•••
Nyatanya tebakan joyanne salah besar, pada akhirnya lalice pergi ke club malam kali lagi.
Lalice masih terduduk di kursi yang menghadap langsung dengan berbagai macam minuman beralkohol saat orang orang sedang menari ria di dance floor. Sambil memainkan gelas yang dipanggangnya dengan gerakan acak. Namun sialnya beberapa orang menganggap gerakan abstrak yang lalice buat dianggap sangat menggoda.
For godnes sake
Apa lagi yang membuat lalice melakukan semua itu, jelas jelas lalice melakukan itu karena bosan. Harusnya tak ada kata bosan di tempat yang seperti ini. Banyak minuman yang mampu membuatnya merasakan kenikmatan, pria pria tampan, detuman musik yang menghanyutkan. Rasanya baru kali ini lalice berkata bosan di club malam.
Pola yang di ciptakan lalice di gelasnya berhenti, gadis itu meletakannya kembali ke meja bar. Kemudian membalik kursinya, meneliti setiap orang yang bersenang senang di sana. Setiap wanita disana dominan memakai gaun malam pendek-hey! Lalice baru menyadari bahwa dirinya memakai jeans panjang dan kemeja hitam. Dan kenapa dia baru menyadarinya? dia sedirian memakai baju seperti ini?
Lalice berdecak pelan, membuka tiga kancing terbawah kemejanya kemudian mengingatnya sampai sebagian perutnya terlihat. Kemudian dengan cepat lalice membuka satu kancing teratas kemejanya.
Selesai dengan aktivitas nya lalice kembali membalikan tubuhnya menghadap meja bar, namun sebelum itu lalice sudah lebih dulu di tarik seseorang untuk duduk di pangkuannya tepat di kursi sebelah kursi lalice.
Keterkejutan lalice tergantikan oleh suara pekikan tertahan "sialan"
Lihatlah posisi ini, orang itu membuat lalice terduduk di pangkuannya. Sedangkan punggung orang itu bersender pada meja bar di belakangnya. Lalice meringis pelan ketika merasa pinggangnya di remas kuat.
Tatapan lalice tajam, menusuk seseorang yang memangkunya. Tidak perlu lama lama, lalice sudah berniat untuk segera bangkit dari sana
"Tidak perlu buru buru, seperti yang kau katakan tadi siang. Pengecut yang meniduri Jack Hall Miller right?"
Setelah mendengar perkataan seseorang yang memangkunya itu-si Jack Hall Miller itu, lalice berhenti dari usahanya untuk bangkit. Dengan santai lalice bergerak untuk menyamankan posisi di pangkuan pria itu.
Lalice menggernyit "kau mengakuinya, terbukti bukan rendahnya seorang Jack Hall Miller?"
"Sama rendahnya saat kau terima terima saja waktu kusuruh untuk melepas kemejaku dan menciumku?"
Tampaknya niat lalice untuk memancing emosi Jack benar benar berbalik arah kepadanya. Terbukti kala telinga lalice kembali berdengung setiap kali mendengar suara sialan itu.
Ekspresi angkuh menahan kesal di wajah lalice membuat Jack tergelak, tangannya semakin menarik pinggang lalice agar lebih mendekat. Masih dengan tatapan tajam, Jack meneliti prepensi lalice.
Pertanyaan seperti 'ada apa dengannya?' sempat melintas di fikiran Jackie saat menyadari lalice memakai jeans panjang dan kemeja yang diikat sebatas perut. Hey, Jack berusaha untuk tidak tertawa karena alasan itu. Malam itu di Las Vegas, jelas jelas lalice berjalan dari pintu masuk club menggunakan pakaian seksi dan paling mencolok di antara wanita wanita lain disana.
Dan sekarang, bagaimana bisa wanita itu datang dengan pakaian seperti ini.
Lalice mulai menyadari tatapan Jack yang kurang ajar kepada dirinya "bisa bisa tatapanmu itu menelanjangiku bajingan!"
"Memang niatku"sahut Jack dengan senyuman tipis
Stop lalice.
Kemarahanmu akan membuatnya merasa menang, berkali kali lalice mencoba menetralkan deru nafasnya. Mencoba bersabar lebih tepatnya. Menyadari bahwa tiap kali dirinya berhadapan dengan pria itu, emosi nya menjadi kacau maka sebisa mungkin lalice meminimalisir segala reaksi di hadapan laki laki itu.
"Sepertinya kau benar benar sudah menjadi pengecut sejati lalice....."
