Jangan lupa votmen !!
Sidersnya dikurangin ya :(
•
•
Hari minggu yang Ara nantikan untuk bermalas-malasan kini pupus begitu saja saat kedatangan Nesya--tante Reyhan. Ia datang bukan untuk berkunjung, melainkan untuk menitipkan kedua anaknya kepada Ara dan Reyhan karena Nesya dan suaminya ingin pergi menghadiri acara perusahaan di luar kota.
"Di dalam tas sudah tante bawain susu, botol dot, pakaian, dan popok bayi buat Chila. Kalau mau bikin susu, caranya tuang air panas sama air biasa ke botol dot dengan perbandingan 1 : 2, terus masukin 3 sendok susu bubuknya, kocok sampai tercampur rata ya" jelas Nesya. Ara yang masih setengah mengantuk pun hanya membalasnya dengan anggukan kecil walaupun otaknya belum bisa mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Nesya.
Jangan salahkan Ara yang masih mengantuk, tapi salahkan lah Nesya yang datang pada pukul 04.00 pagi.
"Kalau Liam, semua bajunya sudah tante masukin di tas yang satunya lagi. Oh iya, nanti kalau dia rewel, kasih susu kotak aja nanti juga anteng" jelas Nesya lagi.
"Yaudah tante sama om pergi dulu, nitip Liam sama Chila ya. Assalamualaikum" pamit Nesya, lalu bangkit dan menarik tangan suaminya pergi dari apart Reyhan.
"Waalaikumsalam" balas Ara. Kalau kalian bertanya dimana Reyhan, laki-laki itu sebenarnya duduk di sebelah Ara. Tetapi mata laki-laki itu menutup sempurna seakan ada lem yang menyatukan kedua kelopak matanya.
Okey pertama-tama kita kenalkan dulu. Liam adalah anak pertama dari Nesya dan Revo--tante dan om Reyhan--yang berjenis kelamin laki-laki dengan umur sekitar 4 tahun. Sedangkan Chila adalah anak kedua mereka yang berjenis kelamin perempuan dengan umur 3 tahun. Saat datang tadi, Liam dan Chila masih tertidur pulas, jadi mereka diletakkan di kamar Reyhan.
Melihat Reyhan yang masih memejamkan matanya, Ara memilih untuk membasuh muka agar tidak mengantuk lagi. Melihat pantulan dirinya di cermin, ia menghela nafas kasar.
"Hari minggu gue yang berharga..." lirihnya. Memang sudah menjadi kebiasaan Ara, jika weekend ia akan bermalas-malasan dikamar dan tidak akan ada siapa pun yang mengganggunya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ra?" panggil Reyhan setelah mengetuk pintu kamar mandi.
"Kenapa?!!" jawab Ara sedikit berteriak.
"Ayo sholat Subuh" ajak Reyhan.
"Iya sebentar"
Setelah rapi memakai mukena-nya, Ara mulai mengambil sajadah untuk menggelar disebelah tempat tidurnya. Tapi suatu suara mampu memberhentikan kegiatannya.
"Sholat-nya dikamar gue aja, sekalian jagain Liam sama Chila" ucap Reyhan yang melihat Ara ingin menggelar sajadahnya. Gadis itu mengangguk lalu berjalan menuju kamar Reyhan.
Ceklek!
Reyhan membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Melihat pemandangan didepannya, Ara dan Reyhan diam mematung. Disana, tepatnya diatas kasur Reyhan, Liam duduk sembari mengusap matanya. Rupanya anak laki-laki itu baru saja terbangun dari mimpi indahnya.
"Eh ada om Ley. Ngapain di kamal Iam, om?" ucap Liam cadel tak lupa dengan muka bantalnya yang membuat Ara gemas melihatnya.
"Padahal ini kan kamar gue" batin Reyhan menatap Liam tak percaya.
"Eh Liam kok udah bangun? Mau minta apa? Liam haus? Atau mau pipis?" tanya Ara berturut-turut.
"Tante kalo nanya catu-catu dong. Iam jadi bingung mau jawab yang mana dulu" protes Liam mencebikan bibirnya lucu.
"Jadi gini tante, Iam tuh udah biaca bangun jam cegini. Coalnya diculuh cholat cubuh cama papa" jelas Liam.
"Yaudah ayo kita sholat bareng-bareng" ajak Reyhan.
"Iam bisa wudhu gak?" tanya Ara.
"Bica tante"
Setelah menunggu Liam wudhu, anak laki-laki itu keluar dari kamar mandi dengan seluruh pakaiannya yang basah terciprat air.
"Ya Allah Liam, kamu wudhu apa mandi?" ucap Ara. Liam hanya menyengir menampakan giginya yang mungil dan tersusun rapi.
"Udah ayo sholat, keburu waktunya habis" ucap Reyhan.
Setelah selesai dan membereskan alat sholatnya, tiba-tiba Liam mengulurkan tangannya kepada Ara membuat gadis itu mengernyit bingung.
"Iam belum tau nama tante" ah, rupanya Liam ingin berkenalan dengan Ara.
"Oh, nama aku Ara. Panggilnya kakak aja, jangan tante ya" jawab Ara menjabat tangan Liam.
"Okey kak!" sahut Liam.
"Oh iya, baju Liam kan basah semua, kamu mau ganti baju aja apa sekalian mandi?" tanya Ara.
