H A I !👋
— H A P P Y R E A D I N G —
***
Dengan langkah penuh semangat nya, Ony berjalan cepat sambil menggandeng tangan Eugene yang sejak tadi hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia jadi dibuat berpikir lagi, kenapa putrinya sangat berubah—tidak! Putrinya benar-benar berbeda, bukan lagi berubah.
Didepan pintu utama mansion, Ony tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, begitu pun dengan Eugene yang menghentikan langkahnya dibelakang Ony. Eugene melangkah maju dan berhenti tepat disamping Ony.
"Kenapa, sayang?" Tanya Eugene saat melihat tatapan bingung dari putrinya.
Ony menoleh menatap sang Mommy lalu menunjuk kearah motor besar yang berjejer dihalaman rumahnya, "Itu... Itu kuda besi siapa, Mommy?"
Kening Eugene berkerut dengan samar, "Kuda besi?"
Dengan yakin, Ony mengangguk beberapa kali. "Kata Miss Inna, benda beroda dua dengan stang itu namanya kuda besi lalu yang terbang namanya burung besi karena mirip dengan burung yang memiliki sayap."
Eugene terdiam.
Dibalik pertanyaan Ony, tersimpan harapan. Karena Kakak nya pun selalu mengendarai kuda besi sejenis motor sport itu, dia berharap, jika didalam sana ada Abang nya—Kakak nya yang sangat Ony rindukan. Bibirnya mengecurut melihat Eugene yang tetap diam.
Tangan mungilnya bergerak didepan wajah Eugene, "Mommy?"
Sontak, Eugene kembali tersadar dari keterdiamannya. "Itu motor Abang sama temen-temennya Abang, sayang." Ucap Eugene yang berhasil menerbitkan senyum manis diwajah Ony.
"Abang?!" Pekik Ony dengan semangat, melihat itu Eugene pun menganggukkan kepalanya.
Dengan semangat 45, Ony pun segera berlari memasuki area mansion meninggalkan Eugene yang menatapnya sendu. Dia kira, Ony melupakan putra-putranya, tapi ternyata tidak. Padahal dia berharap kalau Ony melupakan kedua Kakaknya agar Ony tak kembali berubah.
Kembali ke Ony, kini gadis cantik itu tengah mendorong pintu besar mansion dengan mengerahkan seluruh tenaganya lalu segera masuk, dan hal pertama yang Ony lihat adalah punggung para pemuda yang sedang membelakangi nya.
"ABANG ETHAN!" Pekik Ony yang berhasil membuat para pemuda itu menoleh dan menatap terkejut pada wajah Ony yang benar-benar berubah.
Senyum diwajah Ony memudar saat dia menyadari kalau diantara para pemuda itu tidak ada Kakak nya. Berarti, Abang yang dimaksud Eugene bukanlah Abangnya. Ah, kenapa sekarang Ony ingin menangis?
Mamih, Ony rindu Abang. Batin Ony seraya menunduk, dan tanpa bisa dicegah, air mata mulai menetes membasahi pipi chubby nya.
Eugene yang baru memasuki area mansion pun langsung dibuat terkejut saat mendengar suara isak tangis Ony. Dia pikir, Ony kembali dikasari oleh putranya hingga Ony menangis. Tapi pemikiran Eugene salah, karena kenyataannya, Ony menangis karena merindukan keluarganya yang lain.
"Sayang, kenapa?" Tanya Eugene seraya membawa tubuh mungil Ony kedalam dekapan nya, dan disaat itu juga, tangisan Ony semakin keras terdengar.
Disisi para pemuda itu, mereka saling bertukar tatap satu sama lain, merasa bingung dengan perubahan sikap Clava yang mereka kenal. Tentu terkecuali untuk dua orang, dua orang itu adalah Zegran yang tengah menatap lurus ke Ony, dan Renzo yang sedang menunduk, merasa bersalah pada Ony.
"Sayang, udah dong nangisnya. Kamu kenapa, hm? Abang nakalin Ony? Atau Abang ngapain Ony? Bilang sama Mommy biar Mommy hukum Abang." Ucap Eugene seraya melepaskan dekapan nya lalu mengusap lembut sisa air mata dipipi chubby Ony.
Mendengar kata 'hukuman', Ony pun langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak! Jangan hukum mereka, mereka tidak salah kok. Tadi Ony hanya sedih saja karena rindu Siti," Alibi nya.
