Semua Karakter Harry Potter milik JK. Rowling
.
.
.
Happy Reading Guys...
Hogwarts Express telah berhenti, sepertinya kami benar-benar sudah sampai. Kami semua pun berjalan turun. Saat turun aku melihat seorang pria bertubuh besar, dan juga aku melihat kedekatannya dengan Harry. Apakah itu Hagrid? Rubeus Hagrid? Sepertinya benar.
-Rubeus Hagrid-
"Dengar. Siswa tahun pertama harap lewat sini!" Katanya Hagrid dengan sedikit berteriak.
"Ayo, tahun pertama, jangan malu-malu. Ayo cepat." katanya lagi. Lalu kami semua pun pergi menghampiri Hagrid, aku dapat melihat Ron yang terpesona saat melihat Hagrid.
"Ayo naik perahu. Ayo ikuti aku." Katanya lalu berbalik dan berjalan, lebih tepatnya membimbing jalan.
Setelah itu kami pergi ke Hogwarts menaiki perahu, masing-masing perahu dihuni oleh 3 sampai 4 orang. Saat perahu berjalan menuju Hogwarts aku sudah dapat melihat betapa megahnya Hogwarts lewat mata hitamku yang berbinar binar.
Sesampainya di sana, kami semua menaiki tangga lalu disambut oleh wanita memakai topi panjang? dan juga pakaian seperti jubah berwarna hijau gelap. Dia tampak cantik (Wanita itu) menurutku. Yang aku tau dia adalah Professor Minerva McGonagall.
-Minerva McGonagall-
"Selamat datang di Hogwarts." Sambutnya.
"Beberapa saat lagi, kalian akan melalui pintu ini dan bergabung dengan siswa-siswa lainnya. Tapi sebelum kalian boleh duduk, kalian akan diseleksi berdasarkan asrama. Asramanya adalah Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw dan Slytherin." Katanya sedikit panjang lebar. Saat ini aku dapat melihat bahwa Draco tersenyum puas atau dapat dibilang kebanggaan saat asrama Slytherin disebutkan. Aku hanya menyimak saja.
"Selagi kalian tinggal disini, asramamu adalah keluargamu. Tujuan kalian adalah memenangkan nilai. Pelanggaran aturan akan menyebabkan kehilangan nilai. Di akhir tahun, asrama dengan nilai terbanyak mendapat Piala Asrama." Lanjutnya berbicara, namun ucapannya sedikit disela oleh seorang anak laki-laki.
"Trevor!" Serunya sambil berjalan maju kedepan dan mengambil seekor katak, ku pikir itu adalah hewan peliharaanya.
Lalu anak laki-laki itu sedikit terlihat takut saat meliahat Professor Minerva. Namun, untungnya Professor tidak mempermasalahkannya. "Maaf." Kata anak laki-laki itu. Saat melihat kejadian itu, aku teringat saat Hermione menanyakan seekor katak. Sepertinya dia adalah Neville, Neville Longbottom.
"Upacara Seleksi akan segera dimulai." Kata Professor Minerva, lalu ia berbalik berjalan pergi.
"Kalau begitu benar apa yang dikatakan Rigy saat dikereta tadi." Kata Draco, beberapa orangpun menoleh kearahnya, begitu juga dengan diriku.
"Harry Potter telah tiba di Hogwarts." Lanjutnya. Aku dapat mendengar bisikan-bisikan tantang Harry.
"Kenalkan ini Crabbe dan Goyle. Namaku Malfoy, Draco Malfoy." Katanya sambil berjalan kedepan Harry.
"Pffh" Ron sepertinya ingin tertawa tetapi ia tahan. Draco pun melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan, apakah dia marah?
"Kau pikir namaku lucu? Aku tak perlu menanyakan namamu? Rambut merah dan jubah bekas. Pasti kau dari keluarga Weasly." Kata Draco, sepertinya ia marah. Namun, perkataanya cukup keterlaluan. Dapat kulihat Ron menampilkan wajah sedih dan tersinggung.
