_Aqila_
^^^
Ig👇
@aqilasdrn_
@elvanorhj
@sptxirl_
Ingin berlari sejauh-jauhnya sampai tak ada yang bisa menemukanku.
Ingin terus aku mencoba untuk tetap tersenyum, namun semakin terluka kala bibir ini tersenyum lebar menutupi luka dan hati yang menangis tanpa suara.
-aqila sandriana
stivani Atmaja-
••••
Happy reading...
Qila membuka pintu kamarnya dan berjalan ke arah kasur, qila menelentangkan tubuhnya di kasur empuk itu.sambil menatap langit-langit kamar bercat abu-abu muda itu.
Ia masih mengenakan seragam sekolah nya, tanpa berniat membersihkan diri ataupun menganti baju sekolahnya dengan baju biasa.
"Kok aneh ya?." Qila menanyakan itu entah pada siapa.
"Huh! Tau deh, mending ganti baju aja trus tidur deh."
Ia bangkit dan segera mengganti baju sekolahnya dengan baju kaos hitam polos dan celana pendek diatas lutut lalu meloncat ke atas kasur itu kembali.
Sudah setengah jam qila hanya berguling-guling di atas kasur itu, namun nyatanya ia tidak bisa memejamkan matanya.
"Gerah juga, mandi deh. Pusing kepala qila." Qila meloncat dari atas kasur dan menyambar handuk untuk pergi ke kamar mandi.
Qila bersenandung kecil dengan suara merdunya. Dan butuh waktu satu jam ia baru selesai dengan kegiatan unfaedah nya di kamar mandi.
Qila menuju lemari untuk mencari baju yang ingin ia kenakan malam ini, "baju apa ya?."
"Nah ini kayak bagus."
Setelah siap dengan pakaiannya, qila segera turun kebawah.
Qila melihat langit malam itu di penuhi oleh bintang-bintang, dan mulai memesan taksi untuk pergi ke suatu tempat.
Sebenarnya qila bisa jika diatar oleh supir pribadi keluarga itu, namun ia tidak ingin merepotkan.
Tak lama taksi yang ia sedari pesan, sampai di depan gerbang mewah itu.
"Mau saya anterin ke mana dek?." Tanya supir taksi.
"Bapak jalan aja, nanti saya kasih tau dimana tempatnya."
Pak supir hanya mengangguk dan menjalankan mobil itu ke tempat yang qila inginkan.
Sekitar Lima belas menit qila akhirnya sampai di tempat itu, ya danau. Danau indah dan damai bila kita pergi kesana.
Suasananya yang asri dan nampak tidak banyak orang yang datang untuk mengotori danau itu, qila berjalan untuk sampai di samping danau, ia mendudukkan dirinya di rerumputan.
Walaupun disana sudah di sediakan kursi untuk para pengunjung, qila lebih memilih duduk di rerumputan itu. Menikmati malamnya di temani dengan bulan dan bintang yang begitu senantiasa menerangi malam sunyi itu.
Mata qila tak sengaja menatap remaja seumurannya tengah berpelukan hangat, erat banget.
Ia menajamkan Indra penglihatan untuk melihat lelaki itu dan....
Deg
"V-vano, perempuan itu." Qila mencoba mengingat siapa perempuan yang tengah ada didalam dekapan sahabatnya.
Ingin menghampiri, namun kakinya seakan kaku untuk melangkah. Hatinya berkecamuk, bingung harus harus apa.
Hatinya seakan-akan retak melihat dua orang itu dihadapan, ingin cemburu namun sadar diri ia hanya sebatas sahabat dari lelaki sempurna itu.
"Aku sayang kamu el."
"Aku juga sayang sama kamu bi."
Hanya itu yang mampu qila dengar, hatinya seakan ter iris. Matanya juga panas melihat kemesraan itu.
Memilih untuk berlari menjauh dari sana, tak sanggup berlama-lama melihat adegan itu dihadapannya. Walaupun itu hanya sebatas pelukan, namun perempuan mana yang tidak sakit dan tahan melihat lelaki yang selamanya ini ia dambakan memeluk perempuan lain.
Niatnya untuk menyendiri tanpa air mata, kini harus musnah begitu saja. Sesak, sangat sesak.
Hatinya salah memilih tempat itu untuk jadi singgahan nya, jika ia tau akan terjadi seperti ini. Maka lebih baik jangan pernah biarkan ia melihat semua itu.
Qila berjalan menelusuri jalan malam itu pelan, sambil sesekali melihat pasangan remaja Tengah berjalan dengan canda tawa dari pasang itu masing-masing.
"Huh! Udah la gak usah diingetin lagi, mungkin itu sepupunya vano " qila berjalan sendiri sambil menghilangkan rasa sesak di dada nya.
Mata qila berbinar saat melihat penjual gulali di sebrang jalan, dan segera menyebrangi jalan itu untuk sampai di tukang jualan gulali.
"Bang gulalinya satu ya."
"Mau di bikinin gambar apa neng?." Tanya Abang penjual gulali itu.
"Em, beruang bisa gak bang?." Tanya Qila.
"Bisa dong, tunggu bentar ya."
"Sip." Jawab qila dengan tangan yang pertanda 'oke'.
"Nih udah jadi neng." Setelah menunggu beberapa menit, Abang itu memberikan pesanan gulali qila.
"Berapa bang?"
"Sepuluh ribu aja."
Qila memberikan selembar uang dua puluh ribu pada abang itu, "kembalinya ambil aja bang." Qila berucap dengan senyum tipis.
"Makasih ya neng."
"Sama-sama bang."
