HAIII
WELCOME TO MY FIRST STORY
jangan sungkan untuk membenarkan typo, guys.
HAPPY READING:)
.....
.....
.....
Suara alarm yang berasal dari handphone terdengar, mengusik ketenangan seorang gadis yang masih bergelut dengan mimpi indahnya.
Mencoba mengabaikan suara dengan menutupi telinganya menggunakan guling empuknya. Tetapi, usahanya kini sia-sia. Dering alarm masih saja terdengar. Tangan kanannya kini aktif mencari letak handphone. Dann, ketemu! Segeralah dirinya mematikan alarm dan bangkit dari kasurnya untuk memulai aktivitas hari ini.
Setelah bersiap-siap, kini dirinya berangkat menuju cafe yang tak jauh dari tempat tinggalnya untuk bekerja. Berangkat menggunakan sepeda onthel sembari menggumamkan sebuah lagu, itulah kebiasaannya.
Semilir angin berhembus menerpa setiap inci wajahnya, rambutnya bergerak seringin angin membimbing, kedua kaki terus menggayuh dengan pelan sembari menikmati udara pagi. Daun berjatuhan seakan-akan memberi sambutan kepadanya dengan awan yang cerah membuat bibirnya melengkung ke atas.
Ingatannya kembali mengingat kisah hidupnya selama ini. Orang tuanya entah kemana, selama 17 tahun dirinya di besarkan di salah satu panti asuhan. Pada saat menginjak di umur 17, dirinya memutuskan untuk mencari kerja karena tak mau meropotkan lagi pada pengurus panti. Sudah cukup selama 17 tahun itu dirinya di bimbing, di rawat oleh pengurus panti. Tidak akan mungkin dirinya bergantung pada pengurus panti terus-terusan.
Dan sudah 1 tahun dirinya menjalani hidup mandiri dan berkeja sebagai pelayan di cafe. Sulit memang hidup di tengah kerasnya kota. Tetapi, dirinya bersyukur karena masih diberikan kesehatan hingga saat ini.
Ingatan itu membuatnya tak sadar bahwa sudah sampai di depan tempatnya bekerja. Turun dari sepeda bututnya setelah memakirkan dengan aman. Sesampainya di ruang ganti, dirinya segera memakai apron dengan namanya yang sudah tertulis di sana. Annadhita Meylana, itulah nama panjangnya dengan panggilan Anna, pemberian dari ibu panti.
“Semangat banget kayaknya,” goda salah satu teman Anna di tempat kerjanya, namanya Lia.
Anna menampilkan cengiran khasnya, “harus semangat dong, hidup kalo ngga semangat mana bisa kerja.”
“Iya juga, yaudah yok kerja.” Berakhirlah mereka bekerja dengan semangat yang berkobar dan senyum manis mereka berikan kepada pengunjung.
Anna sangat-sangat menyukai pekerjaannya, walau dengan gaji yang tak seberapa dirinya tak mempermasalahkan itu. Selagi bisa bekerja untuk hidupnya, kenapa tidak?
.....
Tak terasa hari sudah sore dan waktunya cafe tutup. Setelah selesai bersih-bersih cafe, Anna bergegas untuk pulang. Pakaian kotor yang belum dirinya cuci sudah menumpuk dan harus segera di cuci.
Jalan raya kini padat dengan kendaraan berbagai jenis mulai dari sepeda motor, mobil, truk, dsb. Maklum sore-sore pada pulang kantor. Suara klakson membuat kepadatan jalan bertambah riuh.
Untuk yang membawa sepeda onthel seperti Anna sangat jarang di temui di kota. Hanya hari-hari tertentu saja ada yang memakainya walaupun tak banyak.
Kepadatan jalan raya membuat salah satu sepeda motor tak sengaja menyenggol sepeda Anna bagian belakang hingga membuat sang empu tak bisa menjaga keseimbangannya dan berakhirlah jatuh mengenaskan di pinggir jalan.
“Awww, shhh,” rintih Anna disaat siku tangannya dan lututnya bergesekan dengan aspal serta kepalanya terhentak pelan di trotoar.
“Eh-eh sorry, astaga siku lo berdarah,” ucap pelaku sembari membantu Anna setelah memakirkan motornya dengan benar. Membawa Anna ke tempat yang lebih aman tak lupa juga sepeda Anna juga di bawa ke tempat yang lebih aman.
“Shhh, kenapa sakit banget?” Anna terus saja merintih membuat pelaku tak tega.
“Kamu kenapa nabrak aku?” lirih Anna menatap sang pelaku dengan mata berkaca-kaca.
“Namanya juga musibah, gue juga ngga mau kalo sampai nabrak elo,” jawab sang pelaku dengan nada yang terkesan cuek tapi tidak dengan hatinya. “Rumah lo jauh ngga dari sini?” sambungnya.
Anna menggeleng pelan sebagai jawaban. “Gue anter,” final sang pelaku. Tanpa meminta persetujuan dari Anna, dirinya menaiki sepeda onthel Anna setelah memastikan motornya aman untuk ditinggal sebentar.
“Cepet naik,” titah sang pelaku dan mau tak mau Anna menurutinya.
.....
Selesai mengobati luka yang ada di tubuh Anna, barulah dirinya kembali duduk dengan benar. Menatap kondisi sekitar membuat dirinya nyaman. Sekitarnya bersih tak ada satu sampah pun walaupun bangunannya terkesan sempit. Berbeda dengan keadaan apartemennya yang sangat-sangat kotor. Apartemennya akan di bersihkan satu minggu sekali oleh orang suruhan dari orang tuanya.
Fyi, orang tuanya berada di luar negeri dan dirinya meminta untuk tinggal di apartemen agar mandiri.
Keheningan tercipta, tak ada yang mau memulai pembicaraan. Suara burung yang berterbangan lah yang menjadi suara diantara keheningan ini. Sang mentari sebentar lagi akan tenggelam membuat cahaya di sekitar mereka meremang. Tidak menyeramkan. Hingga suara burung-burung itu hilang, tak ada yang membuka obrolan. Gengsi? Maybe.
“Nama lo siapa? Biar ngga bingung kalo manggil,” tanya-nya memecah keheningan yang tercipta.
“Annadhita Meylana, panggil aja Anna,” balas Anna sembari menatap lawan bicaranya sebentar lalu menatap ke arah depan lagi. Menikmati guratan senja yang mulai pudar digantikan dengan awan hitam.
“Oke, Anna. Nama gue Rio Sadewa, panggil aja Rio.” Laki-laki yang telah selesai menyebutkan namanya, kini tangan kanan nya mengulur membuat Anna membalasnya sembari tersenyum tipis. Ada sedikit sengatan ada di dalam dirinya, Rio merasakan itu.
“Gue pamit pulang dulu, ini nomor telepon gue kalo lo mau gue bertanggung jawab.” Setelahnya, Rio pergi disaat Anna ingin membuka suara.
Setelah tubuh Rio tak terlihat lagi, barulah Anna masuk ke dalam kontrakan kecilnya. Bangunan yang penuh warna. Bukan warna catnya tetapi, warna perjuangannya.
Tempat ini adalah saksi bisu jatuh bangunnya Anna, saksi bisu ketika Anna rindu kehangatan keluarga yang tak pernah Anna rasakan selama ini, saksi bisu semua harapan-harapan Anna yang pasti tidak akan terkabulkan.
.....
Malam yang cerah, bulan sabit menjadi sumber utama cahaya malam ini, tebaran bintang yang memenuhi langit malam, kerlap kerlip bintang yang sangat memanjakan mata.
Semilir angin menyambut kedatangan Anna malam ini. Gesekan dedauanan di pohon seakan-akan memberikan ucapan selamat datang kepada Anna. Taman, adalah salah satu tempat yang Anna di datangi malam ini.
Membawa sebuah buku yang bersampul putih bersih tak ada coretan sedikit pun. Membuka lembar baru untuk menuliskan sesuatu, jarinya menari indah di atas kertas dengan goresan tinta di atasnya. Menulis rangkaian kata demi kata hingga menjadi sebuah kalimat dan terbntuklah menjadi sebuah paragraf.
