❁
❁
❁
❃ Happy Reading! ❃
Keesokan paginya Abel tengah bersiap untuk pergi sekolah, tiba-tiba Naufal datang dari luar kamar sambil membawa kue dan tak lupa senyum manis yang menghiasi wajahnya.
"Barakallah fii umrik, maaf baru ngucapin." ucap Naufal menghampiri Abel yang sedang merapihkan kerudungnya, Abel membalas senyum Naufal.
"Makasih," ucap Abel mengambil alih kue kecil yang dibawa oleh Naufal, Naufal mencium kening Abel.
Abel hanya tersenyum biasa untuk menanggapi, lalu memakan kue itu dengan pisau kecil yang sudah di sediakan.
"Sekarang sarapan dulu yu," ucap Naufal setelah Abel selesai bersiap,
Abel menggeleng. "Engga sarapan deh udah kenyang." Balas Abel sekenanya, karena dia sudah merasa kenyang walau hanya meminum segelas susu dan sesuap kue. Naufal mengangguk paham, lalu menyodorkan uang saku pada Abel.
Abel menoleh lalu menggeleng lagi, "Engga usah masih ada ko," Jawab Abel, Naufal terdiam mendengarnya karena sudah beberapa hari yang lalu juga Abel tak meminta uang saku padanya.
Abel berjalan keluar dari kamar menuju dapur, Naufal mengikutinya dari belakang. Mata Abel tak sengaja bersitatap dengan sahabat Naufal lalu menggalihkan matanya menatap Uminya.
"Umi Kaka mau berangkat," ucap Abel saat uminya sedang mengambil nasi untuk Abi. Umi seketika menoleh,
"Sarapan dulu ka." ucap Abi.
"Udah kenyang Bi, yaudah Kaka berangkat dulu." Ucap Abel segera menyalimi Abi, Umi, Om Gavin dan sahabat Naufal. Karena Mama dan papanya sudah pulang.
"Afwan," ucap Dea tak enak, sebenarnya Dea dan Naufal masih saudara sepersusuan.
Abel menaikkan alisnya binggung, lalu mengedikkan bahunya sambil membenarkan tasnya.
"Gak perlu minta maaf, lagian biasa aja ko." ucap Abel sekenanya. Lalu Abel menyalimi tangan Naufal.
"Kaka berangkat ya, Assalamualaikum." Lanjut Abel lalu segera melenggang dari sana.
oOo
Saat ini Abel berada di perpus bersama Zea yang kini malah tertidur, namun Abel kini sedang melamun karena pikirannya tengah berkelana.
Abel masih binggung tentang Naufal yang mendiaminya dan bersikap acuh padanya selama berhari-hari, namun tak membiarkannya pergi dan malah menangis menyesali. Jika Naufal benar-benar cinta padanya, kenapa bisa bertahan mengacuhkannya berhari-hari?
Abel menghela nafas gusar entah sudah berapa kali, Zea yang sedang tidur pun jadi terusik karenanya.
"Lo kenapa sih?!" Tanya Zea sebal, Abel melirik.
"Gue butuh refreshing, mumet ni otak." Ucap Abel membenamkan wajahnya di atas kedua tangan yang bertumpu di meja.
Zea seketika antusias dan menjentikkan tangannya seolah mengerti.
"Gimana kalo kita ngemall?" ucapnya semangat. Abel menatap Zea yang terlihat sangat bersemangat itu,
"Not bad," ucap Abel sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
oOo
Beberapa hari telah berlalu, namun sikap Abel tetap sama. Walau Abel terkesan cuek pada Naufal, Abel tetap tak melupakan statusnya sebagai seorang istri.
Naufal juga sering memulai pembicaraan terlebih dulu, seperti saat ini.
"Kamu mau martabak gak yang?" ucap Naufal menghampiri Abel yang sedang memainkan hpnya di kasur.
"Boleh," jawab Abel menyetujui.
"Mau yang rasa apa?" Tanya Naufal lagi.
"Keju," ujar Abel.
