Hai hai haii
Gimana kabar kalian
Happy reading all ✨
Maaf kalau agak garing hehehehheh
"Dosa sing paling menyedihkan iku dosambat ora duwe duit." -😊
Mendung sore ini menyerukan kepedihan yang seseorang rasakan, Angin pun seakan-akan menyambut nya dengan riang. Tempat itu hanya bersisi beberapa orang , batu nisan bernama dan wangi bunga mawar segar menghiasi pemakaman di hari Kamis ini .
Kolase masa lalu mulai sempurna di pikirannya, terukir senyum hambar di wajah orang itu. Ingatan masa lalu membuatnya semakin hancur namun jika di lupakan akan lebih menyakitkan .
Orang itu mulai mendekat disalah satu makam bernisan. Rumput rumput liar di sekitar makam itu mulai bersih ia cabuti, Bunga mawar segar dan bunga melati sudah berada di tengah pusara makam tak lupa dengan tulip merah yang di letakkan di dekat batu nisan.
Ia mengusap berkali kali batu nisan itu sambil terisak. Pahit rasanya , ia benar benar kehilangan orang yang ia sayangi ,kenangan itu, senyum itu , perhatian itu masih teringat jelas di pikirannya.
Flashback
"Mama, mama, ayo temani Al main "
Anak kecil itu merengek kepada ibunya yang sedang merangkai bunga tulip merah di vas .
Sesekali wanita itu tersenyum kepada putranya.
"Sebentar ya sayang "
"Mama selesaikan ini dulu "
Jelas sang mama agar anaknya tidak terus merengek. Anak itu begitu penurut dan tetap menunggui mamanya .
"Maa, Al, boleh main sendiri?"
Tanya Anak kecil polos itu kepada ibunya. Berpegang dengan maninan yang ia bawa. Anak itu mulai bermain di halaman rumah . Hingga seorang pria tinggi menghampiri dan memeluknya erat. Pria itu papanya yang sudah 2 Minggu tidak pulang karena harus ada dinas di luar kota.
"Papa , Al kangen sama papa"
"Papa juga , mama dimana?"
"Mama ada di dalem pa"
"Papa nanti temenin Al main yaa"
"Pasti sayang , papa juga belikan mainan baru untuk Al" pria itu memberikan tas berisi kotak mainan berbagai macam seperti mobil mobilan.
"Waaah makasii papa"
Anak itu terlihat bahagia dengan mainan yang ia dapatkan dari sang papa.
"Papa masuk dulu yaa"
Anak itu hanya mengangguk dan melanjutkan bermain dengan mainan barunya.
Sesekali ia berlari kesana-kemari memainkan pesawat terbang .
Prangg
Anak itu berhenti bermain ketika ada suara keras berasal dari rumah , kaca dimana mana , sudah tak berbentuk, rumahnya seperti kapal pecah. Anak itu memberanikan diri untuk masuk kedalam melihat apa yang sedang terjadi.
"Aku capek mas kayak gini terus!!"
"Sudah berapa kali aku bilang aku kerja ! , bukan seperti apa yang kamu pikir, aku kerja juga untuk keluarga kita, tau apa kamu tentang kerja kantoran, tugas kamu cuma masak sama ngurus anak"
Anak itu bersembunyi di belakang sofa karena ketakutan melihat orangtuanya bertengkar hebat .
"Mama Al takut gelap" rengek anak itu sambil menangis , namun tangisan itu tidak dapat terdengar . Ini bukan pertama kali tapi tetap saja membuat ia terus ketakutan.
Tahun demi tahun ia lewati dengan masalah yang sama hingga pada akhirnya hal tak terduga terjadi.
Sungguh melupakan kejadian tragis itu seperti akan terbayang selama hidup, ia hanya bisa merasa bersalah. Hujan seakan tahu rasa sakitnya dan mulai menumpahkan air ke bumi. Di kesendirian ia menangis , langkah kakinya pergi meninggalkan tempat itu.
Walaupun sekelebat bayangan terus menghantuinya. Ia adalah Alvarendra.
