"Kehilangan itu sangat menyakitkan,apalagi kehilangan orang terdekat tanpa adanya alasan yang jelas,karena ia pergi dan menjauh begitu saja."
-Xaviera Maharani Arkana-
*****
KEHILANGAN merukan salah satu episode kehidupan yang paling menyakitkan bagi siapapun. Namun,
bisakah rasa sakit itu terbalaskan jika sesuatu yang telah hilang itu kembali?Tentu tidak. Karena, sesuatu yang telah hilang, keadaannya tak akan pernah bisa sama seperti semula jikalaupun kembali. Melainkan meninggalkan luka dan trauma yang mendalam.
Ya, Xaviera Maharani Arkana. Gadis remaja yang dulunya sangat ceria karena ada sosok anak laki-laki yang selalu membuat hari-harinya berwarna. Jangan ditanya kenapa sosok anak laki-laki itu bisa sangat dekat dan berarti bagi Xaviera. Karena, keluarga mereka, Keluarga Arkana dan Keluarga Sanjaya memiliki hubungan yang sangat erat. Jadi, tak heran jika anak mereka pun sangat dekat.
Sejak kejadian hari itu, hari-hari yang ia lalui terasa kurang berwarna karena kehilangan sosok itu, entah kenapa setelah menginjak bangku SMP tepatnya SMP kelas 8 sosok itu menjauh darinya. Yang dulunya orang sering menyebut mereka seperti Gula dan Semut. Karena dimana ada Xaviera disitu pasti ada anak lelaki itu.
Namun, kini mereka seperti dua insan yang tak pernah saling mengenal. Tentu hal itu membuat Xaviera sangat terluka. Ia selalu bertanya-tanya apakah ia memiliki kesalahan yang mungkin tak bisa dimaafkan? Sehingga sosok lelaki itu seperti sangat membecinya. Ia selalu merindukan sosok itu, sosok yang selalu ada di sisinya disaat ia tertawa ataupun terpuruk. Sosok yang bisa menjadi seorang sahabat, teman, abang, ataupun guru untuknya setelah kedua orangtua dan keluarganya, atau bahkan lebih dari itu? Entahlah....Ya dia adalah seorang lelaki yang sangat berarti setelah Ayahnya, dialah sosok yang selalu ia nantikan ALVARO KEZIA SANJAYA.
*****
"Avi...terimakasih untuk segalanya,
terimakasih untuk hari-hari yang pernah kita lewati bersama dan maaf, maaf karena mungkin aku tidak bisa menjadi orang yang baik untukmu. Lupakan segalanya Avi... lupakan tentang kebersamaan kita dan lupakan semua hal tentang aku. Sekali lagi maaf Avi...." Ucap Alvaro dengan lirih kepada Xaviera.
"Apa maksud Kakak Kak?Avi gak ngerti,kenapa Kak Alva ngomong begini?" Jawab Xaviera dengan pelan sampai air matanya mulai berjatuhan.
Melihat Xaviera menangis Alvaro pergi dan mengucapkan kalimat yang menyakitkan dan penuh penekanan bagi Xaviera."Lupakan Aku Avi...Anggap saja kita tak pernah saling mengenal."
Mengingat kejadian hari itu,air mata Xaviera kembali membasahi pipinya.Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamarnya. Karena kedua orangtua dan Kakaknya sedang tidak berada di rumah, mereka sedang menjemput adik sepupunya dari Sumedang di Bandara.Jadi, tidak akan ada orang yang mendengar tangisannya.
Pertanyaan-pertanyaan itu kembali menyelimuti pikirannya, kenapa?Kenapa dia begitu tega dengannya?Kenapa lelaki itu tiba-tiba pergi meninggalkannya? Apa salahnya?Apa alasannya? Sampai sampai dia menjauh dan memutuskan hubungan persahabatan yang mereka jalin sejak kecil itu. Lamunannya buyar ketika suara cempreng memenuhi kamarnya.
"Hallooo... spadaaaa, Kak Aviii !!" Teriak seorang gadis SMP. Ya, dia adalah Davina Wiyata Putri anak dari adiknya Umi Melinda Wiyata Putri Ibu Xaviera.
"Apaan sih Dek, masuk kamar orang bukannya ngucap salam." Jawab Xaviera kesal.
"Iya deh iyaaa Assalamu'alaikum Ustadzah Xaviera Maharani Arkana putrinya Bapak Bramantya Robertson Arkana dan Ibu Melinda Wiyata Putri...." Jawab Davina meledek.
"Iya,Waalaikumsalam....Gimana keluarga di Sumedang Dek?"
"Alhamdulillah.... semuanya baik-baik aja Kak, BTW kamar Kakak gak pernah berubah yah? Gak bosen kak?" Tanya Davina heran.
Karena dari ia masih duduk di kelas 4 SD sampai sekarang ia sudah menginjak kelas 3 SMP kamar Xaviera masih saja kamar minimalis dengan perpaduan warna pink, putih dan hitam yang tampak elegan.
"Syukurlah... Gaklah, kenapa harus bosen? Nyaman tau, elegan gak kayak kamar kamu yang bak toko cat tau gak?HAHAHAHA" Ejek Xaviera, yang mengetahui kamar Davina gak seperti kamar perempuan pada umumnya. Karena warna dinding, lemari, meja dan semua benda benda dikamarnya memiliki warna yang berbeda.Semua warna ada, layaknya toko cat.
"Hmmm..." Jawab Davina malas.
"Avi....Davina... makan siang dulu!!" Teriak Laudya Putri Arkana Kakak pertama Xaviera.