"Terus Abel mau Mie Ayam juga," Lanjut Abel menatap Naufal sebentar lalu memainkan ponselnya kembali, Naufal terdiam lebih dulu baru mengangguk setuju.
"Mau ikut?" Abel yang mendengar langsung menggelengkan kepalanya tanda tak memyetujui.
Naufal menghela nafas saat Abel menolak ajakannya, namun tetap tak melunturkan senyumnya. "Yaudah aku pergi dulu Assalamualaikum."
"Hm Waalaikumsalam, hati-hati." Jawabnya tanpa menatap Naufal, Naufal makin menggembangkan senyum mendengarnya.
"Iya." ucap Naufal mengelus kepala Abel lalu segera pergi dari sana.
Saat sedang asyik menonton konten di youtube Naufal datang dengan membawa makanan yang dia beli, tak lupa dengan minumnya juga.
"Assalamualaikum, ini makanannya yang." ucap Naufal saat memasuki kamar, Abel menoleh
"Waalaikumsalam," jawab Abel sambil memgambil makanan yang di sodorkan oleh Naufal.
"Makasih," ucapnya saat mengeluarkan martabak dan mie ayam serta jus dari dalam plastik.
"Iya sama-sama," Abel memilih duduk di samping kasur yang tersedia karpet disana, Naufal mengikuti apa yang di lakukan oleh Abel.
"Mau?" Tawar Abel saat memakan mienya, Naufal menggeleng.
"Kamu aja." jawabnya terus menatap Abel yang menikmati makannya, Abel mengangguk mengerti. Namun saat sedang makan Naufal terus memerhatikannya.
Abel menyodorkan sumpitnya untuk menyuapi Naufal, Naufal pun menerima suapan Abel. Jadi Abel terus menyuapi Naufal dan dia juga ikut memakannya karena porsinya pun cukup banyak.
Setelah selesai Abel melanjutkan memakan martabaknya, sambil terus menonton. Naufal terus menemaninya,
"Udah sekarang tidur ya," ucap Naufal pada Abel, Abel menoleh seketika pada Naufal lalu mengangguk menyetujui dan segera beranjak merapihkannya lalu ikut membaringkan tubuhnya di samping Naufal.
"Oh iya Gus," ucap Abel pada Naufal, Naufal memejamkan matanya menahan rasa mengganjal karena Abel terus menyebutnya 'Gus' daripada 'yang' seperti biasa dan Naufal tak menyukainya. Namun dia juga tidak bisa memaksa Abel memanggilnya seperti biasa.
"Gus?" ulang Abel karena tak mendapat jawaban, Naufal tersadar dan hanya berdehem menanggapi.
"Besok Abel mau ke mall," ucapnya to the point. Naufal seketika menatap Abel yang sedang menatap plafon kamar.
"Berdua. Sama Zea," lanjut Abel karena mengerti keterdiaman Naufal, Abel mendengar Naufal yang menghela nafas seperti tak suka.
"Kenapa gus gak boleh?" Naufal langsung menoleh kembali pada Abel,
"Boleh," ucap Naufal sambil tersenyum.
"Oh Gus kepaksa?" ucap Abel sebal melihat senyuman Naufal.
"Engga sayang, boleh," ujar Naufal gemas sendiri sambil mencubit pipi Abel, Abel mendelik saat merasa pipinya di uyel-uyel oleh Naufal.
"Gus jangan kenceng-kenceng sakit tau," ucap Abel sambil mengelus pipinya, Naufal seketika tambah mendekatkan dirinya pada Abel.
"Sakit banget ya?" Tanya Naufal khawatir sambil melihat pipi Abel,
Abel yang melihat Naufal pun jadi tak tega sendiri karena dirinya terlihat tak perduli pada Naufal, apalagi Abel pernah melihat Naufal yang menangis saat sedang berdoa. Abel tak mengerti Naufal berdoa apa, karena Naufal berdoa menggunakan Bahasa Arab.
Abel menyelipkan tangannya melingkari pinggang Naufal untuk memeluknya, Naufal terdiam merasakannya.
