Donghyuck menutup laptopnya sambil bergumam lirih tentang satu set rutinitasnya yang super membosankan. Sudah 2 tahun ia memutuskan untuk pindah ke ibu kota demi mencari rupa-rupa masa depan lengkap dengan printilan gaya hidup yang sepertinya menjanjikan. Hebatnya, ia mendapatkan itu semua. Mulai dari memiliki teman rantau yang suportif, bekerja di agensi ternama, serta mendapatkan tempat tinggal yang lebih dari cukup untuk sekedar beristirahat. Gelembung kehidupannya selalu utuh dan tercukupi setidaknya hingga hari ini.
Matahari yang sedari siang membelenggu di puncak-puncaknya, perlahan tapi pasti menyentuh kaki-kaki langit. Riuh rendah ragam perkotaan mulai ramai akan pekerja-pekerja yang rela saling jegal demi mencapai pintu-pintu commuter line. Donghyuck enggan beralih pandang dari lorong stasiun, seolah menuju satu titik yang pasti ia terus berjalan tak acuh melihat sejumlah penumpang berkejar-kejaran. Waktu masih terus berjalan dan malam masih terlalu panjang untuk sekedar merelakan diri berada di tengah-tengah perebutan sengit itu. Donghyuck mendengus lalu berdecih dan memperhatikan tiap gerbong, berharap ada keajaiban kecil yang membuatnya bisa masuk ke dalam commuter line tanpa harus berdebat. Beruntung di salah satu gerbong, pemandangan tumpukan penumpang sedikit lebih manusiawi. Ia bergegas memacu langkah dan menutup semarak rutinitasnya dengan menarik nafas cukup panjang dan tersenyum miring ketika pintu gerbong ditutup tepat setelah ia menjejakkan tapalnya.
Gedung-gedung pencakar langit, petak-petak rumah, jalan raya, dan tidak ketinggalan sisi-sisi rel yang kumuh dipapas cukup kencang oleh kereta listrik andalan kaum urban ini. Donghyuck tidak banyak bergerak, dipikirannya hanya ingin mandi air hangat dan merebahkan tubuh hingga hari berulang kembali. Ia sedikit tergesa merogoh kantungnya mencari sepasang headset untuk ia labuhkan di masing-masing telinga. Ia sigap memutar platform musik di ponsel pintarnya. Ia mengusap-usap layar LCD-nya mencari lagu yang mampu membuat suasana perkotaan yang tampak selalu tegang ini menjadi lebih bersahabat. Broadcast menjadi musisi pilihan Donghyuck di pentas musiknya hari ini, Before We Begin mengalun santai tanpa banyak paksaan. "Ooh it's in tomorrow, fortune and sorrow. Wait, you may win" suara vokalis salah satu musisi pelipur lara Donghyuck itu seolah memberikan petuah tentang hari esok. Hari esok yang masih sama dan akan selalu sama setidaknya sampai Donghyuck tidak berpikir gila untuk me"reset" kehidupannya.
Malam sudah menghitam, Donghyuck berlari kecil dari gerbang stasiun. Studio apartemen Donghyuck tidak terlalu jauh dari stasiun kecil di salah satu pemberhentian commuter line, keberuntungan macam ini memang tidak sering terjadi. Donghyuck berpapasan dengan beberapa tetangga yang juga pulang dari rutinitas harian mereka dan hendak mencari makan, ia hanya sekedar mengangguk kecil dan mengulas senyum namun tidak banyak berinteraksi karena dirinya terlalu lelah untuk berbasa-basi. Ia bahkan tidak berpikiran untuk singgah ke gerai makanan di sekitar tempat tinggalnya dan menutup monolog tentang makan apa hari ini dengan berencana memasak mie instan. As per usual.
