Sorry, I Love You [EXO KRIS]

By MeiKimm

7.9K 601 6

Mengisahkan tentang seorang ayah yang hidup sendiri membesarkan anak gadinya yang masih kecil. Kehidupannya s... More

Chapter 1
Chapter 2
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6 - FINAL

Chapter 3

991 98 0
By MeiKimm

"Aku menyukaimu. Jiyoung menyukai Nara eomma"

"Yaa! kau ini.. kajja kita pulang"

"Ne eomma" aku melihat senyuman Jiyoung yang merekah diwajahnya, ini kali pertamanya Jiyoung tersenyum hangat kepadaku. Biasanya dia hanya mengacuhkanku, kali ini tidak. Ia menggenggam tanganku dan berjalan sambil mengayunkan kakinya riang sedikit berlari. Gwiyo..

Sesampainya di apartemen Jiyoung, ia tersenyum padaku dan memelukku dengan erat.

"Eomma, kau mau masuk dulu?"

"Ani.. aku akan pulang. Ya! Jiyoung-ah jangan memanggilku seperti itu, eoh?"

"Shirreoo!"

"Ya! Nappeun"

"Jiyoung-ah" aku melirik ke arah seseorang yang memanggil Jiyoung

"Appa"

MWO?! Igeo mwoya?! Kenapa Jiyoung memanggil namja itu dengan sebutan appa?! Mwo? Namja ini appa Jiyoung?!

"NEO?!" ucap namja yang menyadari bahwa aku bersama Jiyoung

"Appa kau mengenalinya?" ucap Jiyoung

"Ji-jiyoung-ah.. dia appamu?" tanyaku pada Jiyoung

"Ne, Nara eomma" jawab Jiyoung

"MWO?! Kau memanggilnya siapa? Eomma!? Jangan bermimpi" ucap yeoja yang bersama namja itu, siapa lagi, dia itu kekasihnya.

"Wae?! Aku menyukainya. Aku menyukai Nara eomma" ucap Jiyoung

"Jiyoung-ah" ucapku berusaha menghentikan Jiyoung yang memanggilku eomma

"Yaa! Jiyoung-ah. Dia bukan eommamu. Kenapa kau memanggilnya seperti itu eoh? Aku ini yang akan menjadi eommamu."

"Shirreoo!" ucap Jiyoung, ia segera menyembunyikan dirinya dibalik tubuhku

"Ya! Kau! Apa yang kau lakukan pada Jiyoung, eoh? Kenapa Jiyoungku jadi seperti ini?" ucap namja yang berusaha membela kekasihnya itu

"MWO?! Siapa yang melakukan apa pada siapa? Kau menduhku?! Lancang sekali kau" jawabku

"APPA! Kajjimma! Jangan menuduhnya seperti itu. Aku yang memanggilnya seperti itu! Aku menyukainya, menyukai Nara eomma!" ucap Jiyoung

"JIYOUNG kajimma! Berhenti memanggilnya dengan sebutan eomma!" nada namja itu semakin meninggi membuat Jiyoung takut dan memelukku dengan erat.

"Jiyoung-ah.. Yaa! Beginikah cara seorang appa memberitahu anaknya yang masih kecil eoh?!"

"Kau tidak perlu ikut campur urusanku. Jiyoung masuk!" namja itu menarik kasar tangan gadis kecil itu

"Shirreoo!! Eomma!" hatiku sakit melihat namja itu membuat Jiyoung menangis.

"YAA! Jangan kasar pada Jiyoung. Dia masih kecil" aku menarik lengan Jiyoung dan berusaha menepisa cengkraman namja itu ditangan Jiyoung

"Nara eomma.." gadis kecil itu menangis terseguk-seguk

"Sudah kubilang kau jangan ikut campur! Siapa kau!" Ucap namja itu

"Dasar yeoja tak tahu malu!"

PLAK

Tamparan itu mengenai pipiku, pipiku memerah akibat tamparan yeoja itu, kekasihnya namja yang sedang mencengkram tangan Jiyoung.

"EOMMA!" pekik gadis kecil itu melihat aku ditampar oleh calon eommanya itu. Mereka bertiga memasuki apartemen dan menghilang dihadapanku.

"Appoo.." aku mengelus pipi kananku. Tapi rasa sakit ini tidak melebihi rasa sakitku saat melihat Jiyoung menangis tadi. Tapi aku tidak bisa berbuat lebih, itu adalah urusan keluarga, dan aku memang tidak boleh ikut campur. Tapi aku benar-benar mengkhawatirkan Jiyoung.