"Udah gus katanya mau tidur," ucap Abel sambil mencari posisi nyaman, Naufal tersenyum lalu membalas pelukan Abel.
oOo
Abel kini sedang bersiap akan pergi, Abel mencari bajunya untuk di pakai dan menatap dirinya di depan cermin sambil memoleskan lipcream pada bibirnya. Abel terdiam menatap pantulan dirinya, karena pikiranya tengah berkelana.
Abel sendiri tak tau kenapa moodnya gampang berubah, apalagi sikap cueknya yang sering muncul padahal walau dia terkadang cuek namun sikap absurdnya pasti lebih mendominan. Tapi kini terbalik, Abel juga tidak pms karena dia juga sedang sholat.
Memikirkan tentang haid Abel seketika, melihat tanggal.
"Perasaan gue belum dateng bulan," Gumamnya menatap kalender di hp, Abel menaruh hpnya di atas meja lalu berdiri menatap dirinya yang di cermin.
Terlihat lebih berisi.
Abel terdiam saat melihat tubuhnya yang sedikit berisi, walau sedikit itu saja sudah terlihat jelas dan dia baru sadar akan itu.
Katanya orang yang agak berisi dari sebelum-sebelumnya berarti dia bahagia, namun Abel merasa tetap menjalankan seperti biasa walau memang merasa bahagia dia juga tetap merasa seperti menjalankan kehidupannya seperti sebelumnya.
Abel berpikir sejenak,
Moodnya gampang berubah.
Sudah lama tidak datang bulan.
Dan tubuhnya lebih berisi.
"Gak-gak, gue kan masih Sma," Gumam Abel menyanggah pikirannya sendiri lalu melanjutkan kegiatan yang tertunda dan tak memikirkan hal tadi.
"Yang sarapan dulu ya," ucap Naufal saat memasuki kamar sambil membawa piring.
"Nanti aja di jalan deh," ujar Abel tanpa menoleh.
"Nih Bismillah," ucap Naufal menyodorkan sendok yang sudah terisi nasi.
Abel menghela lalu berdoa dan menerima suapan Naufal, setelah selesai Abel merima segelas susu yang selalu di minum Abel.
Setelah itu Abel segera pamit darisana, saat menyalimi Naufal Abel tak lupa mengecup pipi Naufal cepat dan Abel mengulum bibirnya menahan senyum saat melihat keterdiaman Naufal, lalu Abel melenggang darisana namun terhenti saat Naufal mencekal lengannya memberhentikan jalannya.
Naufal tersenyum menatap Abel yang sedikit terkejut, lalu mendekatkan dirinya pada Abel. Naufal mengecupi wajah Abel bergantian,
"Udah ih Gus geli tau," ucap Abel, Naufal terkekeh sambil menjauhi wajahnya pada Abel,
"Hati-hati ya," ucap Naufal mengelus Abel,
"Iya yaudah aku pergi dulu Assalamualaikum," ujar Abel lalu segera melenggang darisana.
Abel berjalan keluar dari Ndalem menuju mobil lalu segera menjalankan mobilnya keluar dari pesantren untuk menjemput Zea terlebih dulu, setelah sampai di rumah Zea Abel menelakson mobil lalu mengechat Zea memberitahu keberadaanya.
"Yuk berangkat!" ucap Zea semangat. Abel mengangguk lalu segera menjalankan kembali mobilnya,
"Mampir beli cemilan dulu ya Bel!" ujar Zea sambil memainkan hpnya.
"Iya," ucap Abel. Abel mencari tempat untuk membeli cemilan terlebih dulu, setelah itu mereka segera membeli berbagai cemilan dan minuman lalu melanjutkan perjalananya kembali.
Abel melirik Zea yang tertidur lelap sejak tadi dan kini Abel sudah di kota tetangga, Abel memberhentikan mobilnya terlebih dulu di apotek.
Karena Abel sangat penasaran dan tak yakin jadi dia memutuskan untuk memastikan.
"Selamat pagi mbak ada yang bisa saya bantu?" ucap salah satu penjaga apotek.
"Iya ka, saya beli testpeck ya." ujar Abel.
