39. Abimana Nugroho
Empat bulan berlalu,
Pagi ini keluarga Adrian tengah menikmati sarapan seperti biasa. Sesekali saling mengobrol dan bercanda. Aurel sudah tampak rapi dengan seragam sekolah. Ardi juga sudah siap dengan setelan kerjanya. Hanya Alvin yang masih memakai baju santai, kecuali sang mami yang memang hanya di rumah seharian ini.
“Alvin, kamu hari ini mau kemana?”
“Gak kemana-mana, Pi. Kan masih libur sekolah.”
“Hm, Kamu jadikan kuliah di UI?”
“Jadi,. Habis ini rencananya mau ngurus pendaftaran. Kenapa, Pi?”
“Gak pa-pa. Papi seneng kamu cepet mengambil keputusan. Lebih cepat lebih baik.”
“Iya.”
“Aurel, kamu gimana sekolahnya?”
Aurel yang tengah menunduk khusuk menyantap makanannya sekaligus mendengarkan percakapan sang papi dan Alvin segera mendongak.
“Kenapa, Pi?”
“Sekolah kamu gimana? Gak ada kendala kan?”
Aurel membuka mulut, hendak menjawab ketika Alvin tiba-tiba angkat suara,
“Aurel sebulan ini di tembak tiga belas cowok, Pi.”
“Ih, kak Alvin!!” Aurel berseru kesal karena saudaranya itu berbicara sembarangan di depan Sandra dan Ardi. Lagian bukan tiga belas kok, empat belas yang bener. Alvin itu ngasal sekali.
“Sekolah Aurel baik kok, Pi. Senin besok udah UKK.” Wajahnya kembali kalem begitu menghadap sang ayah. Ardi mengangguk dan memberikan beberapa motivasi agar anaknya lebih bersemangat untuk belajar. Yah, meski selama ini nilai Aurel pun tidak pernah memalukan sama sekali.
“Oh ya, Rel, kemaren kakak ketemu Bima. Kalian lagi deket ya?”
“Kepo!”
“Dih, sewot amat macan betina.”
“Alvin.” Tegur kedua orang tuanya.
“Iya, maaf.” Terkadang Alvin sering lupa bahwa ia tidak bisa membuli adiknya di depan orang tua mereka. Hal itu hanya akan membuatnya terlihat seperti anak pungut.
⏳🎭⏳🎭
Aurel duduk berdua bersama Cika di salah satu meja kantin. Sekilas gadis itu menatap segerombolan cewek yang cekikikan sendiri didepan sana, itu Dona, Rissa, dan teman-temannya. Beberapa bulan ini mereka tak lagi mengganggu Aurel meski ketika bertemu atau sekedar berpapasan ia masih dapat merasakan tatapan tajam dan tak suka dari sebagian di antara mereka. Apalagi dulu ketika kabar putusnya Aurel dengan Rega tersebar. Setiap melihatnya Dona selalu tersenyum miring dan menyeringai puas seolah dia adalah satu-satuya orang yang bahagia dangan kenyataan itu.
Dan Aurel, ia diam-diam masih sering memperhatikan Rega meski dari jarak jauh. Salahkah jika ia belum bisa melupakannya meski empat bulan sudah berlalu? Aurel sudah berusaha, ia berusaha dengan keras, tapi semakin bersikeras, Aurel justru semakin tersiksa dengan perasaan sendiri. Ia lelah atas ketidak mampuannya untuk tidak peduli pada Rega.
“Sepi banget sih gak ada Alvin.“ Cika menusuk-nusuk bakso di mangkuknya dengan malas. Lamunan Aurel buyar. Ia menatap sahabatnya itu, lalu menghela nafas. Ya, semenjak ujian nasiaonal selesai sekitar satu minggu yang lalu, siswa kelas dua belas sudah dibebaskan dari mengikuti pelajaran. Termasuk Alvin, Riko, Tito, dan… Rega. Sebagian dari anak- anak itu ada yang masih berkeliaran di sekolah entah karena kepentingan atau sekedar menghabiskan waktu luang di kantin dan lapangan sekolah. Namun sayangnya, Alvin dan yang lain tidak termasuk di antara mereka.
Alvin sedang sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk universitas. Tito dan Riko juga berkata demikian, meski Riko masih melakukan antar jemput untuk Dea seperti biasa. Lain halnya dengan Cika yang sudah memutuskan bahwa ia akan pulang pergi sekolah bersama Aurel---karena Aurel memaksa --agar Alvin tak perlu repot-repot. Apalagi nanti jika cowok itu sudah kuliah. Karena jarak antara Adriano’s dan universitas yang akan Alvin tempati tidak searah dan cukup jauh.
