BRING THE KNIFE

By lembaayung

17.6K 2K 72

Malam itu saat dua insan di pertemukan, keduanya berakhir dalam sebuah kenikmatan yang berujung berantakan. l... More

BRING THE KNIFE - PROLOGUE
1. HIDDEN
2. KILLA QUEEN
3. ON THE DARK OCEAN
5. LALICE MANON
6. IN EVERYDAY
7. TOUGH GUY
8. DAMN!
9. THIS BASTARD!
10. I'm not afraid, I'm worried
11. this is how Dee Vaughn plays
12. don't make me tell you twice
13. l'll have it on my floor in minutes

4. GUEST ARRIVAL

1.2K 172 0
By lembaayung

Berdiri kaku di ambang pintu sambil menelan ludah kasar yang hanya bisa lakukan lalice, matanya terangkat untuk menatap sebuah objek yang sama sekali tak diharapkan olehnya untuk berkunjung ke apertement nya. Diam diam lalice terus mengumpat dalam hati, entah apa lagi yang bisa ia lakukan.

Dihadapnnya, lima orang berpakaian seorang polisi berdiri tegap di depan pintu apertement lalice. Sungguh! Lalice sama sekali tidak mengharapkan tamu seperti ini. Maksudnya, jika bisa untuk tidak dikunjungi oleh polisi kenapa tidak? Toh lalice adalah seorang warga sipil yang bersikap baik di dalam lingkungan sekitarnya.

Ah, sebelum munculnya Jack Hall Miller.

Lalice meringis begitu menyadari sekarang ia bukan lah warga sipil yang baik disini, oh ayolah! Jack memang membawa sial ke dalam kehidupan lalice mulai hari itu. Dari pada tidak mengharapkan kehadiran seorang polisi, lalice lebih tidak mengharapkan kehadiran pemuda sombong itu di dalam hidupnya.

Ia tersenyum kaku "maaf, ada yang bisa ku bantu?"

Kelima polisi itu sempat terkecoh sebenarnya, jangan bercanda! Siapa yang tidak terkecoh dengan penampilan seorang bidadari yang muncul dari balik pintu itu.

Salah satu polisi yang berada di barisan paling depan itu berdehem sambil tersenyum tipis "kau Lalice Manon?" Sebuah pertanyaan yang spontan langsung di balas anggukan oleh lalice."Bisa kami minta waktumu sebentar?"

Tidak.

Sial. Lalice sangat ingin berteriak di depan lima orang itu, tapi jangan gila! Beruntungnya lalice masih berpijak pada kewarasannya, mengalahkan segala rasa gemetar yang melanda persendian kakinya.

Ditatapnya polisi itu "tentu saja."

Mendapat respon positif tentu saja polisi itu kembali menyunggingkan senyuman "sebelumnya, nama ku Noah Albert."

Lalice menggernyit, sedikit tidak mengerti dengan motif pria di hadapannya. Haruskan lalice peduli dengan nama polisi itu?

Jika di perhatikan lagi, manik biru pria yang katanya bernama Noah itu sedikit membuat lalice terpaku untuk beberapa saat. Well, pemilik mata biru bukan Noah saja tentunya! Pria itu bukan satu satunya, tapi terus terang aja lalice merasa heran. Kenapa Noah menatapnya dengan begitu intens? Atau pernah kah mereka bertemu sebelumnya?

Rasanya lalice tidak pernah bertemu dengan polisi seumuran Noah, kendati sang ayah adalah seorang pengacara. No, tidak mungkin Noah pernah jadi teman minumnya di club. Dia polisi right?

"Hey, haruskah membicarakannya di sini?"tanya Noah berhasil membuyarkan lamunan gadis bermata hazel itu.

Lalice tersenyum canggung

Dengan kikuk tangannya terangkat, mempersilahkan kelima orang itu masuk. "Di dalam saja."

Kelimanya mengangguk, memasuki apertement lalice yang terbilang cukup luas. Unit yang digadang gadang saksi dimana kaburnya seorang penjahat seminggu yang lalu.

