[Baca sambil denger lagu Idgitaf-takut biar nangisnya makin kejer]
Terbangun menatap wajah kakak dan adik nya yang masih tertidur lelap, 23.17, ditengah malam Ari terbangun dan beranjak dari kasur.
Tepat tanggal 17 Januari 2022. Tahun inilah dimana ia bertambah usia. Ari berjalan menelusuri koridor rumah yang terasa panjang, sunyi, dan gelap yang mengerikan namun tenang.
Membuka pintu balkon rumah disambut angin dingin malam melihat jalanan sekitar yang nampak sepi, tempat dan situasi yang terbaik untuk Ari merenung dikala semua orang terlelap.
"Selamat ulang tahun, Ariendza Firdant"
Air mata mengalir begitu saja tanpa adanya pemicu membasahi pipi. Semesta sungguh kejam dan tak adil terasa, tak berpihak pada dirinya.
Ari menarik nafas panjang mencoba untuk menghentikan isakan kecil nya dikala kesunyian malam itu, tapi malah membuat isakan yang makin terdengar.
Dahulu Ari kecil yang berharap agar dirinya cepat bertumbuh dewasa dan menjadi pelukis. Namun kini seiring bertambahnya usia, ia makin merasa takut membayangkan dirinya berada di dunia orang dewasa itu.
Kekangan, ekspektasi, tuntutan sebagai anak tengah membuat nya tertekan dan terikat.
"Ari ! Kamu harus ikutin kakak mu ! Lihat dia berprestasi, kok kamu gabisa kayak kakak mu sih ?! Ngegambar mulu kerjanya !"
"Harus jadi teladan, harus bisa jadi contoh yang baik buat adekmu itu"
"jangan bikin masalah, jangan bikin papa kecewa lagi, Ari"
"APA APAAN INI ARI ?! KOK NILAI MU CUMA SEGINI ?! MAU JADI APA KAMU NANTI HAH !!"
'dewasa' kini menjadi hal yang mengerikan di telinga dan pikiran Ari, bahkan kini ia berharap agar semua orang tak perlu tumbuh dewasa, cukup jadi anak kecil yang bebas bermimpi dan berkarya sesuai kemampuan juga keinginannya.
Menatap langit malam yang dipenuhi bintang membuat dada pemuda itu merasa sesak namun tenang disaat bersamaan, merasakan air mata yang mengalir di pipi.
'tak apa, Ari itu kuat, demi ekspektasi mereka Ari harus berjuang lebih keras lagi, ya?' ucap Ari dalam batin berusaha menguatkan diri sendiri.
Ari memukul dada nya berkali kali, harap harap sesak yang menusuk di dada berhenti, tapi rasa sakit dan nyeri hanya semakin bergejolak yang membuat Ari kini meringkuk memeluk lutut nya.
"Psst psst ! !" merasa sentuhan di pundak nya, Ari terkejut saat menengok ke belakang terlihat adek nya tersenyum manis "Kak Ari jangan nangis !" usapan pelan jari jemari kecil sang adek di pipi membuat Ari merasa lebih tenang dan perlahan tersenyum agar sang adek tidak merasakan sedih yang dialaminya "Ayo senyum kak ! hehe"
Adek alias Aron, menarik sang kakak menjauh dari balkon, mendekat ke ruang keluarga, Ari hanya terdiam dan mengikuti langkah Aron dengan mata yang terlihat bengkak.
Sampai ruang keluarga, gadis cantik yaitu Rirah sang kakak, berlari ke arah Ari memeluk erat seakan ingin merebut kesedihan yang dirasakan Adek kedua nya itu.
Ari terkejut melihat seluruh keluarga kecil nya berkumpul di tengah malam seperti ini.
"Papa minta maaf ya nak"
"Sini jagoan nya mama.."
Rirah melepaskan pelukannya dari Ari, Terasa gemetar di kaki, pemuda itu berjalan pelan menuju pelukan sang mama.
Seperti anak kecil yang belajar berjalan menuju ke pelukan mama dengan tangan yang merentang siap untuk menangkap anaknya.
Tangisan yang sedari tadi ditahan Ari terlepas begitu saja ketika memeluk wanita yang kini memeluk dirinya, pelukan hangat yang berhasil melepas semua emosi dan tekanan yang selalu ditahan oleh Ari sendirian.
"Mama minta maaf ya sayang, mama menuntut kamu segala macam, memarahi kamu. Tapi mama hanya tak ingin kamu menjadi anak yang gagal dewasa, mama takut, mama takut karena mama tidak bisa setiap saat berada di samping kamu, sayang..."
"Papa juga.. sepertinya cara papa dan mama ngasi kmu tekanan berat seperti ini salah, maaf ya jagoan nya papa"
Ucap papa yang mendekat dan mengelus rambut Ari dengan lembut yang kini masih terisak di pelukan mama.
"Kak" Aron menarik ujung baju kakak nya, Ari. Dengan air mata yang membasahi pipi, berusaha tersenyum "Aron sayang kak Ari !"
"Cupcup adek sayangnya kakak, maaf ya kakak ga merhatiin kamu juga, nih tiup lilin nya dek" Ucap Rirah mendekatkan kue ulang tahun kepada Ari.
00.00
"Selamat ulang tahun ke 16, jagoan"
Rasa sesak hilang begitu saja dari dada Ari, menutup mata perlahan menikmati pelukan hangat sang Mama, menerima cinta yang ia nantikan dari keluarga nya.