Setiap malam dirinya seperti ini, menulis kejadian atau peristiwa yang dia alami setiap harinya.
Malam...
Hari ini entah mengapa hatiku menghangat
Serasa ada orang yang peduli lagi kepadaku
Setelah satu tahun, kenapa ada orang yang kembali peduli lagi kepadaku?
Kenapa tidak dari tahun lalu saja?
Tahun pada saat aku melewati pahit nya hidup
Kini ku tak tau, orang itu benar-benar peduli dengan ku atau hanya kasian terhadapku
Semoga apa yang ku harapkan sesuai dengan realita
Terimakasih Rio Sadewa, orang yang memberi kehangatan pada hatiku setelah sekian lama tak ada orang yang menghangati hatiku
Semoga bulan dan bintang menyampaikan ucapan terimakasihku dan semoga angin menyalurkan kehangatan hatiku.
Selamat malam....
.....
Pagi hari kembali menyapa, sama seperti hari-hari sebelumnya. Cuaca hari ini cerah, burung berkicauan, dan jalan raya mulai di padati oleh kendaraan-kendaraan.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 yang berarti sebentar lagi waktunya masuk kuliah. Rio melanjutkan pendidikannya di salah satu univeristas ternama di kota Jakarta.
Setelah bersiap, Rio mulai menjalankan motornya menuju rumah seseorang sebelum ke kampus. Setiap hari selalu saja seperti itu. Debu dan asap lah yang menjadi penggiring Rio untuk mencapai tujuan.
Dari kejauhan, Rio dapat melihat bahwa seseorang yang ingin ia datangi sudah berdiri di depan pagar rumah.
Setelah mematikan mesin motornya, Rio membuka helm nya lalu membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Dih sok ganteng, lo!” cetus seseorang membuat Rio tertawa pelan.
“Gue emang ganteng, baru nyadar?” tanya Rio jenaka dengan kedua alis yang naik turun membuat lawan bicaranya berlagak muntah.
“Udahlah, yok berangkat.” Tanpa menunggu persetujuan sang pemilik motor, dirinya langsung menaiki jok belakang motor milik Rio di saat pemiliknya belum siap.
“Ck! Bisa ngga sih buat gue ngga kesel satu hari aja?” kesal Rio yang hanya di balas gelengan oleh orang yang ada di belakangnya.
“Oke, Syakhila Andari, kita mau kemana sekarang?” tanya Rio lembut tetapi menyeramkan bagi Syakhila. Jika Rio sudah berbicara lembut yang terkesan menyeramkan maka keadaan hati Rio saat ini sudah panas dingin.
“Eee, mau kuliah. Iya kuliah, bentar lagi masuk,” balas Syakhila gugup. Tak lama setelahnya, Rio menyalakan mesin motornya lalu berlalu dari sana menuju kampusnya.
Rio dan Syakhila bersahabat sejak mereka berumur 5 tahun hingga sekarang. Faktor yang menyebabkan mereka tak putus bersahabat adalah, orang tua mereka juga cukup dekat dalam dunia bisnis dan mereka sama-sama anak dari orang tua yang sangat gila kerja hingga hanya sedikit waktu orang tua mereka untuk mengajak mereka ngobrol. Hmm mungkin sudah tidak ada waktu.
Sudahlah, membahas orang tua yang gila kerja akan membuat mood turun.
.....
Sepulang dari kampus, Rio berniat untuk mampir ke cafe. Syakhila sudah pulang duluan bersama temannya untuk jalan-jalan ke mall. Memang, Rio tadi sempat pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku.
Almera cafe, itu adalah tempat yang di kunjungi oleh Rio. Alunan musik klasik menyambut kedatangan Rio, mencari tempat yang cukup nyaman dan berakhilah duduk di pojok dekat jendela yang menampilkan kepadatan jalan raya.
Cafe yang bertema monokrom itu sangat menenangkan dan hangat, lampu lampu kuning sebagai penerang menambah kesan hangat bagi para pengunjung.
Seorang waiter’s berjalan mendekat ke arah tempat yang di duduki oleh Rio.
“Silahkan di pilih menunya,” ucap seorang waiter’s ramah di sertai senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
“Lo bukannya yang kemaren?” tanya Rio dengan jarinya yang menunjuk wajah Anna dan sepasang matanya yang melihat Anna dari atas hingga bawah, memastikah bahwa pengelihatannya normal.
“I-iya, aku Anna. Yang kamu tabrak kemaren,” jawab Anna pelan tetapi masih terdengar jelas di telinga Rio.
“Duduk di depan gue!” titah Rio mutlak dan mau tak mau Anna menurutinya dengan wajah yang menunduk.
“Lo kerja di sini?” tanya Rio kemudian lalu dijawab anggukan pelan oleh gadis yang berada di depannya.
“Ck! Kalo gue ajak ngomong itu tatap mata gue, emang lantai itu lebih ganteng dari gue?” cetus Rio dengan ke-pedean nya yang sangat tinggi membuat Anna langsung mendongakkan wajahnya dengan cepat. Ingatkan bahwa Rio tak suka di acuhkan. Bercanda.
“Iya, aku kerja di sini,” jawab Anna takut-takut.
“Sejak kapan?” tanya Rio lagi membuat Anna dengan cepat menjawab, “udah 1 tahun yang lalu.”
“Yaudah, buatin gue coffe latte 1,” ucap Rio dan dengan segera Anna mengangguk lalu membuatkan pesanannya.
Anna tak akan mengira dirinya bisa bertemu dengan orang yang menabraknya kemarin. Ingatan Anna kembali berputar tertabrak-ditolong-berpisah-dan kini bertemu lagi. Entah suatu kebetulan atau yang lain, Anna tidak tau. Mengingat dirinya tertabrak kemarin, kakinya memang belum sepenuhnya sembuh tetapi, masih bisa untuk berjalan.
.....
Di malam yang sepi ini, Anna kembali menulis. Menulis itu sudah menjadi kebiasaan Anna dari satu tahun yang lalu. Sudah banyak buku pula yang dirinya beli untuk menuangkan segala keluh kesah yang dirinya lewati selama ini.
Dan seperti biasa, Anna membeli buku dengan warna yang sama, putih. Katanya, cukup Anna saja yang hidupnya penuh coretan luka, jangan sampul bukunya. JANGAN SAMPAI!
Tulisan yang rapi itu sangat mudah untuk di baca, sungguh indah bila di pandang. Selesai menulis, Anna yang keadaannya sudah mengantuk berat pun langsung tidur tanpa membereskan buku yang berceceran.
Terlihat satu lembar yang sudah di coreti Anna menggunakan pena, coretan yang berisi deretan kalimat, menggambarkan bagaimana keadaan hari ini.
Malam yang tenang
Bulan dan bintang masih tercetak jelas di awan hitam
Kendaraan yang hilir mudik, suaranya terdengar sampai sini
Tidak ada kata dingin untuk malam ini, yang ada hanyalah kehangatan menyelimuti ku
Hari ini, cukup melelahkan, kakiku sedikit sakit jika dibuat jalan terlalu cepat, tak masalah yang terpenting, aku masih bisa memberi senyum ku kepada orang lain.
Entah suatu kebetulan atau disengaja, aku bertemu lagi dengannya
Senang? Emm, tidak terlalu, untuk sekarang ngga tau untuk nanti
Aku mau jabarkan sedikit tentang dia dari sudut pandangku boleh kan?
Oke, dia itu... tampan, pasti sih. Dari yang aku lihat, dia itu sebenarnya punya hati yang tulus tetapi, entah mengapa presepsi aku saat ini sangat belum yakin. Ntahlah karena apa, yang pasti dia baik.
Udah deh, itu aja. Maaf apabila telingamu panas karena aku membahasmu di sini. Maaf juga aku belum izin sama kamu sebelumnya.
Cukup, aku ngantuk.
Selamat malam, selamat tidur, mimpi indah.
See you.
.....
Seminggu sudah semenjak kejadian mereka bertemu tanpa sengaja. Sudah seminggu juga mereka bertukar pesan.
