Wings [my]

By Daehan77

39.2K 3.1K 591

biarkan cinta mereka yang berbicara atau luka mereka yang bersuara serta rindu mereka yang tak pernah sirna. ... More

Just One Day
Never Stop
Broken
Basketball
Thank You For Being Born
Just You
If You Love Him
Separuh Aku
Duet
Until the End of My Breath
Why?
orange
i know i love you
our war zone
blues
never change [sequel blues]

yesterday

450 45 36
By Daehan77

PARK DAEHAN Entertainment

PRESENT

YESTERDAY

with

Park Jimin

Min Yoongi

A Fanfiction by Daehan77

sekian lama ia menekuni bidang pekerjaannya, baru kali ini Jimin merasa dunianya berputar saat ia mengemudikan ambulance yang membawa korban kecelakaan yaitu; kekasihnya sendiri

kemarin engkau masih ada di sini
bersamaku menikmati rasa ini
berharap semua takkan pernah berakhir
bersamamu
bersamamu..

kemarin - seventeen

warn! b×b! dldr!
angst, major character death

Menjadi seorang driver ambulance tidak semudah kelihatannya. Ada hati yang harus di kuatkan dan ada nyawa yang harus selamatkan. Kekuatan fisik dan mental juga di pertaruhkan. Dan pekerjaan itu adalah salah satu tantangan yang Jimin pilih dalam hidupnya tiga tahun yang lalu.

Sebab terbesar yang membuatnya menekuni pekerjaan ini karena ayahnya. Dulu saat beliau masih sakit sakitan, kondisinya kritis tapi Jimin bingung bagaimana membawa sang Ayah ke Rumah Sakit. Sampai pamannya memanggil ambulance dan para petugas itu dengan sigap membawa Ayahnya dan di tangani dengan cepat setelah sampai di Rumah Sakit.

Tepat waktu. Dokter bilang, terlambat sedikit saja Ayahnya tidak akan selamat. Jimin jadi tau kenapa sang driver ambulance mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi tetap penuh dengan kehati hatian. Di dalam pikirannya hanya bagaimana sang pasien sampai di Rumah Sakit dengan cepat tapi selamat.

Hal kecil itu yang membuat tekadnya bulat untuk menjadi driver ambulance. Meski resikonya sangat besar, Jimin meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa melakukannya. Yeah, buktinya ia sudah bertahan selama tiga tahun ini.

Selain dukungan dari kedua orang tuanya, ia juga mendapatkan dukungan penuh dari sang kekasih. Min Yoongi namanya. Ayah Yoongi adalah seorang dokter yang bekerja di Rumah Sakit yang sama dengan Jimin. Orang tua kekasihnya itu juga mendukungnya.


Tak terhitung jumlahnya berapa kali Jimin harus menghadapi pasien dengan situasi darurat yang berbeda. Serangan jantung, gejala stroke, korban kebakaran, korban tabrak lari, korban kecelakaan, korban penganiayaan, hampir seluruhnya pernah Jimin jumpai.

Hidupnya keras. Terlatih untuk selalu kuat menghadapi kematian di depan matanya sendiri. Selalu tau bahwa itu bukan salahnya karena terlambat membawa mereka ke Rumah Sakit, tapi karena Tuhan memang lebih sayang pada mereka.

Hati dan telinganya sudah kebal menghadapi caci maki dari keluarga pasien jika hal itu terjadi. Jimin di ajari untuk memaklumi hal tersebut. Siapa juga yang akan bisa dengan mudah berlapang dada jika di tinggal mati oleh orang yang di cintai?

Tapi, untuk hari itu rasanya Jimin tau apa yang mereka rasakan.

Hari itu hari senin, terlalu cerah untuk di katakan hari yang paling sibuk dan menyebalkan dalam satu minggu. Jimin suka melihat langit cerah, ia berangkat untuk bekerja dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

Tanggal delapan belas oktober. Sudah lima hari berlalu sejak hari ulang tahunnya. Di akhir minggu, ia menghabiskan waktu bersama Yoongi karena keduanya sama sama sibuk saat hari ulang tahun Jimin yang jatuh pada hari rabu.