"Draco, itu tidaklah baik untuk didengar." Peringatku padanya, dia hanya menoleh sebentar lalu mengabaikan ucapanku, apakah aku perlu mencubitnya?
"Kau akan tau bahwa keluarga penyihir tertentu lebih baik dari yang lainnya, Potter. Kau tak ingin berteman dengan orang yang salah. Dalam hal ini aku bisa membantumu." Kata Draco sambil menyodorkan tangannya.
"Kupikir aku bisa membedakan sendiri, terima kasih." Kata Harry tidak membalas uluran tangan dari Draco.
Sebelum Draco mengatakan sesuatu lagi, Professor Minerva McGonagall telah datang, ia menepuk punggung Draco pelan menggunakan sebuah perkamen. Akhirya Draco pun terpaksa kembali ketempatnya semula.
"Kami sudah siap untuk kalian sekarang, ikuti aku." Katanya lalu membimbing jalan.
"Kuharap kita satu asrama, Rigella." Kata Hermione yang sekarang berada di sebelahku.
"Aku harap begitu." Sebenarnya aku tidak masalah di asrama mana aku ditempatkan.
Kami semua pun masuk kedalam GreatHall untuk diseleksi. Semua tatapan orang yang ada didalamnya mengarah kepada kami. Tetapi aku tidak memperdulikannya, karena aku terlalu terpesona dengan langit-langit dan interior rungan ini.
GreatHall adalah aula besar dengan empat meja panjang, para siswa dari setiap Asrama duduk disiang hari dan pada waktu makan. Meja Staf berada di depan, tempat seluruh staf Hogwarts duduk. Ada kursi seperti singgasana di tengah meja tempat Headmaster atau Headmistress (Kepala Sekolah) saat ini duduk. Langit-langit GreatHall ditutupi dengan lilin dan disihir agar terlihat seperti langit diatas. Disebelah kiri meja ada pintu yang mengarah ke sebuah ruangan potret.
"Langit itu bukan sungguhan. Tapi disihir agar terlihat seperti langit malam. Kubaca di buku 'Sejarah Hogwarts'." Kata Hermione kepada seorang gadis disebelahnya. aku dapat mendengarnya karena aku berada di belakangnya.
"Harap tunggu sebentar." Kata Professor Minerva.
Didepan aku melihat sebuh topi tua, tunggu dia bernyanyi "Oh you may not think I'm pretty, but don't judge on what you see, I'll eat myself if you can find a smarter hat than me." Nyanyinya. Oh aku mengenalnya, sepertinya dialah Sorting Hat.
Kami semua menunggu dia selesai bernyanyi. Setelah itu Professor Minerva berbicara. "Kini, sebelum kita mulai... Professor Dumbledore akan memberikan satu dua patah kata."
Seorang Pria tua berrambut dan berjenggot puntih panjang dengan topi dan kacamata berbentuk bulan setengah berdiri dari singgasana yang ada di depan, lebih tepatnya berada di tengah bagin depan. Sepertinya dia adalah Profesor Dumbledore, Albus Dumbledore.
- Albus Dumbledore-
"Aku punya beberapa pengumuman awal semester. Bagi siswa tahun pertama, harap ingat... bahwa Hutan Terlarang berbahaya bagi semua siswa. Juga, penjaga sekolah kita, Mr. Filch, telah meminta aku untuk mengingatkan kalian... bahwa koridor di lantai 3 disebelah kanan tidak boleh dikunjungi." Katanya sambil menunjuk Seorang pria dengan kucing di bawah depannya. Dia adalah Mr. Filch, Argus Filch.
"Bagi yang melanggar dapat menderita kematian yang sangat menyakitkan. Terima kasih." Lanjutnya.
"Sekarang... saat kupanggil nama kalian, maju lah kedepan. Aku akan meletakkan Topi Seleksi ke atas kepala kalian... dan kalian akan diseleksi ke asrama kalian masing-masing." Kata Professor Minerva.
"Hermione Granger." Panggilnya.