"Beneran?" Tanya Eugene memastikan yang langsung diangguki dengan cepat oleh Ony.
"Zegran, Jaga putriku!" Ucap Eugene saat Zegran berjalan mendekat. Pemuda itu mengangguk lalu segera menarik lembut tangan Ony menuju sofa, dan Ony tidak menolak.
Disofa, Ony duduk disamping Zegran dengan pemuda itu yang sibuk mengecupi punggung tanganya dan lagi-lagi Ony tak menolak, dia hanya diam sambil menatap polos para pemuda yang kini tengah menatap nya gemas.
"Zio, mereka siapa?" Tanya Ony pada Zegran, dan tanpa Ony sadari, pertanyaan itu berhasil membuat Renzo semakin dalam menunduk.
Zegran mendongak, mengecup sekali lagi punggung tangan Ony sebelum menjawab. "Kenalan sendiri aja gih," Ony pun mengangguk.
"Hai Kakak-Kakak! Kenalin, nama Ony itu Ony! Nama Kakak-Kakak siapa?" Tanya Ony dengan riang nya.
Seakan sadar akan suasana, para pemuda itu pun langsung menatap Zegran yang tengah mengangguk sebagai izin kalau mereka semua boleh berbicara pada Ony.
"Hai Adik cantik, nama Abang itu Albert." Ucap Albert disertai dengan kedipan mautnya yang langsung mendapat pelototan tajam dari Zegran.
Albert menyengir lalu menyengol pemuda disampingnya, "Hai Adik gemoy. Nama Abang Galen," Ucapnya.
Mendengar nama Galen, Ony mengerjab lucu. "Galenjing?" Beo Ony yang berhasil membuat para pemuda itu tersentak kaget.
"Dia emang anjing, Dek! Btw, nama Abang Azriel yang paling tampan sedunia." Ucap Azriel dengan tawa nya saat melihat wajah masam Galen.
Ony mengangguk semangat, "Iya! Abang Galenjing emang anjing banget!"
Memejamkan matanya sejenak, lantas Galen mengelus dada nya sabar. "Sabar Gal, orang sabar gebetan nya semakin banyak!" Gumam Galen pelan.
"Dahlah, kasian si Galenjing. Oh ya, nama Abang Rak—"
"Bukan! Nama dia Asep," Ucap Galen dengan cepat setelah memotong ucapan Rakha.
Mendengar nama yang tak asing, Ony kembali mengerjab lucu lalu bergidik ngeri saat bayangan dimana Asep mengejarnya dan berakhir dengan dia yang menabrak pohon mulai terngiang. Dia menatap takut Rakha dan Zegran menyadari akan hal itu.
"Sep! Cewek gue takut sama lo!" Desis Zegran dengan tatapan nya yang menghunus tajam, dan hal itu berhasil membuat Rakha meneguk saliva nya dengan susah payah.
"Adu duh Adik manis, jangan takut sama Abang ya? Abang gak gigit kok!" Ucap Rakha dengan tatapan memohonnya.
"Asep memang tidak gigit, tapi Asep suka kejar Ony!" Ucap Ony sambil menunduk.
"Skip lah! Gantian ke si pawaketos," Ucap Albert yang mulai menyadari tentang aura tak bersahabat dari Zegran.
Renzo, pemuda itu mendongak seraya menatap sendu Ony yang masih setia menunduk. "Dek, maaf... Maafin Abang," lirihnya yang berhasil membuat Ony mendongak.
"Maaf? Maaf kenapa? Kakak kan tidak salah sama Ony," Ucap Ony seraya mengaruk pipi nya yang tak gatal.
"Pokoknya, maafin Abang." Ucap Renzo dengan tatapan memohonnya.
Kakak tampan itu tidak punya salah sama Ony, jadi harus dimaafin walau Ony tidak tahu salahnya dimana! Batin nya penuh tekat.
"Ony maafin, Abang!"
Renzo tersenyum lebar lalu segera bangkit dari duduknya dan langsung memeluk erat tubuh Ony, dan Ony tidak menolak karena kenyataannya, dia juga merindukan dekapan hangat dari Kakak nya.
***
"Morning all!"
"Morning too, Dear."
