah menuangkan susu segar ke dalam gelas. Ini baru pertama kalinya Aldavian melihat Alyssa dengan muka bantalnya. Belum lagi Alyssa hanya menggenakan crop top abu-abu dan celana pendek yang emang pendek banget.
“Di kantor Papa ada lowongan gak?”
“Nah iya tuh, lo di kantor bokap gue aja,” sahut Sean yang duduk tepat di samping Aldavian. Sungguh kalau jika boleh jujur Aldavian sedikit kurang nyaman, tapi sepertinya semua orang di meja makan ini berupaya untuk membuatnya lebih bebas berekspresi.
Sepertinya, Sean sudah mengetahui kondisi serta permasalahan Aldavian dari mulut Alyssa. Apa saja yang Alyssa ceritakan pada Sean maupun yang lain Aldavian tidak tahu sama sekali.
Aldavian sudah tidak memperdulikan lagi jika semua orang tahu kondisinya sekarang. Walau begitu, ia percaya Alyssa tidak mungkin menjelaskan secara berlebihan apalagi mengada-ngada.
“Oh, Aldavian besok langsung datang aja ke Kantor sama Sean,” ujar Kenan tanpa beban. Sama sekali tidak keberatan untuk membantu pacar dari anak perempuannya itu. Meskipun sepertinya perusahaannya tidak butuh karyawan baru, Kenan nantinya bisa mengusahakan Aldavian menempati posisi di sana.
Sean protes, “Sama Alyssa aja. Kan pacarnya.”
“Dih!” Alyssa mendelik. Sean memang sangat sayang padanya, tapi tak memungkiri juga kadang-kadang bertingkah menyebalkan. “Alyssa sibuk kali besok.”
“Emang gue enggak?” Sean menyolot.
Akhir-akhir ini Alyssa tahu kakaknya itu tengah ngambis demi melanjutkan S-2nya di negeri paman sam setelah mendapat izin dari orang tuanya. Walaupun kalau tidak berusaha-berusaha amat juga Papanya akan berusaha memasukan Sean ke universitas di sana. Karena semuanya memang tahu seberapa inginnya Sean berkuliah di sana, bahkan Sean pernah hampir tidak sadarkan diri di sebuah klub malam hanya karena tidak mendapat izin melanjutkan kuliah di amerika setelah lulus sekolah waktu itu.
“Udah-udah malah ribut.” Tary angkat bicara.
“Nanti saya datang sendiri aja, Om.” Aldavian menengahi. Selain tidak suka keributan, Aldavian juga merasa tidak enak hati.
“Mobil lo--?” Sean menoleh.
Aldavian terdiam sebentar. Sejauh apa kira-kira yang Alyssa ceritakan pada Sean mengenainya. “Gampang nanti,” ujar Aldavian lugas. Lagian transportasi bukan masalah yang besar.
“Pinjamin kali, Sean.”
“Which one?” Sean mengangkat alisnya, bingung.
Alyssa menegak minumnya, lalu berkata “Yang putih. Yang biasa lo pake.”
“Dih nggak!” Tolak Sean cepat-cepat.
“Kan yang satunya masih ada. Jarang dipake ngampus.”
“Ck. Gak ah, Mom!” Sean paling malas jika memakai supercar ke kampus. Bukannya gimana-gimana tapi tidak memakai supercar saja Sean sering mencuri perhatian banyak orang.
“Dih.” Alyssa mencibir. “ Mending jual aja tuh lumayan laku belasan miliar!”
“Lo beli yang baru aja Dav, ntar gue yang bayar deh. Tapi cari yang murah aja yang kisaran 700 jutaan kek.” Tak apa Sean siap merelakan uang jajan setahunnya untuk kali ini.
***
“Mau kemana?” Aldavian yang melangkah kembali ke kamar selepas membasahi tenggorokan dengan minuman di dapur tidak tahan ketika tak sengaja berpapasan dengan Alyssa yang berpenampilan rapi layaknya orang hendak menghadiri suatu pesta. Ah—perempuan itu juga menenteng tiga paper bag di tangan kirinya.
“Birthday party teman,” jawab Alyssa santai.
Kan. Gaun tipis berwarna hijau biru langit, dan sepatu hak tinggi saja sudah menjadi dugaan kuat jika perempuan itu akan menghadiri pesta. Belum lagi blazer lengan panjang berwarna hitam yang menutupi tali sepageti dari gaun tersebut kemungkinan besar akan di tanggalkan begitu saja oleh Alyssa setelah sampai di tempat tujuan.
“Seriously? Jam segini?” Aldavian bertanya lagi. Ini sudah hampir pukul sepuluh malam, dan pesta baru akan di gelar sekarang? Akan lebih masuk akal, pesta selesai di jam tengah malam seperti ini. Aldavian tampak ingin bertanya lebih lanjut namun Alyssa lebih dulu berbicara.