"Oh, No. Ok, Rileks." Kata Hermione menyakinkan diri sambil berjalan duduk kedepan.
"Baiklah. Hmmm... benar. Ok GRIFFINDOR!" Seru Topi Seleksi menempatkan Hermione di asrama Gryffindor. Semua anak Griffindor bertepuk tangan menyambut Hermione, setelah itu Hermione duduk manis disana.
"Draco Malfoy."
"SLYTHERIN!" belum sempat Topi Seleksi menempati kepala Draco dia sudah berseru menyuarakan asrama mana yang akan ditempati Draco, sepertinya aura keSlytherinan milik Draco terlalu kuat. Draco pun tersenyum padaku sebelum berjalan menuju Meja Asrama Slytherin.
"Semua penyihir yang menjadi jahat berasal dari Asrama Slytherin." Bisik Ron kepada Harry yang masih dapat kudengar. 'oh really?, I guess not all of them.' Batinku saat mendengarnya.
"Susan Bones." Oh, dia adalah anak perempuan yang aku temui tadi, aku sudah menjadi temannya.
"Aku tahu! HUFFLEPUFF!"
"Ronald Weasley." Aku melihat Ron dengan wajah terkejut, dia pun berjalan dan duduk dengan wajah takut.
"Hah, Seorang Weasley! Aku tahu apa yang harus kau masuki." Ron sangat terkejut saat Sorting Hat pertama kali berbicara padanya.
"GRIFFINDOR!" Dapat kulihat Ron tersenyum lega.
"Harry Potter." Aku mendengar beberapa bisikan-bisikan lagi saat nama Harry dipanggil.
"Hmmm... ini sangat sulit. Sungguh sulit. Pemberani, pandai pula. Bakatnya ada, sungguh ada, juga ada keinginan membuktikan diri sendiri. Tapi, harus kutaruh dimana?"
"Jangan Slytherin, jangan Slytherin." Bisik Harry seperti merapalkan.
"Jangan Slytherin, eh? Apa kau yakin? Kau bisa jadi penyihir hebat. Semuanya ada di sini, dalam kepalamu. Slytherin bisa membantumu memperoleh kemashuran. Tak ragu lagi. Tak mau? Baiklah kalau kau yakin. Sebaiknya masuk... GRIFFINDOR!"
"Rigella Lestrange." Aku pun yang terpanggil maju kedepan, duduk dan ditempatkanlah Topi Seleksi dikepalaku.
Aku dapat mendengar bisikan-bisikan yang hampir sama seperti Harry. Ya aku tau mereka pasti membicarakan aku yang seorang keturunan Lestrange. Penyihir yang termasuk 28 Sacred Blood, termasuk darah yang Kuno. Dan juga banyak Lestrange yang mencintai ilmu hitam.
"Dia seorang Lestrange? Dia imut sekali!"
"Aku merasa tidak yakin jika dia Keturunan Lestrange. Dia memiliki wajah yang imut dan cantik."
"She is an angel."
"Kita harus berhati-hati dengannya."
"Aku harap, aku seasrama denganya."
Kira-kira seperti itulah bisikan-bisikan yang aku dengar. Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Namun, aku merasakan tatapan sedikit kebencian dan kemarahan mengarah kepadaku. Aku pun menoleh ke arah anak laki laki yang aku tahu bernama Neville Longbottom. 'Yah, aku tau apa yang terjadi padamu Neville. Maafkan aku, Sungguh.' Batinku dengan tatapan bersalah saat mata kami bertemu.
"Lestrange, eh? Sungguh sulit, sangat sulit... Pemberani, Setia, Suka berpetualangan itu juga termasuk tujuanmu kemari, Pekerja keras, Berdedikasi, Kecerdasan diatas rata-rata ya? Bijaksana. Oh, aku menemukan sesuatu, Sangat berambisi, Idealis, Kepemimpian, Kecedikan dan Kelicikan?" Kata Sorting Hat.
'Sebutkan aja terus! Bisakah setidaknya aku tidak mengumbar tentang sifat-sifatku!' Batinku sedikit jengkel.
