Hiraeth [on Going]

By jelyeveryday

669 282 229

Kisah seorang pemuda yang "cacat?" bertemu dengan gadis tunanetra yang menjadi sasaran bully disekolahnya. Ya... More

00
01
02
03
04
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15 "Kau bukan milikku"
16
17
18
19
20
21
22
23
24
The last?
25
Epilog?

05

34 18 13
By jelyeveryday

“Banyak orang membenci hujan karena berbagai alasan, sampai mereka lupa bahwa mereka juga membutuhkan hujan”
-aneska-








"Yaudah bapak saja yang bertanya"

Seisi kelas membeku seketika mendengar tuturan kata pak wahid barusan.

"Be-bentar pak" sahut Rio berdiri dari bangkunya, "Bukan nggak mau bertanya pak, cuma.. Kita mau bertanya tapi masalahnya kami nggak tau yang mana mau ditanyakan karena satu materi pun nggak ngerti pak hehe" Rio mencengir kikuk menggaruk-garuk tekuk lehernya yang tidak gatal

Pak wahid menarik nafas memijati pelipisnya, pusing. "Yang lain nggak ada mau bertanya?" pak wahid menelusuri seluruh ruangan berharap ada yang bertanya setidaknya satu orang saja

"saya pak!"

Seisi kelas dibuat bungkam sekaligus kaget dengan aneska yang tiba-tiba mengangkat tangannya lalu berdiri dari bangkunya.

"silahkan aneska" 

"Bagaimana pengaruh negatif dari sistem poli—"

Kringg!!!

"YEAH!!!"

Teriak seluruh siswa serentak tanpa aba-aba menggendong tas masing-masing. 

"Terima kasih paaakkk!!" sahut kami sekelas, lalu bergegas keluar ruangan kelas.

Sementara Pak wahid tampaknya hanya bisa pasrah. Melihat kelakuan kami sekelas

"Mau pulang bareng nggak?" tanyaku pada Aneska yang sudah siap dengan tas di punggungnya

Aneska cukup tersentak kaget. Befikir sejenak, "Hm tap…"

"Gua traktir deh!" 

Ia masih berfikir tentang tawaranku, 

Aku seorang yang tak suka menunggu, "Ayok deh" menarik tangannya, rasanya kesabaranku sudah habis hanya untuk menunggu jawaban darinya.

°

Aku dan Aneska jalan berdampingan menuju gerbang dengan tangan mungil yang masih kukuh ku genggam. Tentu menggundang gunjingan para siswa, apalagi sekarang waktu pulang sekolah. 

Aku memegangi tangan kanan Aneska dan tangan satunya memegangi tongkat miliknya. Aku sudah menyuruhnya untuk percaya, tapi ia masih kukuh memegangi tongkatnya.

"Wih ada kembang gula.. Mau beli?" tawarku pada Aneska

Ia tersenyum manis khasnya lalu mengangguk tanpa menoleh.

"Mas! Beli dua gratis satu ya?" 

"Ng-nggak mas! Bercanda kok hehe" seru Aneska menyengir, menyenggol lenganku dengan sikutnya.

"Ini" 

"Berapa mas?"

"20.000 aja" jawab penjual itu sembari tersenyum

Mengambil dompet hitam dari saku bajuku lalu mengeluarkan uang 20 ribu pas.

"Makasih" Aneska

Kami lanjut berjalan menuju salah satu taman dekat sekolah. Kami tidak lagi berpegangan, ia menolak begitu mendengar gunjingan dari siswa ataupun siswi sekolah. Sekolah masih agak ramai karena banyaknya siswa yang ikut ektrakulikuler yang sedang latihan sore disekolah.

Kami mengambil tempat di salah satu bangku taman berwarna putih terbuat dari besi. Duduk berdua, agak berjarak. Memakan kembang gula yang kami beli tadi.

"Makasih" ujarnya memecahkan keheningan, "Nanti aku traktir balik" lanjutnya, lalu tersenyum sesekali memakan makanan yang seperti kapas namun manis.