Ony tersenyum manis lalu segera melangkah cepat menuju meja makan hingga membuat surai nya yang terikat dua dikiri kanan kepala nya itu ikut bergerak yang semakin membuat wajah nya terlihat menggemaskan.
"Mau sarapan apa, sayang?" Tanya Eugene kala Ony sudah duduk dikursi tempat biasanya yaitu disisi kiri Roderick dan depan Ony ada Eugene.
Senyum manis masih terukir diwajah cantik nya lengkap dengan jari telunjuk nya yang tengah sibuk mengetuk ngetuk dagu nya sambil berpikir, "Ony mau sarapan pakai nasi goreng saja!"
Gadis mungil itu menjawab dengan riang seraya tersenyum manis yang langsung diangguki oleh Eugene. Eugene pun segera mengambilkan nasi goreng untuk Ony lengkap dengan susu strawberry hangat digelas ukuran sedang.
Mereka semua pun makan dalam diam dengan Ony yang menahan sekuat tenaga agar tidak berceloteh, Ony yang biasanya bertingkah bawel pun merasa kesulitan kala harus makan dalam diam seperti keharusaan dikeluarga DC.
Setelah beberapa menit, penyiksaan mulut Ony pun selesai. Gadis mungil itu akhirnya bisa kembali bebas untuk berceloteh, seperti saat ini contoh nya. Ony duduk dipangkuan sang Daddy dengan pandangan yang terfokus pada layar besar dihadapan nya.
"Daddy, kapan Ony dibelikan Siti?"
"Kata Mommy mau membelikan Ony, Siti, terus kapan Siti tiba disini?"
"Daddy, kenapa bulu Siti halus?"
"Daddy, kenapa Siti kecil sedangkan Asep besar?"
"Daddy, kenapa setiap Ony panggil teman dengan sebutan 'anjing' mereka kesal?"
Begitu lah segala macam celotehan yang terucap dari bibir mungilnya, sedangkan pandangan Ony terus terfokus pada layar televisi yang menampilkan kartun dua bocah berkepala botak. Diantara banyak nya celotehan Ony, Roderick hanya membalas ucapan sang putri dengan seadanya saja.
Seperti, "Nanti. Tunggu saja. Karena berbulu bukan bersisik. Siti lagi diet. Karena mereka bukan anjing."
Ya, begitu lah drama pagi di mansion DC. Kalau kalian tanya dimana Renzo, pemuda satu itu sedang bersekolah. Makanya di mansion yang super mewah ini, hanya ada Ony, Roderick dan Eugene.
Drrtt Drrtt ...
Suara getaran ponsel berhasil mengalihkan atensi ketiga nya, Eugene yang merasa ponsel nya berbunyi pun langsung menekan tombol hijau dan mendekatkan nya ke telinga.
"Ya, ada apa?"
"Maaf menganggu dipagi hari, Nyonya. Saya hanya ingin memberi tahu tentang meeting pagi ini bersama pihak Blue Cafe."
Eugene menganguk, "Ya. Saya akan segera kesana," Ucap nya sambil melirik Ony yang masih asik menonton kartun.
"Baiklah, terima kasih dan maaf sudah menggangu, Nyonya."
"Hm, saya tutup."
Tutt.
Tatapan mata hazel itu beralih menatap wajah menggemaskan sang putri lalu segera mengecup pipi chubby itu sekilas. Sebenarnya agak berat kalau harus meninggalkan Ony, karena niatnya hari ini dia ingin menghabiskan waktu bersama putri nya.
"Mommy, mau kemana?" Tanya Ony seraya mengerjab polos menatap Eugene.
"Mommy pergi sebentar ya, sayang. Ada kerjaan yang harus Mommy urus," Ucap Eugene dengan senyum lembut nya.
Walau tak rela, Ony tetap menganguk dengan bibir mengerucut kesal yang berhasil membuat Roderick terkekeh gemas melihatnya. Tak hanya Ony, Eugene pun tentu tak rela kalau harus pergi.
"Yaudah deh, hati-hati ya, Mommy!"
"Tentu, sayang."
Setelah nya, Eugene pun berlalu pergi menuju tempat meeting dilaksanakan sedangkan Ony masih asik menonton kartun kesukaan keduanya itu. Tak lama ketenangan yang Ony rasakan mulai buyar kala ada seseorang datang.