Jika kalian berfikir bahwa Anna yang memulai chat itu maka kalian salah besar, Rio lah yang men-chat Anna duluan. Entah dari mana Rio mendapatkan nomor Anna, yang pasti jika Anna bertanya darimana Rio mendapatkan nomor handphone-nya dari mana balasannya hanya senyuman, tak ada yang pasti. Sama seperti hubungan mereka, ups sorry guys.
Sejak pertemuan tak sengaja mereka, di hari berikutnya hingga sekarang, Rio sengaja mengunjungi cafe itu. Entah hanya sekedar duduk-duduk saja, atau mengerjakan tugas.
Akhir-akhir ini kebiasaan Rio berbanding terbalik dari sebelumnya, jika sebelumnya Rio mengerjakan tugas di tempat-tempat sepi, perpustakaan misalnya tetapi, sekarang tidak.
Menurutnya, cafe adalah tempat ternyaman baginya untuk mengerjakan tugas. Alasan itu sangat-sangat klise, tak tahu apa yang menjadi tujuan Rio di balik alasan itu yang pasti, kita hanya menjadi penonton di setiap cerita kehidupan mereka.
Rio hanya sendiri mengunjungi cafe itu, sengaja tidak membawa Syakhila karena Syakhila juga disibukkan dengan tugas kuliahnya sendiri. Jadi, tidak harus membuat banyak alasan untuk Rio pergi ke cafe itu.
Hari ini, Rio berniat ke Almera cafe dengan Syakhila untuk mengerjakan tugas kuliah. Terpaksa karena tugas.
Duduk di tempat yang biasanya Rio duduki, pojok cafe dengat jendela yang menampilkan kepadatan jalan raya, selalu di situ. Tempat favorit.
Alunan musik merdu membuat ketenangan setiap pengunjung, tidak ramai tetapi, pengunjung silih berganti.
Syakhila baru pertama kali ke cafe ini, satu-satunya cafe yang pernah Syakhila datangi yang memberi ketenangan padanya, kehangatan menjalar di setiap inci tubuhnya, Syakhila suka itu.
“Tumben lo ngerjain tugas di sini?” tanya Sakhila heran. Rio yang mendengar itupun hanya tersenyum tipis. Sangat tipis.
“Lo punya crush di sini yaa?” goda Syakhila yang langsung membuat Rio gelagapan. “Eh siapa?” imbuh Syakhila dengan nada yang mendesak.
“N-ngga, siapa bilang?” tanya Rio balik dengan nada gugup. Berusaha menyingkirkan kegugupannya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lembaran-lembaran di atas meja.
“Cielah gugup, udahlah gue tau kalo lo punya doi di sini. Bentar gue tanya dulu ke mba Lia, siapa tau dia tahu soal crush lo.”
Di saat Syakhila hendak berdiri dari tempatnya, dengan gesit Rio mencekal tangan Syakhila berharap tindakannya kali ini dapat menghentikan gerakan Syakhila.
Syakhila melihat ke bawah dengan tangan Rio yang masih mencekal tangannya lalu pandangannya merembet naik mengarah ke wajah Rio dengan takut-takut. Dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Rio membuat dirinya tak bisa berkutik barang sedikit pun.
Sial, tatapannya tajem banget lagi, batin Syakhila.
“Mau kemana?” tanya Rio dengan nada rendah bagi siapapun yang mendengarnya akan bergidik ngeri, termasuk Syakhila.
Syakhila kembali duduk manis. “O-oh, engga, engga kemana-mana. Hehe,”
“Kerjain tugasnya,” perintah Rio tanpa ada kata penolakan.
Mereka mengerjakan tugas dengan lancar tanpa tau ada orang yang bersembunyi di balik pembatas dapur.
Entah kenapa orang itu merasakan hatinya dihantam oleh sesuatu, sesuatu yang tak terlihat tapi mampu menghancurhan tembok kaca pertahanannya. Satu yang menjadi pertanyaan besar. Kenapa aku kayak gini?
.....
DI atas kasur sempitnya, terdapat Anna yang sedang fokus membaca novel. Secangkir hot coklat yang masih mengepul itulah yang menjadi teman Anna membaca novel.
Udara malam ini cukup dingin, waktu masih menunjukkan pukul 7 malam. Dinginnya malam ini menjadi pendukung untuk Anna yang sedang membaca buku.
Aneh, kebanyakan orang-orang jika udara sedang dingin memilih untuk bercengkrama dengan kasur dan selimut lalu tidur, dan ini sangat tidak berlaku pada Anna.
Fokusnya terbuyar ketika dirinya mengingat kejadian tadi siang. Dimana dirinya menemukan keanehan pada tubuhnya. Aneh sekali.
Anna yang seharusnya baik-baik saja tetapi, hatinya hancur ketika melihat pemandangan di depannya siang tadi.
Apakah Anna harus konsultasi dengan dokter?
Apa Anna memiliki penyakit aneh yang hinggap pada tubuhnya?
Dan... apakah Anna memiliki rasa-
Oh tidak, spekulasi yang ketiga pastinya salah besar. Mana mungkin dirinya bisa secepat itu? Tidak akan mungkin, iya tidak akan mungkin.
Segeralah Anna bangkit dari kasurnya dan mencari dimana letak buku diary nya. Setelah mendapatkannya, Anna segera menulis seperti biasanya, mengeluarkan keluh kesahnya entah itu susah, senang, atau sedihnya, semuanya Anna luapkan pada buku itu.
Mungkin itu adalah pengalihan semata karena Anna tak memiliki orang yang bisa mendengarkan segala tentangnya selama ini. Cukup dengan buku ini, perasaan Anna menjadi lega.
“Terimakasih karena kamu bisa menjadi tempatku berbagi cerita, terimakasih karena sudah menjadi temanku dalam segala hal, terimakasih.” Anna berbicara kepada buku yang bersampul putih di hadapannya dengan senyum menghiasi wajah cantiknya, tidak aneh bagi Anna jika berbicara kepada buku. Tetapi, siapa yang melihatnya akan menyangka jika Anna terkena gangguan kejiwaan.
.....
Pukul 8 seusai bersih-bersih, Anna segera membersihkan tubuhnya yang lengket. Hari ini adalah hari liburnya dan Anna memanfaatkan hari liburnya dengan bersih-bersih. Meski kontrakannya terbilang sempit, tubuh Anna tetap saja mengeluarkan keringat.
Keluar dari kamar mandi dengan tangan yang menggosok surai hitamnya yang basah menggunakan handuk, Anna berjalan ke arah kasurnya untuk melihat ponselnya yang baru saja menampilkan satu notifikasi masuk.
Ternyata notifikasi tersebut berasal dari....Rio.
Rio S
│Lo sibuk?
Ga sibuk, kenapa emangnya?│
│15 menit lagi gue sampe, cepet siap-siap
Kemana?│
Tak ada jawaban lagi dari Rio. Tulisan online di bawah profil kini sudah menghilang digantikan dengan tulisan last seen.
Sejenak Anna menimang-nimang perintah dari Rio, ingatannya kembali pada kejadian kemarin. Dan sekarang, apa Anna harus menuruti perintah Rio? Apa gadis yang kemarin itu pacar Rio?
Spekulasi-spekulasi negatif mulai muncul di pikiran Anna, hingga tak sadar bahwa dirinya sudah bergelut dengan pikirannya selama 5 menit. Anna melewatkan 5 menit itu dengan sia-sia.
Jadi, kesimpulannya adalah, Anna merupakan orang yang ada di perbatasan tembok dapur cafe dan melihat Rio duduk bersama seorang gadis, Syakhila.
Rio mengajak Anna ke Gramedia untuk membeli buku refrensi tentang tugas yang diberikan dosen tempat kulaih Rio.
Setelah setengah jam memilah buku yang ingin di beli, Rio mengajak Anna ke deretan buku novel, Anna hanya ikut saja tanpa mengetahui lebih jelas gerak-gerik Rio.
“Lo pilih buku sesuka lo, gue bayar,” perkataan Rio lah yang meredakan keheningan di antara mereka. Anna yang semulanya mengamati buku-buku kini menoleh dengan pandangan bingung.
