"Jadi kau sudah mempersiapkan segalanya sejauh itu Zhan?" Xingchen mencela disela penjelasan prof. Zhang.
"Bagaimana pun aku mau Xiao Yi hidup layak semisal aku mati saat melahirkannya dulu" jelas Zhan.
"Jadi maksudmu saat dulu aku menculikmu, kau sudah hamil?" Haoxuan bergidik ngeri, mengingat kembali bagaimana anak buahnya memukuli tubuh Zhan kala itu.
"Iya, aku berusaha untuk tidak mati saat itu, tapi pesuruh ayah justru menargetkan bagian perutku" balas Zhan malas.
"Kau keterlaluan, Hao!" Xingchen dan prof. Zhang mengatakannya hampir berbarengan.
"Maaf, tapi jujur aku tidak mengetahui hal itu"
"Lalu darimana ayah tahu Zhan mengandung anakku? Tidak mungkin ayah mau menerima Zhan tanpa alasan" desak Yibo.
Simon menghela nafas panjang, "Hanhan memberikan rekam medik Zhan pada ayahmu, dan awalnya ia tidak menerima fakta itu, tetapi Hanhan meyakinkan ayahmu dengan menyebutkan jika ayah mertuaku akan sangat murka kalau anak didiknya tidak diperlakukan secara manusiawi olehnya"
Yibo terbelalak, "Jadi Zhehan yang menghancurkan rencanaku?"
"Rencana apa Wang Yibo?!" Zhan melirik tajam kearah suaminya.
"Aku tahu kau memiliki anak dan aku tahu bagaimana kau menutupi seluruh administrasi mengenai Xiaoyi dari temanku, aku tidak mau menyebutkannya siapa, tetapi disaat aku mau membawamu kembali, pak tua itu justru terus menekanku dan memberikan kesepakatan jika dia akan menerimamu dengan syarat aku bisa mengembalikan posisi perusahaannya, aku tidak berdiam diri selama enam tahun... Aku jelas memantaumu dari jauh" aku Yibo.
"Beginikah cara kalian memperlakukanku? Apa aku tidak lebih dari mainan dimata kalian?!" pekik Zhan. Tubuhnya gemetar hebat ia bahkan tidak tahu mengapa ia menangis.
Yibo lantas memeluk tubuh Zhan, mengusap lembut punggungnya.
"Aku tidak mempermainkanmu, aku berusaha mendapatkanmu kembali sayang" bisiknya.
"Jadi ambisimu saat itu adalah membawa Zhan pulang? Kenapa kau tidak bilang padaku?" Haoxuan seketika dongkol.
"Bukankah ayah marah padaku karena mengejar laki-laki tanpa latar belakang yang jelas? Tetapi ayah sendiri tahu siapa Zhan mengapa tidak terbuka padaku?" dengus Yibo.
Haoxuan terdiam sejenak, "Aku hanya berusaha memberikan hadiah untukmu dan Xiao Zhan, tetapi aku tidak pernah menyangka keadaan menjadi sekacau ini"
"Ya, dunia terlalu sempit" timpal Xingchen.
"Kalian ada hubungan apa dimasalalu? Maaf aku lancang tapi aku mengetahui pesan yang ada di foto ayah" Yibo menuntut sebuah penjelasan.
"Xingchen mantan kekasihku" tukas Haoxuan.
Prof. Zhang menggeleng tak percaya, "Mereka teman satu universitas dulu, sebenarnya kami bertiga, tetapi Hao terlalu takut untuk mengejar Chenchen dan membiarkan ayahmu menikah dengan wanita yang dipilihkan oleh kakekmu, karena dahulu perekonomian keluarga Wang jauh dibawah keluarga Xiao" jelasnya singkat.
"Pantas saja Ayah selalu menurut pada tuan besar Wang, ckck!" decih Simon.
"Bisa kita kembali ke poin utamanya?" Zhan mendengus kesal.
"Oh, mengenai Zhehan... Yaa, aku tahu tiga bulan setelah kau pergi ke luar negeri hanya saja aku tidak bisa melacakmu, jadi aku lebih memilih mendekati perusahaan Xiao, dan siapa sangka Xingchen sedang terpuruk karena kebodohannya sendiri" kikik Haoxuan.
"Aaah, Inikah alasanmu tidak menunjukkan diri secara langsung padaku tuan Wang?" Simon mengintimidasi Haoxuan.
"Ya, karena aku mau melihat Xingchen saat jamuan makan malam saja, aku tahu bagaimana keras kepalanya ayahmu, jadi terpaksa aku menyuruh sepupu Yibo untuk turun tangan" akunya.
"Jadi semua sudah kalian rencanakan?!" decak Yibo tak percaya, namun terselip sebuah senyum diakhir kalimatnya, setidaknya ia tenang karena tahu Zhan akan dinikahkan padanya bagaimana pun juga.