Rumah bercat putih dengan halaman yang agak kotor karena terguyur hujan. Alva memasuki rumah dan menghela nafas berkali kali, cukup berat baginya , rumah penuh dengan kenangan masa kecilnya. Terdapat beberapa figura foto di tata rapi pada dinding rumah itu. Ada foto seorang anak dengan ayah ibunya tersenyum saat ada di salah satu taman bermain. Manis sekali kelihatanya tapi tidak yang ia rasakan. Mulutnya seakan Kelu dan tercekal.
De ja vu. Itu yang ia rasakan. Daripada terus berdiam dan mengingat masa lalu , ia lebih memilih membersihkan diri sepulang dari pemakaman .
Di nakas dekat dengan figura foto terlihat sekotak obat penuh. Benzodiazepine termasuk obat yang ada di dalam kotak itu. Sesekali ia melirik ke arah nakas itu Berniat mengambil namun tak jadi.
Ditempat yang berbeda.
"Ra , mau bareng sama aku aja?,udah hujan loh ini "
Tawar Jessa dari dalam mobil.
"Ga usah kak, lagian bentar lagi jugak Dimas jemput , ga enak soalnya udah bilang tadi"
"Beneran ?"
"Iya kak gapapa , kakak duluan aja"
"Yaudah ya , kakak duluan kamu cari tempat buat neduh nanti kehujanan"
"Iya kak"
Mobil Jessa mulai meninggalkan tempatnya. Kini Nara sendirian di bawah derasnya hujan, ia berkali kali mencoba menghubungi Dimas namun tidak di angkat. Ok. Kali ini Nara tidak akan menyerah.
Ia akan mencoba lagi.
Nomor yang di tuju sedang tidak aktif , silahkan tunggu sebentar lagi
Tut
Tut
Tut
Benar saja bukan Dimas yang mengangkat melainkan operator seluler.
Nomor yang di tuju sedang tidak aktif silahkan tunggu sebentar lagi
Tut
Tut
Tut
Hari semakin gelap, Dimas belum juga datang, Nara benar benar takut jika sampai rumah nanti. Baiklah Nara tak mudah menyerah begitu saja. Ia mulai berlari kecil sambil menghindari hujan .
Panggilan masuk dari Dimas. Akhirnya setelah penantian panjang terjawab juga.
"Halo ,Dim Lo dimana gua udah nunggu nih "
" Halo , Ra , ini mami , Dimas baru aja keluar buat jemput kamu, hpnya di tinggal tadi" , ternyata Lia yang menelpon Nara.
"Iya mi , ini Nara lagi nunggu Dimas kok"
"Nanti mampir ke rumah yaa, makan dulu"
"Iya mi"
Pantas saja susah di hubungi HP-nya saja di tinggal. Syukurlah Dimas tidak lupa untuk menjemput Nara.
Nara terduduk di pinggiran toko tak jauh dari florist menunggu kedatangan Dimas .
Cahaya lampu motor mulai membelah jalanan yang berhujan , siapa lagi kalau bukan Dimas . Dimas cepat-cepat memutar balikkan motornya.
"Pake jas hujannya"
Dimas memberikan Jas hujan kepada Nara , Jas hujan itu berwarna maroon , warna kesukaan Nara .
Nara mulai memakai jas hujan dan segera Naik ke jok belakang motor itu.
Dinginnya air hujan dan lebat angin menjadikan suasana sore ini begitu membutuhkan kehangatan.
Dimas dan Nara sudah sampai di depan rumah bersamaan dengan hujan yang sudah usai menumpahkan airnya .
"Assalamualaikum mami " salam Dimas dan Nara bersamaan.
"Waalaikumsalam, ayo masuk kalian pasti kedinginan " Lia segera mengajak kedua anak itu masuk kedalam rumah. Tak hanya itu Lia juga memboyong dua anak itu ke meja makan.
Disana sudah terisi dengan nasi hangat, teh hangat , sayur sop lengkap dengan sambal dan ayam goreng.
