Singgah

Por KastilImaji

29 1 0

--- Sinopsis --- Kamu menakjubkan, meski tidak sempurna. Setidaknya itulah yang kupikirkan saat aku menerimam... Más

Dua

SATU

21 0 0
Por KastilImaji

Yogyakarta, kota nan romantis dengan hiruk pikuknya. Kota tempatku mengukir kisah-kisahku. Kota yang menjadi saksi perjalanan seorang Bintang dan Alam membina keluarga kecilnya. Aku mencintai kota ini, sebagaimana aku mencintainya.

Namaku Bintang Ningsih Pranoto. Aku adalah anak bungsu dari sepasang orang tua luar biasa, Hadi Pranoto dan Ningsih Ayu Pranoto yang juga memilki seorang kakak bernama Ide Bagus Alit Pranoto. Hidupku nyaris sempurna sejak aku lahir, sampai akhirnya kehadiran Alam Guana Pangestu dalam hidupku yang menyempurnakannya.

"Mbak Bintang, Den Sore sudah tidur dan sudah saya taruh di kamarnya"

Seruan Bu Gendhis membuatku seketika mengalihkan fokusku pada setiap bait tulisan dongengku di laptop. Dan Sore yang dimaksud oleh Bu Gendhis itu adalah anakku. Sore Sadhil Pangestu, si kecil yang langsung membuatku seolah selalu didatangi keberkahan dari langit.

"Makasih ya bu"

"Bu, Mas Alam belum pulang juga ya?" tanyaku menahan langkah Bu Gendhis yang sudah hendak pergi.

Oh iya, itu adalah Bu Gendhis. Aku mengenalnya dari Alam. Bu Gendhis adalah orang yang merawat Alam saat ia kecil dan sudah menemani Alam hingga saat ini. Dan sekarang, Bu Gendhis pun juga membantuku menjaga Sore.

"Belum mbak, sepertinya belakangan ini Mas Alam sedikit riweuh dengan pabrik"

"Ya sudah nanti kalau Mas Alam pulang, tolong hangatkan makanan di meja ya" ujarku lagi sembari beranjak menuju kamar.

Tahun ini memasuki tahun kelima pernikahanku dan juga Alam. Di usia mudaku, Alam yakinkan aku untuk membawa dirinya dalam hidupku. Dan seperti yang terlihat, aku begitu bahagia bersamanya. Bersama keluarga kecilku ini.

"Sayang, kamu harus bangun sekarang. Aku mau makan masakan istriku, bukan Bu Gendhis"

Perlahan aku mulai membuka mataku karena rasa geli yang Alam buat di telingaku. Masih dengan keadaan setengah sadar, senyumku mengembang melihat Alam yang tampak begitu tampan dengan rambut dan wajah acak-acakannya. Cup...seperti pagi-pagi lainnya, Alam berikan kecupan hangat pada bibirku.

"Morning Bin,"

"Morning" ujarku balas mengecupnya.

"Kamu pulang jam berapa tadi malam?" tanyaku menginterogasi Alam.

Paham dengan nada bicaraku, Alam kemudian menjawab dengan nada bersalah "aku minta maaf ya, tapi kerjaan aku memang sedang butuh perhatian ekstra"

"Tapi kamu juga harus perhatian sama tubuh kamu sendiri"

Alam hanya tersenyum seraya mengangguk patuh. Sekali lagi ia kecup kepalaku sebelum beranjak dari tempat tidur. Setelah siap dan tampak rapi, Alam datang menghampiriku yang tengah mempersiapkan sarapan. Aku mulai menceritakan perkembangan cerita yang kini tengah kutulis kepadanya.

"Menurut kamu terlalu klise gak idenya?" tanyaku.

"Bagus kok, aku suka ceritanya. Apalagi di bagian pertemuan Jenderal Bumi sama si Putrinya" Alam menanggapi ucapanku dengan kondisi mulut yang sibuk mengunyah sandwich yang kubuat.

"Beneran?" tanyaku lagi.

"Iya Bintang" Alam kembali berucap dengan nada penuh penekanan yang langsung membuatku tersenyum senang.

Setelah selesai memakan roti dan meminum segelas susunya, Alam kemudian beranjak untuk segera berangkat ke pabrik. "Ayah berangkat dulu ya sayang. Jagain ibu buat ayah ya" Alam memberikan kecupan bertubi-tubi pada pipi gembul Sore.