"Oh, Ayolah. Kau bisa menempatkanku dimanapun, mohon pilihkan yang terbaik." Bisikku kepadanya.
"Sekarang aku tidak akan ragu lagi... SLYTHERIN!"
Aku pun tersenyum senang, tidak enak duduk didepan banyak orang dan menjadi sebuah pusat perhatian, namun aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Dapat kulihat Hermione, Ron, dan Harry sedikit murung dan kecewa aku berada di asrama Slytherin,
Namun, lihatlah, bocah pirang yang ada di sebelah sana, tersenyum lebar penuh tatapan kebanggaan itu! Sungguh imut. Aku masih bersyukur aku seasrama dengan orang yang kukenal, aku sempat takut masuk Ravenclaw karena belum memiliki teman yang berasrama Ravenclaw.
Aku pun duduk disebelah Draco. "Apa yang aku bilang, Rigy. Kau akan masuk ke asrama Slytherin!" Kata Draco dan hanya kubalas dengan senyuman.
"Hai, aku Adrian, Adrian Pucey. Satu angkatan diatasmu." Seorang anak lelaki lebih tua dariku berambut hitam dengan mata berwarna kuning keemasan? Yang pasti dia sangat tampan. Dia menyodorkan tangannya kedepan ingin berjabat tangan
/Eh, aku kan liat Google warna matanya Keemasan, tapi waktu aku liat gambar sama di filmnya hitam, yang bener yang mana nih?-Author
-Adrian Pucey-
"Aku Rigella, Rigella Lestrange." Kataku sambil menerima jabatan tangan itu lalu tersenyum, dapat kulihat pupil matanya melebar.
"Selamat datang di Slytherin, Gelly." Katanya.
"Terimakasih, tapi apa itu Gelly?" Tanyaku padanya.
"Oh, itu nama panggilan yang aku berikan untukmu, berasal dari namamu Rigella. Aku mengambil Gell lalu kutambahkan y untuk memperimut, jadi Gelly. Bolehkah?" Katanya dengan tersenyum, akh dia tampan sekali.
"Tentu, Rian."
Ting... Ting... Ting
Suara dentingan gelas yang dipukul dengan lembut oleh sendok. "Perharian." Kata Professor Minerva. Professor Dumbledore pun berdiri dan mengatakan "Mari kita mulai makan." Langsung saja munculah banyak makanan, minuman, dan camilan diatas meja mengisi penuh piringan-piringan dan piala-piala?
Tanpa menunggu apapun, aku pun langsung mengambil dan memakan makanan yang aku inginkan, sebenarnya banyak makanan yang ingin aku coba, jadi aku memakan tidak terlalu banyak untuk mencoba semuanya. Makanan its number One.
Lalu secara tiba-tiba para hantu mulai berdatangan, dari hantu yang kepalanya hambir copot, Sir Nicolas de Mimsy-Porpington dari Gryffindor, Baron Berdarah dari Slytherin, Rahib Gemuk dari Hufflepuff dan masih banyak lagi.
Setelah makan malam, kami pun pergi menuju asrama kami, Slytherin. Ruang Rekreasi atau Common Room Slytherin yang berada di ruang bawah tanah. Namun berbeda dengan milik Hufflepuff yang berada di dekat dapur Hogwarts, ruang bawah tanah Slytherin terletak dibawah danau hitam sehingga memberikan ruanganya semburat cahaya kehijauan, ruangan ini dilengkapi dengan lampu-lampu hijau dan kursi-kursi berukir.
Untuk memasukki Common Room Slytherin, seseorang harus mengucapkan kata sandi saat ini dengan keras di depan hamparan dinding batu yang lembap. Begitu kata itu diucapkan, sebuah pintu batu tersembunyi akan bergeser ke samping meninggalkan lubang persegi panjang di dinding yang menuju ke ruang Common Room Slytherin. Satu-satunya kata sandi Slytherin yang diketahui adalah 'Pure-Blood'. Kepala Asrama Slytherin tidak lain dan tidak bukan, guru ramuan Professor Snape, Severus Snape.