"Mami ambilin ya"
Lia menuangkan Nasi ke setiap piring.
"Makasii mami"
Seperti layaknya anak kembar Nara dan Dimas selalu bersamaan mengucapkan sesuatu.
Lia tersenyum tulus melihat Nara dan Dimas .
"Abah kemana mi ?"
Tanya Nara kepada Lia yang sedang sibuk menata makanan.
"Tidur sama Janda"
Tunggu ,Janda , siapa dia apaa, ah bukan janda itu kucing sebenarnya nama aslinya Danda tapi bukan Dimas kalau ga mlesetin nama.
Nara agak terkejut sebentar.
"Ga bener nih aki aki"imbuh Dimas.
"Heh" ucap Lia dengan santainya.
"Abah keknya butuh BPJS deh mi" ,
"Buat apa ?".
"Soalnya Abah , Butuh Pelukan Janda Seksi"
"Ngomong apa kamu" Lia sudah siap dengan centong nasi di tangan untuk memukul Dimas
"Hehe" dengan tidak berdosa Dimas tetap melanjutkan makan
Sedangkan Nara , gadis itu juga tengah makan ,sesekali tersenyum melihat Dimas dan ibunya , kalau soal masakan Mami Lia lah yang paling enak . Nara beruntung bisa kenal dekat dengan keluarga Dimas.
Sudah seperti rumah kedua baginya yang memberikan kehangatan dan kasih sayang.
Hari mulai gelap , Nara berpamitan dan berterima kasih kepada Lia dan juga Dimas . Secepatnya Nara kembali ke rumah agar ia tidak kena marah.
Ia diam diam masuk lewat pintu belakang agar tidak di ketahui oleh Vanessa.
"Bagus ya kamu, pulang jam segini, orang di rumah pada kelaparan, kamu malah enak enakan makan di luar , seneng seneng"
Wait, sejak kapan Vanessa berada di sana .
Tatapan Vanessa benar benar mematikan, seperti tidak ada kata ampun lagi. Habislah Nara untuk hari ini.
Plakk,
Kepala Nara tertoleh ke samping karena di tampar oleh Vanessa.
"Bisa nggak sih kamu ga usah jadi anak pembangkang, pulang sekolah tuh langsung ke rumah bukan kelayapan"
"Kalau perlu ga usah pulang sekalian"
Vanessa memaki Nara habis habisan. Tak sampai di situ Vanessa juga menyeret Nara menuju kamar mandi , kepala Nara terantuk dinding untuk kesekian kalinya.
Byurr
Air kotor bekas pel yang di gunakan Nara tadi pagi membasahi tubuhnya. Ya. Vanessa mengguyurnya dengan air kotor tersebut.
Seluruh benda yang melekat di tubuh Nara sudah basah kuyup.
Apakah itu semua sudah cukup , belum, Nara di biarkan di dalam kamar mandi dan di kunci dari luar. Jika kalian bilang ini kejadian pertama kali, tentu saja bukan ini sudah yang entah berapa . Nara tahu Nara salah, tapi bolehkah ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Nara terisak hebat meratapi tubuhnya ,Air shower terus mengalir membasahi tubuhnya. Nara tidak boleh menangis. Mungkin benar kata Vanessa ini memang salahnya karena pulang terlambat dan membiarkan orang di rumah kelaparan.
Di luar kamar mandi , Vanessa, Sharen dan juga Steva sedang tertawa puas, sebenarnya mereka sama sekali tidak kelaparan karena baru pulang dari restoran mewah dan juga mall. Nara yang mendengar pernyataan itu mendadak lesu dan terdiam sejenak.
Terdengar juga Steva yang sedang memamerkan barang mewah yang baru saja di belinya, jangan lupakan Vanessa dan Sharen mereka juga tak kalah dengan Steva untuk memamerkan barang mewah itu. Mereka juga bilang kalau semua barang mewah itu di beli menggunakan uang yang di berikan Alex pada saat itu.
Nara , gadis itu masih terdiam cukup lama mencerna setiap kata . Lidahnya Kelu dan mulutnya terkunci hanya bisa menangis dan menangis.
