Liburan semester ganjil (5)
...
𓃬 trapped friendzone 𓃬
Nggak tau karena apa gue tiba-tiba dekat kembali sama Jeno. Dekatnya beda. Nggak kayak seperti SMA, tapi ini jauh lebih dekat. Gue bahkan bertanya-tanya, jangan-jangan dia putus sama Pelita? Tapi kayanya nggak mungkin, soalnya dia masih buat story sama Pelita.
Libur semester ganjil, gue cuma pulang seminggu aja. Mengingat durasi libur hanya satu bulan, jadi gue nggak bisa lama-lama di rumah. Gue harus prepare buat semester 6 yang bakalan hectic.
Gue ada niatan semester antara nanti, gue mau ambil KKN. KPLnya gue ambil di semester 7 beserta skripsinya, dan sempro gue ambil di semester 6 juga.
Gue bersyukur selama ini gue nggak ada mata kuliah yang kurang, alias alhamdulillah semua lulus nggak ada yang mengulang. Nilai gue yang gue rasa kurang ya B. Selain itu gue bersyukur karena masih diatas B, hehe.
Oleh karena itu, gue berani ambil skripsi di semester 7.
Hari ini hari terakhir gue di rumah sebelum besok gue harus balik ke kampus. Gue minta anter Kak Jo dan tentunya Ibu juga ikut. Gue milih hari weekend pas balik karena Kak Jo bisa nganterin soalnya lagi libur. Meskipun macet nggak apa-apa lah ya.
"Nyil!"
"Kenapa? Mau ngerecokin lagi kayak liburan kemaren?"
"Enggak, gue cuma mau bilang besok lo balik kampus kan? Temuin dulu kek temen lo."
"Hah? Siapa?"
"Ada, temen SMA lo."
"Siapa? Masa iya Jeno." Gue mengguman seraya bangkit dari posisi rebahan gue dan jalan menuruni tangga.
Dan benar, gue bisa mengenali postur tubuhnya dari belakang. Iya, itu Kajeno. Yang lagi berdiri membelakangi gue dengan tangannya memainkan ponselnya.
Segera gue membuka pagar dan hal itu membuat Jeno membalikkan badannya ke arah gue.
"Hei..." Sapanya yang membuat gue mengerutkan dahi sekilas.
"Kenapa lu? Kesambet?"
Jeno terkekeh seraya membawa langkahnya kian mendekat ke arah gue.
"Free nggak? Gue mau ngajak lo jalan. Sekalian mau ngomong sesuatu sama lo."
Gue memberikan tatapan yang sulit dicerna. Bahkan Jeno yang ada di hadapan gue saat ini menatap gue bertanya-tanya.
"Beneran kesambet emang."
𓃬 trapped friendzone 𓃬
Setelah gue diberikan waktu untuk siap-siap, nggak sih.. Lebih tepatnya ini gue yang minta. Ya lagian ngajak keluar tiba-tiba. Terus maksudnya apa coba? Nggak ada komunikasi, terus main ngajak jalan? Untung gue sabar.
Setelah menyemprotkan parfum, gue melirik ke arah Kak Jo sekilas yang sedaritadi berkacak pinggang di depan gue.
"Inget ye, jangan kemaleman. Besok lo balik."
"Iye bacot lu, Jo."
"Sampis! Diajakin kemana sih lo sama Jeno?"
"Ya nggak tau, keliling doang kali. Ngabisin bensin."
"Beliin jajan ye kalo balik."
"Iye kalo inget. Minggir lo! gue mau lewat." Ucap gue seraya menyuruh Kak Jo agar geseran dikit dari pintu biar gue bisa lewat.
Gue nyengir kuda ke arah Jeno yang duduk di ruang tamu. Iya, gue mempersilahkan Jeno masuk ke dalam buat nungguin. Yakali gue biarin dia nunggu di luar.
"Udah?" Tanya Jeno ketika gue menghampirinya.
Gue membalas dengan anggukan pelan lalu menunduk, membenarkan posisi flatshoes gue.
"Mana ibu lo? Biar gue pamit sekalian." Ucapnya seraya berdiri dari kursi dan memegangi lengan gue, setelahnya ia menarik sedikit baju gue, niatnya merapikan.
"Nggak usah, ibu lagi repot di dalem."
"Nggak enak kali ah, Rey. Pamit dulu."
"Yaudah, sana masuk sendiri. Gue males ke dalem lagi."
Detik berikutnya Jeno melenggang pergi ke arah belakang, dan menemukan ibu gue di dapur.
"Pagi bu, izin bawa Reya keluar ya bu?"
"Eh, ada nak Jeno toh. Iya bawa aja. Hati-hati yaa. Jangan ngebut-ngebut."
