Udah 20 chapter dong ahaydee..
Maapkeun aing telat🥺🙏
Yang masih ujian semangat ya sayang🥰🥰🥰
Seperti biasa 10 votes to unlock next chapter😆
Tak usahakan sekali atau dua kali seminggu up, tapi kalo responnya banyak aku cepetin up nya muehehe..
Aku ketika ditanyain bocah 05L yang udah nikah dan punya anak : Kapan Nyusul Mbak?
Me : WHAT DOES IT MEAN???????
Prechap :
Apa yang sebenarnya Julius inginkan? Mengapa Tuan Lynch memintaku menjauhinya? Batin Christina.
.
.
.
.
.
Happy Reading😘
Julius itu aneh!— itu yang dipikirkan Christina pertama kali saat ia menginjak lantai marmer perpustakaan dan berhadapan dengan remaja lelaki berwajah beku yang matanya berubah keunguan sekilas.
Entah dirinya salah lihat atau apa, hanya saja hal kecil itu sedikit mengganggu—karena jelas ia menyadari jika Julius bukan manusia biasa.
Untuk bertemu dengan Julius pun merupakan sebuah keberuntungan, karena Darren dan Luke sibuk bertengkar di kantin untuk membeli makan siang— serta memperdebatkan apa kesukaan Christina.
Christina yang ingat memiliki janji bertemu dengan Julius pun segera pergi ke perpustkaan dan menemui remaja lelaki tersebut.
"Kamu datang."
Vokal remaja itu terdengar berat nan serak—seperti menahan sakit, namun wajahnya masih menunjukkan raut datar andalannya.
"Apa yang mau kau katakan?" tanya Christina.
Sorot mata Julius nampak sayu dalam dalam beberapa detik, seolah ia merindukan sosok yang ada di depannya, lalu ia berkata, "Kamu.. Benar-benar mirip seperti Ibumu."
Christina seketika mengernyitkan dahi tak suka, topik keluarga cukup sensitif baginya untuk dibahas.
"Kau mau apa sebenarnya?" tanya Christina lagi.
"Apa kamu mau tinggal bersamaku?"
What the f—? Ku kira aku memang ditakdirkan dikelilingi oleh orang sinting! Batin Christina.
"Aku rasa kau sedang tidak dalam kondisi baik—apa kau mabuk?" Christina memastikan.
"Tidak, aku baik— dan penawaranku masih sama. Maukah kamu tinggal bersamaku?"
Christina merotasi kedua bola matanya jengah, "Jika kau tidak ada hal lain yang perlu dikatakan, aku pergi!"
Gadis itu hampir beranjak pergi, namun dengan cepat Julius menghadang langkahnya keluar.
"Aku serius, tinggallah bersamaku! Kamu akan aman disana!" alis remaja lelaki itu mengerut tajam, nada bicaranya tersirat paksaan— Christina yang mencoba melarikan diri melewati celah pun di halangi.
"Bisakah aku mendapatkan seseorang dengan akal sehat? Kenapa aku selalu dikelilingi makhluk aneh?" gerutu Christina.
"Aku mohon, Christina." suara Julius melemah dalam sekejap, seperkian detik kemudian kedua iris gadis itu membelalak kala mendapati seragam putih Julius tiba-tiba muncul noda merah yang menyebar cepat.
"Ada apa dengan perutmu? Akan ku antar ke unit kesehatan, kita obati disana!" Christina berseru panik, namun gadis itu masih mampu untuk memapah remaja lelaki itu pergi dari perpustakaan.
"Luka ini akan membaik, aku tidak memerlukan pengobatan."
"Kau gila? Kau mau aku di tuduh melakukan pembunuhan terhadap temanku sendiri? Keadaanmu bahkan terlihat sangat sekarat!" bentak Christina kesal, Julius sontak terkekeh.
Alis cokelat Christina berkerut, Apanya yang lucu? Pikirnya.
"Apa kamu benar-benar menganggap ku seorang teman?" tanya Julius.
"Kau masuk ke dalam kelasku, dan kau menggangguku, mau tidak mau aku harus menganggapmu teman."
Tawa Julius seketika mengudara, Christina tertegun sejenak, ini pertama kalinya gadis itu melihat Julius tertawa lepas.
"Dalam hukum Warlock, kami tidak di perkenankan memiliki teman." cerita Julius, Christina mendengarkan seraya mengangkat lengannya pada pundak beberapa kali agar tubuh remaja itu tak jatuh.
"Lantas—mengapa kau menginginkan ku tinggal bersamamu? Kau ingin aku menemani dirimu, begitu? Dan, apa itu Warlock?"
Bibir Julius terulas garis lurus, remaja itu kembali ke dalam mode es batu lagi, "Warlock adalah penyihir yang menggunakan roh dan spirit jahat sebagai kekuatan kami—tapi bukan berarti kami seperti witch yang haus kekuasaan, bisa di bilang kami memiliki dua sisi yang berdampingan antara baik dan jahat." Julius menegakkannya tubuhnya sedikit dan berpegangan pada dinding agar tak memberatkan Christina.