Rio menghela napas, “lo ambil buku sesuka lo, gue yang akan bayar,” jelas Rio karena paham raut wajah Anna.
“Beneran?” tanya Anna antusias. Rio mengangguk sebagai jawaban.
Segeralah Anna memilih buku yang sangat-sangat dia dambakan. Dann, yes, Anna mendapatkan buku itu. Sudah berbulan-bulan lamanya Anna menginginkan buku itu tetapi, kebutuhan pokoknya lebih penting dan berakhirlah Anna harus mengubur sedalam-dalamnya keinginan membeli buku itu.
“Gimana? Suka?” pertanyaan yang sudah mengerti jawabannya, dan kenapa pertanyaan itu meluncur tanpa adanya pertimbangan terlebih dahulu dari mulut Rio?
“Suka,” jawab Anna sangat antusias. Rio tersenyum mendengarnya, “Cuma satu?”
Anna menoleh bingung kepada Rio lalu menjawab, “cukup satu aja, yang lain belum pengen.”
Rio hanya mengangguk lalu mengambil buku yang di pegang Anna untuk membawanya ke kasir setelah menyuruh Anna untuk menunggu di dekat pintu keluar Gramedia.
“Na, sama siapa lo di sini?” tanya seorang pemuda yang suaranya mengejutkan Anna.
Menoleh kepada siapa yang memberinya pertanyaan dan tersenyum kemudian. “Sama temen, kamu juga sama siapa disini?” tanya Anna sembari melihat sekitar mencari siapa yang diajak pemuda itu untuk pergi ke toko buku.
“Sama Nina, anak panti yang paling gede itu. Katanya dia pengen banget ke toko buku,” jawabnya sembari menunjuk Nina yang sedang memilih-milih novel.
Pemuda itu adalah Leo—anak dari ibu panti— yang umurnya 1 tahun lebih tua dari Anna. Teman yang paling dekat Anna sewaktu di panti asuhan dulu.
“Ohh, dia udah gede sekarang, makin cantik lagi,” ujar Anna setelah melihat keberadaan Nina. Leo mengangguk setuju, Nina memang cantik.
“Lo juga cantik,” gumam Leo pelan tak sadar dan yang pasti perkataan itu tak akan sampai pada telinga Anna.
“Dah lama lo ngga kunjung ke panti,” celetuk Leo dengan sepasang mata yang terus memandang wajah cantik Anna.
“Hmm, iya ya udah lama aku ngga ke panti, ntar deh kapan-kapan,” balas Anna disertai kekehan kecil.
“Kapan-kapannya kapan?” cibir Leo yang menambah kekehan Anna hingga tawa merdu itu keluar dari bibir mungil Anna.
Sudah lama Leo tak mendengar tawa Anna yang sangat merdu bagaikan melodi yang mengalun indah dan masuk secara sopan ke telinganya.
Tawa itu perlahan mereda ketika netra Anna menoleh ke samping kanan tempat Leo berdiri dan melihatnya secara dalam.
“Heh, ngapain bengong?” tanya Anna mengagetkan Leo. Berdehem pelan lalu menjawab, “ngga, gue ngga papa.”
“Na, mau pulang sekarang ap—” ucapan Rio langsung berhenti ketika sepasang matanya menangkap Anna yang sedang berbicara kepada sorang laki-laki yang tak Rio kenal siapa lelaki itu.
Ternyata, ucapan Rio tadi sampai ke sepasang telinga Anna. Menoleh ke belakang dimana Rio berdiri lalu berkata, “eh, Rio, ini temen kecil aku, sini aku kenalin.”
Rio melangkah ragu ke arah Anna dengan sepasang mata yang terus menatap Leo seakan-akan menilai penampilan Leo sekarang.
“Rio, kenalin ini Leo, temen kecil aku dan Leo, kenalin ini Rio temen ku,” ujar Anna memberitahu keduanya.
Mereka berjabat tangan ala laki-laki sembari menyebutkan nama diri masing-masing.
“Mau pulang sekarang apa masih temu kangen?”
“Pulang sekarang aja,” jawab Anna lalu menoleh kepada Leo, “aku mau pulang, salam in sama ibu panti sama anak-anak juga, kapan-kapan aku ke panti kalo ada waktu,” pamitnya dan diangguki oleh Leo dengan senyuman manis yang Leo tujukan kepada Anna seorang.
“Lo juga jaga diri baik-baik inget, lo punya penyakit maag, jangan sampai telat makan,” peringat Leo dan diangguki semangat oleh Anna.
Shit, kenapa badan gue panas, batin Rio dengan wajah memerah melihat percakapan Anna dengan Leo.
“Bye, Leo,” ucap Anna sebelum melangkah pergi.
“Bye, Anna cantik,” ucap Leo pelan setelah punggung Anna tak terlihat.
Sudah satu tahun Leo tak melihat Anna dan juga tak mendengar kabar Anna, dan hari ini, hari yang sangat menguntungkan baginya karena bisa melihat kembali tubuh mungil Anna yang selalu dirinya rindukan.
Setahun Anna telah lost contact dengannya dan ibu panti, entah Anna ingin benar-benar hidup mandiri atau ada alasan lain di balik itu.
Anna juga sudah setahun tidak berkunjung ke panti, terakhir kali Anna menginjakkan kakinya di panti sewaktu mereka akan berpisah. Setelahnya, Anna tidak menginjakkan kakinya di halaman panti hingga sekarang.
Leo tak memaksa Anna berkunjung ke panti, yang Leo inginkan adalah kabar Anna apakah baik-baik saja atau tidak, hanya itu.
Oh Tuhan, Leo sampai lupa meminta nomor baru gadis itu. Huhh, sepertinya, Leo harus menguntit Anna agar mendapatkan dimana letak tempat tinggal Anna sekarang.
.....
Sebulan sudah terlewatkan, berbagai senyum, tawa, dan tangis Anna lewati dengan lapang dada. Senyum yang selalu ia pancarkan kepada pengunjung cafe, tawa yang Anna lontarkan kepada hal-hal lucu yang ada di novel dan tangis yang ia luapkan pada buku bersampul putihnya. Selalu seperti itu.
Beruntungnya, hidup Anna sekarang lebih berwarna setelah kedatangan Rio yang ada di hidupnya. Sekarang, tawa itu bukan hanya dilontarkan kepada hal-hal lucu yang ada di novel melainkan, candaan Rio.
Oh ya, mengenai hubungan Anna dan Rio, hubungan mereka berada di tingkat setelah teman yaitu, sahabat.
Kegiatan Anna sekarang pun bertambah satu, yaitu belajar. Belajar materi kuliah Rio. Hanya iseng tetapi kata Anna, itu menyenangkan.
Seperti pagi ini, di perpustakaan kota yang letaknya tak jauh dari cafe tempat Anna bekerja. Anna sedang mencoba-coba mengerjakan tugas kuliah Rio. Seusai perdebatan panjang tadi, akhirnya Anna lah yang menang.
Rio membiarkan Anna mengerjakan tugasnya, tak masalah, Rio nanti bisa mengerjakan ulang jika ada yang salah.
Kebetulan, jadwal kerja Anna shift siang, dan Anna memutuskan untuk ke perpustakaan kota untuk membaca novel karena simpanan novelnya sudah Anna baca seluruhnya sekalian menunggju jadwal kerjanya daripada bingung di rumah mau ngapain.
Niat baik Anna ke sini hanya untuk membaca novel eh, berujung bertemu dengan Rio. Dan berakhirlah Anna merecoki kegiatan Rio yang sedang mengerjakan tugas, usil memang.
“Nih, aku nyerah. Susah banget,” keluh Anna sembari membalikkan laptop kepada pemiliknya.
“Kan, dah gue bilangin susah masih aja ngeyel, bebal,” cibir Rio sembari membenarkan letak laptopnya untuk ia gunakan lagi.
“Ih, ngeselin,” cibir Anna dengan bibir mengerucut membuat Rio terkekeh pelan.
Lucu banget, batin Rio tanpa sadar.
