Suara gaduh di sekitaran kampus di pagi hari sering kali lalice jumpai, entah apa yang mereka bicarakan sampai harus segaduh itu. Kadang kadang suara tawa yang menggelegar sering terdengar, terlebih dari seorang wanita bernama Diana. Gadis yang sering kali mencari masalah di kalangan siswi kampus ini. Oh, jangan lupa lenggok cara berjalan wanita itu! Dibuat buat dan menjijikan.
"Hey, lalice! Dilihat lihat kau sedikit cantik, bergabunglah bersama kali. Kujamin pasti kau akan populer"
Lalice menghentikan langkahnya, menaikan sebelah alisnya begitu merasa beberapa kalimat yang di lontarkan orang itu harus di luruskan. Sedikit cantik katanya? Oh. Rupanya mata orang itu perlu lalice colok agar melihat dengan benar.
Dirinya berbaik sambil mengibaskan rambutnya menahan gerah di hati, mentap prepensi yang baru saja berseru dengan suara jelek.
Wanita itu.
Lalice Manon, wanita berusia dua puluh satu tahun yang masih berstatus sebagai seorang mahasiswi di sebuah kampus ternama di Chicago. Ya, lalice dikatakan cukup populer mengingat dirinya adalah anak tunggal dari seorang duda tampan yang berprofesi sebagai pengacara terkenal. Jangan tanyakan dari mana lalice mendapat sikap serkas dan acuh, dirinya tumbuh bersama seorang pengacara yang terkenal dengan gaya bicara yang terkesan menusuk dan mematikan lawan.
Tidak dapat di pungkiri bahwa lalice benar benar seseorang yang sangat cantik, apalagi dengan tubuh proporsional itu. Ditambah pergaulan malam yang menyertainya, lalice sangat bisa dikatakan sebagai seseorang populer.
Dan apa kata nya tadi? Sedikit cantik? Hey, kambing hitam saja bisa membedakan mana yang cantik dan mana yang berbedak tebal di antara lalice dengan wanita cerewet bernama Diana itu.
Tidak bisakah wanita itu diam? Atau perlukah lalice mengambil batu untuk membungkam mulut sialan itu? Dengan senang hati lalice akan melakukannya. Ckh, sebenarnya siapa yang tidak balas meladeni wanita semacam Diana? Lalice saja malas untuk meladeni segala omong kosong wanita itu, tapi mengingat seberapa sering Diana mengomentari dirinya membuat lalice tertantang untuk bermain main sebentar.
"Lalice!"
Tiba tiba sebuah seruan yang meneriakan namanya membuat lalice menoleh, mendapati seorang wanita sebaya dengan dirinya tengah berjalan mendekat.
"Hai Brissta, ku dengar perusahaan ibumu launching lipstik baru? Boleh aku mendapatkan satu darimu secara gratis? Omong omong aku harus memeriksanya secara teliti agar lipstik itu tidak merusak bibir ku sebelum memborongnya"Diana berseru antusias begitu brissta telah berdiri tepat di samping lalice sambil menggandeng sahabatnya itu.
Ckh, omong kosong.
Penjilat.
Brissta memandang sinis, memborong katanya? Orang kaya mana yang meminta gratisan dengan omong kosong memborong. Bilang saja tidak mampu sialan!.
"Yang ada peroduk ibuku tidak laku karena adanya pengemis terkutuk sepertimu"hardik brissta dengan nada tajam yang berhasil membuat Diana membeku menahan malu.
Brissta menarik lengan lalice pelan "ayo lice, kau tau kan kalau orang kaya seperti diriku alergi dengan penjilat seperti mereka."katanya sambil membawa lalice menjauh dari sana.
Mengabaikan teriakan Diana yang menyumpah serapahi mereka berdua. God! Bukan kah harusnya Diana yang pantas untuk diberi sumpah serapah! Memang setan berkedok manusia seperti Diana sering tidak tahu diri.
