Surah Cinta Mishil

By Syaesha

2.5K 543 102

(Sudah terbit) Mishil gadis kurang kasih sayang dari keluarga mencari kebahagiaan sendiri dengan mendekati A... More

Anak Baru
Bismillah, dulu
Curhat
Dan Aku telah Memilihmu
Mau Jadi Pacar
Mengikis Benci
Respect
Mulai Kerja
Flash Back
Takut Setan
Tercatat Sebagai Pendosa
"Jangan pergi"
"Tinggalin Aku"
Serius
Sedingin Kamu
Ammar itu .....
Ketahuan
Suami-Istri
"Kamu Cantik, Shil"
Jelang Perpisahan
Berpisah
Ammar yang Bucin
Melepas Rindu
Rindu du di du
Tak Bisa Jauh
Mama
Bersama Mama
Empat Bulan
Rindu berujung Murka
Pindah
Marah-Maaf
Hati Mishil
Ikhlas
Last Chapter

Derai Ari Mata

63 12 1
By Syaesha

Mama Wena menarik paksa tubuh Mishil untuk segera naik ke mobil Maura, dia bahkan melarang Mishil yang minta ganti pakaian terlebih dahulu. Jarak yang dekat membuat mereka dengan cepat sudah sampai di rumah Ammar.

Suasana di sekitaran rumah Ammar pagi itu sedang ramai oleh tetangga yang sibuk melakukan aktifitasnya. Mulai dari menjemur pakaian, membawa balita jalan-jalan untuk sarapan, atau sekedar berkumpul yang mereka namai dengan kegiatan 'ngerumpi'. Sebuah kegiatan yang tiada faedah dan hanya akan mendatangkan dosa ghibah.

Mama Wena menarik pergelangan tangan Mishil keluar dari dalam mobil. Ia dengan kaki dihentak-hentakan berjalan menuju teras rumah Ammar dan menggedor pintu tak sabaran. Mishil sudah tak lagi ingin bicara sebab mama sempat menyentaknya agar jangan lagi membuka mulut.

Teh Nisa yang sedang menata hampers yang akan dibawa ke rumah Mishil segera membuka pintu. Ia kaget begitu melihat mama Wena dan Mishil sudah ada di teras rumahnya. Wajah Mishil yang berantakan menjadi pusat perhatian Teh Nisa. Tangannya langsung tergerak meraih pipi Mishil. "Shil, kenapa, Sayang?" tanya Teh Nisa iba. Wanita itu mengabaikan keberadaan mama Wena dan Maura.

"Nggak apa kok, Teh," jawab Mishil dengan suara lirih.

Teh Nisa memandangi mamaWena dan Maura bergantian. Berusaha menyapa ramah walau direspon buruk oleh mama Wena.

"Silahkan masuk!" tawar teh Nisa demi melihat beberapa pasang mata tetangga yang sedang mengarah pada mereka.

Tatapan mereka tajam, seperti elang yang hendak menerkam ayam. Mereka memasang telinga, bersiap untuk mengetahui berita apa kali ini yang dapat menjadi perbincangan?

"Saya nggak perlu masuk, saya hanya ingin bertemu bocah ingusan yang sudah menghamili anak saya!" ketus mama seraya mendorong bahu Mishil tanpa belas kasih.

"Mbak, kasihan Mishil," bisik Maura yang rasanya ingin sekali mendekap tubuh Mishil yang terlihat kacau.


Rambut Mishil berantakan dengan mata sembab dan pipi memar di kanan kirinya. Tangan kirinya terus mengusap lengan kanannya, dengan berkali-kali mengigiti bibir sebagai pelampiasan kekalutan.

"Mana dia?" tanya mama Wena menyentak pada teh Nisa. Bila bukan orang tua, sudah pasti teh Nisa akan balas melakukan hal yang sama.

Ammar dan Bu Zahwa yang baru selesai salat duha berhamburan keluar demi mendengar keributan yang terjadi. Mata Ammar langsung menangkap sosok perempuan yang kini selalu mengisi relung hati terdalamnya. Sekonyong-konyong ia menarik lengan Mishil dan mengabsen seluruh wajah Mishil yang berantakan.


"Dasar perusak anak gadis orang, berani sekali kamu membuat anak saya yang masih kecil ini hamil!" teriak mama Wena seperti sengaja ingin di dengar tetangga yang memang sedang memasang mata dan telinga atas kegaduhan itu.


"Bu, kita bisa dibicarakan baik-baik, kan?" pinta Bu Zahwa yang masih mengenakan mukena.


"Bicara baik-baik apanya? anak saya hamil oleh anak anda!" sentak mama Wena seraya mengacungkan telunjuk ke wajah Bu Zahwa. "Dia sudah menghancurkan masa depan anak saya!" tegasnya kemudian dengan sorot amarah yang tertuju pada Ammar.