Sedang Rega? Aurel tidak tahu. Akhir-akhir ini ia sudah tak melihat cowok itu di lingkungan sekolah. Kadang Aurel merasa ini tidak adil. Kenapa sedikitpun dia tidak bisa mengenyahkan sosok pemuda itu dari pikirannya? Apa waktu yang ia lalui masih terlalu singkat hingga suara tawa bahkan genggaman tangan Rega masih terasa hangat di otaknya?
“Aduh!”
“Kenapa, Rel?”
“Rega jelek. Dasar! Kok gue bisa kepikiran dia sih?”
Cika memutar bola mata menatap Aurel yang kini sibuk mengomeli diri sendiri,
“Bilang aja sih kalo lo kangen.”
“Gue kangen…”
“Idih!” Cika bergidik.
“Tadi suruh bilang.”
“Ampun, God! Terserah lo deh.”Cika acuh dan kembali fokus pada bakso dihadapannya. Aurel juga diam dan mulai mengecek smartphone nya.
Satu menit berlalu ketika suara Cika kembali terdengar,
“Rel… Rel, ada Bima, anjir. Dia kesini.”
Aurel mendongak, menatap Cika lalu mengikuti arah pandangan cewek itu.
Benar saja, seorang cowok tersenyum manis dari arah pintu dan tengah berjalan menuju meja mereka seraya melambaikan tangan. Aurel menghela nafas lelah. Cowok itu Bima, Abimana Nugroho. Anak kelas sebelas IPS yang beberapa minggu terakhir sedang berusaha mendekati Aurel secara terang-terangan. Meskipun ia tak pernah menanggapi dengan cukup baik. Bima juga merupakan anak dari salah seorang teman sekaligus kolega papinya yang baru Aurel ketahui setelah cowok itu mengakatannya langsung saat pertama kali mengajak Aurel berkenalan.
“Hai, Aurel. Cika, hai!”
“Hai.” Itu suara Cika. Sedang Aurel, gadis itu hanya melirik sekilas dan tersenyum paksa ketika Bima duduk di sampingnya tanpa permisi.
“Tumben berdua, Dea kemana?”
“Ke toilet.” Lagi-lagi Cika yang menjawab. Entahlah, Aurel tidak tahu, ia begitu malas menanggapi semua pria yang akhir-akhir ini mendekati bahkan menembaknya. Baginya seorang Rega Ravello Alvaro sudah cukup untuk membuatnya merasakan seluruh perasaan yang belum bisa ia jalani kembali, bersama orang yang berbeda.
Aurel tahu Bima adalah cowok yang baik, ramah dan pengertian. Dan ia benci karena hatinya belum juga luluh pada kenyataan itu. Ia benci pada kenyataan bahwa ia masih berharap Rega akan kembali bersamanya seperti dulu.
“Aurel, gimana?” Bima mentap Aurel, menunggu. Ternyata cowok itu tengah menanyakan sesuatu saat Aurel sedang melamun.
“Apa? “ Gadis itu bertanya tak mengerti.
“Gue mau ngajak lo makan pulang sekolah, lo maukan? Please… sekali ini aja.”
“Tapi… sorry, Bim, gue bawa mobil sendiri---”
“ Gak papa kok, lo pake mobil lo sendiri, nanti kita ketemuannya di kafe yang gue tentuin, atau…. lo mau milih tempatnya sendiri?”
Aurel merutuk dalam hati. Harus bahagaimana lagi ia memberi alasan untuk menolak ajakan, ralat, paksaan Bima ini? Semua alasan dari A sampai Z sudah ia gunakan. Lama-lama bisa tekanan batin dia jika begini terus. Argh!
“Duh… Bim, lo tau sendiri kan gue pulangnya sama Cika? Nanti…”.
“Cika biar ikut juga, gak papa kali. Gue ga keberatan kok.”
‘Gue yang keberatan, anjir. Plislahh’. Aurel membatin frustasi. Ia menghela nafas berlebihan lalu menatap Cika yang hanya meringis sendiri.
“Ayolah, Rel. sekali ini aja lo nurutin permintaan gue! Gue janji habis ini gue gak mau maksa-maksa lo lagi. Lagian kan---”
“Oke Bim, oke, gue mau.” Astaga! Ini benar-benar untuk pertama dan terakhir kalinya ia mengabulkan permintaan Bima. Cowok itu kalau sudah bertekad, gunung himalaya pun bisa dia ratakan.
“Beneran, Rel? Lo mau, ini serius?!”
‘Ya lo maksa goblok!’ Aurel ingin berteriak namun ia malah mengangguk pasrah.
“Asal Cika juga ikut.”
“Oke, kita ketemu di kafe sunshine abis sekolah. Thank you, Aurel cantik.”
God!
Bima melompat-lompat keluar dari kantin lalu menghampiri segerombolan cowok seraya berseru,
“Woy! pada tau gakk? Gue berhasil ngajak Aurel jalan! Wuu! Pasti Lo pada iri kan? Kan kan?”
Aurel melongo, tiba-tiba saja ia menyesal dengan keputusannya. Sial!