"To the point saja, mengenai LuxAtlantik attack kau tidak mengetahui apapun? Seorang penghuni gedung ini, tepatnya seseorang yang tinggal di lantai yang sama denganmu berkata bahwa kau sendiri yang keluar paling akhir di gedung ini?"

Tubuh lalice menegang. Haruskah ia memberitahu segalanya kepada mereka? Tentang malam itu? Jujur saja lalice mulai muak dengan tingkah laku Jack. Ternyata pria itu menepati kata katanya soal 'mengawasi'. Entah sejak kapan di mulai, tapi lalice menyadari beberapa orang yang tampak memantaunya dari kejauhan. Perihal Jack, pria itu tidak menganggu lalice secara personal. Benar, tapi pengawasan itu benar benar membuat lalice muak.

Namun tindakan yang dilakukan lalice berbanding terbalik dengan isi hatinya. Gila, lalice gila. Bagaimana bisa dirinya menggeleng polos seperti gadis cupu yang tak tahu menahu soal apapun.

"Kau harus menjawab kesaksian dengan jujur nona."

Lalice mengangguk "memang benar aku keluar paling akhir, saat itu aku sedang berada di kamar mandi. Alarm bahaya berbunyi, jadi aku memutuskan keluar setelah selesai mandi. Kalian bisa tanyakan kepada siapapun, aku keluar hanya dengan menggunakan bathrobe."

"Benarkah?"

"Ya."

Kelima orang mengangguk, melihat kelantangan lalice saat berbicara membuat rasa curiga yang sempat dirasakan oleh Noah hilang.

"Lusa, kau harus datang ke kantor polisi untuk memberi kejelasan dan kesaksian."

Lalice menggernyit "kenapa?"

Entah kenapa keempat polisi itu bangun dan keluar setelah Noah memberi sedikit kode. Lalice semakin menggernyit bingung.

Wow, setinggi apa jabatan pria di hadapannya itu. Ya walaupun-akh sebenarnya apa yang terjadi? Tuhan, lalice masih belum bisa mencerna segalanya. Keterkejutannya saja belum hilang setelah menerima tamu seperti ini.

Noah tersenyum "putri Lennon?"

"Yes, ayahku memang terkenal."pungkas lalice, benar adanya bukan? Siapa yang tidak tahu John Lennon? Lalice sama sekali tidka heran jika pria dihadapnnya itu mengetahui dirinya adalah putri Lennon, terlebih Noah seorang polisi yang selalu berdampingan dengan hukum dan pengacara.

Lagi lagi Noah tersenyum, lalice jadi berfikir kenapa bisa seorang polisi terus tersenyum senyum seperti orang gila seperti itu? Biasanya lalice hanya menemui polisi yang bersikap profesional dan tergas secara bersamaan. Tapi lihatlah pria itu?

"Jangan kau fikir aku tahu kau putri Lennon hanya karena dia seorang pengacara terkenal yang memiliki putri cantik."kata Noah tepat sasaran

Lalice sama sekali tidka menjawab, lebih tepatnya malas menanggapi.

"Ingat aku Barbara....."

Mata lalice terbelalak seketika, netranya langsung terpaku pada pria bernama Noah itu. Apa katanya? Pria itu baru saja menyebut nama Barbara kan?. Jantung lalice berdegup kencang, sial! Sekali lagi lalice memperhatikan manik biru itu, siapa laki laki itu? Ingatannya benar benar tidak bisa menemukan titik terang tentang siapa pria dihadapannya saat ini.

Melihat gelagat lalice yang tampak shok sekaligus bingung membuat Noah tergelak.

"Really Barbara? Lihat mata biruku!"titahnya sedikit memaksa, namun ekspresi lalice belum berubah.
ia menghela nafas "Noah Albert."