Donghyuck memutar kuncinya, lega dengan segera ia mendudukan diri di sofa yang sudah cukup tua dengan warna yang memudar dimakan usia. Tempat tinggal Donghyuck jujur saja tidak seperti studio apartemen mewah dan malah lebih terkesan seperti rumah susun yang lenggang. Gedung tua itu tidak pernah direnovasi mungkin sejak pertama kali dibuka entah 10 atau mungkin 20 tahun yang lalu. Tidak ada marmer mengkilat melainkan tehel tua bewarna merah marun, tidak ada dinding kayu yang aesthetic melainkan dinding dengan cat putih pudar, tidak ada balkon dengan pemandangan gedung pencakar langit modern yang gemerlapan melainkan stasiun dan petak rumah warga sekitar. Namun di kota yang kejam ini, studio apartemen Donghyuck lebih dari mewah untuk pria rantauan yang biasa-biasa saja macam dirinya. Donghyuck bersyukur akan itu.
Hidup ini melelahkan dan akan selalu melelahkan, Donghyuck bergumam dan membenamkan kepalanya ke dalam bath up tua yang sudah terkelupas di beberapa bagian sisinya. Dua tahun ini bisa dikatakan jika dibanding sukses, ia malah merasa terjebak dalam rutinitas yang tidak menyelamatkannya lagi dari rasa bosan. Semua hal seakan sudah terlalu usang dan tidak bisa dinikmati. Donghyuck berpikir jika ia memang ditakdirkan untuk jadi orang yang biasa-biasa saja. Ia tidak punya talent yang menonjol, ia tidak pernah meraih prestasi apapun, nilai akademik ketika ia masih bersekolahpun hanya sekedar cukup untuk membuatnya lulus, bisa masuk ke universitas pun sudah sebuah keberuntungan yang besar. Ia bahkan tidak menyangka, ia mampu hidup sampai saat ini. Donghyuck hanyut dalam pikirannya sendiri hingga ponselnya bergetar di atas wastafel tua yang hampir tak layak pakai.
"Hallo?"
"Bro udah nyoba belum?" Suara di seberang terdengar cukup keras hingga Donghyuck harus melebarkan jarak dengan ujung ponselnya.
"Coba apa?"
"Tinder."
"Aduh gue banyak kerjaan Jem, ntar aja deh."
"Alaaah alesan lo. Cupu banget sih"
"Nggak."
"Ya udah coba, ntar lapor ke gue lo ketemu siapa aja. Hahaha."
"Ngeledek lo?"
"Soalnya orang kayak lo main Tinder tuh kayak ga mungkin njir."
"Tsk, udah ya gue lagi mandi." Donghyuck dengan sigap menutup pembicaraan yang menurutnya tidak penting itu dengan nada kesal. Seminggu terakhir ia bersama tim kerja di agensi disibukan dengan obrolan mengenai Tinder. Jaemin, rekan kerjanya terus-terusan merekomendasikan Donghyuck sejak dirinya merasa sudah sukses menemukan belahan jiwa berkat aplikasi perjodohan virtual tersebut. Donghyuck beranggapan Jaemin terlalu percaya diri.
***
Mark memandangi pria di seberangnya sendu, sementara pria yang ia pandangi tampak acuh dan sibuk memainkan ponsel pintarnya. Mark menghela nafas, ia ingin sekali menggebrak meja dan menarik kerah pria yang duduk santai tanpa beban di hadapannya itu untuk sekedar berbagi perhatian kepada. Sayang sekali keinginan remeh temeh dan penuh drama yang terbesit di otaknya itu segera ia entaskan, karena jujur saja ia bukan hanya akan terlihat menyedihkan tetapi juga terlihat idiot.
"Ren"
"Ya"
Cold.
"Kerjaan gimana?"
"Not bad, biasa aja."
"Oh." bad shit happens, the conversation run dry. Mark nanar memandangi ujung rambut Renjun yang bergoyang kesana kemari karena si empunya hampir menunduk sempurna berkonsentrasi mengutak-atik layar ponsel. Mark hampir menangis karena ia kesulitan menghidupkan suasana dan memulai pembicaraan dengan kekasihnya yang entah mungkin sedang bosan dengan kehadirannya. Hal yang wajar tentu ketika menjalin hubungan pikir Mark. Positive thinking.