⏳🎭⏳🎭
Seperti perkataannya, Aurel dan Cika siang ini lunch bersama Bima. Mereka berbincang santai meski Aurel tak banyak bicara. Dia hanya akan angkat suara jika sudah ditanya. Lagi pula Bima terlihat sabar sekali menghadapi sikap cueknya, hingga Aurel yang awalnya ingin segera menyelesaikan acara makan siang ini jadi tidak tega.
“Rel, apa lo… masih belum bisa lupain Rega?” Tanya Bima hati-hati. Saat ini hanya ada mereka berdua. Cika barusan pamit ke toilet, sampai akhirnya Aurel harus terjebak pertanyaan seperti ini.
“Gue gak tau.” Bohong. Nyatanya ia belum bisa melupakan cowok itu sedikitpun.
“Gue bisa bantu lo move on.”
Aurel paham, sangat paham kemana arah pembicaraan ini.
“Bima, sekarang gue bener-bener gak mau jalin hubungan apapun sama cowok.”
“Lo belum coba, Rel. gue janji gue gak bakal nyakitin lo, kayak apa yang mantan lo lakuin.”
“Sorry, Bim. Gue bisa nganggep lo temen, tapi buat lebih dari itu gue gak bisa.”
Bima mendesah kecewa. Ia baru akan kembali berucap ketika seorang wanita hampir memasuki usia paruh baya menghampiri mereka dan memanggil nama Aurel.
“Mama?” Aurel terkejut mengetahui Desi ada di sana. Meski masih saling menghubungi dan sempat ketemu beberapa kali, namun Aurel selalu menolak jika diminta mengunjungi rumah keluarga Alvaro. Alhasil, Desi lah yang sering mengunjunginya karena wanita itu bilang selalu merindukan Aurel.
Walaupun sudah mengetahui semuanya, Desi diminta untuk tidak mengatakan hal itu pada Aurel oleh Rega. Cowok itu bilang ia khawatir Aurel akan merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri atas kejadian empat bulan yang lalu.
“Mama ke sini sama siapa?”
“Mama ketemu temen barusan, udah pulang kok. Kamu…?” Desi menatap seorang pemuda yang kini berdiri di samping Aurel dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh Bima. Membuat cowok itu salah tingkah dan berusaha tersenyum sambil menyalimi tangan wanita tersebut.
“Oh, ini temen Aurel, Ma. Tadi sama Cika juga tapi lagi ke toilet.”
Desi mengangguk saja sambil tersenyum penuh arti dan terus menatap Bima.
“Mama langsung mau pulang?”
“Ah, iya. Reza udah nunggu di depan. Kamu gak mau main ke rumah apa?”
Aurel langsung meringis mendengar pertanyaan itu. Dan Desi sudah paham dengan gelagat gadis di depannya.
“Tenang aja. Rega gak ada di rumah kok.” Ia tahu selama ini Aurel berusaha menghindari sosok anaknya itu. Desi mengerti dan tidak mau banyak bertanya agar gadis yang sudah ia anggap seperti anak sendiri tersebut tidak risih.
Aurel cukup terkejut mendengar kabar satu itu. ‘Rega pergi? Kemana?’ batinnya. Namun segera ia tepis karena tak ingin memikirkan cowok itu lagi.
“Ya udah, Ma. Ayo, Aurel anter keluar.” Aurel menggandeng lengan Desi. Setelah pamit sebentar pada Bima mereka melangkah keluar dari café.
“Ja!” Panggil Aurel pada cowok yang tengah menunggu di salah satu parasol set table di luar café. Reza menoleh, senyumnya terbit melihat Aurel datang bersama sang mama.
“Aurel.”
“Hehe. Apa kabar?”
“Baik. Lo gimana? Udah lama anjir.”
Aurel mengangguk sependapat, “ Gue juga baik. Lo makin kece yaa.”
Reza tertawa digoda demikian. Mereka berbincang beberapa saat sebelum akhirnya Desi mengatakan untuk segera pulang karena suaminya tengah menunggu di rumah. Aurel tersenyum mengantar kepergian mereka. Setelah mobil hitam yang dikendarai Reza tak terlihat lagi ia berbalik dan kembali melangkah masuk.
Ting!
Bunyi notif masuk. Aurel membuka benda pipih di tangannya dan mengernyit ketika chat dari Reza muncul.
Reza:
Besok ada wktu? Gue mau ngomong
Aurel berfikir beberapa saat. Cukup penasaran hal penting apa yang membuat Reza memilih waktu lain padahal tadi mereka bertemu. Apa karena masih ada Desi? Tapi memangnya kenapa? Apa ini rahasia yang begitu penting?
Aurel:
Oke. Abis skolah gpp ya?
Kabarin aj tmpatx
Reza:
Ok
*Salam dari Bima^^
Pendapat kalian tentang Bima?
Pencet bintangnya yaa 💗
It's me!
Sabila 🍜