"Saya minta maaf atas kesalahan putra saya, Bu," ucap Bu Zahwa penuh penyesalan membuat Mishil beringsut mendekati Zahwa.


"Ibu, ini salah Shil, Bu. Ibu nggak perlu kayak gini," ungkap Mishil, tangannya merangkul pundak Bu Zahwa.


"Wow, hebat kamu, Shil. Sudah berani membela mereka?" Mama Wena bertepuk tangan dengan tawa meledek pada Mishil.


"Mama, ini semua memang salahku. Malam itu Shil hampir diperkosa kak Dylon, dan Mama nggak bukain pintu buat Shil. Apa Mama bisa rasain apa yang Shil rasain malam itu, Ma?" suara Mishil lirih menahan tangis. "Kak Dylon bukan cuma sekali mau menodai Shil, Ma. Mama di mana saat Shil ketakutan? Setahun kita tinggal bareng apa mama pernah sekaliii aja, Ma peduli sama Shil?" ungkap Mishil. "Salah Shil apa, Ma? apa yang bikin Mama benci sama Kang Mishil ini?" desak Mishil menepuk dadanya sendiri, meminta jawaban setelah bertahun-tahun ia bertanya hal itu dalam hatinya.


"Kamu mau tahu apa yang bikin saya benci sama kamu?" suara mama Wena menggelegar, terdengar seperti petir di siang bolong. Terasa seperti pedang yang menusuk hati lalu jantung Mishil. Terasa sakit namun, tak berdarah.


Kini, giliran bu Zahwa yang merangkul Mishil. Bu Zahwa mengusap bahu ramping Mishil penuh sayang. Ammar ingin sekali menggantikan posisi ibu, ingin sekali ia bisikan pada Mishil semua akan baik-baik saja.


"Dulu, saya sukses meniti karir sebagai Caddy. Sampai suatu hari datang seorang pria tak bermoral yang menjanjikan keindahan pada saya padahal semu." Mama Wena mulai menguak kisah masa lalunya.


Ammar tak tahan melihat keadaan Mishil, ia pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket. Sementara mama Wena kembali melanjutkan ceritanya. "Kami dekat, sampai akhirnya saya hamil dan dia meninggalkan saya hanya dengan sebuah ATM dan dua buah nama untuk bayi yang sedang saya kandung. Berkali-kali saya coba menggugurkan kamu namun, gagal. Kamu malah terus tumbuh dalam rahim saya. Membuat karir saya redup bahkan saya dikeluarkan secara tidak hormat dari pekerjaan saya," papar mama Wena panjang lebar membuat Mishil jatuh tersungkur ke atas lantai.


"Haruskah saya menyayangimu di saat kamu sendiri penyebab hancurnya hidup saya waktu itu?" tuding mama Wena pada Mishil yang sudah menangis tanpa suara.


Ammar kembali dari kamar, ia membawa jaket dan kain milik Bu Zahwa. Pemuda itu langsung berjongkok di hadapan Mishil. Memakaikan jaket padanya dan menutupi kaki Mishil dengan kain.


"Kalian sangat peduli bukan padanya?" tanya mama Wena entah pada siapa. "Silahkan! ambil anak tidak tahu terima kasih itu. Saya permisi, ayok Maura!" ucap mama Wena tanpa peduli lagi pada Mishil. Beberapa pasang mata tetangga yang sedari tadi menyelidik mulai bubar teratur setelah puas dengan asupan bahan ghibah yang mereka terima. Bisa dipastikan, tak kurang dari sehari aib keluarga bu Zahwa yang dikenal sebagai orang terhormat selama ini, akan menyebar luas di kampung mereka.


Seperginya mama Wena dan Maura, Ammar mengangkat bahu Mishil agar segera masuk ke dalam. Teh Nisa turut membantunya. Bu Zahwa ikut mengekori langkah mereka masuk ke dalam rumah.


"Nis, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?" tanya Zahwa membuat Teh Nisa mengangguk mengerti. "Telepon semua saudara Ibu dan ayah, ibu ingin mereka menikah malam ini juga. Urus ya, Nis!" titah by Zahwa pada Nisa seraya berlalu membawa luka hatinya.


Harapan bu Zahwa pada Ammar sebenarnya sangat sederhana, Bu Zahwa ingin putranya menjadi anak yang soleh. Hanya itu.


"Shil, pipi kamu kenapa?" tanya teh Nisa yang sedari tadi sudah sangat penasaran ingin menanyakan hal itu.


Mishil menggeleng sambil terus mengusap air matanya. Ammar terlihat emosi, ia mengeraskan rahang dengan kedua tangan mengepal. Ammar yakin sekali, pasti om Alex yang menyiksa Mishil, sama seperti beberap bulan lalu saat di gerbang sekolah.