Yoongi hanya sempat membuat kue di pagi hari dan memberikan ciuman singkat sebelum keduanya berangkat kerja. Dengan sebuah janji bahwa mereka akan meluangkan waktu untuk berdua di penghujung pekan.

Jelas saja Jimin masih tampak bahagia meskipun ini hari senin dan sudah lewat lima hari dari hari ulang tahunnya yang sebenarnya.

Di waktu akhir menjelang shift nya habis, sore itu Dokter Min yang merupakan Ayah Yoongi menelfonnya. Meskipun itu agak aneh, Jimin mengabaikan pikiran buruknya dan segera mengangkat telfon itu.

"Halo?"

"Jimin, datang ke jalan dekat butik Bunda sekarang, secepat yang kau bisa."

Lalu, panggilan di tutup. Sepuluh detik, sampai akhirnya Jimin bergerak dari posisi terpakunya dan langsung menaiki mobil dan membunyikan sirine. Mengabaikan temannya yang baru saja datang untuk berganti shift.

Jimin tak membiarkan pikiran buruk menguasai otaknya. Sekuat mungkin ia berusaha untuk fokus menyetir dengan tenang meskipun mobil yang ia kendarai berada dalam kecepatan tinggi. Jimin sudah terlatih untuk berhati hati.

Sepanjang perjalanan dari Rumah Sakit menuju butik Bunda Min, semuanya aman terkendali. Di ujung jalan, Jimin bisa melihat kerumunan orang yang ia duga sebagai tempat kejadian perkara karena adanya polisi yang menertibkan lalu lintas.

Mobilnya ia pacu ke tempat itu. Matanya sempat tak fokus melihat sebuah mobil yang ia kenali terlihat ringsek di tengah jalan. Hampir hancur, tepat di bagian depan kursi pengemudi. Begitu memastikan dengan melihat nomor platnya, Jimin makin kacau.

Sebelum keluar dari mobil, Jimin memarkirkannya dengan benar lalu mendekati kerumunan. Ia mencoba untuk menguatkan hatinya tapi tidak bisa. Terlebih ketika ia melihat Bunda Min yang duduk bersimpuh sambil memeluk seseorang dengan pakaian yang Jimin kenal karena tadi pagi ia sempat mencium orang itu.

Min Yoonginya.

Ketika Dokter Min menepuk bahunya dan memintanya untuk membantu mengangkat tubuh Yoongi, Jimin baru bisa merasakan dirinya masih berpijak di tanah. Sial, korban kecelakaan itu benar Yoonginya.

Dokter Min sempat memeriksa beberapa bagian tubuh Yoongi yang hampir tertutup darah sebelum mengangguk pada Jimin. Dengan sisa sisa kekuatannya, ia berlutut di hadapan Dokter Min dan dengan mudah mengangkat tubuh Yoongi. Tentu saja mudah, karena bahkan Jimin biasa mengangkat tubuh itu seorang diri.

Setelah meletakkan Yoongi ke dalam mobil dengan hati hati, Jimin mendekati Bunda Min yang masih meraung duduk di atas aspal. Ia kembali berlutut dan mengelus punggung wanita cantik itu.

"Bunda, ayo masuk mobil?"

Sang Bunda menurut, mengangguk. Dan Jimin menuntunnya pelan untuk memasuki mobil dan duduk di samping Yoongi. Wanita itu kembali terisak dan menggenggam jemari kurus Yoongi. Berbisik pelan bahwa anaknya pasti kuat.

Pemandangan yang sungguh menyayat hati Jimin.

Ketika ia duduk di kursi kemudi, ternyata Dokter Min ikut masuk dan duduk di kursi di sebelahnya. Ayah Yoongi itu sempat menoleh ke belakang, tak ada ekspresi di wajahnya tapi Jimin tau pria itu pasti terpukul. Mobil mulai ia jalankan menuju Rumah Sakit.