Nara POV End

Kris POV

"Appaa! Appoo.." aku menarik Jiyoung menuju apartemen. Aku mendengar Jiyoung kecilku meringis kesakitan dan terus menangis, entah kenapa aku tidak perduli sepertinya aku tenggelam dalam emosiku.

"Jiyoung! Appa tak pernah mengajarkanmu menjadi anak yang nakal dan membantah appa!"

"Kenapa kau seperti ini, eoh? Jangan panggil yeoja itu dengan sebutan eomma lagi, dia bukan eommamu. Michelle adalah eommamu!" sambungku

"SHIRREOO!!"

"Yaa! Wu JiYoung! Berhenti membantah appa! Anak nakal! Sejak kapan kau menjadi seperti ini"

"......"

"Semenjak kau bersama yeoja itu kau menjadi membantah appa. Kau menjadi tidak sopan Jiyoung!"

"BERHENTI MENYALAHKAN NARA EOMMA!"

"JIYOUNG!!! Sudah appa bilang jangan menyebutnya dengan sebutan eomma!"

"Shirreoo!! Aku benci padamu. Aku membencimu appa! Appa jahat!"

Aku melihat Jiyoung menangis terseguk-seguk dan berlari menuju kamarnya dan menutup pintu kamarnya sangat keras

BRAKK

"JIYOUNG!!!"

"Anakmu keterlaluan Kris"

"....."

"Lagi-lagi dia mengacuhkanku"

"Bersabarlah Michelle, mungkin dia perlu waktu"

"Waktu? Sampai kapan, eoh? Aku lelah kris. Aku tidak bisa mengerti Jiyoung"

"Michelle, jangan seperti ini. Bersabarlah"

"Entahlah.."

"Aku akan memberikan waktu pada kalian, besok lusa aku harus berangkat ke Kanada beberapa hari, kau tinggalah disini bersama Jiyoung. Buatlah hubungan kalian menjadi membaik, eoh?"

"Ne.. arraseo"

Kris POV End

Jiyoung POV

"Jiyoung-ah.. appa pergi dulu ne? Appa akan ke Kanada beberapa hari, kau baik-baiklah dirumah bersama Michelle eomma, eoh?"

Aku mendengar appa sedikit berteriak diluar kamarku. Appa akan pergi dan meninggalkanku bersama Michele ahjumma? Haishh.. menyebalkan sekali berada disini bersama nenek sihir itu yang sudah menampar Nara eommaku.

Tak banyak yang kulakukan di dalam kamar. Hanya berdiam diri dan bermain bersama bonekaku. Aku malas keluar karena pasti ada Michelle ahjumma. Tapi, perutku sangat lapar, aku belum makan. Aku keluar kamar menuju dapur untuk mengambil beberapa helai roti dan susu.

"Jiyoung kau sudah bangun" ucap yeoja yang sedang duduk dan sibuk dengan ponselnya

"Hm.."

"Jiyoung, tolong buatkan eomma roti juga, eoh?"

Cihh.. disini siapa yang pantas disebut eomma? Aku atau dia? Kenapa aku yang menyiapkan roti dan dia duduk santai dan sibuk dengan ponselnya

"Shirreoo. Buat sendiri"

"Yaa! Jiyoung ah! Nappeun!"

"Terserah.."

Aku meninggalkan yeoja yang dari tadi menatapku dengan geram, aku masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu.

***

Aku merasa bosan karena hampir seharian berada di kamar, aku berniat untuk pergi ke panti asuhan yang pernah aku kunjungi bersama Nara eomma. Saat aku keluar kamar aku melihat ruangan sekelilingku sangat sepi, sepertinya yeoja itu pergi, beginikah calon eomma yang baik? Meninggalkan calon anaknya sendirian? Lagi? Haishh.. appa dan yeoja itu sama saja, sama-sama menyebalkan.

Aku berjalan berusaha mengingat jalan menuju panti asuhan itu. Yap! Akhirnya aku sampai juga.

"Jiyoung!"

Aku terkaget oleh teriakan yang menyerukan namaku

"Eunna!"

"Jiyoung kenapa kau baru kesini, aku merindukanmu"

"Mianhae.. ayo kita main"

Setidaknya disinilah tempat yang bisa membuat aku senang bersama Eunna teman baruku.

"Eunna, apakah Nara ahjumma sudah datang kesini hari ini?"

"Ani.. hari ini Nara ahjumma tidak akan datang, dia biasa datang saat hari libur"

"Oh.."

"Jiyoung kau pergi kemari sendirian?"