"Hmm" Xingchen mengangguk, "Tapi itu murni karena ketidak tahuanku dan kondisi perusahaan pada awalnya"
Berbanding terbalik dengan Zhan, ia sudah meredam kekesalan sedemikian rupa, tangannya mengepal dikedua sisi tubuh.
"Aku membenci kalian!" ucap Zhan tergugu, air matanya sudah merembes membasahi pipi. Sontak perubahan emosinya membuat semua orang waspada.
"Sayang, aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini" Yibo berusaha menenangkan Zhan.
"Aku berusaha baik. Aku menjauh demi ketenanganku, kau kira aku bisa menahan seluruh perlakuan kasar, dilecehkan secara seksual hanya karena sebuah kesalahpahaman? Aku menanggung segala sakitku sendirian, aku lelah. Kalian bahkan tidak tahu bagaimana perlakuan kalian merusak mentalku" teriak Zhan histeris.
"Dan saat aku kembali ke China pun aku masih diperlakukan secara tak layak, aku berusaha menutupi segala, aku berusaha baik, tapi apa yang ku dapat! Tidakkah pernah kalian berpikir dengan menjadikanku bagian dari perjanjian bisnis itu sama halnya kalian bermaksud menjualku? Apa aku hanya sebatas barang dimata kalian?!!!" Zhan tersengal, degup jantungnya memburu hingga membuat dadanya kian sesak.
"Zhan, maafkan ayah" Xingchen mecoba mendekat kearah Zhan namun ditahan oleh Yibo dan Simon.
"Apakah dengan maaf bisa mengembalikan waktuku? Hidupku hancur! Inikah dosa yang harus aku pikul saat dahulu anak bernama Xiao Zhan memilih menjadi seorang dokter daripada melanjutkan pendidikannya dibidang bisnis? Beginikah cara ayah menghukumku?!!!"
"Zhan..." Yibo mengusap lembut pipi prianya, ia tidak bisa berkata-kata lagi, karena disatu sisi Yibo turut andil menorehkan luka pada Zhan.
"Dan kau tuan Wang yang terhormat! Aku pergi meninggalkanmu semata-mata ingin memberikan kehidupan yang jauh lebih baik daripada kau harus menjadi seorang gay dan menentang ayahmu! Aku sama sekali tidak memberitahu aku hamil karena kau pasti menyangkalnya! Aku tahu kemungkinan terburuk itu, AKU TAHU!!!" Zhan semakin hilang kendali.
Yibo tak kuasa menahan air matanya, ia bahkan berlutut dihadapan Zhan, membenamkan wajah kepangkuan lelaki manis ini.
"Gege, sudahlah... Kami disini tidak bermaksud mengungkitnya, dan maafkan karena aku tidak peka saat itu. Cobalah berdamai dengan masalalu mu ge, roda kehidupan akan terus berjalan sekarang kita semua keluarga" Simon berusaha berbicara lembut, meski hatinya sedikit kesal karena tahu siapa saja orang-orang yang sudah membuat Zhan terluka.
"Keluarga kau bilang?! Ayah mertuaku menerimaku hanya karena aku anaknya Xingchen, dan ayah menerima keadaanku semata-mata karena janjinya pada Haoxuan. Jika memang kalian adalah keluargaku harusnya kalian ada disaat aku menghilang, paling tidak mencari keberadaanku sekali saja! Satu-satunya orang yang aku anggap sebagai keluarga disini adalah profesor Zhang! selebihnya hanya bedebah egois yang mempermainkan hidupku!" geram Zhan.
"Ge~" Simon memelas.
"Kalau ayah dan tuan Wang tidak saling mengenal aku tidak mungkin bisa bersatu bersama Yibo, kau tahu itu Simon!" ringis Zhan.
Hati Simon mencelos, ia tentu paham watak keras ayahnya dan bisa saja Zhan benar-benar mati ditangan sang ayah jika pada kenyataannya Xiaoyi bukan anak Yibo.
•••••
Yibo mondar mandir tidak jelas didepan bilik toilet, ia tidak diperbolehkan Zhan masuk kedalam mengingat sekarang masih berada dikantor dan Zhan tidak mau menjadi pusat perhatian kalau-kalau karyawan Yibo mendapati keduanya keluar dari pintu yang sama.
Didalam toilet sendiri Zhan hanya duduk diam, ia tidak membawa apapun bersamanya, prof. Zhang sudah menggeledah seluruh saku Zhan untuk meminimalisir kemungkinan terburuk Zhan menyakiti dirinya.
Hanya saja, ada suatu tempat yang terlewatkan.
Zhan mengambil pisau lipat dari dalam sepatu kirinya, senyum miring menggunjing dibibirnya kala ia membuka pisau berbahan stainless keabuan tersebut, sedangkan dibagian lipatan kerah turtleneck-nya sudah terselip beberapa obat penenang.