Rasanya seperti terbang karena Jimin benar benar menyetir dengan kecepatan tinggi. Fokusnya adalah menyelamatkan Yoongi, tekad itu yang membuatnya sampai di Rumah Sakit dengan selamat meskipun ia menyetir bagai pembalap.

Selepas Yoongi di turunkan dan di bawa secepat mungkin menuju Intalasi Gawat Darurat bersama dengan sang Bunda yang mengikutinya, Jimin benar benar hanya bisa memandanginya. Seolah tak percaya bahwa itu Yoongi. Seolah ia hanya bertugas untuk mengantarkan pasien seperti biasa lalu selesai.

Tapi ia menyadari itu bukan mimpi ketika Dokter Min berdiri di depannya. Menatap tepat ke matanya tanpa mengatakan apapun. Tangan sang Dokter terangkat untuk memberi remasan pada bahu kiri Jimin, seperti menguatkan. Sebelum kemudian ia menyusul masuk ke IGD.

Rasanya, Jimin kembali merasakan bahwa senin adalah hari yang paling tidak di sukai, hari yang paling ia benci. Karena tepat di hari senin tanggal delapan belas oktober, Jimin menemukan kekasihnya penuh darah dengan denyut nadi melemah.

Kemarin..

Kemarin ia masih bahagia bersama Yoongi. Kemarin ia masih menikmati perasaan ini bersama Yoongi. Kemarin ia masih merasakan dunia yang indah bersama Yoongi.

Kemarin, Yoongi masih membalas genggaman tangannya..

Tubuhnya terpaku menatap ruang IGD. Beberapa kali ada orang yang menubruk badannya tapi ia abai, seolah rasa sakit tak bisa ia rasakan. Pandangannya kosong, masih tidak mempercayai kenyataan yang ada di hadapan matanya.

Tiga tahun lalu, Jimin sangat bersemangat ketika ia berhasil meraih pekerjaan yang di inginkannya. Dan hanya butuh waktu satu hari untuk memukul rata rasa semangatnya. Jika ia akan mengemudikan ambulance dengan penumpang kecelakaan dengan luka parah yang adalah kekasihnya sendiri, Jimin rasanya tidak menginginkan pekerjaan ini.

Yoongi itu kuat, Jimin terlampau tau. Kekasihnya itu bekerja sebagai penulis lagu di salah satu agensi ternama. Membuatnya sering bertahan hingga larut malam untuk menyelesaikan lagunya. Ia kuat, jelas sangat kuat.

Jimin tau manusia memiliki batasnya sendiri. Sejak dulu, sang ibu sudah memberinya petuah untuk mengikhlaskan ayahnya jika suatu saat nanti Tuhan mengambil beliau secara tiba tiba karena penyakit yang di deritanya. Jimin sudah merelakan kepergian ayahnya kapanpun waktunya, bahkan ketika Tuhan memanggilnya satu tahun lalu.

Tapi, ia tak pernah di ajari untuk merelakan sang kekasih. Jimin tak pernah di ajari untuk mengikhlaskan Yoongi jika kekasihnya itu pergi lebih dulu.

Semuanya terlalu tiba tiba untuk Jimin.

Ketika pintu ruang IGD di buka dan dokter yang menangani Yoongi bicara pada Dokter Min. Ketika Bunda Min berteriak histeris lalu menangis keras dan berakhir pingsan di pelukan sang suami. Ketika sang dokter beralih padanya dan menepuk bahunya sambil meremasnya.

Jimin terlampau tau keadaan ini, tapi hatinya tak bisa menerima. Air matanya sudah tidak dapat ia tahan lagi. Tangannya menyingkirkan pelan tangan sang dokter yang masih bertengger di bahunya, membawa kakinya untuk mengikuti brankar yang di dorong oleh dua orang perawat menuju ruang jenazah.