“Lo baca novel aja, jangan recokin gue lagi,” peringat Rio membuat Anna mencibikkan bibirnya kesal.
“Ish, iya-iya.”
Hening menyelimuti keduanya, tak ada yang mau memulai pembicaraan sebab, mereka sangat-sangat fokus pada kegiatan masing-masing. Hingga suara Anna yang menjadi pemecah keheningan diantara mereka.
“Rio,” panggil Anna pelan semacam bisikan.
Rio mengalihkan atensinya dari layar laptop ke wajah Anna. Menaikkan sebelah alisnya lalu berucap, “apa?”
“Kenapa kamu kuliah?” pertanyaan yang dilontarkan Anna cukup membuat Rio mengernyit heran.
“Menimba ilmu kan? Lo seharusnya tau itu kan, Na?” tanya Rio balik dan mendapatkan anggukan dari Anna.
“Kenapa ngga langsung kerja aja? Kenapa harus kuliah?” Anna bertanya kembali membuat Rio menghentikan kegiatannya sejenak.
“Gini, setiap manusia punya pilihan masing-masing. Gue bisa aja langsung kerja, tapi, gue mau nambah wawasan gue, ngga mungkin dong gue asal-asalan kerja tanpa menimba ilmu lebih dalam lagi? Dan setiap orang juga pendidikannya ngga harus dilalui dengan kuliah, banyak orang yang sukses tanpa melewati pendidikannya dengan kuliah. Dan bagi gue ngga semudah itu buat langsung kerja tanpa memahami dasarnya dulu,” jelas Rio panjang lebar dan di angguki paham oleh Anna.
“Ohh, gitu. Bagus deh.”
.....
Sore ini, Anna memutuskan untuk pergi ke panti setelah membersihkan diri. Membuka pintu kontrakan kecilnya, lalu menunggu ojek online yang dia pesan tadi.
Suara motor terdengar berhenti di hadapannya, sontak Anna mengalihkan atensinya dari benda pipih yang ada di tangannya. Perkiraan Anna yang datang adalah abang ojek online ternyata salah besar.
Yang datang adalah, Leo. Menggunakan motor metic milik bundanya—ibu panti—
“Le-o? Kok tau alamat kontrakan aku?” tanya Anna yang tertera sekali bahwa dirinya kaget.
“Assalamualaikum, Anna,” salam Leo yang membuat Anna malu seketika.
Wajah Anna memerah, dirinya malu, sangat-sangat malu. Bukannya menyambut Leo dengan senyuman tetapi, pertanyaan yang meluncur secara reflek.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Anna dengan senyum kikuk. “Kok tau alamat kontrakan aku?” tanya Anna sekali lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Leo.
“Apa yang ngga aku tau tentang kamu, hm?” tanya Leo balik membuat Anna mati kutu. Pertanyaan dari Leo tadi adalah reflek yang tak terduga dimana Leo menggunakan logat aku-kamu tanpa di sengaja oleh tuannya.
Terjadi hening setelahnya, keduanya tak ada yang mau berbicara. Hanya semilir angin sore dan burung yang berombongan terbang ke ufuk barat lah yang menjadi pengisi keheningan sore ini.
“Kalo tau alamat kontrakan aku, kenapa ngga dari dulu mampir ke sini?” tanya Anna setelah men-stabil kan jantungnya.
“Jadi ceritanya nungguin gue, nih?” tanya Leo jenaka yang mengundang tatapan heran dari Anna.
Anna mendengus pelan, “ngga gitu, kan bisa aja kamu mampir saat tau alamat rumah aku, kenapa baru sekarang mampirnya?”
“Gue juga baru tau beberapa hari yang lalu,” jawab Leo enteng.
Anna melotot, “jadi kamu nguntit aku?” tuduhnya yang sialnya tepat sasaran.
Leo meringis pelan dengan tangan yang menggaruk tengkuknya. “emmm, yaa gitu,” jawab Leo gugup.
“Dah aku duga,” gumam Anna pelan tetapi kata itu sampai di telinga Leo yang membuat Leo menatap heran ke arah Anna. “Ngga papa, bukan apa-apa,” ucap Anna yang mengetahui raut wajah Leo.
“Lo mau kemana sekarang?” tanya Leo yang baru menyadari pakaian rapih yang di kenakan Anna.
“Mau ke panti,” jawab Anna lalu melihat handpone-nya yang menampilkan letak si abang ojek online. “Ishh, kok lama banget?” gerutu Anna yang pasti dapat di dengar baik oleh Leo.
“Gue anter aja sekalian mau pulang,” tawar Leo kepada Anna. Oh tidak, itu pernyataan bukan tawaran.
“Tapi, abang ojolnya?” tanya Anna menatap bingung ke arah Leo.
Leo mengambil alih ponsel Anna. Segeralah jarinya memencet tombol cancel dan tindakan itu membuat bola mata Anna nyaris keluar.
“Kok di cancel? Kan kasian abangnya,” gerutu Anna kesal membuat Leo terkekeh gemas.
“Kok ketawa?” tanya Anna garang dan hal itu lah ke gemas an yang ada di wajah Anna bertambah berkali-kali lipat. Dengan reflek, Leo mencubit pipi Anna karena tak tahan dengan wajah gemas Anna.
“Gue tadi ketemu abang ojolnya, dah gue bayar,” ucap Leo denga tangan yang masih bertengger di kedua pipi Anna.
“Kenapa ngga bilang?” Anna melotot galak setelah berhasil melepaskan tangan besar Leo yang ada di kedua pipinya.
“Udah bilang tuh,” balas Leo lalu berjalan mendekati motornya membuat Anna menghentak-hentakkan kakinya kesal.
“Buruan, keburu malem nanti,” ucap Leo kemudian setelah memakai helm-nya.
Kedatangan Anna di sambut sangat baik oleh penghuni panti. Banyak sekali anak-anak panti yang kangen sama Anna.
Maklum, sudah satu tahun Anna tidak berkunjung ke panti. Ibu panti tersenyum lebar melihat kedatangan Anna.
Seusai melepas rindu dengan anak panti, Anna berjalan mendekati ibu panti yang berdiri di teras panti. Mereka berpelukan erat layaknya ibu dengan anak, Leo tersenyum lebar melihatnya.
“Kamu kemana aja sih, Na? Dah setahun loh kamu ngilang, ngga ada kabar lagi,” ucap bu Sella—ibu panti— dengan nada yang tersirat akan kekhawatiran.
“Hehe, maapin Anna bun, Anna keasikan kerja soalnya,” balas Anna dengan senyum kikuk.
“Yaudah yuk, masuk dulu,” ajak ibu panti dan menggandeng tangan Anna.
Sebelum mereka berdua hilang dari balik pintu, suara bu Sella kembali terdengar. “Leo, jagain anak-anak bentar.”
“Kan, di tirikan lagi gue,” gumam Leo kesal tapi tak urung menjawab perintah dari sang bunda, “IYAA.”
.....
Matahari mulai menyorot sebagian bumi, cerah sorotannya secerah hati Rio saat ini. Mengemudikan motor ninja hitamnya dengan kecepatan stabil. Jalan raya pagi ini ternyata tak sepadat dari yang Rio kira. Suara kendaraan melaju dengan lancar, mungkin suasana yang masih pagi sehingga jalan raya belum macet panjang.
Membelokkan kemudinya ke gang sempit, gang kontrakan Anna setelah melewati gang-gang besar. Dan, sampailah di depan konrakan kecil yang ber cat putih. Terun dari sepeda motornya, lalu mengetuk pintu kontrakan Anna setelah melepas helm-nya.
Tok.. tok.. tok..
Terdengar suara dari dalam, “sebentar.” Itu adalah suara Anna.
Tak lama menunggu, suara pintu terbuka mengalihkan atensi Rio yang tadinya melihat sekitar kontrakan Anna. Berbalik badan dan di hadapkan seorang gadis cantik dengan baju kerja serta celana jeans dengan surai hitam yang sudah dikuncir kuda. Tampilan sederhada tetapi mampu membuat sumber kehidupan Rio bergemuruh.