Qila mulai berjalan mengelilingi taman yang ada disekitar danau itu, sambil sesekali memakan gulalinya.
Walaupun didalam hati qila masih penasaran siapa perempuan yang dekat dengan vano, ia mencoba menepis itu semua. Memilih untuk tidak memikirkan itu dan fokus pada tujuannya malam ini.
"Hai, Airin." Qila tersenyum cerah melihat keberadaan Airin di sana.
"Eh hai qila." Airin pun ikut tersenyum.
"Kamu sama siapa di sini?" Tanya qila pada Airin.
"Sendiri aja kok la, rumah aku juga deket dari sini." Jawab Airin dengan ramah.
"Oiya kamu sendiri juga kesini? Atau sama keluarga kamu?." Tanya Airin kembali.
"Aku sendiri juga ai, bosen aja dirumah terus hehe." Ucap qila terkekeh kecil.
"Mau gak, tapi tinggal setengah doang." Ucap qila menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa tidak enak.
"Engga usah la, buat kamu aja. Aku kurang suka manis." Airin menolak itu secara halus.
"Oh gitu, i'm sorry."
"Hahaha... Iya gapapa kali la, santai aja sama Airin."
"Kamu cantik ai, terus juga ramah " qila berucap itu dengan polos.
"Kamu juga la, udah baik, cantik, sopan, ramah, dan kamu itu orangnya gak suka dendam." Airin berucap itu semua dengan tulus.
"Dan pastinya, hidup kamu bahagia ya la?." Sambung Airin.
Qila lama diam, bahagia aja enggak hahaha..
Qila ujungnya tidak menjawab dan hanya bisa membalas itu dengan senyum tipis.
"Kalo aku bilang aku gak bahagia, kamu percaya ai?."
"Enggak." Airin berucap dengan gelengan. "Soalnya keliatan kalo kamu itu pasti bahagia."
Qila terkekeh. "Apa karena kamu liat aku dari segi pakaian aku ya ai? Jadi orang bilang kalo aku hidupnya pasti bahagia."
"Airin liat kamu itu, soalnya selalu tersenyum."
"Senyum gak bisa menyimpulkan bahwa kita itu bahagia ai, kadang ada juga yang tersenyum namun untuk menutupi luka." Qila menoleh ke arah Airin yang berada di sampingnya.
"Namun ada juga yang tersenyum memang karna ia bahagia bukan sedang menutupi lukanya." Lanjut qila pelan.
"Artinya, senyum itu bukan hanya untuk bahagia ya la? Tapi juga bisa menyamar menjadi sebuah tembok yang rapuh."
"Hm...bisa jadi." Qila mengangguk.
"Udah malem ai, mending kita pulang deh. Ntar sakit kamu juga pakai baju tipis." Ucap qila mengubah topik pembicaraan mereka agar Airin tidak bertanya lebih.
"Iya la, yaudah kamu pulangnya naik apa?."
"Aku bisa pesen taksi, kamu pulang aja dulu."
Mau aku tungguin sampai taksinya dateng?."
"Gausah ai, kamu pulang aja." Ucap qila masih sama.
"Yaudah aku pulang dulu ya, bye qila."
"Bye Airin." Qila membalas lambaian tangan Airin hingga gadis itu menghilang dari pandangan nya.
Sambil menunggu taksi yang ia tunggu tiba, qila hanya membuka hp dengan mengscroll beranda tiktok nya.
Sekitar sepuluh menitan taksi yang ia tunggu tiba, dan segera melaju untuk sampai dirumahnya.
Qila membuka sedikit kaca taksi itu untuk melihat ramainya jalan raya berlalu lalang.
Tak bisa dipungkiri, hatinya masih diisi dengan hal tadi, ya vano. Vano bersama perempuan itu.
Siapa perempuan itu, ada hubungan apa ia di antara vano?. Pertanyaan itu semua muncul di dalam otaknya.
Segera ditepis dan memiliki memejamkan matanya, hanya memejamkan matanya.
"Udah sampai dek." Ucap supir taksi itu membuat qila tersadar dari lamunannya.
"Oiya pak, ini uang nya." Ucap qila memberi ongkos kepada taksi itu.
"Makasih ya dek." Taksi itu berlalu.
Qila mulai berjalan memasuki rumah mewah keluarganya.
"Assalamualaikum." Salam qila membuka pintu.
Tak ada yang menyahuti salam qila, rumah pun nampak sepi dan tidak terlihat keluarga sedang berkumpul seperti biasa di ruang tamu.
Lantas kemana mereka? Tanya qila dalam hati.
Qila tidak langsung menuju kamar namun kakinya mengarah untuk pergi ke arah dapur, mencari bi anun lebih tepatnya.
Melihat suasana rumah itu sepi, dan qila pun langsung memilih untuk mengistirahatkan tubuh nya.
Qila mulai menaiki anak tangga satu persatu, sampai ia disebuah kamarnya.
Tanpa berlama-lama qila segera mengganti baju tadi dengan baju untuk ia pakai tidur dan tak lupa mencuci mukanya agar lebih segar dan nyaman ketika ia tidur.
"Good night semua." Qila berucap sebelum matanya mulai terpejam perlahan.
•••
Menurut kalian, perempuan yang dipeluk vano siapa?
Makin penasaran gak?!!
Pasti dong ya...
Ayokk vote and komen nya yang banyak jangan cuma baca aja!!! MAKSA NIH!!!
SHARE YA KE TEMEN-TEMEN KALIAN SEMUANYA
FOLLOW JUGA AKUN WATTPAD AKU
sptxirl_20
SEE YOU SEMUA✨
4 OKTOBER 2021