Keduanya berhenti ketika sudah memasuki kelas dan telah mendidikan diri. Lalice tertawa begitu melihat gelagat brissta yang tampaknya masih emosi.
Lalice menerima uluran sebuah air minum dan roti yang di berikan brissta, ya brissta hampir memberikan sarapan yang dibawanya tadi untuk lalice begitu melihat wajah jelek Diana.
"Pelan pelan briss"seru lalice mengingatkan begitu melihat brissta yang tampak meneguk air minumnya dengan tidak santai.
Peringatan lalice tak diindahkan sama sekali oleh brissta "-uhuk uhuk!"berissta terbatuk kuat setelah menyemburkan air dari dalam mulutnya keluar. Membuat lalice bingung antara prihatin dan jijik seketika. Lalice menepuk nepuk punggung bagian atas milik brissta dengan pelan sampai akhirnya sahabtnya itu tak lagi terbatuk.
"Astaga!"
Lalice meringis melihat wajah brissta yang sudah memerah padam.
"Kau bilang orang kaya! Jika ingin bunuh diri setidaknya pakai cara orang kaya, apa apaan mati karena tersedak air putih!"oceh lalice mendelik tajam ke arah brissta yang masih menarik nafas lega.
Brissta melirik kecil "diam!"sahutnya.
•
•
University of Chicago
Siapa yang tidak mengetahui bangunan megah yang dijadikan tempat untuk menimba ilmu ini? Universitas dengan biaya mahal ini dikatakan sangat cocok dengan lingkungan mewah sekitarnya yaitu Hyde Park. Universitas yang mendapat peringkat ketiga sebagai universitas terbaik, peringkat yang seri dengan universitas Columbia, MIT, dan Yale.
Hiruk pikuk kota yang terletak di negara Amerika itu terkadang mampu menyihir segalanya, kota sibuk. Bukan hanya New York, hampir semua kota di Amerika sibuk bukan? Semuanya berkembang pesat dengan cepat.
Sama seperti perusahaan dee' Vaughn enterprise, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang real estate property milik Jeo Hall Miller. Perusahaan yang berdiri hampir lima puluh delapan tahun itu sekarang sedang berada di atas puncak kejayaan. Bukan baru kali ini Dee' Vaughn enterprise berada di atas kejayaan, sudah berkali kali sejak perusahaan itu dibangun oleh Bramsmesco Hall Miller.
Terlebih sang CEO diketahui memiliki seorang putra tunggal tampan yang sekolah di university of Chicago itu. Pria yang akhir akhir ini lebih sering di sorot kamera dan sering kali tampil di layar kaca televisi. Jack Hall Miller, kepopuleran nya pun kini sedang berada di puncak.
Seorang pemuda berperawakan tak kalah tegap dari seorang pemuda yang juga berjalan di sisinya itu berdehem "kau yakin Jack?"
"Pernah seorang Miller ragu?"
Pria bernama Alex itu mendengus malas, kesombongan pria di sampingnya memang tidak ada toleransinya. "Baiklah, aku akan menghubungi Trisstan nanti."
Jack mengangguk "ya, lebih cepat lebih baik. Polisi mendatanginya semalam, jika kau bisa menyelesaikan ini dengan cepat kau akan dapat bayaran mahal Lex"
Area parkiran yang sepi cukup membuat kedua pemuda itu tidak terlalu ambil pusing dengan percakapan serius mereka tanpa khawatir akan ketahuan. Ya, hari akan gelap dan ditambah bisingnya suara hujan yang deras sejak setengah jam yang lalu.
Jack menyeringai begitu mendapati sebuah objek yang terbilang menarik, meneliti dua orang wanita yang tampak berjalan kearah nya dan Alex dengan wajah sedikit gelisah. Kecuali wanita bermata hazel itu tentunya.
Lalice.
Siapa lagi kau bukan wanita itu yang berani memberikan tatapan sinis kepada Jack.