"Mark."
"Ren"
"Kamu duluan." Renjun memotong cepat karena mereka secara tidak sengaja ingin memulai pembicaraan secara bersamaan.
"Hmm kamu mau ketemu keluarga aku ga? akhir bulan ini ada long weekend. Gimana?"
"Huh? ketemu orang tua kamu?"
"Iya."
"Mark maaf banget a-"
"Kalo ga bisa gak apa-apa, nanti kita liburan berdua aja gimana?"
"Mark a-"
"Kamu tenang aja."
"Please jangan dipotong bisa?"
Another cold one.
"Iya." Mark mengangguk lemas.
"Aku minta maaf kayaknya kita udah ga bisa lanjut, aku balikan sama mantan aku."
"What? Jangan bercanda." Mark tersedak dengan kalimat yang ia lontarkan sendiri.
"Nggak bercanda." Renjun lirih dan membuang pandangannya ke arah yang berlawanan dari ujung mata Mark.
"Sorry setahun belakangan ini aku kurang apa ya? Ren?"
"Banyak." tutup Renjun.
"Fuck" maki Mark dalam hati, ia tidak punya keberanian untuk menyumpahi lawan bicaranya yang bahkan sudah bertingkah tidak masuk di akal itu. Mark mencoba memanggil semua kewarasannya, ia berusaha mencerna perkataan kekasihnya yang sudah setahun terakhir menjalin hubungan dengannya. Ia pikir selama ini semua sempurna-sempurna saja. Di balik kesibukannya sebagai jurnalis ia selalu menyempatkan diri bertemu dengan Renjun setidaknya 3 kali dalam seminggu. Ia selalu berinisiatif untuk berbagi kabar dan melakukan apapun untuk menyenangkan hati kekasihnya itu.
"Semakin kesini aku semakin ga kenal kamu, Mark. Kamu aneh. I feel stuck tapi kamu orang baik."
Weird.
Mark menyerah dan mendengus tanpa perlawanan. His relationship never lasts longer even with-this-guy, oh c'mon. Mark bermonolog dengan jalan pikirannya sendiri. Alasan yang dilontarkan Renjun terlalu berputar-putar, ia kehabisan energi untuk merefleksikan alasan-alasan tersebut ke dalam kurang lebih 365 hari bersama pria tersebut. What action? yang mana?
"Mark I gotta go, good luck." Renjun lagi-lagi menutup pembicaraan dan melenggang pergi dari table sebuah restoran mewah. Ia sepertinya lega dan justru terlihat sumringah dibanding dengan raut wajah Mark yang kacau.
Mark memandangi daging Wagyu yang diiris tipis-tipis dan ditata sedemikian rupa dengan garnish yang menawan. Tampak seperti muntahan, sekejap persepsi Mark amburadul terhadap sepiring daging mahal yang sebenarnya terlihat elok itu. Mark menggigit-gigiti kulit bibirnya yang kering, ia membuka ponselnya dan mengusap-usap layar LCD lalu membuka satu-satu arsip kebersamaannya dengan Renjun yang tersimpan di galery ponsel. Wajah kekasihnya itu terlihat ceria ketika mereka bermain golf bersama 7 hari yang lalu. Ia bahkan turut mengambil video singkat pria yang tampak sedang kelimpungan menyetir golf cart itu, mereka berdua tertawa-tawa sambil melontarkan candaan. Lalu sebuah foto ketika mereka bersama-sama membuat bayangan love-sign dari gestur tangan, saat itu Renjun mengkritisi Mark karena terlalu kekanakan, tapi justru hal tersebut malah membuat hubungan mereka jauh lebih intim dari sebelumnya. Mark memijat-mijat keningnya, mungkin Renjun hanya sedang lelah karena ia sedang diburu deadline design untuk sebuah brand ternama, atau mungkin ia sedang butuh sendiri. Mark berjanji akan menghubungi Renjun keesokan hari, mencari sebentuk pembenaran atas setahun terakhir ini.