"Ramalan Warlock telah keluar, Chris. Tetua kami telah memastikan terjadinya peperangan di antara kedua ras Vampir dan Werewolf— Darren dan Luke akan menjadi pilar, dan kau akan berada dalam bahaya," jeda, "jika kamu tinggal bersamaku, kamu akan aman berada dalam perlindungan kami."
Christina menggemelatak geraham karena geram, mengapa ia harus dikaitkan dengan masalah yang terjadi di antara para makhluk mitologi ini? Ia hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan!
"Mendengar perkataanmu, aku rasa itu bukan berarti hal yang baik. Apa kau mencoba memanfaatkan diriku, Julius? Dan dari mana kau mendapatkan luka ini?"
Julius akan menjawab pertanyaan Christina, namun sebelum hal itu terjadi sebuah vokal barithon seorang pria paruh baya menghentikan langkah mereka.
"Apa anda baik-baik saja, Mr. Arnault? Sepertinya lukamu terlihat serius."— keduanya menoleh ke belakang, dalam radius satu meter, Goliath tengah berdiri dengan senyum misterius.
Christina melirik ke arah Julius, nampak rahang remaja itu mengeras, kepalan tangannya menguat hingga buku-buku jarinya memutih, sorot mata nya seakan menyiratkan jika dia ingin membunuh sosok pria paruh baya di depannya.
"Ms. Almeida—sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, jika anda berkenan saya akan membantu Mr. Arnault pergi ke unit kesehatan."
"Aku tidak butuh bantuan mu, Sialan!" Goliath tersenyum maklum, ia memberi kode Christina untuk segera pergi dan menyingkirkan lengan Julius dari pundaknya.
Christina segera melakukan perintah Goliath dan pergi dan meluangkan privasi bagi kedua makhluk berbeda usia itu.
Di rasa sosok gadis itu telah menjauh dari radius pendengaran manusia, Goliath kemudian membuka suara,
"Apa kau masih belum puas dengan luka di perutmu, Julius Arnault?"
"Cih, apa kau sudah tidak takut pada Kekuatan Dewi Hecate lagi, Tuan Vladimir?"
"Aku sudah tidak peduli, Julius—tak peduli seberapa kuat Hecate, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti keluargaku lagi!"
🍃🍃🍃
"Christina Baby, kau menghilang darimana saja?" ia baru saja memasuki kelas, Luke sudah menyambutnya dengan pelukan gemas bak anak tadika mesra.
"Singkirkan tangan kotormu, anjing!"
Di rasa akan terjadi peperangan diantara kedua remaja itu, Christina segera menghentikan keduanya dengan menyatukan tangan mereka dalam satu genggaman.
"Apa-apaan!"
"Diamlah, Darren!" gertak Christina, pria itu pun menurut.
"Karena hari ini adalah hari libur ku, aku ingin kita bertiga pergi ke suatu tempat, kalian memiliki saran?"
"Tour Red's Room milikku, tapi hanya kita berdua." celetuk Darren.
"Maaf, aku tidak mau mati muda." tolak Christina cepat.
"Mall? Semua gadis menyukainya, bukan? Jika bosan kita bisa pergi ke Arkade untuk bermain game." kata Luke
"Terlalu mahal."
"Tenang saja, Si Mayat Tua punya uang banyak."
"Aku hanya akan membelanjakan Christina, bukan dirimu, anjing!"
"Baiklah, kita akan pergi ke Mall dan Arkade oke? Hanya untuk malam ini, aku tidak ingin ada pertengkaran di antara kalian— tidak ada kata 'Pemilik' atau dominasi, kita akan pergi bersama sebagai teman, setuju?"
"Tidak!" Darren dan Luke menjawab bersamaan.
"Only for today! Okay? Jika besok kalian saling membunuh tidak apa-apa, asal untuk hari ini aku ingin kalian berdamai."
Christina memberi tatapan se-polos mungkin dengan kedua tangan tergenggam di depan dada, seperti anak kecil yang mengharapkan hadiah natal dari santa klaus.
Karena tak tahan akan tingkah manis Christina, akhirnya kedua remaja lelaki itu pun mengangguk menyetujui permintaannya.
Mendadak, Darren dan Luke mengecup kedua pipi tembam Christina, awalnya gadis itu protes namun pada akhirnya tersenyum malu.
Wajah ketiga remaja itu di hiasi dengan tawa lebar penuh kebahagiaan.
"Kita bertemu di Baneasa Shopping City Jam 5, aku tunggu di tempat parkir," putus Christina final.
🍃🍃🍃
Sementara di tempat lain, seorang wanita dengan posisi menungging serta lidah yang terjepit diantara besi panas, menangis kesakitan seraya menyatukan kedua tangan— memohon pada sosok entitas Dewi Hecate di hadapannya.
"Kau melihat putramu disana Annelise? Dia sangat bahagia." Hecate tersenyum, kemudian ia memukulkan gada besi berpaku pada punggung Annelise hingga terdengar bunyi tulang yang patahkan serta daging yang tergores dalam.
"Akan tetapi, sampai kapan senyuman itu akan bertahan?"
Tubikontinyu sayong😆😆😆
Don't forget to voment and share biar makin banyak yang baca ya rek😆
Salam generasi heuheu😘
Theresa Lee😘
Btw, ini pembagian waktu Daerah Bukares, Rumania ya rek😁