***


Mishil sudah mandi dan berganti pakaian, tapi ia malu untuk ikut bergabung bersama saudara-saudara Ammar yang mulai berdatangan. Mishil memilih diam di kamar bersama hampers yang memenuhi tempat tidur. Mishil mengabsen satu persatu isi dari hampers tersebut. Ia beranjak dari duduknya, dan mulai meneliti pada sebuah hampers berisi perawatan tubuh dan kulit.


Senyumnya mengembang saat mendapati kelengkapan perawatan tubuh dan kulit itu. Ia bahkan selama ini tak pernah memakai produk-produk itu, sebab tak pernah dibelikan oleh mama Wena. Mishil memberanikan diri membuka plastik yang sudah dibungkus sedemikian rupa itu. Ia mengambil produk kecantikan untuk mencuci wajah. Dibacanya seksama keterangan pada bagian belakang kemasan produk itu.


Sedang asyik-asyiknya melihat satu persatu produk kecantikan itu, ammar masuk tanpa mengetuk pintu membuat Mishil kaget. "Kamu harusnya kode dulu kalo mau masuk!" keluh Mishil memberengut.


"Maaf, kirain nggak bikin kaget," tangan Ammar terangkat mengusap pipi Mishil yang masih memar, " sakit nggak?" Ammar beralih mengetuk kepala Mishil dengan salah satu produk kecantikan yang ia ambil dari keranjang.


"Perih aja sih, sedikit. Di luar udah banyak orang ya? rame banget, aku malu ketemu saudara kamu yang hijabnya gede-gede. Tambah malu lagi kalau tahu aku nggak pake hijab. Ammar, aku pake hijab jangan?" cerocos Mishil membuat Ammar gemas dan kembali memukul Mishil dengan botol yang masih dipegangnya.


"Udah nggak usah mikir macem-macem dulu, aku mau pergi dulu, ya?" Ammar meminta persetujuan Mishil.


Mishil memicingkan mata seraya berkata, "Mau ke mana lagi? tadi itu pergi ke mana? kamunya nggak bilang sama aku."


"Tadi aku nemuin mama kamu. Buat tanya nama aslinya sama minta kartu keluarga," jelas Ammar.


"Buat apa nanya nama mama kan bisa ke aku. Namaku nggak kecantum di kartu keluarga mama, aku bodong. Nggak punya papa, nggak punya identitas, dan nggak punya cita-cita," cerocos Mishil diakhiri tawa meledek dirinya sendiri.


"Sebentar lagi kamu nggak bodong, nama kita akan tercatat di buku nikah dan juga kartu keluarga. Kita bertiga, mungkin nanti jadi berempat, berlima, bersepuluh," kelakar Ammar membuat Mishil justru malah berkaca-kaca.


"Ammar, jalan kita salah. Bolehkah aku bahagia padahal apa yang kita lakukan adalah kesalahan? lebih tepatnya aku yang mengundang kesalahan ini," ungkap Mishil dengan mata yang semakin perih tak ingin mengedip sebab takut air mata kembali luruh.


"Mungkin Allah sengaja buat kita salah arah agar kita sampai pada jalan yang benar. Aku akan selalu ada buat kamu, menapaki jalan taubat kita, Shil," balas Ammar menerbitkan senyum di wajah Mishil.


"Ya udah, tadi katanya mau pergi? pergi ke mana?" tanya Mishil meletakan kembali pencuci wajah pada keranjang. Ia kembali duduk di tepian ranjang. 


Ammar mendekati Mishil, berdiri di hadapan calon istrinya itu. "Aku mau antar Naura ke rumah salah satu Kiayi di kampung sebelah, sebentar, nggak lama. Kalau nolak nggak enak ke pak Ustaz, sebelum magrib aku udah balik. Boleh, ya?" 


Mishil tak serta merta menjawab, dalam hatinya ia sungguh tak rela Ammar berdekatan dengan Naura. Kemarin saat membiarkan mereka berbicara berdua, Naura pintar sekali mengambil kesempatan.


"Boleh nggak?" desak Ammar. "Atau kamu mau ikut, aku pinjem mobil bang Riza biar sama-sama pergi, gimana?"


Mishil masih enggan menjawab, dia malas bertemu kembali dengan Naura. Dia juga tak rela Ammar berduaan saja dengan Naura. 


"Emang harus kamu yang antar? santri pak Ustaz banyak 'kan? Naura itu ... dia ... ya udah deh, cuma bentar 'kan?" terdengar nada tak ikhlas dari bicara Mishil saat mengatakan iya. 


Belum Ammar kembali berkata, derap langkah seseorang sudah memasuki kamar. Disusul dengan suara lembut yang memanggil nama Mishil, "Shil, makan dulu, yuk!" ajak Teh Nisa seraya duduk di samping Mishil.