Dua perawat itu membungkuk kecil pada Jimin sebelum meninggalkan si driver ambulance. Jimin masih berdiri diam beberapa meter dari brankar yang baru saja di masukkan itu. Berharap bahwa seseorang yang berada di balik selimut itu akan bangun dan mengumpat padanya soal betapa tidak sukanya ia dengan bau Rumah Sakit.

Tapi, tidak..

Sampai hampir lima menit Jimin diam di tempatnya, tapi seseorang di brankar itu tetap diam. Waktu seolah mengejek Jimin. Pria itu perlahan melangkah mendekat. Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, menguatkan diri untuk melihat kenyataan di depan matanya.

Tangannya naik untuk menyingkap selimut berwarna putih itu sampai sebatas dada. Seseorang di sana benar Yoonginya. Bedanya hanya, kali ini tidak ada hembuskan nafas di sana. Tidak ada detak jantung yang suka Jimin dengarkan diam diam saat pemiliknya tidur. Tidak ada lagi netra gelap yang memandangnya penuh cinta. Tidak ada lagi senyum gusi yang selalu membuatnya bahagia.

Wajah pucat itu lebih pucat dari biasanya, tak ada ekspresi apapun yang terbentuk di sana. Kaku. Datar. Dingin. Tangan Jimin yang tidak membelai rambut merah muda Yoongi terkepal erat. Air matanya sudah kembali menetes meski tadi sempat terhenti. Isaknya mulai terdengar menggema di ruangan yang sepi ini.

Luka luka di tubuh kekasihnya benar benar menghantam Jimin. Mereka bilang, truk yang menabrak mobil Yoongi kehilangan keseimbangan karena remnya tidak berfungsi. Alhasil, sang sopir membanting stir dan mengakibatkan bagian depan truk menabrak bagian depan mobil yang berlawanan arah dengannya.

Mobil hitam milik Yoongi.

Tangan Jimin turun untuk meraih tangan pucat Yoongi. Menggenggamnya erat meskipun Jimin tau genggamannya tidak akan di balas. Tangisannya semakin deras. Ia masih tak percaya bahwa ia sedang berada di depan tubuh Yoongi yang sudah tidak bernyawa.

Memori kebersamaan terakhir mereka tiba tiba saja melintas di pikiran Jimin.

"Jimin, seandainya bisa, aku ingin berharap pada Tuhan bahwa semua ini tidak akan pernah berakhir."

Posisi Jimin tidur terlentang di atas ranjang dengan Yoongi yang tidur di atas tubuhnya. Dagunya Yoongi letakkan di dada Jimin untuk menatap dominannya. Pria dengan rambut hitam itu terkekeh, lalu mengangkat tangannya yang tadi memeluk pinggang Yoongi untuk mengusap kepalanya.

"Hei, bukannya ini ulang tahunku?"

Yoongi mendesus, kesal. Tangan Jimin yang ada di atas kepalanya ia tepis pelan, iseng menarik hidung Jimin sampai empunya mengaduh kesakitan.

"Rasakan!"

"Astaga, Yoongi. Kau anarkis sekali."

Hidungnya memerah bekas tarikan kuat jemari kurus Yoongi, Jimin usap sambil menunjukkan raut dongkol yang di balas Yoongi dengan raut serupa dan juluran lidah. Sebelum sang pelaku terkekeh lalu mencium hidung Jimin tepat di bekas tarikannya.

"Tidak suka? Bukannya kau masokis?"

"Yoongi, jangan memancingku."

Kali ini Yoongi tertawa. Telapak tangannya memukul dada Jimin sebelum kembali membaringkan kepalanya di sana dengan pipi yang menempel pada dada telanjang Jimin. Jimin beralih memeluk pinggangnya dengan lengan dan tangan kanannya kembali mengusap pelan rambut Yoongi.

"Tapi, serius, Jimin. Rasanya aku tidak mau ini berakhir. Apa Tuhan tidak bisa terus menghidupkan manusia?"

"Maksudmu bagaimana?"

"Aku ingin hidup selamanya bersamamu, bodoh! Kau ini menyebalkan sekali."