Mereka berdua langsung turun menuju ruang makan keluarga di lantai pertama rumah keluarga Arkana. Ya, rumah keluarga Arkana sangat mewah dan megah, rumah bernuansa putih bak istana itu terletak di salah satu perumahan elite di Jakarta Selatan. Keluarga Arkana merupakan keluarga konglomerat yang sangat terkenal sama hal nya dengan keluarga Sanjaya. Kedua marga tersebut memiliki kekuasaan dan pengaruh yang sangat besar di dunia bisnis.
"Kak Revan gak makan siang Kak?" Tanya Xaviera pada Laudya saat menyadari Revanarisky Soebrata Kakak Iparnya itu tak ada di meja makan.
"Enggak Vi.... Kak Revan makan siang dikantor." Xaviera mengangguk sebagai jawaban.
"Udah makan dulu, kita lanjut ngobrolnya nanti habis makan." Titah Umi Melinda.
"Kak Gege Mi?" Lanjut Xaviera saat menyadari Kakak laki-lakinya itu tidak ada di meja makan juga. Gege yang dimaksud oleh Xaviera adalah Kakak keduanya. Xaviera merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara dan keluarga beserta teman-temannya memanggilnya dengan nama Avi.
"Abang kamu belum pulang, dia masih di rumah Nenek. Dia pulangnya besok sayang." Jawab Umi Melinda yang dijawab dengan anggukan oleh Xaviera.
Setelah berdo'a mereka langsung makan.
15 menit berlalu mereka sekarang sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Dav...kamu mau sekolah dimana nak?"
Tanya Abi Bramantya pada Davina dengan lembut. Bramantya Robertson Arkana adalah kepala keluarga Arkana juga Ayah Xaviera.
"Dimana aja Abi, yang penting Davina bisa sekolah dengan nyaman, selebihnya terserah Abi saja, ehehhe.." Jawab Davina dengan malu-malu. Davina memanggil Om dan Tante nya itu dengan sebutan Abi dan Umi karena Bramantya dan Melinda sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.
"Bi, bagaimana kalau kita sekolahkan saja Davina di SMP 1 Tunas Bangsa,supaya nanti Davina ada temennya." Ucap Umi Melinda pada suaminya itu.
"Memangnya siapa temennya Mi?" Tanya Abi Bramantya bingung.
"Itu loh Bi kan Gevriel juga sekolah di sana.." Sahut Laudya.
"Gevriel?" Sahut Davina kebingungan.
"Gevriel Sanjaya adiknya Alva Dek." Jawab Xaviera dengan datar. Sedangkan Davina mengangguk sebagai jawaban.
"Ohh, ya sudah besok kita daftarkan kamu ke sekolah SMP 1 Tunas Bangsa ya Dav? Biar kamu ada temen, atau kalo ada apa-apa gampang soalnya ada temen yang rumahnya deket kan?" Benar, rumah keluarga Sanjaya berada di lingkungan perumahan yang sama, bahkan hanya terhalangi oleh dua rumah saja.
"Iya Abi.." Jawab Davina sambil tersenyum.
"Abi, Umi, boleh tidak kalau nanti sore Davina mau jalan-jalan ke Taman Komplek sama Kak Avi? Soalnya Davina kangen banget sama suasana taman komplek ini, ehehe" Tanya Davina ragu.
"Boleh dong sayang...Avi, temenin Davina ya?" Jawab Umi Melinda dibarengi dengan anggukan Abi Bramantya.
"Baik Umi." Jawab Xaviera.
*****
Kini Xaviera dan Davina sedang duduk di bangku taman komplek. Kebetulan cuaca siang ini agak sedikit mendung jadi mereka tidak kepanasan.
Saat melihat dua remaja lelaki yang baru keluar dari pintu gerbang rumah mewah bernuansa minimalis, dari penampilannya sepertinya mereka akan berolahraga sore. Davina membulatkan matanya, seraya menarik-narik kerudung Avi.
"Apasi Dek? Kerudung Kakak berantakan nih!!" Tanya Xaviera kesal karena kerudungnya menjadi agak berantakan.
"Kak Aviii!!Liatt...ituuu..ittuu Kak Alvaro sama Gevriel kan? Aahhh MasyaAllah...ehh Astaghfirullah.." Ucap Davina sangat heboh. Ya taman komplek nya memang terletak tepat di depan rumah keluarga Sanjaya.
Mendengar nama Alvaro Xaviera diam membeku.
"Kak Alvaa..!!!" Seru Davina pada Alvaro, sampai-sampai dua lelaki itu mendengarnya dan menatap ke arah mereka.
Alvaro menatap Davina dan Xaviera dengan ekspresi datar. Sedangkan Adiknya Gevriel tersenyum ramah dan melambaikan tangan ke arah Davina, karena sebelumnya mereka sudah berkenalan di social media.
Lalu bagaimana dengan Xaviera?Apakah dia senang bertemu kembali dengan Alvaro? Apakah mereka akan bertegur sapa? Entahlah..Karena meskipun rumah mereka bertetangga dan mereka satu sekolah, keduanya tak pernah bertemu sejak hari itu, karena Alvaro selalu menghindari keberadaan Xaviera.
*****
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Haii semuanya...
Gimana, ceritanya seru nggak?
Makasih ya..buat yang udah mau mampir baca cerita aku🤗
Jangan lupa buat
vote & komentnya ya🤗
Btw,cerita ini adalah karya pertama aku😁Jadi,maafin yaaa kalo masih banyak kekurangannya☺
Kalo kalian suka sama cerita ini +setuju aku lanjutin,insyaallah aku bakal up chapter selanjutnya secepat mungkin yaa...
Komen yuukk!😉