Mark dan Renjun merupakan rekan satu kampus dan berkenalan ketika mereka berpartisipasi dalam sebuah program pertukaran mahasiswa. Saat itu mereka merupakan rekan berbagi kamar dalam satu dormitory mahasiswa, walau mereka berdua memang berbeda jurusan. Jauh sebelum mereka memutuskan untuk menjalin kasih, mereka memang terlebih dulu berteman baik. Renjun adalah sosok yang dewasa, perhatian, dan tenang menurut Mark. Setiap ia mengalami kesulitan, sosok itu selalu menjadi tempat yang ia tuju. Ada banyak momen yang mereka habiskan bersama di tengah-tengah kesulitan melewati tugas akhir dan berorganisasi untuk keperluan kampus mereka.
Mark merasa ada kecocokan, namun ia terlalu takut untuk sekedar menyatakan perasaannya hingga mereka berdua sempat terpisah karena lulus dari perkuliahan dan sibuk mengejar mimpi mereka masing-masing. Hingga setahun yang lewat, organisasi pertukaran pelajar mereka mengadakan reuni alumni sehingga mau tidak mau mereka berdua bertemu kembali dengan kehidupan yang bisa dibilang sama-sama sukses. Renjun adalah seorang Designer untuk sebuah brand ternama, sementara Mark sukses menjadi seorang jurnalis sebuah portal berita kenamaan. Finansial mereka sama-sama baik, independent, dan bonusnya mereka berdua single. Mark tak mau buang-buang waktu, ia menyatakan perasaannya, namun sayang sekali tepat hari ini kekasih yang ia damba itu membuang perasaannya ke dalam tong sampah.
***
Donghyuck sedang penat, ia menarik kursi kerjanya di kubikel dan meluruskan kaki. Ia baru saja menuntaskan meeting bersama klien besar, isi otaknya terkuras habis ketika persentasi di depan 7-8 orang direksi kliennya. Ia mengedar pandang, pukul 12 siang nyaris separuh dari staff agensinya sedang berada di luar kantor untuk makan siang atau sekedar menyeduh kopi di toko kopi berlogo peri hijau, yang tertinggal hanya Jaemin yang saat ini terdengar tampak sedang menahan tawa dari kubikel sebelah.
"Kesambet lo?" Donghyuck mengejek Jaemin tanpa menaruh rasa curiga.
"Nggak sih, ini gue lagi nonton Tiktok lucu banget."
"Gak jelas lo." Donghyuck mencibir dan memeriksa ponselnya yang sedari tadi ia tinggal di kubikel. Ia terbelalak kaget melihat sebuah aplikasi virtual date berlogo api muncul di layar utama dengan beberapa notifikasi. Ia gusar dan langsung membuka aplikasi tersebut dan menemukan beberapa kolom chat yang sudah terisi banyak gelembung percakapan.
"Jem lo belum pernah di pukul orang ya?" Donghyuck histeris.
"Sorry bro gue nyebat dulu." Jaemin mengambil langkah seribu sambil tertawa kegirangan.
"Sejak kapan lo tau password HP gue HAH?" cecar Donghyuck sambil mengusap wajahnya kasar. Donghyuck menghela nafas lagi dan lagi, belum selesai ia merasa betrayed, tiba-tiba muncul notifikasi dengan username Watermelon Sugar. Ia melotot dan menggerutu kesal "Watermelon Sugar siapa lagi? Lo Harry Styles atau Richard Brautigan? Gak jelas." Donghyuck tidak ambil pusing, ia langsung menghapus aplikasi tersebut tanpa membuka gelembung percakapan yang tampaknya sudah mengular panjang itu.
***
Waaaah nulis lagi euy doain konsisten hiks.
Btw sehat-sehat ya semua!!! semoga pandemi cepet kelar biar bisa main keluaaar.
Don't forget to leave your footprint. See yaaa.
With luv,
hyucklucu.