Wajah lesuh dan sikap badan yang tegap. Berjalan tanpa melihat kiri kanan,sorot mata yang tajam. Tidak sedikit pun memberikan senyuman manis untuk orang sekitarnya.
Duduk di kursi paling belakang,dan langsung membuka cerita. Terbahak bahak tertawa dengan teman temannya.
"Chaa...."
Saut danya yang duduk disebela wanita yang dari tadi melirik sini ke arah cowok yang duduk dibangku belakang kelas. "Bising bangett!" Gumam acha sembari melirik cowok cowok dibelakang.
"Chaa, lo sinis banget si liat merekaa.."
"Seram tauu.."
Saut danya, acha yang tidak sadar langsung menghadap pandangannya kedepan. Sesekali melirik ke belakang. Kesal sekali melihat mereka yang pagi pagi sudah bernyanyi.
Salah satu diantara laki laki tadi,ada yang sadar saat acha melirik ke arah mereka. Namun salah satu dari mereka ada juga yang sengaja. Bahkan ada yang tidak begitu peduli.
Yang tidak peduli bukan lain,laki laki yang sangat acha tidak sukai di sekolah,bahkan di kelas. Karena tingkahnya yang menjengkelkan sekali. Bahkan mereka tidak perna saling menyapa dan melirik pun hampir tidak pernah.
Menginjak 1 tahun lagi akan tamat SMA mereka tetap tidak perna saling berbicara.
Sesekali berkelompok pun tidak pernah berbicara.
"Chaa! Lo sadar ga? Bentar lagi kita tamat"
"Gila sii..,pasti gue rindu banget sama lo."
"Elo,abil,sasha,libra, arga lainya"
Cetus danya,danya yang juga dari tadi asik berbicara. Acha bosan sekali mendengarnya, bagaimana tidak bosan hampir setiap hari danya berucap seperti itu.
"Gue tau danyaa, itu itu mulu.."
🌻🌻🌻🌻
cacha dan teman kelasnya jarang banget bersosialisasi apalagi dengan teman kelasnya yang lelaki.baginya semua memiliki sifat yang sama dan menjengkelkan. acha hanya berbaur dengan orang orang yang menurutnya cocok untuk ditemani dan menguntungkan satu sama lain.
bau bau perpisahan sekolah sudah tercium jelas. adanya rasa kekhawatiran antara banyak ketakutan untuk saling berpisah dan saling melupakan.terutama teman teman yang selalu ada mungkin merupakan hal normal dan akan menjadi hal terbiasa nantinya.
"rasa trauma lo yang berlebihan ga bakal buat lo berani untuk kenal orang baru cha... percaya deh sama gue" tegus sasha yang dari tadi melihat wajah acha yang merenung.
setelah kejadian kemarin acha takut dan tidak percaya dengan sebuah perasaan. baginya semua sama saja,terutama soal menghargai.kehilangan orang lama sangat menyiksa perasaannya.memilih untuk menghilang dan menghindar,cara untuk saling menjaga perasaan satu sama lain.
"tau apa lo....."
"trauma apaan?... santai aja shaa"
gumam acha,sayangnya abil dan sasha lebih tahu perasaanya yang sebenarnya acha sembunyikan.kejadian ini bukan hal yang terjadi sekali dua kali.walaupun,kejadian terakhir ini menutup kemungkinan acha memutuskan pertemanan dengan masa lalunya. tanpa adanya ikatan status. namun,hubungan acha dan masa lalunya hampir ke tahap komitmen. namun sayangnya kandas dengan kesalah fahaman antara satu pihak.
"lo bisa mulai dengan orang baru cha,banyak banget bahkan chaa..."
"berarti dia emang ga baik dong cha.seharusnya lo sadar kalau lo dimanfaatkan bukan dibutuhkan cha"
tegus abil,abil tidak sadar dengan ucapannya tadi kerena terlalu terbawa suasana emosi.sasha dan danya saja mendengarnya terkejud dan khawatir. ucapan abil tadi terlalu kasar untuk diterima acha yang baru saja pulih dari sakit hati.
