"Kok elo tiap hari disini sih?" Rere menyesap rokoknya sembari melihat Maya yang sedang tiduran di sofa lepek. Matanya di tempeli timun yang sudah lumayan peot. Maya menemukannya di dalam kulkas. Sayang kalau ditimunin.
Maksudnya dianggurin.
Rere baru saja tiba dikontrakannya, lebih tepatnya kontrakan Maya. Karena yang setiap bulan membayarnya tetaplah Maya. Walaupun Maya jarang sekali unjuk hidung dikontrakannya tersebut.
"Gue hampir tiap sore kesini. Pas lo gak ada"
Rere tidak membantahnya. Karena Rere pun menyadari kalau Maya sering mengunjungi kontrakan yang tiap hari ditempatinya. Terbukti, di saat malam hari ataupun pagi hari, keadaannya sudah berubah menjadi rapih. Semua pakaian kotor Rere pun Maya urus.
Tapi, laundry.
Rere hanya menikmati kehidupannya saja. Kerja, kerja, kerja dengan uang yang tidak seberapa. Bahkan untuk menyewa rumah saja Rere tidak mampu. Life style gadis itu setara dengan istri-istri pejabat komisaris BUMN. Tas branded, kebiasaan minum es teler yang harganya fantastis. Beer hanyalah minuman selingan ketika dia dalam masa krisis ekonomi.
Maka sering sekali Rere meladeni dua pria sekaligus dalam semalam. Pernah sekali dengan tiga pria. Namun, Rere kapok, tidak mau coba-coba lagi karena selepas itu, ia langsung tepar dan absen sehari tidak ke Cambria.
"Lo gak ngasih tau ke Elang kan tentang background gue?" Rere memandangi Maya yang tenang sekali dalam posisinya. Seperti tidak ada beban sama sekali dalam hidup serunyam ini di dunia.
"Ngga lah. Yakali gue jeblosin temen sendiri" ucap Maya sambil terkekeh. Tidak ada nada benci dalam ucapannya. Maya memang sebaik itu. Namun, tidak membuat Rere terenyuh. Rasa dendam masih bercokol dalam hatinya.
Kemudian Rere melihat pergelangan tangan Maya. Entah ada berapa jahitan di lengan wanita itu. Rere tidak peduli. Untuk minta maaf pun, Rere pikir-pikir dulu.
"Kenapa lo bisa kenal Elang?" pertanyaan yang selalu menghantuinya akhirnya tersalurkan.
"Oh. Ada problem dikit. Tapi, udah kelar kok. Gue gak ada urusan lagi sama dia" ucap Maya berat hati.
"Gue gak suka lo deket-deket sama dia"
Maya menyingkirkan timun yang mengahalangi kelopak matanya. Kemudian duduk sila agar bisa berbicara dengan nyaman.
"Jadi, pacar yang sering elo keluhkan itu dia?" Dia yang dimaksud adalah Elang. Mungkin telinga Elang kini sedang panas kemerahan karena sedang jadi bahan pembicaraan sedikit serius pagi ini.
Rere mengangguk samar. Lalu menyesap rokoknya kembali. Abu rokoknya dibiarkan berceceran di lantai.
"Wajar sih, kalo dia mungkin sedikit berbeda yang sering elo keluh-keluhkan ke gue. Secara gitu kan, dia masih SMA. Masih di masa-masa indahnya. Itu sih kata orang, gue kan gak SMA" Maya meringis meratapi nasibnya. Sedangkan Rere masih belum belum mengeluarkan suara dari bibir pucatnya. Mungkin lipstick-nya sudah habis dimakan lelaki.
"Yah, lo juga ngerti lah, umur segitu masih bucin-bucinnya. Belom mikirin apa-apa. Yang dia tau cuma cinta-cintaan. Gue aja sangsi dia mikirin pelajaran sekolah atau nggak" jelas Maya yang membuat Rere menatapnya penuh selidik.
"Kok kayanya lo tau banget tentang cowok gue?" mata Rere memicing curiga.
Maya tergagap "Ehh,.."
"Elo sering ngelayanin dia ya? Iyakan?!" Rere menaikkan intonasi suaranya.
"Ngga Re, gue gak pernah dapet job dari dia. Dia malah ngga tau gue kerja apa"
"Terus kenapa lo bisa kenal dia hahh?!"
"Kan gue udah bilang cuma problem dikit. Dan sekarang udah selesai. Gue gak ada hubungan lagi sama dia" jelas Maya dengan raut serius.
Apalah Rere yang tidak mempercayai siapa pun.
"Anjing! Lo bohong kan sama gue?!" Rere menjambak rambut Maya brutal. Maya memekik kesakitan. "Assh!! Sakit Re" lirih Maya.
Seluruh urat diwajah Maya seperti tertarik hingga nyaris putus. Tatapan Rere sudah dikabuti asap kebencian. Padahal Maya sudah berbicara jujur dan baik-baik. Namun, tetap saja jiwa Rere yang muncul baru-baru ini keluar lagi. Itu membuat Maya bingung.