-Severus Snape-
Aku pun memutuskan untuk masuk kedalam asramaku bersama dengan Daphne Greengrass dan Pansy Parkinson yang satu Kompartemen denganku dan Draco tadi. Aku melihat beberapa seragam dan kebutuhan di sebuah kotak koper di atas ranjang. Aku menyingkan mereka semua.
-Dhapne Greengrass-
Aku pun langsung membersihkan diri dan menggunakan piyama berwarna hitam. Setelah sedikit berkenalan dengan Daphne kami pun berteman, lalu memutuskan untuk tidur. Kami harus bangun pagi untuk memulai pembelajaran.
***
Aku terbangun pukul 2 malam, aku merasa tidak bisa tidur lagi setelahnya. Aku pun membawa buku muggle tentang petualangan. Kisah Reinkarnasi di gadis berambut merah? Lalu aku pergi menuju Common Room. Saat aku turun menuju Common Room, aku melihat bocah pirang duduk di sofa berseberangan dengan perapian.
"Kau sedang apa, Drac?" Tanyaku padanya, dia sedikit terkejut karena tiba-tiba aku datang tanpa permisi langsung bertanya.
"Aku tidak bisa tidur, Rigy. Dan kau?" Tanyanya kembali.
"Aku tiba-tiba saja terbangun, niat pertamaku ingin tidur lagi tapi gagal jadi aku kemari ingin melanjutkan membaca kisah dibuku ini." Kataku sambil menunjukan buku yang aku bawa.
Aku pun duduk di sofa, disebelah Draco, karena kebetulan Sofanya panjang. Membuka buku lalu membacanya, namun secara tiba-tiba Draco telah tidur dengan menggunakan pahaku sebagai bantalan. Aku pun langsung menutup bukuku, lalu mulai membelai rambut Draco.
"Rindu Aunty Cissy, Drac?" Tanyaku padanya yang hanya dibalas deheman. Tak beberapa lama kemudian Draco sudah tertidur lelap, dan begitupun juga denganku, tertidur sambil menyandarkan diri kepada sofa.
Hei betapa mudahnya aku tidur saat ini, padahal aku butub berpuluhan menit untuk tidur tadi! Huh, sudahlah...
Aku pun terbangun, sepertinya ini sudah jam 4 pagi. Aku pun membangunkan Draco pelan. "Drac, sudah jam 4 pagi. Mari kita kembali?" Kataku sambil membelai rambut Draco.
"Tidak bisakah, sedikit lama lagi?" Tanyanya sambil berbisik.
"Baiklah, 1 Jam. Lalu aku akan membangunkanmu." Kataku padanya, dan dia pun langsung tertidur lagi.
Aku yang tidak mau bosan menunggupun membuka lagi buku bertema petualangan yang aku bawa kemarin malam. 1 Jam pun berlalu dengan cepat. Aku membangunkan Draco lagi, kali ini dia lebih penurut dan mau untuk diajak bangun. Draco pun terduduk sambil mengumpulkan nyawanya.
Tiba-tiba dia langsung mengecup pipiku, yang membuat semburat merah disana. "Morning kiss, Rigy." Katanya padaku. Aku pun langsung saja mengecup pipi Draco, membuatnya sama sepertiku. "Sekarang kita impas, sekarang pergi keruanganmu." Kataku padanya.
TBC.
Hallo guys... Udah cukup panjang nggak? ini langsung aja aku buat panjang untuk chapter ini karena kalau di potong jadi nggak nyambung. Disini kalian nunggu in nggak sih sambil bertanya-tanya, kok giliranya Rigella kok lama. Aku sengajain sih, ini juga hampir sama kayak yang ada di Filmnya. Anggap aja sambil bernostalgia.
Btw, kita dah ketemu Adrian Pucey. Aduh bisa-bisanya aku ketemu anak ganteng satu ini, untung Rigella kuat sama yang ganteng ganteng kayak gini, kecuali yang imut. Kalau yang imut rasanya pingin dikarungin dah...