Namun acha hanya melirik iba dengan tersenyum,dan mengalihkan pandangannya ke arah atap langit aula sekolah. menidurkan badanya yang hanya beralas lantai keramik yang masi berpasir.,mengibaskan rambutnya agar tidak terimpa kepalanya, kemudian sembari memejamkan matanya.
"huufff..... lo benar bil,"
"Yauda... lo pada pergi deh.."
ucap acha,yang dengan santainya memerintahkan sahabatnya untuk lebih luan masuk kedaalam kelas.
"Brengsek!....lo?"
"terus lo ngapain di sini?"
"nunggu panggilan tuhan?..."
bentak abil yang dari tadi emosi melihat acha yang berleha,berucap hanya beberapa kata dan tiba tiba menyuruh mereka untuk balik lebih dulu,sasha dan danya hanya tertawa lepas melihat kelakuan mereka berdua.
syukurnya hari ini tidak terlalu banya jam mata pelajaran jadi lebih awal untuk pulang.acha berencana,setelah pulang sekolah ia ingin mampir ke tempat tongkorongannya dulu semasa smp. berharap anak anak masi sering main disana.karena, semenjak masuk sma sudah jarang sekali ngumpul.
chaa, davien...
tegus abil saat berjalan disamping acha. davien menjadi sorot mata anak sekolahan acha,bagaimana tidak gayanya yang gentle dan suara knalpot mogen-nya yang ribut semakin menambah ketampanannya.
wajah acha drastis berubah pucat,mengalihkan pandangan dan melirik sinis.tadinya acha mau keparkiran sekolah untuk pulang. namun melihat davien di depan gerbang sekolahnya membuat acha untuk balik lagi kedalam gedung sekolah.
davien turun dari motornya,berlari kecil mengejar acha yang sudah lebih awal masuk kedalam gedung sekolah.namun davien ditahan sama anak cowok sekolah acha.
wee...mau ngapain loo!!.......
sorak salah satu anak cowok yang menahan davien,davien yang ditahan juga ikut emosi melihat perlakuan anak cowok ini! namun davien menjelaskan kalau davien ada keperluan penting dengan acha.tanpa sadar,acha keluar dari gedung sekolah dan mempercepatkan langkahnya menuju parkiran.
kesengjaan acha membuat keributan agar davien tertahan di sekolah acha.yah,kalau dipikir pikir akal akalan acha saja agar davien terhambat dengan itu.bagaimana bisa davien datang menyusul,setalah acha memutuskan untuk tidak berhubungan dengan sahabatnya yang satu itu.
"chaa...lo apa apaan si!"
"norak tau gaa.."
acha yang mendengar ocehan davien semakin menambah kebenciannya,acha beranjak pergi dan langsung ke tongkorongannya dengan davien sewaktu smp.disana davien langsung turun dan menghampiri acha dengan wajah emosi dan langkah yang terburu buru. tangannya yang menggempal serta sorot matanya yang tajam.
acha yang berdiri menununggu kehadiran davien didepannya.namun,acha berusaha untuk dingin dan jauh lebih santai lagi.acha menyilangkan tangannya diantara atas pusarnya. berdiri tegak dan menantap sinis kearah davien.
"lo kenapa si chaa... ngehindar dari gue"
"gue tahu lo risih,tapi engga sampai segininya"
acha menelan safilanya,perlahan mendekati davien dan menunjuk hati davien ucapnya yang terbatah batah,menahan air mata agar tidak terlihat kecewa.
"lo..lo ga pernah hargai gue dev,"
suara acha yang redup membuat davien khawatir dengan dirinya.
davien yang luluh,dan bola mata yang sayu ketika melihat reaksi acha. davien yang memundurkan langkah kakinya,perlahan ingin memeluk acha. tak sampai disitu,acha kembali menjelaskan keadaannya seiama ini.
"lo yang kemarin bilang,kalau kita engga ada apa apa"
"setakut itu lo kehilangan dia dev,sampai elo ga pernah lindungi gue?"
"akui aja gue sebagai sahabat lo,udah cukup dev."