Jimin tertawa lagi. Kali ini ia sedikit mengangkat kepalanya untuk menciumi puncak kepala Yoongi dengan gemas. Bagaimana ia tidak gemas jika kekasihnya ini justru yang meminta harapan pada Tuhan sedangkan yang ulang tahun adalah dirinya?

"Iya, baby. Aku mengerti maksudmu. Siapa juga yang tidak mau hidup bersamamu tanpa akhir?"

Kini Yoongi mengangkat wajahnya dan menampilkan senyuman gusi sebelum tertawa kemudian menangkup wajah Jimin untuk memberikan banyak kecupan di sana. Berakhir dengan ciuman panjang di bibir.

"Love you, Jimin."

"Love you so fucking much, Yoongi."

Rasanya Jimin ingin mengulang waktu itu dan membiarkan doanya di ganti dengan harapan Yoongi. Rasanya Jimin ingin meminta pada Tuhan untuk mengembalikan Yoonginya. Rasanya Jimin ingin menggantikan posisi Yoongi berada dalam mobil itu.

"Yoongi.."

Agak terkejut dengan suaranya yang tercekat. Jimin menghapus kasar air matanya dan mendeham untuk menetralkan suaranya. Setelah di rasa cukup, ia kembali berbicara.

"Kau pernah bilang jika salah satu dari kita mati lebih dulu, kau akan memaki pada Tuhan lebih dulu baru kau akan mencoba untuk ikhlas."

Jimin tersenyum kecil mengingatnya. Rasanya ia ingin melakukan apa yang di inginkan Yoongi kala itu tapi ia tidak bisa. Yang justru ia caci maki adalah dirinya sendiri meskipun ia melakukannya dalam batin. Tentunya Jimin tak bisa menyalahkan Tuhan, ia di ajari begitu sejak kecil.

"Kau juga bilang, kalau kau lebih dulu menghadap Tuhan daripada aku, kau akan menunggu di sana. Di tempat yang indah."

Kepalanya tertunduk, memejamkan matanya kuat kuat untuk menahan tangisnya mati matian. Hanya untuk kembali bertemu wajah Yoongi dengan senyum lebarnya yang berada di benar Jimin. Pengaruh Yoongi sungguh besar untuknya.

"Dan kau bilang, aku tidak boleh menangis. Maaf, Yoongi. Aku tidak bisa untuk tidak menangis, kau terlalu berharga untukku."

Jimin tau. Semakin ia terlarut, semakin sulit pula ia bisa merelakan Yoongi. Nafasnya kembali ia tarik panjang dan di hembuskan dengan perlahan. Lalu badannya menunduk, untuk memberikan kecupan terakhir di dahi Yoongi. Kemudian bibirnya yang pucat. Dingin.

"Aku akan selalu mengingatmu dan mendoakanmu, sayang. Semoga kau tenang di sana. Aku mencintaimu,"

Selamanya..

Tubuh tegapnya berdiri diam dengan mata yang fokus pada satu titik. Pusara dengan tulisan nama 민윤기 ada di depannya. Tatapannya kosong, tidak ada kehidupan di sana. Hari sudah beranjak sore ketika Jimin menutuskan untuk mengunjungi sang kekasih.

Tiga tahun sudah berlalu sejak kecelakaan hebat itu. Kecelakaan hebat yang menewaskan Yoonginya. Selama itu pula Jimin meninggalkan pekerjaan yang menguatkan dirinya, driver ambulance. Karena ternyata, ia memang tidak sekuat itu.

Empat tahun lalu, Jimin juga mengemudikan ambulance yang membawa sang Ayah, yang kemudian harus meninggal di ruang operasi. Saat itu Jimin masih bisa bangkit. Tapi, ketika pukulan kedua menimpanya tepat setahun setelahnya, Jimin menyerah.

Tepat setelah Yoongi di nyatakan meninggal oleh dokter dan Jimin puas menangisinya di ruang jenazah, Jimin memutuskan bahwa ia akan keluar dari pekerjaannya. Semula Dokter Min menentangnya, membentak marah bahwa Jimin tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab.