Apalagi ketika kedua mata mereka bertemu, mata wanita itu tampak berapi api. Bahkan ketika lalice mencoba menarik tangan temannya untuk berbalik arah tak luput dari perhatian Jack. Senyumnya mengembang begitu mendapati sang teman menolak untuk di tarik pergi oleh lalice.
"H-hai, aku brissta"
Alex menggernyit bingung, berbeda dengan Jack yang tak memberikan ekspresi selain tatapan datar tanpa berniat memberikan respon lebih.
Brissta tersenyum kikuk "aku tahu ini cukup tak tahu malu bahkan kita tidak saling mengenal, tapi bisakah berikan kami tumpangan? Ku mohon"
Hanya dalam satu tarikan nafas brissta berucap dengan cepat, bahkan lalice yang berdiri di sampingnya pun tak sanggup untuk menahan malu. Berbeda dengan Alex dan Jack yang tampak menggernyit keheranan.
Alex berdehem pelan untuk memecah keheningan "kalian tau kami ini bukan pria murah hati?"
"What?"
"Bisa saja kalian pura pura menumpang di mobil mewah kami lalu kemudian menyuntikan cairan berbahaya secara tiba tiba agar kami kehilangan kesadaran lalu mencuri mobilku."
Brissta dan lalice tercengang. Astaga! Apa yang mereka lakukan sampai bisa berhadapan dengan pria tidak sopan dan gila seperti mereka. Apa katanya? Mencuri? Ya Tuhan tangan brissta tiba tiba gatal untuk memukul wajah pria menyebalkan di hadapannya itu.
"Kau gila?"hardik brissta "kau tidak lihat penampilan ku? Kau fikir gembel mana yang berpakaian mahal seperti ku? Sialan!"
Mendadak Alex meneliti penampilan wanita bernama brissta itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, tapi ternyata emosi brissta semakin menjadi jadi ketika Alex melakukannya "hey kau biadab! Kau fikir sekaya apa dirimu hah? Aku bersumpah kekayaanmu akan disedot kedalam tanah karena kesombongan mu itu."
"Bagus, kau meminta tolong tapi mengumpat?"
"Wajah dan kesombonganmu itu pantas di hardik"semprot brissta dengan nada sesinis mungkin.
Alex menggernyit, penampilan wanita itu ternyata menipu. Penampilan anggun tapi mulutnya pedas dan tidak sopan, astaga! Sampir saja Alex menaruh rasa ketertarikan kepada wanita itu. God! Ter-wait! Lalu bagaimana dengan wanita di sampingnya? Wow, mata mulatnya menarik dan menantang.
Jika di lihat lihat wanita berambut hitam itu memiliki pesona tersendiri, Alex memicing. Hey, pernahkan dirinya melihat wanita itu?
Sadar akan tatapan Alex yang memperhatikannya, lalice mendelik tajam "mata mu! Kau mau mati?!"
Wow, sudah cukup kejutan hari ini. Alex benar benar tersentak dengan peringatan wanita bersurai hitam itu, tidak si blonde tidak si bersurai hitam ternyata keduanya agresif. Tapi, jarang sekali ada wanita yang bersikap seperti mereka terhadapnya.
"Antar dia!"
Alex menoleh dengan bingung "apa?"
"Bawa dia"kata Jack sambil menunjuk brissta, membuat wanita itu mendelik hendak protes. Sedangkan lalice hanya berdecih sinis melihatnya "dan aku akan membawa wanita ini"
"Tidak sudi"serkas lalice
"Itu seksi baby cat."
Mengerti dengan kode yang diberikan Jack, Alex menarik paksa wanita bernama brissta itu menjauhi mereka berdua. Bahkan makian yang di lontarkan brissta tak membuat Alex menghentikan aksinya untuk segera membawa wanita itu pergi.
Menyisakan ruang kosong di antara mereka setelah kepergian brissta dan Alex. Jangan salah, di balik diamnya lalice ternyata wanita itu mengumpat. Tak berniat untuk meladeni pria di hadapannya, lalice berbalik melangkah pergi
"Tidak semudah itu baby cat!"
••••
🐻
To be continued
><