Jack menatap iris hazel lalice sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya dengan penuh penekanan "ku katakan untuk datang ke apertement ku bukan? Perlu ku seret dulu?"
"Harusnya kau lakukan itu, karena kau tahu aku sangat tidak sudi datang ke kandangmu"jawab lalice serkas
Tatapan Jack menajam. Dari awal pertemuannya dengan wanita di hadapannya ini, lalice sama sekali tidak pernah bersikap manis. Ya, Jack tau Lalice bukan wanita yang suka menebar sikap manis atau semacamnya. Wanita ini, justru berkali kali menunjukan sikap kasar dan tidak bersahabat kepadanya. Benar benar wanita bebal.
Selama ini, yang Jack tahu adalah lalice yang selalu berdecih, lalice yang mendesis, lalice yang berteriak dan lalice yang mendesah. Jack tidak pernah mendengar tutur kata lembut dari mulut lalice.
Jack medelik, pergerakannya berhasil membuat lalice tersentak kaget.
"Aku suka tato di pinggangmu"
Lalice merotasikan bola matanya malas, cih tidak penting!
Seperkian detik, wajah Jack sampai pada ceruk leher lalice. Mengendus negendus di sana dengan tamak, kemudian naik ke telinga gadis itu sebelum akhirnya berbisik "dan di pangkal paha"
"Bukan kah inti dari pertemuan kita adalah bicara serius tentang tindakan kriminal apa yang kau lakukan malam itu?"desis lalice berhasil bangkit dari pangkuan Jack dengan kasar.
Sedangkan pemuda itu hanya menatap lalice, membalikan tubuhnya menghadap meja bar lalu meneguk sisa whiskey milik lalice tadi.
Jack kembali menatap lalice "aku malas"
Jantung lalice berdegup kencang, nafas nya kembali berderu tak beraturan. Bisakah Jack berfikir dengan benar sekali saja? Disini lalice sakit kepala memikirkan apa yanga kan dirinya lakukan. Dan Jack hanya-ya tuhan!
Lalice meraih gelas yang entah milik siapa berisikan whiskey yang berada tak jauh darinya. Jangan lupa, lalice wanita bersumbu pendek
Dan kau tau Jack Miller.
Byurr
"Fuck you!"gumam lalice dengan senyuman
Rahang Jack mengeras, dirinya bisa merasakan dinginnya cairan whiskey yang membasahi sebagian wajah dan dadanya.
Lalice sama sekali tak gentar melihat tatapan pemuda dihadapannya yang sudah menahan amarah dan gelap, seolah siap membunuh. No, lalice tersenyum kemenangan.
Jack bangkit dan langsung mencengkram bahu lalice kuat "you can fuck me now!"
•••
Jack memilih untuk membawa lalice ke apertement nya. Pukul tiga pagi mereka sampai di apertement Jack, jika saja tidak ada acara memberontak yang ditunjukan lalice mungkin mereka sudah sampai disana sejak tadi.
Terlalu drama.
Belum lagi selama perjalanan telinga Jack terus mendengar segala sumpah serapah, mungkin segala isi kebun binatang sudah disebut oleh wanita Manon itu. Mulut wanita kasar, berbanding terbalik dengan wajah mempesona itu. Sial, kenapa tuhan repot repot membuat manusi berbentuk lalice.
Jack akui bahwa lalice benar benar pembangkang, beraninya seorang wanita menyiram Jack dengan cairan alcohol.
Oh itu sangat mengesankan, Jack akan menjadikan moment itu sebagai moment paling mengesankan selama hidupnya. Ya, sesukamu saja wanita!.
Jack menghela nafas "diam atau ku perkosa kau disini!"
Ucapan Jack yang terkesan dingin itu berhasil mengundang decakan sinis dari lalice, wanita itu membuang muka begitu saja setelah tidak sengaja bertatapan intens dengan Jack.
Tanpa menunggu lagi Jack segera membawa tubuh lalice untuk duduk di ranjang miliknya, kemudian ia berbalik mengambil sebuah kursi yang tak jauh dari sana. Membawa kursi itu di hadapan dengan lalice, kemudian Jack duduk disana.
Mengabaikan segala tatapan menusuk itu, Jack menatap lalice serius "diam dan dengarkan aku! Atau jika kau bersuara sedikit saja aku akan benar benar memperkosamu!"