"Damn! Noah!"gumam lalice

Sial. Berbara, selama nama yang sudah lama tak menyapa pendengaran lalice selama bertahun tahun. Lalu dengan sangat mengejutkannya tiba tiba nama itu terdengar lagi di rungu nya, tapi kenapa rasanya susah sekali mengingat nama Noah di memori masa lalunya.

Sampai-for godness sake! Albert!

"ALBERT!"pekik lalice

Noah tertawa kecil "wah, kau benar benar melupakanku ya Barbara?"

-

-

-

Pada akhirnya lalice menyadari siapa itu 'Noah Alber'. Membayangkan bertemu orang orang terdekat nya saat tinggal di New Zealand saja tidak pernah, dan dengan tiba tiba Noah datang. Terlebih yang membuat lalice terkejut setengah mati adalah ketika Noah telah menjadi anggota polisi.

Anggota polisi? Benar kan, lalice tidak pernah tahu kalau pria itu akan menjadi polisi ketika dewasa. Mengingat bagaimana tingkah nakal yang di miliki Noah ketika mereka kecil.

Tapi yang lebih membuat lalice seketika ingin berhenti bernafas adalah Noah seroang polisi! Menyelidiki kasus yang terjadi di gedung apertement nya! Tepat di unit apertement nya! Tersangka Jack! Dan sialnya lalice terlibat!.

"Bunuh saja aku tuhan...."gumam lalice acuh

Yang benar saja! Bukankah artinya lalice sedang bekerja sama dengan seorang penjahat, lalu sahabatnya lah yang menangi kasus itu tanpa tahu jika sahabatnya juga ikut terlibat dalam kejahatan itu. Lalice tidak bisa percaya, dirinya sedang membohongi Noah secara tidak langsung.

Dan si sial Jack itu, sampai kini lalice belum tahu kejahatan apa yang dilakukan. Malam itu lalice hanya keluar dari gedung dengan wajah mati, seperti orang gila yang belum menemukan nyawa. Dan alasan Jack tidak memberi tahunya, semua itu benar benar membuat lalice benar benar berniat menyusun rencana untuk membunuh si Hansberg itu.

Jangan lupa, lalice masih mengingat dengan rinci bagaimana pria itu berkata 'ku dengan wanita tak bisa dipercaya'. Apa dirinya berfikir bahwa yang melahirkan nya adalah seorang pria? Ckh, lalice tidak bisa membayangkan bagaimana ibu dari pria itu menghadapi pria brengsek seperti Jack.

Gila.

Dan lalice hampir melupakan sesuatu, tawaran itu! Kepala lalice semakin berdenyut sakit memikirkan semua itu. Tangannya digunakan untuk memijat kecil pelipisnya, beberapa kali pula helaan nafas terdengar lelah.

Lalice mendesis "Jack....."

Satu orang yang berhasil mengcaukan ketenangan lalice. Dan lalice benci itu, lalice benci ketika dirinya mudah termakan emosi karena Jack dan malah pria itu semakin puas ketika emosinya meledak. Sial.

••••

To be continued

🐻

Continue Reading

You'll Also Like

451K 21.1K 41
{21+} CERITA INI MENGANDUNG AKTIVITAS SEKSUAL DAN BAHASA VULGAR!! HARAP BIJAK MEMBACA! RATE M! Justin Zeon Valderon, manusia setengah iblis yang memi...
235K 17.6K 18
[ Tersedia di Google Play Store ] [ Sebagian part cerita sudah dihapus untuk kepentingan penerbitan ] Jeon Jungkook dan Lalice Manoban. Keduanya adal...
541K 20.8K 25
[Mature] Ketika seorang CEO pemain wanita bertemu dengan gadis setengah jalang dengan sifat bar-barnya. Taehyung pikir, Lisa akan takluk padany...
563K 7.8K 23
Ini sebuah cerita tentang seorang wanita yang mendapatkan permainan gila dari seorang pria Cerita berunsur dewasa! Lapak saya yang ini berunsur dew...
Wattpad App - Unlock exclusive features