"Kamu gak usah nunggu aku pulang ya, takutnya sampai malam lagi" Aku hanya mengangguk mengiyakan. Selepas kepergian Alam, tatapanku beralih ke arah Sore yang tengah asik dengan biskuatnya. "Sayang, hari ini temenin ibu pergi mau kan?"

Hari ini memang aku berniat untuk datang ke sebuah pameran lukisan. Kebetulan Ayu sahabatku menjadi salah satu penanggung jawab acara tersebut. Sembari mengunjunginya aku bisa melihat-lihat lukisan yang mungkin dapat memunculkan ide untuk cerita yang tengah kutulis. Kedatanganku dan Sore pun sudah di sambut oleh Ayu yang tengah menunggu di depan pintu galeri.

"Nunggu lama ya Yu? Maaf ya, agak macet tadi" begitu sampai, aku diselimuti rasa bersalah pada Ayu karena merasa terlambat dari janji yang sudah kubuat bersamanya.

"Enggak kok Bin, yuk masuk" Alih-alih menanggapi ucapanku, Ayu langsung mengajakku masuk seraya mengambil alih stroller Sore dariku.

Ayu banyak menunjukkan lukisan-lukisan di pameran itu seraya sesekali membagikan cerita di antara lukisan-lukisan tersebut. Hingga kemudian ada satu lukisan yang seketika menarik perhatianku. Dalam lukisan itu tertulis satu kata, "ketulusan". Salah satu alasan mengapa lukisan tersebut terlihat begitu menarik untukku yaitu karena aku melihat bintang menjadi salah satu objeknya.

Tampak satu bintang dan bulan sabit yang saling berdekatan. Kemudian di sudut lainnya, ada sesosok laki-laki yang digambarkan tak begitu jelas. Kepalanya mendongak menatap ke arah bintang dan bulan. Dari bagian kepala hingga badan dari laki-laki tersebut digambarkan dengan jelas oleh sang pelukis. Namun, yang lebih menarik penasaran dalam diriku, dari bagian tubuh hingga kaki dari laki-laki tersebut digambar dengan pudar bahkan nyaris hilang tak terlihat.

"Kisah apa yang ada di balik lukisan ini Yu?" tanyaku pada Ayu.

Ayu yang sudah siap untuk melanjutkan melihat kelukisan lainnya pun kembali berbalik ke arahku. "Apa yang kamu rasakan ketika melihat lukisan ini Bin?" Ayu malah balik bertanya padaku.

Aku pun berusaha memikirkan kira-kira perasaan apa yang tertuang dalam lukisan tersebut. "Sedih, putus asa, ketidakberdayaan" aku mengucapkan hal-hal yang menurutku cocok dengan setiap ekspresi yang ada di lukisan tersebut.

"Cinta" ujar Ayu.

"Semua yang kamu rasakan itu dirangkum dalam sebuah perasaan yang disebut dengan ketulusan. Dan itu disebut cinta Bin" sambung Ayu.

Aku terdiam menatap Ayu. Meminta penjelasan lebih lagi untuk meredam rasa penasaranku ini. "Laki-laki itu mencintai Bintang. Tetapi semesta menentangnya. Laki-laki malang tersebut harus merasa puas dapat melihat bintang dari kejauhan. Hingga kemudian, ia tak dapat menahan perasaanya dan melanggar aturan yang telah ada di semesta ini. Hukuman atas pembangkangannya, yaitu dengan meleburnya perlahan demi perlahan tubuhnya menjadi bulan. Saat tubuhnya benar-benar musnah, maka bulan sabit yang terus di dekap oleh bintang tersebut akan benar-benar bulat sempurna. Resiko yang harus ditanggung dari persatuan bintang dan bulan ini yaitu, laki-laki tersebut akan terus merasa sakit yang teramat sangat saat tubuhnya perlahan musnah"

"Itu berarti pada akhirnya semesta merestui keduanya Yu?"

"That's what you called power of love Bin..."

Kurasa aku mencintai lukisan ini, ujarku dalam hati.