“Loh, Rio? Tumben ke sini pagi-pagi,” ucap Anna dengan tangan yang menutup pintu lalu menguncinya.
“Sengaja, mau jemput lo,” jawab Rio yang mendapatkan tatapan bingung dari Anna.
“Kenapa jemput? Bukannya tambah jauh kalo harus kesini dulu?” Anna menaikkan sebelah alisnya untuk menunggu jawaban yang terlontar dari bibir Rio.
“Gapapa kalo demi kamu,” balas Rio dengan senyum manisnya, sangat manis.
Blush
Terlihat kedua pipi Anna merona, Anna yang merasakan pipinya panas pun segera mengalihkan atensinya kepada benda sekitar yang terpenting tidak bersitatap dengan Rio. Anna malu!!!
“Kenapa tuh pipi merah?” Rio semakin gencar untuk menggoda Anna.
Menurutnya, berhasil menggoda Anna adalah suatu keuntungan besar karena bisa melihat pipi merona milik Anna. Sungguh menggemaskan.
“Udah ih, aku berangkat sendiri aja.” Anna berjalan menuntun sepeda bututnya.
Satu langkah
Dua langkah
Tig-
“Di bilang aku mau nganter kamu,” ucapan Rio sontak membuat Anna menghentikan langkahnya.
Sejak kapan Rio merubah kosakata panggilan dengan aku-kamu? Itu yang menjadi pertanyaan besar di benak Anna.
“I-iya udah, bentar.”
Sepeda motor itu yang tadinya hanya di tumpangi satu orang kini, dua orang pemuda pemudi yang menumpangi sepeda motor hitam itu.
Semilir angin pagi menyapa di setiap inci tubuh kedua insan itu yang dilapisi oleh pakaian. Suara burung yang tadinya jelas di pendengaran kini tersamarkan oleh suara kendaraan yang hilir mudik. Pagi yang tadinya belum banyak polusi tetapi, sekarang polusi sudah ada dimana-mana.
Setelah perjalanan 10 menit yang hanya diisi oleh keheningan akhirnya mereka sampai di Almera cafe.
“Nanti jangan pulang duluan,” peringat Rio kepada Anna yang kini merapikan rambutnya.
“Kenapa?”
Rio tersenyum tipis di balik helm nya, “gapapa, semangat kerjanya. Aku kuliah dulu, dahh,” ucap Rio lalu pergi meninggalkan Anna yang salah tingkah di tempat berdirinya sekarang.
Kenapa Rio beda? Kesambet kayaknya, iya pasti kesambet, batin Anna lalu mulai memasuki cafe.
.....
Rio sudah selesai dengan jam pertama kuliahnya, masih ada satu matkul lagi yang harus Rio ikuti lagi. Masih ada waktu 1 jam lagi untuk memasuki matkul berikutnya.
Di bawah pohon yang rindang ini, Rio mengeluarkan handphone dari saku celananya. Membuka aplikasi hijau berlogo telepon itu, dan muncullah beberapa chat yang masuk tetapi, fokus Rio tidak ke chat-chat itu melainkan, satu kontak yang dirinya sematkan paling atas.
Menekan kontak yang dirinya sematkan lalu mengetikkan beberapa penggal kata.
Rio Sadewa
│Inget, nanti jangan pulang dulu. Tunggu aku
Melihat tak ada tanda-tanda akan di balas cepat, Rio segera keluar dari room chat dan juga keluar dari aplikasi tersebut. Memasukkan kembali handphone-nya lalu pergi ke kantin kampus untuk menuntaskan dahaganya.
.....
Matahari telah menyongsong ke arah barat pertanda hari sudah sore. Anna telah selesai jam kerjanya. Mengambil tasnya yang ada di loker lalu duduk di kursi dapur bagian pojok.
Menyalakan handphone-nya lalu munculah satu notifikasi yang membuat jari lentik Anna membuka notifikasi tersebut.
Rio S
│ Inget, nanti jangan pulang dulu. Tunggu aku
Anna tak menjawab, hanya membacanya saja. Keluar dari cafe lalu netranya menangkap seorang pemuda yang duduk di atas jok motornya. Pemuda itu adalah Rio.
“Udah lama?” tanya Anna membuat Rio mengalihkan atensinya dari handphone yang dirinya pegang.
“Ngga, baru aja sampe,” jawab Rio sembari memasukkan ponsel nya ke dalam saku celana jeans miliknya.
“Kenapa ngga di bales?” lanjut Rio dengan menatap ke arah Anna meminta jawaban.
“Udah disini juga,” jawab Anna enteng.
“Kalo pun dibales, aku baru aja buka hp,” lanjutnya dan diangguki paham oleh Rio.
Rio memakai helm nya lalu berucap, “naik, kita keliling kota.”
Dan berakhirlah dua insan itu mengelilingi kota. Awan jingga dengan semburat merah serta burung-burung yang bergrombolan terbang ke arah barat menjadi saksi bisu dimana mereka sangat-sangat menikmati kebersamaan ini.
Semilir angin menjadi saksi bahwa kehangatan menjalar di hati keduanya yang semakin bertambah di setiap senti roda berputar. Degupan jantung berirama indah menambah kontras diantaranya.
.....
Seminggu sudah terlewatkan dengan kebersamaan Rio dan Anna yang semakin dekat. Bahkan, Rio dengan rela mengantar-jemput Anna dari kontrakan ke tempat kerja Anna.
Saat Anna bertanya alasan Rio kenapa selalu mengantar-jemput dirinya, Rio sama sekali tidak menjawab dan respon yang diberikan Rio adalah mengalihkan topik, selalu seperti itu. Kedekatan Rio dan Anna sudah diketahui oleh Lia, masih ingat?
Bahkan, Lia terang-terangan men-comblang kan Rio dengan Anna. dan untuk Syakhila, dirinya belum mengetahui kedekatan Rio dan Anna karena Rio sangat pandai mencari alasan dan mengalihkan topik.
Apakah Syakhila sudah curiga dengan perbedaan kebiasaan Rio beberapa waktu akhir ini? Ya, sudah curiga, bahkan sangat-sangat curiga. Tetapi, Syakhila belum mengusut lebih dalam lagi karena tugas-tugas kuliahnya sangat menumpuk sehingga menghalangi rencananya.
Di hari weekend ini, Rio sengaja mengajak Anna untuk jogging di taman kota. Hari ini adalah hari dimana Anna mendapatkan shift siang sehingga Rio mengajak Anna berolahraga sebentar menikmati udara pagi.
Berlari kecil memutari taman dengan keheningan yang menyelimuti keduanya. Suara beberapa umat manusia lah yang mengisi kehenigan ini.
3 putaran terlewatkan, terlihat Anna sudah lelah sehingga larinya berganti dengan jalan pelan hingga tertinggal oleh Rio.
“Hosh hosh, Rio u-udah dulu, aku capek,” ucap Anna lemah lalu mencari tempat duduk yang sejuk.
Rio menyelesaikan 2 putaran lagi lalu duduk di samping Anna yang masih terlihat kelelahan.
Rio menghembuskan napas pelan, “mau cari makan?” tanyanya ketika mendengar suara aneh dari perut Anna.
“H-hah? Emm...boleh?” tanya Anna dengan sorot mata polos membuat wajahnya menggemaskan.
“Haha, boleh lah. Yaudah, yuk.” Rio membantu Anna berdiri dan menggandengnya menuju ke tempat bubur ayam.
Berjalan dengan degupan jantung yang menggila menuju ke pinggir jalan. Darah berdesir hebat seiring langkah mereka, untuk yang kedua kalinya, semilir angin lah yang menjadi saksi dimana kehangatan menjalar di tubuh keduanya.
Dua mangkok bubur ayam itu baru saja diletakkan di atas meja oleh sang penjual. Uap masih mengepul diatas bubur itu, setelah menyerahkan satu mangkok bubur kepada Anna, Rio dengan perlahan memakan bubur itu bergitu juga dengan Anna.
10 menit terlewatkan dengan keheningan menyapa di setiap detik. Kedua mangkok itu isinya sudah tandas tak tersisa.