"Nggak usah, lo cuma harus jelasin materi sejarah tadi, sumpah gua nggak ngerti" 

Ia tertawa renyah. Tak seperti perempuan umumnya yang menutup ketika tertawa, dia malah tersenyum dan tertawa dengan bebas hingga kedua matanya ikut membentuk bulan sabit.

"Okay" jawabnya singkat

Suasana kembali hening lalu terasa semakin canggung di iringi suara-suara siswa yang tengah latihan di sekolah juga suara hembusan angin yang menyambar dedaunan.

"Kamu.. Kenapa nggak benci aku?" suara Aneska kembali memecahkan keheningan. 

Pertanyaan yang sederhana, tapi aku tak pernah benar-benar menyiapkan jawabannya. 

"Untuk apa gua benci lo?" pada akhinya aku bertanya balik

Dia kembali tersenyum, sudah keberapa kalinya ia tersenyum? Aku tak pernah menghitungnya.

"Aneh ya.." lirihnya terdengar seperti sedang bergumam, namun masih bisa kudengar. "Kau pasti sudah dengar gunjingan orang-orang tentangku, mereka semua membenciku dan menjauhiku... Apalagi aku buta. Kenapa kau tidak membenciku seperti yang lain?" 

"Jangan samain gua dengan yang lain.." aku mendengus tidak senang dengan ucapannya tadi. Sungguh aku tidak suka di samakan dengan yang lain. 

Tiap orang itu berbeda. Dan aku tak sama dengan mereka.

Aku bahkan tidak pernah berniat membencinya seperti yang lain. Jangankan berniat, memikirkannya saja tidak.

Ia tersenyum masam, "Maaf.." lirihnya, "Benar ya kata sa–" 

"Woy leo!!" Panggil Gilang menggelegar. Membuat aku dan aneska begedik kaget.

"Apaan sih woy! Jan teriak napa?!"

"Lu sih dicari– eh non Aneska.. " Gilang mencengir cepat mengganti kalimatnya begitu menyadari keberadaan aneska. 

"Aneska sopir lu udah dateng, dicariin tuh dari tadi nungguin" suara Ryan, menyahut dari belakang gilang

"Ohya? Aku permisi dulu.. Makasih" 

"Mau gua antar?"

"Nggak usah, bisa sendiri kok" jawabnya

Gadis itu benar-benar pergi sendirian dibantu dengan tongkatnya. Aku berdiri berniat membantunya, tapi dengan singgap Gilang mendorongku kembali duduk.

"Lu suka ya sama aneska?" tanya gilang, dengan senyum menuntut meminta jawaban.

"Ya kagak lah.." jawabku acuh

"Trus noh" menunjuk makanan kapas ditanganku, "Gua curi–"

"Lo mau? Noh!" aku menyela dengan cepat, menjepitnya di mulut Gilang. Berhasil membuatnya diam

"Klo lo beneran tertarik, mendingan lo mundur dari sekarang" -Ryan

***

Lagi-lagi mereka bermain dirumahku, katanya lebih bebas. Benar, rumah ini kosong karena orang tua dan kak lea tinggal di jakarta. Tapi masalahnya, setidaknya jangan membuat rumah ini seperti pembuangan penuh dengan sampah yang berserakan.

"Woy! Lu kalo kesini bersihin sampahnya juga dong!" aku mendengus, duduk dengan kaki bersila diatas sofa coklat tua, "Datang-datang cuma buat ngerusuh."

"Iya-iya bang.. Bentar napa..!" Gilang mendecak, masih sibuk dengan game onlinenya

"Bentar-bentar mulu lu maimunah!! Bentar langsung nyelonong pulang lu! Gua juga yang harus bersihin" aku menggerutu dari atas sofa masih bersila kaki

Aku dan Ryan sedang menonton acara Tv, sedangkan Devano dan Gilang sibuk dengan gamenya. Dafa tidak datang, katanya sedang bantu orang tuanya di kafe. Pantas saja anak itu di cap sebagai anak paling penurut diantara kami.

Aku cukup senang mereka datang. Rumah ini terlalu besar untuk kutinggali sendirian, rumah dengan 5 kamar kosong.