"Ini belum seberapa jalang! Lo bertahun-tahun nyakitin gue! Bahkan sakit dihati gue sampe sekarang belum hilang! Apa lo sadar bitch?" Bibir Rere bergetar menahan rasa sakit hatinya. Apalagi kini emosinya semakin memuncak melihat wajah Maya yang seakan tidak merasa bersalah.
"Sakit Re. Kita bisa omongin inu baik-baik. Jangan kaya gini. Lo mau bikin gue mati?" tantang Maya karena sudah tidak tahan dengan kepalanya yang hampir copot. Rasa ngilu juga menjalar hingga ke lehernya.
"Mati aja lo sekalian jalang!" Rere menyesap rokoknya dalam. Asap yang keluar dari mulutnya sengaja ia arahkan ke wajah Maya.
"Uhuk..uhuk" Maya memejamkan matanya sambil terbatuk karena perih terkena asap rokok.
Jantung Maya berdetak ketakutan. Rere yang berada dihadapannya kini sudah berubah seperti iblis. Tangan Rere pun semakin menjadi menjenggut rambut Maya.
Maya ingin menangis. Namun, sebisa mungkin ia tahan. Maya tidak ingin terlihat lemah.
"Masih belum mau jujur sama gue?" tanya Rere dingin. Hembusan nafas Rere menyapu wajah Maya.
"Udah sejauh apa hubungan lo sama Elang?" Rere dengan sengaja duduk dipangkuan Maya tanpa melepas tangannya dari rambut Maya.
"Rere! Lo gila!" dengan sekuat tenaga Maya mendorong tubuh Rere dari pangkuannya. Namun, cengkaraman tangan Rere begitu kuat dikepalanya.
"Ahh, shit!" Maya hanya meracau untuk meredam rasa sakitnya.
Melihat Maya yang memberontak membuat Rere semakin bernafsu ingin mencekik Maya.
"Coba jujur, udah ngapain aja sama kesayangan gue?" tanya Rere pelan. Namun, mengerikan.
"Gak.. Re. Ghue.. ghak ngapa-ngapain. Tanya aja sendiri ke laki lo!" Maya menjawabnya dengan nafas terengah-engah. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat akibat rasa takut dan sakit menjadi satu.
Rere pun belum beranjak dari pangkuan Maya. Karena Maya terus memberontak, Rere tersenyum miring mendapatkan ide yang menurutnya brilliant.
"Re.. lo kenapa? Kenapa lo tiba-tiba berubah gini? Hiks" Rere menjetikkan jarinya. Melihat Maya menangis kebahagiaan Rere semakin mengembang.
"Lo mau tau kenapa gue berubah jadi setan?" Rere semakin emosi mendapati Maya yang terus bergerak berusaha melawan "Diem dulu lo pelacur!" Rere menghentakkan kepala Maya dengan keras hingga membentur sandaran sofa.
"Diem! Atau gue gak akan ceritain semuanya!" ancam Rere yang membuat Maya menghentikkan isakannya.
Rere beranjak dari pangkuan Maya "Diem! Awas kalo lo nyoba kabur atau nyari perlindungan!" ancam Rere sambil berjalan menuju tas nya yang tergolek di sofa seberang.
Maya hanya bisa patuh tanpa mengeluarkan suara. Demi sebuah penjelasan, entah apa yang akan Rere lakukan. Tak apa Rere sekarang menyiksanya. Namun, ketika Rere sudah mengungkapkan semua masalahnya, Maya berharap besok Rere kembali menjadi sosok seperti Kakaknya. Jadi, sekarang Maya hanya mengikuti apa kemauan Rere.
Rupanya Rere mengambil belt bajunya "Sini tangan lo dua-duanya!"
Maya menyerahkannya tanpa ragu. Rere tersenyum sinis. Lalu memindahkan rokoknya yang semula di tangan kini bertengger di bibir.
"Wih, gue kira lo udah mati waktu gue sayat nadi lo" Rere tertawa sambil mengelus luka di lengan Maya.
Hati Maya seakan diremas-remas mengetahui Rere sudah berubah jadi iblis. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, meluruh bebas tanpa hambatan.
Sedikit demi sedikit rasa perih dirasakan Maya ketika belt yang mengikat lengannya menekan pinggiran lukanya.
Rere tersenyum puas. Dipandanginya wajah Maya yang basah hingga ke lehernya. Bekas aliran airmata yang tidak membuat Rere iba.
Rere mendongakkan kepala Maya dengan menjambak rambutnya bagian atas. Maya tersentak kaget dan meringis ngilu lagi "Ashh!!"
Maya sudah pasrah.
"Mau tau kan kenapa gue berubah?" suara Rere benar-benar sarat akan kebencian.
Maya mengangguk lemah.
"Haha.. lo gak tau aja gue udah jadi setan dari dulu!!" Rere tertawa sumbang. Tapi, mengerikan.
Maya tidak menanggapi. Biarkan airmata yang merespon semua kata-kata Rere. Maya takut jikalau ia bersuara, maka Rere akan lebih murka lagi padanya.
"Lo gak sadar dengan perbuatan lo dimasa lalu?" Rere menjeda ucapannya. Rokoknya dihisap lagi seolah tidak ada habisnya.