“Anna,” panggil Rio setelah selesai meneguk air mineral.
Sang empu yang merasa dirinya terpanggil pun mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Rio dengan pandangan seolah-olah bertanya ‘apa?’
“Aku suka kamu boleh, kan?” tanya Rio yang berhasil membuat Anna tersedak ludahnya sendiri.
Meneguk air mineral di hadapannya lalu menetralkan respon tubuhnya yang menurutnya, aneh.
Anna berdehem singkat, “suka sebagai teman, kalo itu sih ngga masalah.”
“Lebih dari teman, Anna,” ucap Rio dengan suara rendahnya membuat bulu kuduk Anna berdiri seketika.
“Sahabat, kan? Kalo itu juga ngga masalah,” ujar Anna sedikit...gugup.
Rio menghela napas pelan, “lebih dari temen, lebih dari sahabat. Aku suka kamu, aku sayang kamu, dan aku cinta kamu.”
DEG....
Jantung Anna seketika berdegup kencang hingga Anna sedikit merasakan sakit saking kencang nya.
“Kamu kayaknya ngigo deh, udah yuk, pulang aja,” ajak Anna mengalihkan topik.
Sebenarnya bukan hanya untuk mengalihkan topik tetapi, jantung nya masih berdetak kencang dan Anna harus periksa ke dokter sebelum berangkat kerja nanti.
“Na, bentar dulu. Aku tau kamu ngga percaya kalo aku bilang kayak gitu tapi, aku serius Na. Kali ini, tolong dengerin aku dulu.” Rio menarik tangan Anna untuk duduk kembali lalu mengambil napas secara perlahan, “entah dari kapan rasa ini ada, aku ngga tau dan ngga akan ngira, jantung aku berdetak lebih keras kalo deket sama kamu, tubuh aku jadi tenang kalo sama kamu, dan untuk hari ini, aku paham dan aku tau kalo aku suka dan cinta sama kamu. Annadhita, maukah kamu jadi pacarku?”
Tubuh Anna menegang, jantungnya semakin berdetak lebih kencang dari sebelumnya, tangannya pun terasa dingin, Rio merasakannya.
“Emmm, i-itu a-apa a-anu, kita pulang aja,” jawaban Anna yang ternyata jauh dari perkiraan Rio.
Jadi, dirinya di tolak? Oke, mungkin ini terlalu cepat atau Anna memang tak memiliki perasaan kepadanya?. Dan disini, Rio lah yang hanya memiliki perasaan terhadap Anna. Bertepuk sebelah tangan?
Ya, cinta Rio bertepuk sebelah tangan, sakit memang tapi inilah konsekuensi dari memiliki rasa. Memiliki rasa kepada orang yang belum tentu perasaannya sama terhadap kita.
.....
Sore kembali menyapa, awan yang biasanya berwarna jingga ketika sore kini, awan kelabu lah yang mengambil alih.
Suara gemuruh serta kilatan-kilatan petir yang mendominasi awan kelabu itu.
Baru saja Anna sampai di rumah dan 1 detik kemudian, hujan mengguyur kota Jakarta.
Rintikan air yang menyentuh genting serta aspal memberikan suara yang cukup berisik. Bau tanah yang baru saja terguyur oleh air kini mulai tercium di indra pencium.
Duduk di atas kasur setelah membersihkan diri lalu merebahkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah.
Pikirannya kini terlempar pada kejadian kemarin. Kejadian dimana Rio menyatakan perasaan kepadanya. Jantung nya kembali berdegup lebih kencang ketika mengingat kejadian kemarin.
Dan kata-kata Rio masih terekam jelas di benaknya. Satu kalimat yang membuatnya bingung hingga hari ini.
‘Jantung aku berdetak lebih keras kalo deket sama kamu’
Kenapa kondisi jantung nya sama dengan apa yang dikatakan Rio? Jantung nya akan berdetak lebih kencang ketika berdekatan dengan Rio. Dan apa hubungannya jantung yang berdetak lebih kencang dengan memiliki perasaan lebih sama orang lain?
Sungguh, Anna tidak paham kali ini.
Getaran di ponselnya membuyarkan lamunan Anna. mencari dimana letak ponselnya lalu melihat siapa dan apa yang ada di bar notifikasi. Dan munculah double chat dari Rio. Jarinya memencet chat itu dan terpampanglah room chatnya bersama Rio.
Rio S
│Udah di rumah?
│Ngga kehujanan, kan?
Udah, ngga kok│
Pesan tersebut terkirim, tanda ceklis di pojok kanan chat itu langsung berubah menjadi biru. Artinya, Rio langsung membaca chat darinya.
│Good girl, jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Sekarang cuacanya ga nentu
Iyaa│
│Aku ngga di ingetin, gitu?
│Oke, aku ngambek
│Bye, Anna jelekk
Ihh, ngambekan│
Iya-iya, ini mau di ingetin. │
Kamu juga jaga kesehatan, pola makannya juga. Semangat buat kuliahnya
Lah lah beneran ngambek. Dah, bye│
.....
Setelah satu minggu hujan mengguyur kota Jakarta, sekarang cuaca sangat berbanding terbalik dari hari-hari kemarin. Memang, cuaca sekarang tak menentu bahkan, ramalan-ramalan cuaca hari esok bisa saja meleset.
Hari ini adalah hari dimana Anna mendapatkan gaji. Tidak terlalu banyak tetapi, cukup untuk Anna hidup selama satu bulan.
Apa yang dipikiran kalian ketika mendapatkan gaji? Ya, Anna akan belanja kebutuhan pokoknya malam ini.
Setelah mengunci pintu kontrakannya, Anna mulai berjalan menuju minimarket yang letaknya tak jauh dari tempat tinggalnya.
Angin malam menerpa tubuh mungil Anna seolah-olah angin tersebut mengambil stok kehangatan di tubuh Anna. Beruntung Anna mengenakan jaket tebal dan celana training yang dapat menimalisir dinginnya malam ini.
Sorot cahaya yang berasal dari kendaraan mulai menutupi pandangan Anna. berhenti sejenak agar jalannya tidak berujung jatuh nantinya. Suara motor itu semakin dekat lalu berhenti tepat di sebelah Anna.
Pria itu membuka kaca helm nya, “ngapain malam-malam keluar rumah?”
Seolah tau bahwa pria itu adalah Rio, Anna segera menjawab, “mau belanja.”
Rio menatap Anna jengah, “ngga tau kalo malem-malem keluar rumah itu bahaya?”
“Tau,” jawab Anna singkat.
“Terus kenapa keluar rumah, Anna,” ucap Rio frustasi.
“Penting, dan ngga boleh di tunda,” jawab Anna enteng membuat Rio menghela napas lelah, benar juga kata Anna.
"Yaudah, aku anterin. Buru naik.” Anna menuruti ajakan dan perintah Rio.
Seusai dengan urusan belanjanya, Anna keluar dari pintu kaca minimarket itu dengan beberapa plastik belanjaan yang ada di kedua tangannya.
Rio yang tadinya duduk di bangku depan minimarket kini mulai berjalan mendekati Anna untuk mengambil alih kresek-kresek belanjaan Anna.
“E-eh eh, biar aku aja yang bawa,” ucap Anna spontan menarik kresek belanjaannya yang sudah ada di tangan Rio.
“Ngga, ini berat,” sergah Rio lalu berjalan menuju tempat dimana ia memarkirkan motornya dan diikuti Anna.
“Naik dulu,” titah Rio dan segera diangguki oleh Anna.
Setelah memastikan bahwa Anna duduk dengan nyaman di belakangnya, barulah Rio memberikan kresek belanjaan kepada Anna karena tak memungkinkan jika dirinya membawa 2 kantong belanjaan sembari mengendarai sepeda.
Melesatkan motor dengan kecepatan sedang dan berbaur bersama kendaraan yang lain. Suara deru motor terdengar jelas di sekitar mereka.
Waktu masih menunjukkan pukul 8 yang artinya belum terlalu malam untuk orang-orang yang mengendarai kendaraan masing-masing.