Tapi, Jimin diam saja. Tatapannya lurus menatap mata Dokter Min yang menyorot murka dengan wajah sekeras baja. Tidak ada cengiran atau senyuman khasnya seperti biasa. Seolah semua itu ikut di bawa Yoongi pergi, meninggalkan Jimin tanpa cintanya.

Dokter Min menyadari bahwa Jimin sama terpukulnya dengannya, dengan sang istri. Dokter Min tau bahwa ambulance dengan korban kecelakaan di dalamnya hanya akan membuat Jimin mengingat tragedi yang tak ingin di ingatnya itu, membuat fokus Jimin terpecah.

Jimin mengundurkan diri untuk kebaikan semua orang.

Menjalani tahun tahun panjang tanpa Yoongi teramat menyiksa Jimin. Segala usaha telah di lakukannya. Menyimpan barang barang dari dan milik Yoongi di tempat yang tak pernah di sentuh olehnya, mengosongkan apartemen yang mereka tinggali berdua, menghindari jalan yang mengingatkannya pada Yoongi sampai mencoba untuk menjalin hubungan dengan orang baru.

Tapi tidak bisa..

Sekeras apapun Jimin mencoba, tak pernah sekalipun Yoongi terlupa dari hatinya, pikirannya. Tiga tahun yang berat hanya ia jalani dengan mengunjungi makam Yoongi. Menggali ingatan indah antara kisah cinta mereka berdua.

Hanya ada Yoongi di hidupnya tanpa ada siapapun yang bisa menggeser ataupun menggantikan posisinya. Yoongi berada dalam tahta tertinggi dalam hatinya, setara dengan sang ibu. Tidak mudah untuk Jimin melupakannya bahkan hingga waktu semakin berlalu.

"Yoongi, aku datang.."

Park Jimin dengan senyum cerianya sudah lenyap tiga tahun lalu, tepat di tanggal delapan belas oktober. Hanya ada tiga momen dimana Jimin menampilkan senyuman tipisnya. Pada Ibunya, pada Bunda Min dan pada makam Yoongi.

Pribadi Jimin menjadi berbanding terbalik dengan yang seharusnya. Kepergian Yoongi benar benar mengubahnya. Tidak ada lagi tawa khasnya, tidak ada lagi cengiran tengilnya. Hanya ada Jimin dan hidup datarnya.

Selepas memberikan bunga, Jimin mulai beranjak keluar dari area pemakaman. Ia sempat bertemu Bunda Min di tempat parkir. Senyum tipisnya terbit dan meraih Bunda Min yang membuka lengannya untuk di peluk. Sebelum akhirnya ia beranjak ke mobilnya sendiri.

Satu satunya benda peninggalan Yoongi yang masih ia gunakan, mobil hitamnya. Setelah perbaikannya selesai, Jimin memutuskan untuk menggunakan kendaraan roda empat kesayangan Yoongi itu. Pernah terlintas di benaknya, ia ingin menyusul Yoongi dengan cara yang sama. Salah satu alasan paling kuat yang membuat Jimin menggunakan mobil itu terus menerus selama tiga tahun ini.

Jimin mendudukkan diri di kursi kemudi, menghela nafas berat. Kebiasaan baru yang sering di lakukannya setelah keluar dari pekerjaannya. Seolah pelatihan mental menjadi driver ambulance itu tak lagi berguna untuknya.

Ketika hendak memakai safebelt, matanya menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Atau sebenarnya hal itu sudah ada di sana sejak lama tapi Jimin bahkan tidak menyadarinya sama sekali. Ia jarang mengeksplor mobil ini, itu hanya akan membuatnya semakin tak bisa merelakan Yoongi.

Ada kertas berwarna biru yang terselip di antara lantai dan karpet lantai mobil. Jimin hanya melihat ujungnya karena itu ia bisa menduga kenapa kertas itu bisa lolos dari pandangan matanya. Tubuhnya ia tundukkan untuk mengambil kertas itu.