Rere kemudian tertawa lagi.
"Ini buat lo yang udah buat Ayah dan Mama gue cerai" Rere menyulut leher Maya dengan rokoknya. Sedikit ditekankannya rokok tersebut agar Maya kesakitan.
"Aarrghh.. Re!" Maya menggelinjang karena panas yang menjalar keseluruh tubuhnya. Maya lagi-lagi tidak bisa melawan. Tangannya terikat. Rambutnya dalam genggaman Rere.
Maya menangis tidak berhenti tanpa suara. Air matanya terus mengalirkan air kesakitan.
"Oh gak tau ya? Waktu itu, gue sama Mama gue gak sengaja loh, liat Mama lo sama Ayah gue lagi mesra-mesraan dirumah gue. Ahahaha.. bitch. Ibu sama anak gak jauh beda. Pelacur!"
"Miris ya, Mama gue banting tulang sama gue, pulang-pulang disuguhi pengkhianatan sahabat Mama gue sendiri" Rere menyesap kembali rokoknya. Agar nikotinnya tidak padam.
Maya tidak menyangka.
"Lo tau kan? Gue putus sekolah? Disitu pula putusnya keluarga gue! Hancur May, hancur!!" Rere berteriak emosi.
"Oh, bukan itu aja"
Rere menyulut kembali leher Maya dengan rokoknya "Ini buat lo lagi. Karena udah rebut Doni dari gue". Setelah itu Rere tertawa yang sarat akan kerapuhan.
Maya melotot disela kesakitannya "Doni?!! Arghh..."
"Iya, kenapa? Hemm,. Apasih yang dia liat dari diri lo, nyampe gak ngelirik gue. Dulu" rahang Rere melunak setelah melihat dua bulatan mahakarya-nya yang mungkin sebentar lagi melepuh.
Maya tidak bisa menyimpulkan apapun untuk kali ini. Rasa sakitnya sangat mendominasi.
"Ahh, iya. Udah lama gue ketemu lagi sama dia. Makin ganteng aja dia. Dan sialnya, dia nanyain lo terus!" Maya semakin membulatkan matanya.
"Gila ya, dari dulu nyampe sekarang lo gak berenti-berentinya nyakitin gue!" sentak Rere semakin kesal. Tangannya semakin kuat mencengkram rambut Maya.
"Akh.."
"Dan ini... for the last. Lo udah berani-beraninya deketin orang yang gua sayang. Elang Gustian" Rere menekankan puntung rokoknya yang masih menyala hingga padam dileher Maya.
"Argghhhh... hentikan Re!!" Maya histeris karena berkali lipat lebih sakit dari sebelumnya.
Rere seakan tuli tidak peduli dengan raungan pilu yang dirasakan Maya.
"Lihatlah, sayang. Ini bukti cintaku untukmu Elang Gustian" gumam Rere sambil mengusap ketiga luka bakar di leher Maya akibat rokoknya.
"Arrghh" hanya ringisan dan tangisan.
Maya semakin terisak.
"Diam bitch! Gak usah sok-sokan sedih seakan lo korban! Gue yang sebenernya korban disini!!" teriak Rere sambil mengeratkan jambakannya.
"Gue kira lo bakal tersiksa dengan gue masukin ke Cambria, ternyata lo keenakan. Gimana? Enak ya jadi lonte? Hemm,. skill mama lo diwarisin ke lo ya? Bener sih, buah jatuh gak jauh dari pohonnya" Rere tertawa merendahkan.
Maya mendorong dada Rere dengan kedua tangannya yang masih terikat. Rere terjerembab ke lantai.
"Anjing! Berani lo ya sama gue!"
"Elo boleh hina gue, tapi jangan hina Mama gue ataupun keluarga gue!" teriak Maya sambil berdiri.
"Apa bedanya lo sama Mama lo? Sampah!"
"Lo sama dia sama aja! Peng-han-cur!" ucap Rere penuh penekanan.
Maya menjatuhkan dirinya di sofa dengan lemah. Maya kecewa, sakit hati.
"Ahh,. sial. Bener kata lo, gue harus ketemu Elang. Mulut lo terlalu sampah buat jujur!" Rere membuang puntung rokoknya. Kemudian bergegas keluar untuk menemui Elang.
Maya terisak dan memikirkan semua yang sudah Rere katakan. Ternyata dari dulu Rere tak pernah menganggapnya manusia biasanya. Bagi Rere, mungkin Maya adalah binatang yang dia pelihara untuk dimusnahkan.
Rere yang mengajaknya ke dunia malam karena dendam. Dan Doni yang terus-terusan menerrornya, apa ada hubungannya dengan Rere?
Maya hanya bisa berhati-hati. Maya tidak bisa menyalahkan Rere, mungkin ini semua karma yang harus ia tanggung akibat ulah Mamanya dulu.
Jahitan di luka Maya mengeluarkan darah akibat bergesekan dengan belt yang mengikat kedua lengannya.
"Arrghh..."
"Lepasinnya gimana ini?!!"
I wish, a sunshine will shining with a little warmness tomorrow~