“Udah makan?” tanya Rio berteriak agar suaranya terdengar di tengah-tengah deru motor dan klakson yang bersahutan.
“Belum,” balas Anna yang tak kalah berteriak.
Rio membelokkan motornya ke pedagang pinggir jalan yang masih buka hingga malam nanti. Membantu Anna menuruni motornya lalu menitipkan barang belanjaan Anna ke pedagang sekaligus memesan makanan untuknya dan Anna tak lupa juga memesan minuman hangat.
Berjalan mendekati Anna yang terlihat memeluk tubuhnya sendiri. Gadis itu kedinginan.
“Dingin banget, ya?” tanya Rio sembari memundurkan satu kursi di hadapan Anna.
“Iya,” jawab Anna pelan sembari menggosokkan kedua telapak tangannya berkali-kali. Berharap dengan tindakannya kali ini bisa mengurangi kadar dingin yang ada di dalam tubuhnya.
Padahal Anna telah menggunakan jaket yang paling tebal dari sekian banyak jaket-jaket miliknya yang kebanyakan tipis.
“Sini.” Tanpa seizin Anna, kedua tangan Rio menarik pelan kedua tangan Anna yang saling mengait satu sama lain. Rio membungkus sepasang tangan Anna menunggunakan tangannya yang kekar dan besar.
“E-eh, ngapain?” tanya Anna kaget ketika tangannya mulai terbugkus sepasang tangan kekar milik Rio.
Tak butuh waktu yang lama, kehangatan menjalar dari sepasang tangan Anna hingga merambat ke seluruh tubuhnya.
Anna tak menolak karena Anna tak munafik. Kedua tangan Rio sangat hangat sehingga mampu menghangatkan tangannya yang tadinya dingin hampir seperti es.
“Udah mendingan?” tanya Rio setelah beberapa menit keheningan menyelimuti mereka.
Anna mengangguk pelan, “udah, makasih.” Anna menarik kedua tangannya tetapi urung ketika Rio mengeratkan kedua tangannya.
“Biarin gini aja,” ucap Rio dan Anna mengangguk kikuk.
Anna menatap sekitar yang tak terlalu ramai dan tak juga sepi. Masih ada kendaraan yang berlalu-lalang.
Dingin nya malam ini sudah tidak mempan bagi Anna karena tangan hangat Rio lah yang masih setia bertengger di kedua tangan mungilnya.
Keheningan mengambil alih keduanya, suara peralatan masak dari penjualnya lah yang menjadi suara diantaranya.
“Kamu tambah cantik,” ucap Rio tiba-tiba membuat Anna mengalihkan atensinya dari yang tadinya menatap jalanan kini menatap Rio sepenuhnya.
“Biasa aja kok, ngga ada yang bertambah,” balas Anna tenang, harus tenang walau jantungnya sudah berdisko ria di dalam sana.
“Seriusan, kamu tambah cantik, jadi makin cinta,” goda Rio yang berhasil membuat semburat merah di kedua pipi Anna muncul.
Gombal teruss bangg, lanjutkan
Keberuntungan kali ini berpihak kepada Anna. tanpa harus repot-repot mengalihkan topik pembicaraan, sang penjual datang dengan dua piring nasi goreng dan dua gelas teh hangat.
“Ini mas, mba nasi goreng sama teh hangat nya, mari mba, mas,” ucap sang penjual lalu kembali ke gerobaknya setelah menjawab ucapan terimakasih yang di lontarkan Rio dan Anna dengan anggukan.
“Di habisin, biar tuh badan ngga kecil kecil amat,” titah Rio yang berujung body shaming.
Anna mencibik kesal, “aku ngga kecil tau, badan kamu aja yang kegedean.”
Rio tak menanggapi lagi, lebih baik dirinya diam lalu memakan nasi goreng dari pada harus berdebat terus-terusan bersama Anna yang ngga akan ada. habisnya.
“Na,” panggil Rio setelah mereka menyelesaikan acara makan nya.
Anna melirik Rio sekilas lalu melanjutkan acara minumnya. “Apa?” ucapnya kemudian.
“Perihal aku nyatain perasaan ke kamu, itu serius, Na. Aku ngga boong, aku jujur bahkan sebelum aku nyatain rasa ke kamu, aku ngrasain cemburu saat liat kamu sama tuh makhluk yang namanya Leo. Dan cemburu itu bertambah saat aku liat kamu boncengan sama Leo sore itu.” Terjadi jeda kemudian, Rio menatap Anna intens seolah-olah dunia kini hanya di sepasang mata hitam milik Anna, tak ada yang lain.
Rio beranjak dari tempat duduknya lalu
berjongkok tepat di samping Anna. Anna yang sadar kini memutar tubuh nya hingga netranya kembali bertubrukan dengan sepasang netra coklat terang milik Rio.
Jantung keduanya kini berdisko tanpa hitungan yang jelas. Kecepatan ritme jantung semakin bertambah setiap detiknya.
Salah satu tangan Rio mengambil kedua tangan Anna yang saling meremas satu sama lain lalu menggenggam nya erat.
“Na, sekali lagi, will you my girlfriend?” tanya Rio yang berhasil membuat darah di tubuh Anna berdesir hebat. Ritme jantung yang semakin menggila dan kedua mata Anna tertutup rapat karena reflek.
Satu doa yang Anna rapalkan di dalam hati ‘semoga Rio tidak mendengar degup jantungnya’ hanya itu.
Satu menit tak ada jawaban dari Anna. Rio setia dengan posisi jongkoknya. Merapalkan banyak doa di dalam hati, semoga hari ini dia tidak akan di tolak lagi. Ya, semoga.
Setelah beberapa menit tak ada jawaban, Rio akhirnya pasrah. Pasrah karena secara tak langsung cintanya di tolak lagi.
Melepaskan genggaman nya pada tangan Anna tetapi terhenti ketika Anna menahannya.
Anna menarik napas secara perlahan, “yes, i will.” Setelah menimang-nimang bermenit-menit dan di menit ini, detik ini, jam ini, Anna menerima Rio sebagai pacarnya.
Rio tercengang, terkaget, terjungkal. Oh, tidak, yang terjungkal tidak guys.
“What, serius?” tanya Rio tak percaya dan di jawab anggukan malu-malu oleh Anna.
Rio berdiri dan langsung menarik Anna pelan agar mengikuti dirinya berdiri lalu dipeluklah tubuh mungil Anna yang tingginya sebatas dadanya dengan erat seolah-olah mengatakan kepada dunia bahwa ‘Anna miliknya, dan tetap terus miliknya. Ya, harus’
Tingginya yang hanya sebatas dada Rio membuat Anna bisa mendengar jelas detak jantung Rio yang berdetak cepat seperti miliknya.
Dirinya belum membalas pelukan Rio tetapi, 5 detik kemudian Anna perlahan mengangkat kedua tangannya lalu melingkarkan di pinggang Rio, membalas pelukan Rio tak kalah erat.
Malam ini, malam sejarah bagi mereka dimana di penjual nasi goreng mereka sama-sama menyalurkan kehangatan lewat pelukan.
Di bawah rembulan yang tengah tersenyum, mereka juga melemparkan senyuman termanis mereka satu sama lain. Di bawah ribuan bintang yang menjadi saksi dimana perut Anna seperti digelitiki banyak kupu-kupu sehingga menimbulkan sensasi aneh pada perut Anna.
Dan hari ini, hari dimana Rio menyatakan rasa kepada Anna untuk yang kedua kalinya dan diterima oleh Anna.
Sungguh hari yang sangat-sangat membahagiakan pada keduanya.
Huhhhhh.....
BTW, CERITA INI BELUM END YA, GUYS
MASIH ADA LANJUTAN DI PART BERIKUTNYA
SOO, TUNGGUIN UNTUK KELANJUTANNYA
Fyi, cerita ini panjang banget dan terpaksa harus di bagi menjadi dua.
Dah itu aja...
JANGAN LUPA UNTUK VOTE AND COMMENT
SEE YOU
First story yang terlalu ragu untuk di publish, semoga tidak kecewa.
Jawa Tengah, 4 Oktober 2021
Dinda🤎