"Beneran lu nggak suka Aneska" tanya Ryan tiba-tiba, tidak ada angin atau hujan

"Apaan sih woy!" aku mendecih, "Gua cuma–"

"Ngapain lu suka cewek buta" sahut Devano, masih sibuk dengan ponselnya yang tersambung langsung dengan colokan charger

Kami memekik tercengang dengan perkataan Devano barusan. Kata-katanya singkat namun cukup memohok. Meskipun kata-kata itu bukan ditujukan untuk kami.

"Eh lu ngomong di filter dlu!" sergah Gilang

"Emang kenyataannya gitu" Devano mengedikan bahunya acuh. Tak merasa bersalah sedikit pun.

"Udah woy! Sekarang masalah ama Erlangga gimana?!" Ryan seketika mengubah topik pembicaraan.

Kami terdiam. Benar, kami belum sempat berbicara dengan Erlangga si dalang permasalahan. Sejak disekolah kami tak sempat berbicara, bahkan anak itu sering kali bolos.

"Erlangga bukan dalangnya, tapi Kak Satria. Kak Satria sendiri yang minta Leo jadi taruhannya" Suara Dafa memasuki ruang keluarga. "dan kita sama sekali nggak tau apa tujuan dari Kak Satria" lanjutnya, mengambil tempat disamping Ryan lalu mengambil camilan Ryan tanpa rasa bersalah.

"Lu kenal dia nggak?" bisik Ryan 

Plakk

"Gua serius maimunah!" decak Dafa tak terima

"Iya-iya deh jubaedah!!" balas Ryan

Ck, aku mendecak pusing. Yang dikatakan Dafa memang benar, Erlangga bukan dalangnya tapi Kak Satria. Kak Satria yang memintaku jadi taruhan. Tapi tunggu, kenapa Kak Satria memintaku menjadi taruhannya? Kami bahkan tidak pernah lagi berkomunikasi setelah 8 tahun. 

***


Drrrrtttt!!!!!

Bunyi nada dering dari ponselku. Tertera nama Kak Lea diantara pilihan angkat atau tolak. 

Berfikir cukup lama, jika kuangkat pasti  akan mengomel tanpa henti tapi jika tidak kuangkat, mungkin saja itu hal penting yang akan kusesali.

"Halo?" pada akhirnya aku mengangkatnya, menempelkan benda persegi panjang ditelinga kananku

📞: "LAMA AMAT ANGKATNYA BOCAH!!!"

Suara teriakan kak lea yang menggelegar dari seberang sana. Pada akhirnya aku menyesalinya_-

Mauhkan sedikit dari telingaku.

"Apaan?! Ganggu mulu jadi orang.. Nggak ada kerjaan apa.." 

📞: "Lu nggak pulang?"

Tanya Kak Lea tiba-tiba mengganti topik perbicaraan. Nadanya pun memelan.

"Gua udah dari tadi sore.. Kagak kemana-mana"

📞: "PULANG KE IBU KOTA!!"

"Makanya klo nanya yang jelas!!!" Aku mendecak kesal, "Ngapain gua pulang?" 

📞: "Eh fergusoo~ pake nanya lagi.. Ya pulang tahun baru lah!!" 

"KAN MASIH 2 BULAN LAGI! Maimunah!!!!" 

📞: "Ya~ gua cuma nanya lu pulang nggak? Mama sama Papa nggak pulang.. Katanya banyak meeting nggak sempat pulang ke sana"

Suara Kak Lea semakin memelan diakhir. Aku mendecak kesal meskipun sudah menduga hal ini. Aku sama sekali tidak terkejut, hanya saja.. Ah sudahlah..

📞: "WOY MAIMUNAH!!!"

"APAAN?! Gua tahun baru di sini"

Tutt..

Sambungan kuputuskan sebelah pihak. Lalu merebahkan tubuh diatas sebuah kasur lama namun masih empuk seperti saat baru dibeli mungkin faktor jarang dipakai. 