Ia yang harus berkorban kenapa mereka yang menikmati hasilnya , kenapa , kenapa, kenapa.
Nara terus bertanya-tanya.
Pandangan Nara mulai kabur , Nara tertidur di kamar mandi.
Tanpa siapapun tahu.
Sekitar jam sepuluh malam. Nara terbangun pintu kamar mandi juga sudah di buka. Nara bergegas menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kering.
Ia mulai terduduk di meja belajar , beberapa bukunya basah jadi harus di buka agar kering.
Sesekali Nara mengipasi buku itu dengan kipas kecil agar cepat kering karena tugasnya berada di buku itu. Hpnya mati karena lowbat .
Sembari menunggu buku yang basah Nara mengerjakan tugas biologi terlebih dahulu yang besok akan ia kumpulkan.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Jam sudah mulai pagi. Nara terbangun dan melakukan aktifitas seperti biasanya .
Memasak menyapu, mencuci , namun ada yang aneh hari ini, wajah Nara pucat dan tubuhnya agak panas.
Apa Nara demam , mungkin saja karena kemarin terus terusan terkena air.
Namun itu bukan halangan lebih baik ia cepat menyelesaikan pekerjaan rumah.
Satu per satu meja terisi penuh dengan berbagai macam lauk pauk yang siap untuk dimakan. Para anggota keluarga dari Arfi sampai Steva sudah duduk di kursi meja makan.
"Heh Lo, kerjain tugas sekolah gua"
Steva menyodorkan beberapa buku kepada Nara , entah maksudnya , apa anak itu tidak bisa mengerjakan tugas sendiri. Tumbenan sekali meminta bantuannya.
Nara tidak mau membantah lebih baik ia cepat kerjakan dan cepat berangkat ke sekolah karena sudah pasti Dimas menunggu nya.
Ada tiga buku dengan tugas dan mata pelajaran berbeda-beda ,Matematika, Prakarya dan bahasa Indonesia , tidak cukup sulit hanya saja soalnya beranak.
Butuh 35 menitan Nara mengerjakan Tugas itu akhirnya selesai juga.
"Steva, tugasnya udah selesai"
Nara memberikan buku dengan tugas yang sudah selesai kepada Steva.
"Bener ga nih?"
Pertanyaan konyol macam apa ini, okey Nara sabar jika tidak ingin di tindas lagi.
"Semoga bener"
Nara tersenyum kepada Steva , selepas itu Nara bergegas ke sekolah . Ia tidak ingin telat dan bertemu orang menyebalkan itu lagi. Tidak ingin dan tidak akan pernah.
Saat ingin keluar dari rumah Arfi lebih dulu mencekal tangan Nara , tunggu, ada apa ini.
"Terima telepon ini", Ucap Arfi penuh penekanan.
Nara hanya bisa mengikuti arahan Arfi saat mendengar penjelasan dari telepon itu Nara bergetar, ia harus tetap tenang, tidak, ia tidak bisa Alex akan semena mena atau bahkan berbuat nekat dengannya . Baiklah Nara ini waktu mu . Cepat lalukan dan tinggalkan masalah ini.
Jalanan pagi ini tidak ramai Nara dan Dimas jadi lebih cepat menuju ke sekolah.
Gerbang SMA CEMPAKA INDAH mulai ramai dengan datangnya siswa siswi. Saat ini Nara dan Nasywa berada di kelas sedang bersiap untuk Quis .
Sudah lama berada di sekolah akhirnya pulang juga. Sebelum pulang seperti biasa menemui Dimas untuk pulang bersama. Namun hari ini tidak karena Dimas ada jadwal ekstrakulikuler Futsal, sebenarnya Dimas menawarkan untuk mengantar Nara pulang terlebih dahulu. Namun di tolak Nara dengan alasan pasti teman seper ekskul sudah menunggu. Dimas tak tega namun ekskulnya juga tidak bisa ditinggalkan.