-
-
-
Lalice benar benar tak menyangka ternyata malam itu membawa mala petaka baginya. Dirinya bersumpah tidak akan pernah datang lagi ke Chicago jika tau ia akan berurusan dengan pria arogan seperti Jack Hall Miller. Rumor di luaran sana benar benar omong kosong! Dermawan dan sopan katanya?. Oh ayolah, sifat Jack lebih mendefinisikan jati diri seorang iblis. Bahkan lalice berani mengatakan jika pemuda itu lebih dari kata iblis. Arogan, brengsek gila ataj bahkan bipolar.
God!
Kepala lalice benar benar berdenyut nyeri, kurang lebih tiga jam lagi mata hari akan terbit dan dirinya belum tidur sama sekali. Bagus, sekarang lalice malah terjebak disini.
Lalice mungkin tidak menyadari kegelisahan Jack. Karena pada dasarnya Jack sulit untuk di baca, katakan saja bahwa pria itu memang gelisah. Tapi melihat tampangnya yang masih tenang tenang saja membuat siapapun termasuk lalice tidak mengerti dengan Selumit ekspresi itu. Jelas lalice mendengar suara helaan nafas berat Jack beberapa kali, entah apa alasannya.
Oh ya Tuhan! Lalice benar benar sakit kepala.
"Kau mendadak bisu? Kalau tidak mau bicara aku mau pulang!"sinis lalice memandang malas prepensi pria tampan di hadapannya.
Jack diam.
Lagi lagi wajah lalice merah sebab amarah yang mulai menyulut emosinya. Tuhan! Tolong sadarkan pria itu dari kegilaannya. Apa apaan dia menahan seorang wanita tanpa melakukan apa apa.
Decakan keras terdengar dari bibir lalice "aku mau pulang"dirinya berniat bangkit dari sana
Dari lalice berkerut heran saat dirinya sudah benar benar di ambang pintu, tapi Jack tak kunjung menghentikannya? Wow, sangat bajingan. Dari tadi lalice mati matian menekan kekesalan dan ternyata pemuda itu berniat main main?. Itu menarik sekali Jack Mileer.
Persetan dengan Jack! Lalice membuka pintu-sial! Pintunya di kunci. licik sekali.
"Buka pintunya bajingan!"teriak lalice
Jack berbalik, memandang lalice yang kini matanya sudah memerah karena marah. menyenangkan.
"Itu seksi baby cat."
Mata lalice memicing tajam mendengar kalimat yang di ucapkan Jack samar samar, tidak jelas pikirnya. Lalice hanya bisa mengumpat kala tubuhnya kembali dipaksa untuk duduk di ranjang besar itu. Ia bersumpah jika pemuda itu bersikap seperti orang cacat bicara lagi, maka lalice benar benar akan mengabulkannya menjadi kenyataan.
Nyatanya lalice mulai tergiur untuk mencekik leher Jack di apertement itu.
Jack sama sekali tidak tertarik untuk balas menatap lalice tajam "sampai sekarang kau masih menutup mulut, sama saja kau membudak pada ku kan."
"Aku tidak!"
"Tindakanmu membuktikan segalanya."pungkas Jack membuat lalice termangu untuk mengelak.
Masa bodo. Yang ada di fikiran lalice hanya lah masalah ini selsai, pulang, tidur. Lalice sama sekali tidak tertarik untuk beradu argumen pagi pagi buta seperti ini.
Jack menyentak tangan lalice "aku masih belum tertarik untuk membicarakan apapun padamu, Kudengar wanita tidak bisa di percaya! Jadi tetaplah menutup mulut sementara itu kau sudah masuk dalam pengawasanku."
"Jack aku ingin membunuhmu."
"Do it!"
Oke, kesabaran lalice habis. Ingat, lalice bukan wanita penyabar yang menye menye terhadap laki laki tampan. Lalice suka memukul dan mencekik. Seperkian detik sebuah bantal melayang mengarah tepat ke wajah Jack.
Meleset.
Sial, itu memalukan.
Jack menyeringai remeh "sebelum bertindak kontrol dulu emosi mu sayang, lihat! Gagal kan?"
"Persetan kau Jack Hall Miller!"tangan lalice terkepal kuat, dengan kasar dirinya bangkit dari sana. Well, lalice benar benar malu karena lemparan bantalnya meleset begitu saja. Jelas jelas lalice sudah memperhitungkannya, membayangkan wajah arogan itu bertabrakan dengan permukaan bantal.
Sebelum niatnya untuk benar benar pergi terlaksana, tangannya lebih dulu diraih oleh Jack. Membuat mau tak mau lalice harus menoleh dengan sinis.
Pemuda itu tersenyum tak kalah sinis "mata hari akan terbit, bagusnya kita bercinta saja baby cat."
•••
TO BE CONTINUED