Kulihatnya seisi ruangan kamar, hanya tembok putih polos dengan beberapa pajangan poster dan sebuah bendera inggris ukuran sedang yang digantungkan ditembok cukup menghiasi ruangan yang tadinya hanya tembok putih polos. 

"Janjinya kamu bakal pulang! Okey?"

"Janji"

"Akhhhh!!!!"

Janji itu kembali menghantu, janji yang akan selalu kusesali. Janji yang tak seharusnya ku ucapkan. Janji itu ku ucapkan spontan tanpa berfikir dan sekarang baru menyesalinya.

Yah.. Karena penyesalan selalu datang belakangan.

°°°Hirateh°°°

Hari ini cuaca mendung, awan-awan hitam itu menutup birunya warna langit. Di iringi suara gemuruh, sepertinya hujan akan turun. 

Dreeesss…

Benar, hujan benar-benar turun. Sebagian siswa berlarian mencari tempat berteduh dan sebagiannya lagi ada yang masih sibuk tanpa mempedulikan hujan. 

Hujan semakin deras, cukup bising. Aku mengeluarkan sepasang earphone bluetooth berwarna putih dari saku baju ku lalu memasangnya di kedua telingaku. Menyambungkannya keperangkat ponsel. Membesarkan volumenya sebisa mungkin meredam suara derasnya hujan

Travelling places I ain't seen you in ages
But I hope you come back to me
My mind's running wild with you faraway
I still think of you a hundred times a day

I still think of you too if only you knew
When I'm feeling a bit down and I wanna pull through
I look over your photograph
And I think how much I miss you
I miss y—

Seseorang menarik earphone itu dari telingaku, aku bergedik kaget. Gadis itu, Aneska berdiri tepat di sebelahku terlihat memeluk buku-buku tebal. Ia menatapku seolah-olah bisa melihat. 

Setelah menatapku cukup lama ia beralih menuju bangkunya, meletakkan buku-buku tebak itu didalam laci bangkunya. Sementara aku temangu tak mengerti. 

Ia menoleh kearahku lalu tersenyum, ia tersenyum begitu lebar hingga kedua matanya ikut tersenyum. 

"Jangan cuekkin hujan.." ucapnya memiringkan kepalanya, "hujan juga mau didengarkan"

Seulas senyum masih terlukis diwajahnya tak memudar sama sekali. Aku masih termangu berusaha mencerna keadaan.

"Hujan itu lebih merdu"

Tangannya mengulur. Meletakkan salah satu earphone warna putih milikku yang ia ambil tadi kedalam telapak tanganku. 

Aku terdiam sejenak, masih berusaha mencerna. Lalu mengambil earphoneku darinya. Suasana tiba-tiba membeku kami terdiam, hanya suara hujan deras dan suara teriakan dari murid-murid perempuan berlarian masuk kekelas.

"Pagi anak-anak" suara Pak Amir memasuki ruangan 

"PAGI PAKK!" 

"Sisa 2 minggu lagi sebelum ujian semester, hari ini bapak akan jelaskan materi terakhir statistika. Semuanya keluarkan buku paket masing-masing" titah Pak Amir, menyusun buku-buku yang ia bawa diatas mejanya, "dan Aneska.. Keluarkan buku yang bapak kasih ya" 

Aneska hanya mengangguk sebagai jawaban. Mengeluarkan buku yang tebal dari lacinya, membuka halaman bagian tengah kemudian tangannya mulai meraba-raba halaman buku dengan saksama. 

"Mau pulang bareng? Ada yang ingin ku perlihatkan.." 

*

Bel pulang sudah berbunyi. Sebelum pulang, aku beniat menyimpan sebagian buku-buku paket di loker

"Eh leo ya!" seseorang memukul bahuku dari belakang. Aku mengedikkan bahuku terkejut. "ternyata bener Leo" serunya sumringah 

Ia adalah Citra, Gabriella Citra Febriani. Si wakil ketua kelas yang rajin, disiplin nan cantik, idaman sekolah katanya

Aku hanya tersenyum menanggapi. 

Ia juga  ikut meletakkan buku-bukunya dilokernya yang ternyata bersebelahan dengan lokerku. 