Nara lebih memilih berjalan menyusuri jalan setapak, ia lebih memilih jalan setapak agar cepat sampai ke rumah. Memang cepat namun jalannya terjal dan masuk ke gang-gang kecil.
Sesekali Nara berhenti untuk membenarkan sepatu. Saat berhenti ia merasa ada yang aneh pada salah satu rumah di sana padahal Siang hari kenapa lampu di rumah itu menyala sangat terang. Dekati atau Tidak, tapi rumah itu kenapa sangat membuat hatinya terus tertarik untuk mendekat.
Sudah sekitar 30menitan ia berjalan jika saja tidak berhenti tadi pasti sudah sampai di rumah dengan cepat. Baru saja kakinya menapak ke lantai rumah, Nara sudah terbelalak melihat apa yang sedang terjadi.
Di depan kamar sudah ada Vanessa dan Steva kondisi kamar nara yang semula rapi kini bak kapal pecah. Baju ,buku, sepatu berserakan tak sesuai tempatnya. Yang paling mengejutkan Uang simpanan hasil kerja sampingan Nara yang ada di Almari ikut jadi korban.
"Dapat uang darimana kamu!!"
Vanessa terheran dengan uang yang di dapatkan Nara, kalau di pikir Vanessa sama sekali tidak pernah memberikan uang kepada Nara.
"Jangan-jangan itu uang gua yang hilang beberapa hari lalu"
"Atau jangan jangan Lo nyuri "
Dasar Steva, dia semakin memprovokasi agar Vanessa lebih panas. Sepertinya ini ulah Steva bagi anak itu tiada hari tanpa drama.
"Mah ,itu uang aku dan aku ga nyuri ataupun ambil uang Steva" Nara mencoba jujur Karena memang itu uang hasil kerja kerasnyabukan yang seperti di tuduhkan.
"Alah alasan kamu, ga mungkin kamu dapet uang sebanyak ini "
"Aku kerja ma!, Apa pernah mama kasi aku uang, sekali pun uang buat kebutuhan ku, Enggak kan , apa pernah mama lihat aku banting tulang buat bisa bayar sekolah , enggak kan !, Dan kamu Steva aku bisa ya kamu ngomong kayak gitu , kalau emang mau uangnya ambil aku juga ga butuh "
Kesabaran Nara sudah terkuras, ia benar benar muak , hidupnya ingin tenang bukan banyak Drama seperti ini.
"Jaga ucapan kamu, kalau bukan karena Mas Arfi dan...", Vanessa menghentikan perkataannya , lagak Vanessa seperti menutupi Sesuatu.
"saya juga tidak mau mengurusi Anak seperti kamu, kamu itu anak dari jalang yang sudah merebut suami saya,kamu dan ibu mu sama saja pembawa sial dan masalah" Lanjut
Vanessa balik menyerang Nara dengan perkataan lebih pedas. Lalu meninggalkan Nara begitu saja.
Nara tak berkutik ,bohong kalau dia masih bisa tersenyum dan menerima , hatinya sakit dan sangat hancur . Dia hanya korban dari kesalahan masa lalu orang tuanya kenapa ia yang harus menanggung.
Nara menangis sejadi jadinya . Rapuh gadis itu terlalu rapuh. Gadis itu terduduk memeluk kedua lututnya.
Steva yang melihat kejadian tersebut lalu menghampiri Nara. Apa dia akan menenangkan Nara , Oh tidak, dia semakin membuat Nara hancur.
"Gimana enak ga dramanya, besok kita ulang ya, bye anak jalang"
Tanpa ada dosa Perkataan itu mencetus dari mulut Steva.
Hanya masalah kecil dan sepele kadang di anggap serius dan akan semakin membesar menyalahkan semua pihak.
Nara ingin menyendiri setelah kejadian itu. Ia berjalan sebentar ke taman setelah semua pekerjaan rumah selesai. Rasanya sepi dan hampa walaupun ia berada di keramaian. Tatapannya kosong tau tahu arah hanya mengikuti alur jalanan.
Nara terduduk di salah satu bangku taman yang dekat sebuah pohon besar.