"Siap bu." Balas Jeno sembari memperlihatkan eyesmilenya.
Dirasa urusan di dalam rumah selesai, gue dan Jeno pun melangkahkan kaki keluar rumah. Gue berjalan seraya memakaikan helm ke kepala gue, dan hendak menaiki motor Jeno.
Selang beberapa detik gue tercekat.
"Astaga, gila ya lu?"
"Kenapa lagi?"
"Motor scoopy kesayangan lo mana? Kenapa malah ngajak gue make motor ini?"
"Lah? Motor scoopy itu motor kakak gue kali. Nah motor ini baru motor gue."
Gue mengernyit heran, "udah ah cepet naik!"
"Nggak mau! Lo aja bonceng Pelita pake scoopy, masa gue enggak?"
"Nggak nyambung, bego. Buru naik ah!"
Gue berdecak sebal namun ujung-ujungnya tetap nurut. Gue pun naik dengan bantuan bahunya. Bahkan Jeno juga memegangi pinggang gue dari samping, memastikan gue bisa naik ke motornya ini.
"Awas aja lo modus!"
"Dih, lo cuma diem doang aja ntar bakalan nempel sama gua."
"Bacot! Udah sana buru jalan."
"Yakin nggak mau pegangan?"
"Gue udah pegangan kali."
Jeno berdecak nggak suka, kemudian tangannya terulur ke belakang mencari-cari tangan gue. Begitu dapat, ia langsung menarik dan melingkarkan kedua tangan gue di sekitar lengannya.
"Pegangan tuh disini, bukan di tangki. Bego!"
𓃬 trapped friendzone 𓃬
30 menit terlewati dan Jeno nggak ada niatan buat ngeberhentiin motornya di suatu tempat. Lagaknya mau ngehabisin bensin nih.
"Lo sebenernya mau ngajak gue kemana sih?" Tanya gue ketika Jeno memelankan lajunya.
"Morning ride."
"Yaelah, dimana mana mah kalo mau riding ato drive gitu tuh malem, Jen. Bukan pagi begini."
"Emang kalo gue ajak malem lo bakalan mau?"
"Ya nggak mau sih."
"Kenapa nggak mau?"
Gue mencubit pinggangnya pelan, "tanya mulu lo kek babi."
Habis itu Jeno terkekeh pelan dibalik helm hitamnya yang membuat gue nggak paham sama jalan pikir dia saat ini. Padahal nggak ada yang lucu??
"Ntar malem aja gimana? Biar suasananya mendukung."
Gue menarik tangan gue dari pinggangnya, "maksud lo? Emang lo mau ngomong apa pake butuh pendukung suasana segala?"
"Ada. Gimana? Mau nggak ntar malem?" Tanyanya sekali lagi dengan satu tangannya mencari tangan gue, yang kemudian ia lingkarkan lagi ke sekitaran pinggangnya.
"Nggak usah modus ya!" Gue ngomel tapi ya tetap aja nurut.
Jeno terkekeh lagi, "ya makanya jangan dilepas. Buru ah mau nggak ntar malem? Kalo lo diem berarti iya."
Gue mengeratkan kedua tangan gue di pinggangnya yang membuat Jeno menegang seketika, "gue besok balik, Jen. Jadi ntar malem nggak boleh keluar lagi sama abang. Ya biar pas di jalan nggak capek."
Jeno masih termangu pelan namun masih tetap fokus pada jalan, "sori ya, Jen. Btw cepetin dong! Gue udah terlanjur meluk lo erat banget nih. Ayo ngebut!"
Tanpa berpikir dua kali, Jeno melajukan motornya kencang dan dengan lihai menyalip kendaraan kanan kiri. Tanpa tau dibalik helmnya itu, dia tersenyum senang seraya kedua matanya menyipit bak bulat sabit. Dia berusaha menahan rasa gemasnya agar tidak mengusak-usak Reya saat ini.
...
𓃬 trapped friendzone 𓃬
(WHEN HELM SAMA JAKETNYA DILEPAS!1!1!!1!)
.
.
me:
Notes!
HAHAHABSJANANDJS BILANGNYA AJA RAJIN UPDATE, TAPI APA INI BRADER????
aduh maafin bgt ya, tiba2 gue kena wb gitu huhu dan gabisa nemuin alurnya lagi. Yaudah, gue memutuskan utk merenung dan alhamdulillah udh kembali ke jln yg beneeer wkwkwkwkwkwkkwwkwk
Anw, gue mo ngomong makasih banget yg udh mampir ke work gue yg gaje ini.
Tetep jaga kesehatan yaa, yang blom vaksin segera vaksinnnnn... Kalo kluar ttp patuhi 3M yeee!✨
See youuu, doain bisa double up!💚💚
happy weeekeendddd!!!!!😍✨💚