Seorang perempuan berpakaian khas maid itu membungkuk menaruh sebuah nampan berisi segelas teh hangat ke atas meja dengan gerakan lambat seakan akan membiarkan Tuan nya melirik sejenak ke arah dada sintal nya namun Roderick malah sibuk memainkan rambut putrinya.
"Tuan, ini teh hangat nya." Maid itu berucap dengan nada yang dibuat manja plus dilembut lembutkan yang berhasil mengalihkan atensi Ony.
Mata bulat Ony mengerjab polos menatap maid itu, "Dad. Aunty itu yang sudah jahatin, Ony! Aunty itu Aunty jahat, Dad."
Pekikan dari bibir mungil Ony berhasil membuat maid itu memelotot kaget sedangkan Roderick hanya santai saja sambil sesekali mencuri kecupan di pipi chubby putrinya yang bak bakpao itu.
"Daddy! Dia itu Aunty jahat, dia yang sudah mendorong Ony terus membenturkan kepala Ony ke benda keras juga menampar pipi Ony." Adu nya pada sang Daddy yang berhasil membuat Roderick diam diam mengepalkan tangan.
Tapi Roderick tak mau rencana nya gagal, jadi lebih baik dia pura pura tak percaya saja. "Sayang, gak boleh nuduh orang sembarangan loh. Memang nya Ony punya bukti?"
Mendengar ucapan sang Daddy yang seperti tak mempercayainya berhasil membuat Ony mengerucutkan bibir nya kesal lalu menatap garang maid itu yang jatuhnya malah menggemaskan dimata Roderick.
"T-tuan... Saya tidak pernah melukai dia, saya berani bersumpah, Tuan." Ucap maid itu membela diri yang semakin membuat Ony menatap nya garang dengan mata bulat yang memelotot.
"Aunty! Aunty tidak boleh asal bersumpah, bagaimana kalau sumpah Aunty itu akan menjadi timbal balik dikehidupan Aunty kedepan nya? Ony bukan berniat menuduh Aunty, tapi Ony berbicara jujur karena Ony selalu diajarkan untuk tetap bersikap sopan dan selalu jujur pada siapa pun, termasuk orang jahat sekali pun."
Tanpa Ony sadari, Roderick kini tengah menahan senyum nya mati matian karena terlalu bangga akan ucapan Ony yang terbilang bijak itu. Ntah bagaimana, tiba-tiba saja dia merasa bersalah karena dulu terlalu sibuk bekerja hingga tak bisa melihat pertumbuhan putri bungsu nya, tapi lihat lah sosok berbeda itu! Sungguh mengagumkan.
Berbeda dengan Roderick, maid itu malah terdiam dengan wajah memerah menahan emosi juga malu karena dia merasa diejek oleh gadis mungil didepan nya itu. Ingin sekali dia mencakar wajah mulus itu tapi dia harus menjaga sikap karena sekarang ada Roderick sang pujaan hatinya.
"K-kau!" nafas maid itu sedikit tercekat kala merasakan aura berbeda diruangan itu yang tentu berasal dari Roderick, karena pria itu kini menguarkan aura dingin nya.
"Dad, bukan maksud Ony untuk menuduh tanpa bukti. Ony hanya berucap tentang kebenaran yang memang Ony rasakan, dia bukan orang baik tapi Ony juga bukan orang baik..." Ony menjeda ucapan nya seraya bangkit dari pangkuan Roderick.
"... Ony ke kamar dulu ya, Dad. Ony mau istirahat," Ony tersenyum manis lalu segera pergi meninggalkan Roderick dan maid itu.
Aura diruangan itu semakin mencekam kala Roderick terus mengepalkan tangan nya menahan emosi yang menggebu didalam dirinya, dia benar benar merasa bersalah pada putri bungsu nya itu. Tanpa menunggu lama, Roderick pun bangkit dari duduk nya dan segera pergi.
Kini hanya ada maid itu yang tengah tersenyum kemenangan seakan akan dia berhasil menarik perhatian Roderick dan membuat Roderick memihak nya, namun bodoh nya maid itu, dia tidak pernah tahu apa alasan Roderick melakukan drama sialan itu.
Aku menang kali ini gadis sialan!
***
SPAM KOMENT YAA!! SAMPAI KETEMU DINEXT CHAPTER.
PAPAY!