“Yup, Mommy udah tau juga,” kata Alyssa kemudian merogoh salah satu paper bag yang akan diberikan kepada temannya sebagai hadiah. “Nih liat, lucu kan?” Alyssa memperlihatkan sebuah tas yang dipastikan harganya bukan main kepada Aldavian.
Meski tidak tahu letak ‘lucunya’ dimana, Aldavian tetap berguman—mengiyakan.
Alyssa memasukan kembali tas tersebut, lalu mendongak, “Kenapa? Kamu mau ikut?” Tapi ia mendadak sedikit ragu, Aldavian bukan anak yang apa-apa serba party ditambah kemungkinan besar Alyssa akan sibuk kangen-kangenan dengan teman semasa sekolahnya. “Tapi kebanyakan di sana itu teman-teman ku, pasti kamu gak nyaman. Gak usah aja deh ya?"
Aldavian mengangkat bahu tak acuh. “Ya udah,” ujarnya kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar. Sayangnya, baru beberapa langkah, Aldavian kembali berhenti dan menoleh ke belakang mengamati punggung Alyssa.
“Heh?” Alyssa terkejut ketika tangan seseorang lebih cepat menggapai handle pintu mobilnya. Ia menoleh mendapati Aldavian yang sudah berganti pakaian.
“Ikut,” ucapnya seraya mengambil kunci mobil dari tangan Alyssa.
Alyssa mengerjap beberapa detik “Okay,” katanya bersemangat lalu cepat-cepat melangkah dan membuka pintu mobil disamping kemudi.
Jalanan lumayan lenggang, lagipun Aldavian tahu tempat digelarnya pesta begitu Alyssa menyebutkan. Tampaknya cukup betah mereka diam di dalam mobil, Aldavian sibuk dengan fokusnya mengemudi sekaligus ragu memulai pembicaraan dengan Alyssa lantaran perempuan itu seperti sedang sibuk membalas pesan entah dari siapa sampai-sampai sesekali menyengir.
Pada akhirnya, Aldavian tetap memilih diam. Hingga sampai ke tempat tujuan, mereka berjalan beriringan. Hal pertama yang menyambut keduanya adalah berbagai macam botol minuman beralkohol yang tertata sangat rapi.
“Hey, Kinar. Happy birthday!” Alyssa menyapa dan langsung berpelukan perempuan yang menggenakan gaun panjang berwarna merah serta selempang bertuliskan birthday girl.
"Ya ampun, Alys. Long time no see.” Perempuan itu mengurai pelukan, lalu pandangannya tertuju pada laki-laki tinggi yang berada tepat di belakang Alyssa. “Cowok lo Al?”
Alyssa mengangguk berkali-kali. “Hm.”
“Hi, I’m Kinar.” Perempuan bernama Kinar itu mengulurkan tangan yang disambut ramah Aldavian.
“Aldavian.”
“Cool name,” pujinya seraya mengangguk berkali-kali.
“Thanks.”
Kinar beralih pada Alyssa, menunjuk beberapa teman-teman mereka yang lain yang duduk di sofa. “Al yuk kita ke sana, udah ditungguin tuh. Udah lama juga kita gak ngobrol bareng.”
“Kamu? Gak papa?” Alyssa menoleh, bertanya pada Aldavian.
Kinar yang seolah peka mengedarkan pandangan ke arah beberapa geng laki-laki. “Ah—lo gabung ke sana aja. Cowok-cowok pada ngumpul di sana. Ada cowok gue juga kok.”
Belum sempat Aldavian menyahut, dua perempuan itu sudah lebih dulu meninggalkannya.
“Gak tahu kabarnya gue sekarang. Gak pernah ngobrol atau teleponan lagi semenjak ada masalah itu,” ujar Alyssa yang ditarik Kinar dan ditanyai mengenai masalahnya dengan Maya dulu.
“Tapi kalau gak ada kejadian itu juga lo gak akan jadi sama cowok lo yang sekarang kan? Mana cakep lagi,” kata Kinar menoleh kebelakang untuk memastikan keberadaan Aldavian diantara geng cowok-cowok di sana.
“Iya juga sih.” Alyssa menyetujui.
Selang mengamati beberapa cowok-cowok di sana, Kinar justru salah fokus dengan kehadiran cowok yang sepertinya juga baru tiba di tempat ini. Mengetahui siapa, Kinar mendelik, “Alys, kok ada mantan lo?! What the hell! I didn’t even invite him!”
***
TBC
hemm.. new bf vs ex bf
karena banyak yg minta update tanggal 17 jadi aku update tanggal 17. Hampir aja kelupaan tadi🙃
okay see you!!
jaga kesehatan ya