"Langcung mandi aja deh"
"Okey, kakak angetin air dulu ya"
Setelah memandikan Liam, Ara memilih ke dapur untuk memasak sarapan. Sedangkan Liam sedang menonton serial kartun di ruang TV. Reyhan masih melanjutkan acara tidurnya setelah Sholat Subuh tadi.
"Hiks... Hiks... "
Samar-samar Ara mendengar suara tangisan anak kecil. Ia tak menghiraukan suara itu. Tapi beberapa detik kemudian matanya melotot saat mengingat ada Chila disini. Tak menunggu lama, Ara langsung berlari menuju kamar Reyhan meninggalkan wortelnya yang baru terpotong sebagian.
Di kasur Reyhan, Chila menangis sembari merangkak ke arah pinggir kasur. Seketika itu juga, Ara dengan cepat menghampirinya dan langsung menggendong bayi itu.
"Mama... Hiks.. Mamama.. " racau Chila.
"Cup.. Cup.. Cup... " Ara menenangkan Chila sembari berusaha membuatkan susu untuknya.
Saat tangannya meraih botol susu, tiba-tiba Reyhan menghentikannya. "Gue aja yang buatin susunya" ucapnya.
"Caranya gimana?" tanya Reyhan.
"Tuang air panas ke botolnya, sedikit aja. Itu di dapur udah gue bikinin air termos" Reyhan langsung menuju ke arah dapur diikuti Ara dibelakangnya.
"Abis itu tuang air biasa sampe penuh. Terus tuang susunya 3 sendok" Reyhan mengikuti arahan Ara perlahan.
Setelah jadi, Ara langsung memberikan susu itu kepada Chila yang masih berada di gendongannya. Beberapa menit setelah itu, tangisan Chila mulai mereda.
Ara mendudukan Chila disebelah Liam yang fokus menonton TV ditemani Reyhan juga. "Jagain mereka ya, gue mau ngelanjutin masaknya" ucap Ara pada Reyhan, dibalas anggukan oleh laki-laki itu.
Sekitar 20 menit berkutat di dapur, Ara menata masakannya diatas meja makan. "Ayo sarapan dulu, makanannya udah jadi" ucap Ara sambil menggendong Baby Chila.
"Om Ley, nanti jalan-jalan yuk" ajak Liam disela kegiatan makannya.
"Emang Iam mau kemana?" tanya Reyhan.
"Ke Dufan!" serunya bersemangat.
"Oke, tapi nanti siang ya. Sekarang habisin dulu makannya" jawab Reyhan.
"Ciap Om Ley!"
Matahari sudah berada di atas kepala. Reyhan, Ara, Liam dan Chila sedang berada dimobil menuju Dufan. Terlihat dari raut wajahnya, Liam sangat senang. Sepanjang perjalanan ia bersenandung ria. Chila yang melihat itu pun bertepuk tangan ikut merasa senang.
Sampai beberapa saat kemudian mereka sampai ditujuan. Liam dengan tidak sabaran langsung turun saat mobil baru saja terparkir. Reyhan yang melihat itu dibuat geleng-geleng kepala dan tersenyum memaklumi. Liam sangat jarang diajak bepergian seperti ini karena Nesya dan suaminya sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"Iam senang?" tanya Reyhan yang dibalas anggukan oleh anak laki-laki itu.
Tak terasa 2 jam berlalu begitu cepat. Ara dan Liam sedang beristirahat setelah menaiki beberapa wahana. Chila sudah terlelap digendongan Ara, sedangkan Reyhan pergi untuk membeli minum.
"Udah puas mainnya?" tanya Ara.
"Udah kak! Tapi... Iam mau beli gulali boleh?"
"Apa sih yang gak boleh buat Iam" jawaban Ara membuat Liam langsung tersenyum senang.
"Tapi minta beliinnya sama Om Rey, ya?" Liam mengangguk.
Setelah selesai bermain dan membeli banyak cemilan, mereka kembali ke apartemen Reyhan. Sesampainya disana, Liam langsung tertidur dikamar Reyhan. Sedangkan Ara memandikan Chila.
Sore pun berganti malam. Liam, Chila dan Reyhan sedang berada di ruang TV menonton sebuah serial kartun. "Om Ley, Iam mau pizza dong" pinta Liam.
"Pizza? Yaudah nanti om beliin" jawab Reyhan. Laki-laki itu langsung memesan pizza.
"Ah, eum... Talo Thila mau mamam pelmen, om" sahut Chilla.
"Chila mau permen?" tanya Reyhan, dan Chilla mengangguk semangat.
"Tapi nanti Thila juga mau pija na ya?" sela Chila.
"Iya sayang"
20 menit menunggu, akhirnya pizza dan permen pesanan Reyhan datang juga. Laki-laki itu masuk ke apartemen dengan menenteng 2 box makanan khas dari negara Italia, membuat Liam yang melihatnya tersenyum senang.
"Waah, makacih Om Ley!" ucap Liam bersorak senang.
"Maacii Om Ey!" ucap Chila juga.
"Sama-sama Iam, Chila"
Liam dan Chila terlihat sangat menikmati makanan tersebut. Pipi mereka sampai menggembung penuh terisi pizza.
"Lucu ya, mereka" ucap Ara.
"Iya, jadi pengen"
"Pengen apa?" tanya Ara.
"Pengen punya anak. Ayo bikin!"
"Stress!"
Liam & Chila-!
•
•
•
•
•
To be continued