Happy Reading!
Sesuai judul, ini nasih lanjutan dari flashback 10 tahun lalu ya.
***
Nelayan bernama Hari itu terbingung melihat seseorang yang masih berbaring di tikar, matanya masih terpejam. Sudah 7 jam setelah Alvian pingsan, dan Hari masih bingung ingin melakukan apa. Pria itu sudah membersihkan noda luka dan darah yang ada di tubuh Alvian, ia juga dengan hati-hati mengganti pakaian orang yang pingsan itu.
"Pak, kita bawa ke klinik aja. Itu kayaknya parah," kata seorang wanita remaja bernama Tiara, anak dari Hari.
"Bapak sih maunya gitu, tapi kalo ke Klinik itu bayar Ra, Bapak kan belum jual ikan mau ada uang dari mana," kata Hari sambil terbingung.
"Kali aja dia ada dompet, kita liat aja ada uang nya gak, kalo ada pake uang bapak ini aja." ide dari Tiara itu di dengar oleh Hari. Dengan segera Hari memeriksa jaket milik Alvian sambil meminta maaf dalam hati karena telah lancang. Pria itu menemukan dompet milik Alvian, dan tersenyum.
"Tuh kan ada, ayo buruan bawa ke klinik Pak, nanti keburu terjadi apa-apa sama Bapak ini." kata Tiara sambil melirik ke Alvian.
"Ra, kamu ambil jaket Bapak, ya, kamu juga ganti celana, masa ke klinik pake celana selutut." sempat-sempatnya Hari posessif kepada anaknya. Dasar. Namun perintah itu di turuti oleh Tiara.
Untung saja klinik jaraknya tidak begitu jauh, sehingga kini Hari sedang melakukan pembayaran di loket sedangkan Tiara menemani Alvian yang sedang diperiksa dokter.
"Bu dokter, bapak ini kenapa ya? Dia pingsan sejak 7 jam yang lalu."
"Boleh saya tau kronologi kejadiannya?" tanya si Dokter dan Tiara mengangguk.
"Jadi sekitar 7 jam yang lalu, bapak ini datengin bapak saya yang mau pergi untuk jualan ikan. Kata bapak saya, dia awalnya minta tolong lalu kemudian pingsan. Bapak saya juga bingung dok, tapi sama bapak saya malah di bawa pulang. Eh dia masih belum sadar sampai sekarang."
Dokter itu menghela nafas lalu tersenyum tipis. "Dia hanya trauma, mungkin trauma karena suatu benturan yang keras. Biasanya trauma seperti ini akan segera pulih, tidak perlu khawatir. Jika dalam 2 jam ke depan dia tidak siuman, panggil saua lagi. Oh iya, beri dia obat ini jika dia siuman nanti." kata si Dokter sambil memberikan 2 pil obat yang tentu Tiara gak tau itu obat apa.
Setelah kepergian dokter itu, Hari datang sambil membawa minuman, lalu minuman itu ia beri untuk Tiara.
"Kamu pulang aja Ra. Kamu capek loh nanti."
"Engga pak, bapak aja yang pulang. Ara mau disini, bapak yang lebih capek. Bapak tadi malem tangkep ikan, dan ga tidur sampai sekarang. Gapapa, bapak pulang aja. Ara bisa ngurus disini kok." kata Ara memastikan dan Hari hanya tersenyum sambil mengangguk.
***
"Pak, obat yang ini di minum ya. Tadi kata dokter, setelah siuman bapak teh harus minum obat ini." kata Tiara dengan sopan kepada Alvian.
20 menit yang lalu akhirnya Alvian tersadar, walaupun pria itu masih lemas ia tetap menurut dan meminum obat itu.
"Makasih, nak." kata Alvian setelah meminum obatnya.
"Bapak masih pusing gak? Perlu Ara panggil dokter?"
Alvian hanya menggeleng, lalu tersenyum. "Saya udah gakpapa, nama kamu Ara?" pertanyaan tiba-tiba dari Alvian hanya diangguki oleh Tiara.
"Saya tebak, kamu masih kelas 6 SD atau kelas 1 SMP?" tanya Alvian lagi.
"Saya kelas 6 SD pak, tapi bapak gak usah khawatir. Saya bisa ngurus bapak kok. Soalnya bapak saya capek, dari semalem belum tidur." sahut Tiara lagi.
Alvian tertawa. "Saya punya anak seumuran sama kamu, namanya Alvan. Dia ganteng, kamu cantik. Mau gak sama anak saya nanti kalau udah besar?" candaan Alvian itu membuat Tiara tidak mengerti, tentu saja. Gadis itu pasti masih polos.
"Hahaha, lupain aja. Saya cuma bercanda. Oh iya, kapan saya bisa pulang?"
"Tadi bu dokter gak bilang bapak bisa pulang kapan, sebentar biar Ara panggil dokternya dulu." kata Tiara lalu pergi dari ruangan itu. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa seorang dokter perempuan.
Dokter itu langsung memeriksa keadaan Alvian, menanyakan apakah pria itu punya keluhan atau tidak, pusing atau tidak dan berbagai pemeriksaan. Setelah itu semua, sang dokter memutuskan untuk memulangkan Alvian dan memberikan beberapa obat untuk diminum pria itu.
Dan disinilah Alvian berada, ia sedang menaiki motor dengan Hari yang memboncengnya. Hari akan mengantarnya ke terminal bus, Alvian akan kembali ke rumahnya. Ia akan meminta maaf kepada anak dam istrinya karena membuat mereka khawatir.
Setelah sampai di Bus, Hari mengerikan alamat rumahnya kepada Alvian dengan tujuan ia berharap Alvian bisa berkunjung lagi ke rumahnya. Alvian sangat senang, karena di tolong oleh orang sebaik Hari.