Dalam gelap nya, pemuda itu melihat sebuah cahaya.
'cahaya apa itu?'
'apa aku boleh kesana?'
pertanyaan pertanyaan muncul dari benak Ari, mendekat ke arah cahaya kecil yang redup.
Menengok ke belakang, melihat orang tua dan dua saudara nya tersenyum cerah melambai ke arah nya.
"Mama.. Papa..." Ari mencoba mendekati kembali keluarga nya, "Kak.. Aron.." namun semakin ia mendekat ke arah mereka, terasa semakin jauh.
Bukan hanya terasa jauh, saat mendekat ke keluarga nya ia merasa sesak tak tertahankan di dada yang kembali.
Rasa bingung dan berbagai pertanyaan muncul di kepala pemuda itu, kembali menoleh ke arah cahaya yang semakin meredup.
'Apa.. itu jalan yang benar ? apa aku harus kesana ?"
Mendekat ke arah cahaya itu, Ari merasa sesak di dada menghilang, tenang, namun dingin.
Kini ia tak menoleh sama sekali ke arah keluarga nya, semakin mendekat dan akhirnya menyentuh cahaya yang sedari tadi dilihat nya.
"Kami sayang kamu, Ari..."
Kalimat yang terakhir kali Ari dengar sebelum cahaya putih itu memenuhi ruangan di sekitar nya.
23.17, tengah malam.
"Kak Ari keliatan ganteng ya kak pas bobok !"
"Iya dek, Ari keliatan bahagia.."
"...uhh, ngga..."
Aron memberontak, melepas tangan Rirah dari pundak, berlari mendekat ke ranjang dimana Ari tertidur pulas, tertidur selamanya.
"HUAAAA !!! KAK ARI !! BANGUN KAK !! ARON BAKAL KASIH KAKAK COKLAT, KASIH KAKAK ROBOT, NURUTIN PERINTAH KAKAK, ARON MAU LIAT KAK ARI SENYUM LAGII"
Teriakan dan tangisan histeris Aron, memeluk kakak nya yang terbaring dengan selimut yang menutupi sebagian badan nya.
Rirah mendekat ke arah Aron, memeluk adek bungsu nya yang makin histeris.
"Cupcup adek sayang nya kakak, udah ya.. Kak Ari mau istirahat dek..."
"NGGA ! A-Aron hiks.. mau.. kak Ari bangun.. hiks huee"
Tak lama Rirah meneteskan air mata, menangis tanpa suara agar Aron tak semakin histeris.
Mama meringkuk di pojok kamar, menjambak rambut sendiri dan menangis tanpa suara, sakit.. sakit melihat anak nya yang tak akan pernah melihat dirinya lagi.
Papa duduk di samping ranjang Ari, menatap wajah anak jagoan nya, menunduk dan berulang kali mengucapkan maaf. Air mata papa membuat selimut yang digunakan Ari jadi basah.
Rirah membawa adeknya keluar dari kamar, menurut Rirah pemandangan ini tak seharus nya dilihat oleh Aron, padahl Rirah sendiri tak ingin meninggalkan Ari.
Mama berjalan mendekat ranjang, duduk di samping papa lalu menggenggam tangan anak nya.
Terlihat sayatan di pergelangan tangan Ari, membuat mama semakin merasa pilu. Kini ia tersadar mengapa Ari anak nya selalu mengenakan pakaian tertutup dan selalu mengenakan gelang.
"Mama sayang kamu, nak.. maafin mama ya.. tunggu mama, papa, kakak, dedek datang kesana.. dilain waktu ayo kita rayain ulang tahun mu ya nak.."
Aron berlari, menuju kamar dengan Rirah yang mengejar nya.
Mama dan papa masih menatap Ari dengan air mata yang tak kunjung berhenti.
Aron memeluk badan kakak nya, menangis, ia paham bahwa dirinya tak akan bisa lagi bermain, tertawa, menangis, dan memeluk kakak nya, Ari.
Rirah menepuk pelan pundak orang tua nya, berbisik pelan.
"Ma.. Pa.. sekarang- hiks.. u-ulang tahun adek loh yang.. ke 16.."
Rirah menjauh dari kedua orang tuanya, mendudukan Aron di pangkuannya.
Mereka berempat menatap wajah Ari yang hanya nampak tertidur pulas, wajah nya bersinar dikala malam yang gelap itu.
00.00
"Selamat ulang tahun ke 16, jagoan"
"Kami sayang kamu.. Ari"
Malam gelap, dipenuhi pilu.
Langit pun menangis melihat kepergian pemuda kuat.
Semesta seakan merasakan pilu, merenggut nyawa seorang anak yang hanya ingin merasakan hangat nya masa kecil terulang kembali.
Tapi bagaimana bisa? Semesta tak akan menunggu kita untuk kuat, semesta tak akan menunggu kita selesai mengusap air mata.
Waktu terus berlalu, seseorang datang dan pergi meninggalkan kenangan indah juga kenangan memilukan.
Kesunyian malam, angin dingin, bulan terang, bintang yang menghiasi langit.
Malam penuh pilu, namun juga kebahagiaan bagi sebagian orang.
"Ari sayang kalian juga.."
"Sampai ketemu lagi"
"Tapi Ari berharap, Ari ga melihat kalian disini dalam waktu dekat.."