"Ne.."

"Ya! Kau melanggar perkataan Nara ahjumma. Bukankah dia mengatakan bahwa kau tidak boleh berpergian sendirian?"

"Entahlah.. aku sedang ingin kemari Eunna. Mungkin Nara ahjumma sedang sibuk"

"Begitu.." jawabnya singkat dan kami kembali bermain bersama.

Hari sudah sore, aku memilih untuk pulang karena aku takut berjalan sendirian menuju apartemen. Aku berjalan dengan sedikit cepat agar segera sampai di apartemen. Sialnya, hujan lebat saat itu juga. Aku berlari tanpa meneduh, karena letak panti asuhan dan apartemen appa sedikit jauh.

Sesampainya di apartemen aku mendapati Michelle ahjumma yang sedang menonton tv, dia hanya memandangku yang basah kuyup sekilas dan kembali memandang layar tv, dia tidak perduli padaku, sudah kuduga. Aku segera mandi dan mengganti bajuku. Rasanya tubuhku lemas, aku memilih untuk tidur.

***

"Eungg.." aku bangun dari tidurku. Karena sinar matahari masuk menelusuk tirai jendelaku. Kepalaku rasanya sangat berat, pusing dan badanku sangat lemah.

"Michelle ahjumma.."

"Ahjummaa.."

Beberapa kali aku memanggilnya tak ada jawaban, aku berjalan pelan membuka pintu dan melihat ruangan disekitar, sepertinya wanita itu tidak ada. Aku berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air putih juga memakan beberapa roti, rasanya pahit, aku memuntahkan apa yang aku makan. Aku memilih untuk tidur dikamarku berharap kondisiku akan segera pulih dan Michelle ahjumma segera pulang.

2 hari ini kondisiku tidak membaik, bahkan Michelle ahjumma tidak pulang, entah kemana nenek sihir itu pergi. Kepalaku semakin berat, aku berusaha menggapai tasku dan mencari sehelai kertas lalu menuju telephone yang berada di ruang tv.

"Eomma.."

"...."

"Datanglah ke apartemenku. Jebal"

"......"

"Eomma.. aku sudah tidak kuat"

"......"

"Kamar 1002, 433567"

"........"

Seketika pandanganku menjadi remang-remang, hitam dan sangat hitam. Aku tidak mengetahui lagi apa yang terjadi padaku.

Jiyoung POV

Nara POV

"Yeoboseyo?"

"Eomma.."

"Jiyoung-ah?"

"Datanglah ke apartemenku. Jebal"

"Kau kenapa Jiyoung-ah? Wae?"

"Eomma.. aku sudah tidak kuat"

"Ya! Kau sakit Jiyoung-ah? Kau kenapa?! Gwaenchanayo? Sebutkan kamar dan passwordmu. ppalli"

"Kamar 1002, 433567"

"Aku akan segera kesana"

"......"

"Jiyoung-ah? Jiyoung?!"

Aku segera berlari menuju apartemen Jiyoung, aku sangat khawatir padanya. Apakah dia sakit? Jiyoung kenapa.

Sesampainya disana aku segera memasuki apartemen Jiyoung, dan astaga! Aku mendapati Jiyoung yang terkapar, Jiyoung pingsan. Badannya sangat panas. Aku segera menggendong Jiyoung menuju kamarnya, aku yakin ini kamarnya karena di depan pintu kamarnya ada tulisan namanya.

Aku membaringkannya di kasur dan aku berlari mencari dapur dan mengambil apa yang kubutuhkan saat ini.

Aku mengompres Jiyoung. Badannya sangat panas, aku sangat khawatir pada Jiyoung, aku tidak mau sesuatu terjadi padanya. Aku mengelus pelan pipinya, meratapinya merasa kasihan. Bahkan disaat seperti ini appanya tidak ada, sehingga Jiyoung sampai pingsan seperti tadi. Mataku semakin berat, aku tertidur dan memegang tangan Jiyoung berharap panas tubuhnya berpindah ketubuhku. Aku tak tega melihat Jiyoung seperti ini.

Nara POV End

Kris POV

Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Jiyoung, aku merindukan gadis kecilku. Aku memasuki apartemenku. Sangat sepi, kemanakah Michelle dan Jiyoung. Apa mereka masih tidur? Aku membuka pintu kamarku, tak ada sosok Michelle disana, aku melihat ke dapur juga tidak ada, kemana perginya dia sepagi ini, aku membuka kamar Jiyoung dan aku tersentak saat melihat pemandangan dihadapanku.

"MWOYA?!"