Sudah 3 hari setelah kejadian menyeramkan itu. Alvian bersyukur, Tuhan menjamah doa'nya, Tuhan mendengarkannya dan memberikannya kesempatan. Ini suatu mujizat, Tuhan memang sungguh hebat.
Bus berjalan menuju Jakarta, perlu waktu 1 hari untuk sampai di sana. Alvian memejamkan mata dan tertidur, ia sungguh sangat lelah.
"Taxi!" Alvian memberhentikan Taxi yang lewat, ia sudah tiba di terminal lalu segera menaiki taxi yang akan mengantarkannya ke rumah.
Pekarangan rumahnya sudah bisa ia lihat, ia tersenyum melihat istrinya sedang ada di luar. Namun keningnya berkerut.
"Pak, berhenti dulu disini." kata Alvian. Taxi itu tepat berhenti di depan rumah tetangga Alvian yang bersebelahan dengan rumahnya. Alvian memakai masker dan membuka sedikit jendela taxi itu. Lalu ia mendengar percakapan yany terjadi di rumahnya.
"MAH!" Pekik Vera sambil menangis.
"VERA MAU IKUT MAMA ATAU NGGAK?!" teriak Kania.
"VERA GAK MAU JAUH DARI VIE SAMA ABANG."
"KAMU HARUS IKUT MAMAH, KEMBARAN KAMU ITU PEMBUNUH VERA!"
"MAMAH, VIE MOHON MAAFIN VIERRA." Kata Vierra sambil menangis dengan kencang.
"Mah, Alvan akan benci sama Mama kalau Mama pergi ninggalin Alvan sama Vie."
"ALVAN, MAMA UDAH AJAK KAMU. TAPI KAMU GAK MAU, JADI TERPAKSA KAMU MAMA TINGGAL."
"MAKSUD MAMA, ALVAN HIDUP BAHAGIA DI SWISS TAPI BIARIN ADIK ALVAN MENDERITA DISINI MAH? MAMA UDAH GILA? TERNYATA MAMA SEEGOIS INI HAH?!"
plakk!
Sebuah tamparan yang membuat Alvian tercengang, apa yang barusan itu istrinya? Sebenarnya ini ada apa? Dia masih bingung.
"ALVAN KAMU HARUS SADAR, BAHWA ADIK KAMU INI ADALAH SEORANG PEMBUNUH. KALO AJA DIA GAK PAKSA SUAMI SAYA UNTUK PULANG, PASTI SUAMI SAYA GAK AKAN JADI KORBAN KECELAKAAN ITU DAN MASIH ADA SAMPAI SEKARANG."
"Mah, itu udah tak—"
"BAHKAN SAYA MENYESAL, KARENA TELAH MELAHIRKAN DAN MEMBESARKAN SEORANG PEMBUNUH SEPERTI DIA. SAYA MENYESAL ALVAN!"
Dada Alvian bergemuruh, tangannya terkepal emosi. Keningnya berkerut, ia menggeretakkan giginya saat mendengar jeritan yang seperti itu dari Kania.
"VIERRA, BAHKAN KAMU PANTESNYA MATI SETELAH BUNUH PAPA KAMU SENDIRI!" Teriak Kania lagi. Yang semakin membuat Alvian emosi di dala mobil itu.
Alvian melihat Kania yang membawa paksa Vera yang hanya bisa menangis, matanya juga melihat tubuh Vierra yang sedikit merah. Sepertinya, Kania memukul Vierra. Tidak lama setelah itu, mobil Kania lewat tepat di sebelah taxi yang ia naiki. Alvian mengalihkan pandangannya, takut Kania melihatnya.
Emosinya makin bergejolak saat melihat Vierra teriak sambil mengejar mobil Kania dengan Alvan yang berusaha menahannya.
Hatinya teriris rasa sakit yang begitu dalam.
Princess kecil yang dengan susah payah ia buat bahagia, kini menangis karenanya. Princess kecilnya yang dewasa, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
"Pak kita cuma diam disini aja?" kata si sopir taxi dengan sinis.
"Ehm, maaf pak. Lanjut aja." sahut Alvian.
Taxi itu kemudian berjalan lurus, melewati 2 orang anak yang saling berpelukan dan menangis. Alvian dengan emosinya saat itu memilih untuk tidak akan pulang.
Ia kecewa dengam keadaan, ia kecewa dengan takdir, ia kecewa dengan dirinya sendiri, dan ia kecewa terhadap istrinya.
Untuk apa ia masih hidup jika pada akhirnya ia melihat anaknya itu menangis? Sungguh, Alvian lebih baik memilih mati daripada melihat putri kesayangan menangis seperti tadi.
Emosi yang Alvian miliki menimbulkan rasa egois yang besar dalam dirinya. Sehingga ia memilih untuk pergi meninggalkan keluarganya, dan memulai hidup sendiri di tempat yang lumayan jauh dari rumahnya.
Taxi itu kemudian berhenti di sebuah Apartement, tempat yang akan Alvian tinggali.
Tanpa ia sadari, keputusan dari keegoisan itu membuat malapetaka baru dalam kehidupan Vierra.
Dan sekarang, Alvian menyesali keputusannya itu.
The end.
Maksudnya yang end itu flashback nya. HAHAHA. Part selanjutnya menceritakan kelanjutan cerita di part 38 yyaa!
Gimana cerita ini? Alurnya makin biasa aja ya?
Cringe ga sii?
Jangan lupa vote and comment nya yaa, dan share cerita ini ke temen-temen kaliaan buat dibaca jugaa.
Makasii udah stayy di cerita ini. Papaiiii!
See uu <33