"Kalian janjian ya?" ujarnya, bersandar pada pintu besi lokernya setelah menutup pintu lokernya.

Aku memejamkan mataku beberapa kali kebingungan. 

"Noh" ia mengedikkan dagunya mengarah kepintu kaca tembus pandang. Dan ternyata benar, Aneska tengah berdiri bersandar disamping pintu kaca. Ia menungguku?

Citra menepuk-nepuk bahuku, "Semoga lancar ya" bisiknya sebelum akhirnya pergi.

Aneska masih disana, berdiri bersandar. Apa ia serius soal tadi pagi? Aku pikir ia hanya bercanda. Tapi dari mana ia tau aku di tempat loker? Ah sudahlah..

Aku menggelengkan kepalaku, tak mau membuatnya menunggu lebih lama dengan segera aku keluar setelah menutup loker.

Sreett

Dia segera berbalik begitu mendengar suara pintu yang kutarik sebelum keluar. Kulihat seulas senyum terukir dibibirnya. 

Ternyata dia tidak sendiri, seorang pria berjas hitam berbadan kekar juga tengah berdiri tak jauh darinya. Sedikit bergedik ngeri, tapi tetap berusaha tenang.

"Udah lama nungguin gua ya?" 

"Enggak kok" ia mengibas-ngibaskan tangannya, "Ada waktu nggak?" 

Aku melirik sekilas tanganku jam menunjukkan waktu pukul 16:58. Masih ada waktu luang, "hm" 

Kami berjalan berdampingan sementara pria berjas hitam yang biasa di sebut bodyguard itu berjalan mengikuti dari belakang dengan jarang kurang lebih 4 meter. 

Kami berjalan menuju parkiran tempat mobil Aneska. Setelah sampai tampak mobil alphart berwarna polos tengah terparkir bersama dengan mobil milik siswa lainnya namun mobil Aneska tentu lebih mencolok. Tak hanya itu, dua orang pria dan wanita juga berjas hitam berdiri disamping mobil. Apa itu bodyguardnya juga? 

Drrrrrtttt!!!

Tiba-tiba ponsel ku berbunyi, nomor tak dikenal. Aku menjauh beberapa langkah untuk menjawab panggilan. Sementara Aneska masih berdiri menungguku disamping pintu mobilnya.

"Halo?"

📞: "Dimana lo! Lo masih disekolah? Gua lagi di lapangan futsal dekat perumahan lo! buruan!" 

Ujar erlangga dengan pertanyaan-pertanyaan dari seberang sana. 

"Dari mana lu dapet nomor gua?!"

📞: "Nggak usah banyak tanya! BURUAN SINI!!"

"Gua ada urusan" ujarku, hendak memutuskan telpon sepihak

📞: "BURUAN!! Atau lu bakal nyesel"

"Tap—"

Tuttt







———
Bagian bodyguard  emang agak maksa ya?
Tapi ini udah jay perkirakan untuk kelanjutan cerita
Semoga kalian enjoy dan suka genre seperti ini

Tbc
Hiraeth update tiap sabtu malam
Pukul 18 WIB
Terima kasih telah membaca (๑・ω-)~♥”
Salam jay ♥

Continue Reading

You'll Also Like

21K 2K 29
(26 November 2020) 1 Wujud 2 Jiwa Kisah ini menceritakan tentang cewek cantik. Namun kali ini, cewek cantik bukan menjadi mostwanted sekolah ataupun...
105K 20.1K 67
Anai itu Menggantung Asap Mengukir Langit. Al itu Dicabut layu, diangkat mati. -----🥀 Bagaimana bisa sejak bayi sudah diberi misi oleh kedua orang...
7.5K 2.7K 55
[FOLLOW DULU SEBELUM LANJUT KECERITA NYA!] ♡ Rasa nya aku ingin mati saja saat ini juga, dari pada harus me...
164 0 11
dia adarra dissya bulan lebih tepatnya dissya tentang anak bungsu dari enam bersaudara yang selalu dikucilkan tak dianggap ataupun diperlukan layakny...
Wattpad App - Unlock exclusive features