Ammar menoleh, meneliti isi piring. Ia mengambil sepotong tempe goreng dan langsung melahapnya, "Aku juga mau makan, Teh!"


"Ambil sendiri sana!" suruh Teh Nisa seraya menepis tangan Ammar yang lagi-lagi hendak menyentuh piring.


"Satu lagi, Teh," pintanya dengan mulut masih mengunyah. "Aku mau pergi, nggak sempet makan nanti."


"Pergi ke mana lagi?" todong Teh Nisa seraya menyendokan nasi dan menyuapkannya pada Mishil. Mishil menurut, makan dari suapan Teh Nisa rasanya memang nikmat.


"Anter Naura ke ...."


"Nggak ada, nggak boleh. Jangan deket-deket sama Naura, nggak usah, kamu diem aja di rumah. Mending sana bantuin gelar karpet buat malem, sampe kamu deket-deket lagi sama Naura, Teteh nggak mau lagi ngurusin kamu!" ancam Teh Nisa membuat Mishil tersenyum.


"Teh, sebentar aja. Nggak enak loh Teh sama ayahnya," mohon Ammar.


"Kamu lebih mentingin perasaan kang ustaz itu daripada Mishil?" Teh Nisa menatap tajam ke arah Ammar. Dia beralih kembali menyuapi Mishil seraya memainkan alis dan mata pada Mishil seolah ingin berkata, "tenang, Teteh di pihakmu."


"Nggak ada wanita yang hatinya tenang membiarkan lelakinya bersama wanita lain, Ammar!" tegas Teh Nisa membuat Ammar gamang.


Ammar menurut, ia putuskan untuk keluar dari kamar. Ammar memilih untuk makan terlebih dahulu sebelum benar-benar menuruti titah teh Nisa untuk menggelar karpet.


"Kamu jangan biarin Ammar deket-deket sama Naura!" Teh Nisa mengingatkan Mishil.


***


Mishil tak berani keluar kamar padahal Teh Nisa dan Bu Zahwa sudah membujuknya. Ia memilih tetap di dalam meski sebentar lagi akad nikah akan dilangsungkan. Hanya Maura yang mewakilkan diri sebagai pihak keluarga Mishil. Alhasil, pak RT dan kang Surya lah yang ditunjuk sebagai saksi nikah dari pihak mempelai wanita.


Ammar sudah duduk menghadap kiblat dan berjabat tangan dengan kepala KUA kecamatan yang akan menjadi wali hakim pernikahannya dengan Mishil. Penghulu sudah siap pada tempatnya, serangkaian acara di mulai. Tibalah pada bagian Ammar mengucapkan kalimat itu. Dengan lantang dan hanya dalam satu tarikan napas Ammar berhasil mengucapkannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kang Mishil binti Sarwena Harsa dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."


Suasana menjadi haru, pernikahan karena sebuah kecelakaan sejatinya memang sungguh memalukan. Terlepas dari aib yang mencoreng nama baik keluarga, Ammar berharap pernikahan ini akan membawa dirinya dan Mishil ke arah yang lebih baik dan juga jalan hijrah bagi Mishil agar menjadi muslim yang lebih taat.


"Baarakallaahu laka wa baaraka'alaika wa jama'a bainakuma fii khoir."


Do'a menggema di seluruh ruangan dan diaamiinkan oleh seluruh keluarga Ammar yang hadir. Terbesit dalam hati Ammar rasa malu yang tiada berkesudahan, namun semoga Allah ampunkan. Orang yang pertama ia tuju tentu sang ibu. Dalam pelukan hangat itu, Ammar berkali-kali meminta maaf dengan deraian air mata. By Zahwa tak dapat berkata-kata lagi selain memaafkan putranya itu. Seperti katan ustaz tempo hari, rahmat Allah lebih luas daripada murka-Nya.


Tekan Vote

Tinggalkan komentar

Terima kasih

Continue Reading

You'll Also Like

58 3 5
Tentang masa lalu yang bertemu kembali setelah berpisah beberapa tahun. gadis kecil yang dulu nya ceria, periang, imut ,dan lucu sampai sekarang masi...
1.4M 189K 47
[SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW BIAR BISA BACA] Ketika Ara si cewek bar-bar dipertemukan dengan Azka si cowok polos yang terlalu tampan. Entah a...
365 33 9
Kisah tentang seorang gadis yang kehadirannya dibenci oleh ibunya sendiri,bahkan ia tidak tau karna apa ibunya sangat membencinya? Dilain sisi ia har...
Sayang By fly

Teen Fiction

6.8M 348K 29
TERBIT 📖 - "Siapa yang bernama Sayang di sini?" teriak panitia itu, membuat sebagian orang di sana menahan tawa sekaligus penasaran. "Ayo ngaku aja...
Wattpad App - Unlock exclusive features