Di sana terdapat tulisan tangan Yoongi, Jimin terlalu hafal. Jimin mengira itu lirik lagu sampai matanya menemukan tulisan "untuk cintaku, park jimin." Beberapa detik Jimin habiskan dalam diam dengan memandang tulisan itu, sampai matanya beralih untuk membaca keseluruhan isinya.

Jimin,

Ini aku, Min Yoongi. Kekasihmu kkk

Rasanya aneh menulis di sini karena aku tipe frontal yang memilih untuk bicara langsung padamu. Tapi tidak, untuk kali ini aku harus menulis

Saat ini aku berada di dalam mobil yang ada di basement apartemen kita. Aku mau berangkat kerja tentu saja kkk

Ini tanggal delapan belas oktober, lima hari setelah hari ulang tahunmu. Aku belum sempat mendoakanmu malah hadiahku yang terus kuberikan padamu. Yang tadi malam termasuk, ya!

Jimin, aku berharap kau selalu bahagia. Lupakan semua omong kosongku tadi malam, aku hanya menyampaikan isi hatiku saja. Aku tau tidak ada yang abadi di dunia ini

Kau tau, aku tidak pandai berkata lewat tulisan seperti ini. Akan lebih mudah bagiku untuk menyampaikannya melalui lirik lagu. Tapi, sudah terlalu banyak lirik lagu yang ku buat untukmu kkk

Inti dari keseluruhan isi surat ini adalah aku mencintaimu, sampai kapanpun. Walaupun kita nantinya berada di dunia yang berbeda, aku akan menunggu di sana atau kau yang harus menungguku di sana!

Terimakasih, Jimin. Karena sudah bersedia menjadi tempat bersandarku dan menerima semua kekuranganku. Aku sangat sangat menyayangimu kkk

Kurasa ini sudah cukup panjang. Jadi, selamat ulang tahun, Jimin! Semoga Tuhan memberkatimu dan memberimu umur yang panjang! Semesta mencintaimu dan aku lebih mencintaimu!!

Selamanya...

with Love
Min Yoongi

Jimin menggenggam kertas itu kuat kuat, menahan air mata yang memaksa keluar. Surat ini di tulis tepat sebelum kecelakaan itu terjadi..

"Yoongi, aku juga mencintaimu dan menyayangimu dengan segenap jiwaku,"

Selamanya..

hai, saya kembali membawa ff angst <3

gw ngetik ini dengan segenap jiwa dan raga, dengan mood bagus (mood lagi pengen nulis yg sedih sedih), dengan ide yang mendadak muncul waktu gw ada di mobil yg bokap gw parkirin di pinggir jalan (beliau beli sesuatu di toko) dan tiba tiba ada mobil ambulan lewat. tercetuslah ide ini (':

bagaimana? apakah feel nya dapet? hehe

segitu aja notenya. terimakasih untuk yg sudah membaca, vote dan komen💜

d.e

Continue Reading

You'll Also Like

108K 8K 28
kisah kisah pdkt yoonmin. jimin gadis yang selalu bisa menyembunyikan perasaannya dan yoongi yang irit bicara namun dengan satu kalimat bisa meluluhl...
14.8K 507 23
(SUDAH TAMAT) 18++ Perkenalan singkat, kisah cinta yang rumit membuat y/n ingin menyerah dengan perasaannya yang begitu dalam untuk yoon gi
13.1K 1.1K 30
Terkadang yang tampak nyata sebenarnya hanya ilusi- [Author] ⚠PERINGATAN! ⚠ cerita ini mengandung bahasa kotor,tidak baku,adegan dewasa dan tindak ke...
102K 3.3K 34
Gimana sih rasanya kalo lo tuh udah jatuh cinta sama kembaran lo dari lama tapi gk pernah punya kesempatan buat nyatainnya? homophobia?pergi jauh' ja...
Wattpad App - Unlock exclusive features