"Euuunng.." yeoja yang duduk tertidur di samping tempat tidur Jiyoung terbangun.

"NEO?!"

Yeoja itu menatapku dangan tatapan kagetnya. Ia baru tersadar jika tersadar aku berdiri di depan kamar Jiyoung.

"Sstt.. Jiyoung sedang tidur. Pelankan suaramu" ucap yeoja itu setengah berbisik. Aku memandangi Jiyoung, aku melihat sebuah handuk kecil berada di kening Jiyoung. Igeo mwoya? Jiyoungku kenapa?

"Jiyoung.." aku mengecup pipi Jiyoung, badannya hangat, aku benar-benar mengkhawatirkannya.

TUT..TUT..TUT..TUT..

Aku mendengar suara yang menekan-nekan papan password apartemenku. Aku berjalan keluar kamar Jiyoung dan menutup pintunya.

"Mwo?! Kris! Kau membuatku kaget. Kapan kau sampai, eoh?"

Aku menatap kedatangan Michelle, dia membawa beberapa paper bag, seperti sudah habis berbelanja.

"Teganya kau!"

"Mworago? Ada apa? Kenapa kau membentaku?"

"Darimana kau, eoh? Kau tidak pulang dan baru pulang jam segini dengan membawa belanjaanmu?!"

"Kris kau ini apasih?"

"Kau tidak tahu Jiyoungku sakit, eoh?! Kau malah asik berbelanja sampai tidak memperhatikan Jiyoungku?!"

"Mwo?! Jiyoung sakit? Ah-ani maksudku--"

"Bahkan kau benar-benar tidak tau dia sakit?"

"Bukan begitu maksudku.. igeo.."

"Pergi! Kubilang pergi!!"

"Kris.."

"Pergi Michelle!" aku mendorong Michelle keluar dari apartemenku. Aku benar-benar tidak habis pikir atas kelakuannya. Bisa-bisanya berbelanja tanpa memperhatikan Jiyoung kecilku. Aku hendak berjalan menuju kamar Jiyoung. Aku melihat yeoja itu keluar dari kamar Jiyoung menutup pintu kamar Jiyoung dengan pelan dan hati-hati seperti ia tak mau membuat suara yang akan mengganggu tidur Jiyoung.

"Kemarin aku menemukan Jiyoung pingsan disini"

"Mwo?! Pingsan?! Ya! Kenapa kau bisa masuk kemari?"

"Jangan salah paham. Kemarin Jiyoung menelponku memintaku kemari dan memberitahu passwordnya. Maafkan aku sudah lancang memasuki apartemenmu sampai bermalam disini. Aku tidak bisa membiarkan Jiyoung sendiri dengan keadaannya yang seperti ini. Gantilah passwordmu"

"Ah-ani.. bukan begitu maksudku.."

"Ahh.. aku hanya ingin memberitahumu, jangan terlalu sering meninggalkan Jiyoung sendirian. Dia masih sangat kecil dan sangat butuh perhatian darimu, appanya. Prioritaskanlah anakmu, Jiyoungmu. Karena aku selalu melihatnya sendirian"

"......"

"Karena kau sudah disini, aku pamit untuk pulang. Jagalah Jiyoung dengan baik.."

"Ah.. chogiyo.."

"Wae?"

"Mianhae.. tapi bisakah kau tinggal sampai Jiyoung sembuh?"

"Mwo?!"

"Aku tidak baik dalam merawat Jiyoung saat sakit. Aku tidak mungkin membawanya kerumah sakit, itu akan membuat Jiyoung takut. Jebal"

"Haish.. kau ini appa yang seperti apa tidak bisa merawat anakmu sendiri, eoh?"

"...."

"Ne.. arraseo.. aku akan disini sampai Jiyoung sembuh"

"Gomawo, Nara-ssi"

To be continued..

72

Continue Reading

You'll Also Like

71.3K 3.6K 18
bagaimana balita selucu dia mendapatkan hal sekejam itu.. dia tak bersalah dia tak berdosa dunia terlalu kejam untuk tubuh kecilnya yang ringkih kas...
181K 22K 25
Baekhyun adalah seorang duda miskin yang mempunyai seorang anak bernama Jiwon, drama hidupnya dimulai semenjak Chanyeol pindah ke apartemen yang sama...
6.7K 288 50
Yohan, anak SMA 18 tahun itu tiba-tiba menerima bayi didepan rumahnya. Kekasihnya pergi tanpa mengatakan apapun, dan akhirnya Yohan memutuskan untuk...
Wattpad App - Unlock exclusive features