"Bin, aku mau kasih tau sesuatu ke kamu. Karena kamu udah aku anggap lebih dari sahabat, maka aku ingin berbagi kebahagiaan sama kamu" ujar Ayu padaku seraya mengulurkan tangannya dengan jari manis yang dilingkari sebuah cincin.

Aku pun tak dapat menahan rasa terkejut sekaligus bahagia. Ayu sahabatku akhirnya berhasil mendapatkan restu untuk hubungannya.

"kapan Yu?!" aku tak dapat menahan nada senang dalam ucapanku.

"Ajakan married dari Dimas sih waktu kami dinner kemarin malam untuk merayakan anniversary keempat hubungan kami. Dan restu dari ayah keluar tadi malam. Ayah akhirnya sadar, kalau kebahagiaan anaknya itu segalanya bagi seorang orang tua."

Rasa haru kini menyelimuti diriku. Entah bagaimana, aku merasa sama bahagianya dengan apa yang Ayu rasakan ini. Mungkin juga karena aku tahu bagaimana lika-liku hubungan Ayu dengan Dimas hingga bisa sampai di titik sejauh saat ini. Ayu yang memang masih memilki darah biru harus menelan mentah-mentah ucapan ayahnya tentang keharusannya untuk memilki pasangan satu suku yang sama.

Setelah bercerita cukup singkat, aku dan Ayu ternyata tidak bisa bertemu dan mengobrol lebih lama lagi. Sore yang mungkin sudah terlalu lelah mulai rewel dan mengamuk. Alhasil aku harus mengalah dan segera pulang.

"Weekend biar aku main ke rumahmu Bin"

"Iya, aku tunggu Yu. Salam buat Dimas ya" aku memeluk singkat Ayu sebelum berlalu pergi menuju taksi yang kupesan.

Karena aku pulang bersamaan dengan jam pulang kerja, jalanan pun menjadi cukup macet. Beruntung Sore sudah terlelap di pangkuanku. Tepat pukul 5 sore, aku akhirnya sampai. Terlihat mobil Alam yang sudah terparkir di garasi. Tumben udah pulang, ujarku dalam hati.

"Kok udah pulang sih sayang. Katanya sampai malam?" ujarku pada Alam sembari memanggil bu Gendhis untuk membawa Sore ke kamarnya.

"Kamu dari mana aja?" entah hanya perasaanku saja, atau memang gaya bicara Alam padaku ini terdengar begitu ketus.

"Habis lihat pameran lukisan di acaranya Ayu"

Namun kini perlahan raut wajah Alam terlihat lesu. Aku baru sadar kalau Alam tampak begitu kacau saat ini. Rambutnya tak beraturan, lengan kemeja yang dikenakannya pun tergulung asal-asalan.

"Are you okay?"aku berjalan mendekati Alam seraya mengelus pelan lengannya.

"Aku hancur Bin. Semua yang aku mulai dari awal, hilang semuanya" tampak nada putus asa yang begitu jelas pada setiap ucapan Alam ini. Aku benar-benar merasa sedih untuknya. Kurengkuh tubuhnya ke pelukanku.

Malam itu meskiterlihat kacau, Alam tak menceritakan apapun padaku. Aku pun memilih untuk takbertanya dan menunggu ia siap untuk memberitahukan keadaannya saat ini.

Kastil Imaji // 13 Desember 2021

Seguir leyendo

También te gustarán

1.6M 140K 23
TERSEDIA DI TOKO BUKU SEBAGIAN PART SUDAH DIHAPUS Aku nggak mengerti bahwa sebuah kisah cinta bisa seperti ini. Sungguh, dulu aku hanya gadis polos y...
4.5K 111 27
Setelah Kanaya pergi, Alaska baru sadar kalau dia jatuh cinta pada istrinya yang tidak sempurna itu. Bahkan, sebenarnya setelah malam pertama mereka...
93K 5.6K 38
Part lengkap, untuk bagian dua tersedia di Innovel dan Dream** Bekasi, 5 Januari 2019 Untuk Miyas Alvino Assalamualaikum Apa kabarnya? aku berharap...
316K 36.4K 37
Cinta itu saling menjaga kehormatan satu sama lain hingga hari akad pernikahan tiba. Cinta itu saling menghargai segala perbedaan dan mempertemukan p...
Wattpad App - Desbloquea funciones exclusivas