Tempat itu lebih sepi dari pengunjung . Langit sore nampak tidak bersahabat dengan hati Nara. Lebih memilih cerah dengan awan dan siluet senja yang memesona. Angin sepoi-sepoi sore juga menyambut riang.
Tak ada hal yang di lakukan Nara kecuali termenung dan diam.
"Hatchii... chi... chi... chi..!"
Bersin itu berasal dari Nara sedikit menganggu waktu sepinya.
"Hatchii..."
Nara bersin kembali dan badannya agak sedikit merasa dingin . Apa mungkin flu karena kemarin, bisa saja tapi Nara jarang sekali sakit.
Hari juga semakin gelap Nara lebih memilih untuk pulang . Di jalan Nara terus mengusap lengannya karena dingin . Sudah ia kenakan baju panjang namaun tetap terasa dingin.
Sebuah jaket bersandar di pundaknya. Nara mencari asal datangnya jaket tersebut. Membuat Nara terkejut lebih mengejutkannya lagi .
"Lo"
"Pake, ikut gua"
Nara hanya bisa menurut entah ia akan dibawa kemana sudah pasrah.
Di bangku yang kosong Nara terduduk di kursi apotek menunggu seseorang.
"Bawa pulang" ia menyerahkan sebuah plastik berisi obat
"Buat?"
"Ga usah nolak bisa?"
"Ga usah ngurusin idup orang bisa? Ga usah sok perduli bisa?"
Pertanyaan dari Nara membuat Alva terdiam, niatnya hanya membantu, tapi Ia tahu kalau mungkin mood Nara sedang berantakan sekarang .
Nara pergi meninggalkan Alva sendirian ,ia lebih memilih untuk tidur mengabaikan peristiwa dan drama hari ini. Mustahil jika besok tidak terjadi hal seperti ini akan terus terulang dan terus terulang.
Paginya tubuh Nara Lemas tapi tetap Nara paksakan untuk berangkat ke tempat kerja, baru saja harinya dimulai Sharen dan Steva membuat dirinya panas pagi pagi.
"Eh tau ga si kak , kemarin temen gua ada nyuri uang , ga tau diri banget ga sih kak!"
"Iyalah orang kek gitu udah di kasihani malah nglunjak"
Manusia macam apa mereka , hanya berani membicarakan tentang kejelekan orang di belakang.
Sindiran itu tak sekalipun membuat Nara gentar. Buat apa ia takut jika ia benar, berbicara dengan orang yang sudah di butakan dengan kebencian akan sia sia.
Pening, itu yang Nara rasakan saat berjalan menuju tempat ia bekerja, untunglah kemarin florist di tutup karena Jessa sedang ada kepeluan jadi Nara ada waktu luang dan untuk hari ini waktunya ia bekerja di Andromeda Caffe, hari ini ia sengaja tidak mengabari Dimas. Bukan karena ingin membuat Dimas khawatir namun Hanya tidak mau Dimas terus terusan membantu dirinya. Setengah sembilan adalah jam dimana sebentar lagi Caffe akan di buka.
Nara sudah sibuk mengantarkan pesanan ke satu meja ke meja lain , mencatat dan juga membuat pesanan, walaupun weekend Caffe ini tetap ramai pengunjung. Nara baru 3minggu Bekerja di Caffe ini ,namun keahliannya dalam melayani pengunjung bisa di beri kata hebat.
Sesibuk ini membuat tubuh Nara tidak sinkron karena lemas. Nara gagal mencoba menguatkan dirinya . Bayangan mulai kabur kelapanya sangat pening , sekucur darah keluar dari hidungnya. Nara mencoba tenang agar tidak menggangu karyawan lain . Nara jalan memegangi tembok dan meja meja yang ada di dekatnya. Kalau bisa di bilang ia tidak. Kuat memang Nara sudah tidak kuat. Tuhan tolong Nara kali ini..
Hehehe,
Maaf kalau ada typo , bilang aja yaww
Terimakasih banyakk...

Danda tertekan. . . .