"Testpack ya mba? Sebentar ya." ucapnya sambil berjalan menuju tempat tetspeck
"Mau yang biasa apa yang premium mba?" Tanyanya membuat Abel terheran.
"Testpack juga ada yang premium ya ka?" Ucap Abel binggung,
"Iya mba yang membedakan hanya harga, fungsi tetap sama." jawabnya ramah.
"Dua-duanya aja deh ka." ujar Abel karena binggung juga ingin memilih yang mana, lalu Abel segera berjalan kembali menuju mobil dan Zea pun masih terlelap.
Abel memasukkan benda itu ke dalam tasnya lalu segera menjalankan mobilnya kembali menuju Mall yang tak jauh dari keberadaannya.
"Ze bangun, udah sampe ni," Abel membangunkan Zea yang tak terusik.
"Zeananda bangun!" ujar Abel terus menggoyangkan Zea.
"Hm," Zea bergumam menanggapi dan masih mengumpulkan nyawa.
"Ayo turun," ucap Abel segera turun dari mobil, Zea mengikuti Abel dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
Saat sampai di toilet Zea segera membasuh wajahnya dan Abel segera memasuki salah satu toilet.
Abel mencari cara menggunakan test pack di internet, lalu segera mengikuti intruksi yang disana. Abel menunggu beberapa saat untuk melihat hasil. Namun saat melihat dua garis yang terpampang disana membuatnya terpaku tak percaya.
Abel menelan salivanya susah payah, lalu menatap perutnya yang datar.
"Engga, salah kayaknya nih test pack." Gumam Abel meyakinkan dirinya untuk tak percaya.
"Gue coba yang premium deh." ucapnya, Abel mengulangi cara yang tadi dia lakukan.
Setelah beberapa saat menunggu dan hasilnya membuat Abel melototkan matanya tak percaya, Abel terdiam seketika tak berkutik menatap test pack yang menghasilkan hasil yang sama.
"Abel udah belum lama banget!" Seru Zea dari luar membuat Abel tersentak.
"Hah-iya bentar!" jawab Abel, Abel menatap test packnya kembali.
"Iya buruan!" Timpal Zea.
"Hamil?" Gumam Abel masih tak percaya, karena saat ini dia sangat sulit mendefinisikan perasaanya bagaimana. Dia senang namun di sisi lain juga dia sedih, karena ke depannya bukan hanya hidupnya saja yang berubah namun masa depannya ikut berubah.
Berpendidikan tinggi dan bisa menjadi wanita karir pun pupus seketika di dalam pikirannya, walaupun dia bisa saja melanjutkan studynya namun Abel pun masih binggung tentang hal itu.
Awalnya Abel tak pernah terpikirkan akan di beri kepercayaan secepat ini, walau dia tau sedang dalam masa subur. Ya Abel telah memberikan haknya pada Naufal beberapa minggu yang lalu, Abel terus menatap test pack itu tanpa tau air matanya terjatuh seketika.
Entah karena merasa sedih atau bahagia.
Tok! Tok! Tok!
"Udah belum? Lo lagi ngapain sih?!" ucap Zea sebal.
"Wait!" seru Abel mengusap air matanya, lalu mengambil tisu membungkus kedua test pack itu dan membuangnya ke tempat sampah yang tersedia disana.
Awalanya Abel ingin menyimpannya, namun takut keluarganya melihat test pack itu. Jadi Abel memutuskan untuk membuangnya saja karena dia tak ingin kehamilannya di ketahui oleh orang lain.
Abel keluar dari salah satu toilet lalu segera mencuci tangan dan merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan.
Setelahnya mereka menghabiskan waktu bersama disana, bahkan Abel pun tak memikirkan bagaimana ke depannya.
🔹🔹🔹
Bersambung...
Just info. Karena ini hanya fiksi dan imajinasi author jadi jangan di sangkut pautin sama real ya, karena umur di bawah 20 tahun seharusnya tidak di anjurkan untuk hamil.
Author juga gak nulis yang terlalu vulgar dan terlalu detail juga takut ga enak di bacanya atau di liatnya hhe, segitu aja jangan lupa vote and komen. See you next part guys!🌿