Enam pil kecil berwarna kekuningan ia tenggak bersamaan, sementara lengan bajunya sudah disingkap, memperlihatkan bekas sayatan yang dulu pernah tertoreh disana. Lagi-lagi Zhan mengoyak kulitnya, ia menekan dalam pisau itu, menariknya hingga tercipta sebuah luka sepanjang 7 senti yang melintang dipergelangan kanannya, nampaknya Zhan memang sudah menyerah menjadi seorang dokter.
Pandangan Zhan sedikit mengabur diiringi degupan kencang karena tubuhnya sudah bereaksi dengan obat penenang itu, bukankah selama hamil ia tidak diperbolehkan meminumnya?
Disisa kesadarannya Zhan menggenggam pisau dengan tangan kanan yang sudah gemetar hebat, ia kini menjadikan lengan kirinya sebagai tempat pelampiasan kekesalan, sayatan ditangan kirinya tidak begitu dalam namun cukup banyak. Kegilaan Zhan berakhir saat tubuhnya yang menggigil perlahan tidak berasa, matanya menutup dan pisau lipat terlepas dari genggamannya...
Klontaaang...
Dentingan benda jatuh mengalihkan atensi Wang Yibo, dan betapa terkejutnya ia mendapati lantai dibawah pijakannya sudah berubah menjadi merah sempurna, tanpa pikir panjang Yibo mendobrak pintu toilet, persetan dengan bahunya yang memar atau bahkan luka.
Tubuh Wang Yibo meringsut melihat keadaan mengenaskan dari prianya, ia lalu menampar pipinya, berusaha mengembalikan kesadarannya sebelum menggendong tubuh Zhan keluar. Yibo tidak peduli pakaiannya berlumuran darah, ia menatap dingin siapa pun yang dilewatinya.
Beruntung ia bertemu Simon yang berniat ingin menyusulnya dan Zhan saat dirasa kedua pria ini terlalu lama di toilet.
"Aku tidak bisa menjelaskan apa pun sekarang, sebaiknya kita bawa Zhan kerumah sakit terlebih dahulu" desis Yibo mendahului Simon kearah lift.
"Pakai mobilku saja, dan biar nanti aku hubungi ketiga pak tua sialan itu!" timpal Simon.
.........
Zhan baru saja dilarikan keruang operasi darurat, ia mengalami overdosis selain itu luka dipergelangan kanannya juga cukup dalam dan mengharuskan Zhan mendapat beberapa jahitan.
Diluar sendiri semua sudah berkumpul menunggu kabar dari dokter yang menangani Zhan.
"Aku tidak mengerti cara pikir kalian, bukankah itu terlalu berat bagi Zhan?" Hanhan bersedekap, sebenarnya pertanyaan tadi tertuju pada Yibo dan Simon namun disana justru tuan besar Wang yang menanggapinya kemudian meminta maaf.
"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Yibo lemas.
"Aku tidak berani menjamin" Hanhan mendelik acuh.
"Sayang, kau kasar sekali pada gegemu" Simon berusaha menurunkan emosi kekasihnya.
Hanhan mencebik, "Bayangkan saja dia sedang hamil, dan kau tahu bagaimana efek dari obat penenang milik Zhanzhan? Itu cukup keras, dia menelannya begitu banyak ditambah luka dipergelangannya jelas mengenai tendonnya, kau pikir Zhan bisa sembuh dalam hitungan hari? Aku bahkan pesimis jika ia bisa kembali ke meja operasi dalam kurun waktu satu tahun kedepan"
"Separah itu?" Yibo bergidik ngeri.
"Dia sudah mencapai batasnya, aku juga sudah mewanti-wanti padamu, kenapa kau justru tidak bisa menahan ketiga orang tua tadi hah?!" semprot Hanhan pada Simon.
"Maafkan aku"
"Mencapai batas?" tanya Yibo bingung.
"Ya, bukankah kau sudah melihat sendiri selama Zhanzhan hamil ia lebih sering ketakutan atau mimpi sampai mengigau, kau bahkan pernah melihatnya menyakiti diri sendiri, kan?"
Yibo mengangguk.
"Itu tanda bahwa ia sudah tidak bisa menahan rasa tertekannya, kemungkinan yang terjadi adalah ia colaps atau justru melampiaskan perasaan sakit itu pada bagian tubuh lainnya, semacam meminum obat penenang, minum alkohol atau melukai diri sendiri" jelas Hanhan.
"Sejak kapan kakakku memiliki kecenderungan seperti ini?" tanya Simon penasaran.
Hanhan menghela nafas berat, "Sejak akhir masa sekolah menengah, terlebih saat ia tidak diterima lagi di keluarga Xiao dan mendapat kekerasa verbal, fisik serta seksual"
Yibo tertawa hambar, "Dan aku melakukan ketiga penyiksaan itu ke Zhan secara berulang"
"Bangsat!" sebuah pukulan keras Simon layangkan membuat Wang Yibo tersungkur kelantai.
"Aku tahu siapa yang mencoba memprovokasi kalian, hanya saja sebaiknya kita mengesampingkan orang ini demi kebahagiaan Zhan" tambah Hanhan.
....................................