"Tapi,apa?lo campakan semua masalah sama gue.yang lo tau kalau gue gabakal pernah suka sama lo"
tapi dia pacar gue chaa,gue gamau dia mikir lebih tentang gue dan lo. dan bukan maksud gue..
" TAPI GUE SAHABAT LO DEVIEN,,,SAHABAT LO!!"
acha menepuk dadanya dan berkata bahwa ia tahu kalau devien dan acha hanya berteman,namun maksud acha setidaknya ada pembelaan terhadap dirinya agar tidak dicap murahan apalagi merebut pasangan orang lain.
"3 tahun dev,....3 tahun lo gue anggap sahabat bahkan rumah untuk gue.tapi apa! bahkan lo gapernah jelasi itu sama pasangan lo."
"Gampang banget ya jadi lo,"
"Sebenarnya gua ada ga si di pland hidup lo?"
"Ada ga si?....."
"lo bisa pergi dari sini?'
devien menarik tangan acha,dan memohon untuk tidak berkata seperti itu,rasanya tidak adil dengan perjanjian seperti itu,devien hanya meminta maaf dan terus meminta maaf.
gue ga mau kehilangan lo chaa,izini gue untuk ngelanjuti hubungan gue sama dia.
tapi pleasee... kita tetap berteman.
pacar gue,iyaa,pacar gue juga udah paham chaa...
chaa..lo seyakin itu dengan ucapan lo chaa?
"lebih baik gue yang mengasingkan diri dev,...percaya deh,hubungan lo bakal damai tanpa adanya gue."
"Lo norak tau ga... "
acha pergi meninggalkan devien ditongkrongan itu,langkah acha yang semakin jauh tidak lagi terlihat.acha berbegas untuk balik kerumah dan berucap syukur kalau hari ini masalahnya dengan devien selesai. entah itu satu pihak merasa tidak adil,namun acha tidak perduli dengan itu.
devien? devien hanya diam dan melihat acha yang perlahan meninggalkan tongkrongan.rasanya seperti ditampar oleh mimpi. acha sahabat smpnya yang berani speak up megenai perasaanya selama ini. merasa manusia paling bodoh tidak pernah sadar dengn adanya acha disampingnya.
nethink dan insecure yang selalu menghantui fikirannya sampai mengira bahwa acha dan dirinya tidak lebih pantas hanya untuk berteman.jika dulu bukan pilihan yang sekarang,mungkin entah betapa tahun hubungan acha dan devien berjalan. namun dengan adanya yang sekarang sudah jelas tidak ada lagi hubungan yang bisa diharapkan.
Pertanyaan kemarin sebelum kejadian sekarang,membuat davien yakin kalau sebenarnya acha tidak memeliki rasa yang lebih terhadap davien.
Tapi kalau boleh jujur, acha sangat menyayangi sosok davien. Davien orang yang tulus mengenai jasanya terhadap acha.
Kalau aja rasa gengsi ini bisa di tepihkan,sudah lama acha menyimpan rasa kagum dan sayang dengan davien.
2 kepala dengan isi otak yang sama,bahwa beranggapan sendiri tidak menyelesaikan masalah. Isi kepala davien dan acha sama.
Sama sama nethink dan takut hanya satu pihak saja yang merasa lebih. Jika sifat mereka ada yang lebih meredam,mungkin sejauh ini mereka bukan lagi teman. Namun,sudah memiliki status yang lebih terjaga.
Namun disamping itu,davien juga sadar bahwa acha bukan sosok wanita yang mudah untuk ditaklukan. Rasa sayang davien berkedok sahabat. Perlakuannya selama ini ditutupi dengan alasan persahabatan,padahal jauh dari itu.
Cukup dalam rasa sayang ini,bagaimana tidak mulai dari Smp sampai menjelang Sma. Mereka tetap bersama.
Pasti! Pasti acha akan dipertemukan sosok rumah yang jauh lebih menghargainya dan melindunginya lebih hebat,dibanding sosok davien yang selalu mendahulukan rasa takutny.