Niall yakin ia memiliki semacam kelainan yang membuatnya tidak dapat berinteraksi dengan orang lain. Entah itu, atau ia memang ditakdirkan untuk menjadi petapa dan tinggal sendirian di sebuah pondok yang terbuat dari lumpur dan jerami sampai ia ditemukan suatu hari, dengan gitarnya yang masih di dalam dekapannya dan dikelilingi makanan takeaway. Sungguh.
Entah di mana di M6, bus tur mulai menimbulkan suara-sara aneh sehingga supir dan rombongan mereka yang lain memutuskan untuk menepikan bus di sebuah bengkel, di mana mereka kemudian diberitahu bahwa mereka akan berada di sana untuk beberapa jam sementara seseorang memperbaiki bus tur (disebabkan oleh suatu hal yang berhubungan dengan sebuah katup atau apa, Niall tidak terlalu memperhatikan saat Liam menjelaskan). Liam, Zayn, Louis, dan Harry tentunya sudah memanfaatkan cuaca yang cerah dan istirahat dari perjalanan, sedangkan Niall, sejujurnya, lebih memilih untuk tinggal di dalam dan membaca sebuah surat lanjutan dari Charlie, mungkin.
Sehingga itu menuntunnya untuk duduk di kompartemennya dan mengaduk-aduk tasnya mencari sebuah buntelan banyak surat, bertanya-tanya apa yang telah menyebabkannya menjadi sangat anti-sosial terhadap sahabat-sahabatnya selagi ia menguping perbincangan Harry dengan Liam yang terdengar melalui jendela yang terbuka.
"Kenapa kau tidak mau bermain sepak bola bersama kami?"
"Aku lelah bermain sepak bola."
"Kalau begitu main anak panahan saja bersama Niall."
"Niall suka curang."
Liam mendengus. "Dia selalu menang, itu maksudmu."
"Dasar Irish," gumam Harry pelan.
Niall berpikir untuk berkomentar, namun ia malah tersenyum pada dirinya sendiri, meraba surat di dalam amplop dengan ibu jarinya. Kertasnya mengeluarkan bunyi retak pelan. Dengan semangat di hatinya, ia menarik surat keluar dari amplopnya dan mulai membaca, matahari bersinar terang menembus jendela, hangat menyentuh kulitnya.
Teruntuk Niall,
Aku pikir sejak aku menceritakanmu sedikit tentang Eliza di surat terakhir, mungkin aku bisa memberitahukanmu lebih banyak.
Kami mengadopsi Eliza yang baru berumur sembilan bulan dengan rambut berwarna seperti jagung dan senyuman yang lebar saat aku berumur lima tahun. Ia membuat banyak perubahan dalam hidup kami. Aku selalu ingin memiliki seorang adik perempuan, tapi itu tidak bisa terjadi. Orang tuaku tidak dapat memiliki anak. Ibuku pernah diberi tahu bahwa ia tidak akan bisa, kemungkinannya sangat tipis. Semacam keajaiban aku bisa lahir.
Itulah panggilanku dari Ibu. Keajaiban.
Tapi itu tidak penting, karena ada Eliza. Gembira dan menggemaskan dan seperti seberkas sinar matahari, jika aku bisa memanggilnya itu tanpa terdengar terlalu klise, dan dia adalah adikku. Tentu, ia sering berteriak dan itu berarti aku tidak bisa meninggalkan cat poster di sekitar rumah lagi (tidak setelah insiden kurang menyenangkan yang melibatkan tirai sutra) namun ia membuatku tertantang. Rasanya seperti tiba-tiba aku harus punya tanggung jawab.
Aku tidak pernah memiliki adik, pikir Niall. Hanya ada ia dan kakak laki-lakinya, Greg.
Di luar jendela, terlihat seseorang mencetak gol, kemungkinan besar Louis karena ia mulai bersorak kencang dan berlarian di sisi yang lain. Muncullah argumen, dan tiba-tiba ada teriakan 'perang gelitik!' dan pekikan. Pekikan. Pria dewasa, memekik. Mungkin Niall memang punya adik, selama ini.
Mereka berempat.
Tiba-tiba aku seorang kakak dan aku harus ada untuknya, menggenggam tangannya dan menggelitik perutnya. Aku harus bersiap untuk mengajarkannya berbagai macam hal dan meminjamkannya baju-bajuku, membelanya di sekolah, mengajarkannya gerakan tari rutin, dan aku menginginkan itu. Sungguh. Aku selalu ingin menjadi seorang kakak, kau tahu?
Tapi aku tidak mampu. Aku tidak mampu menjaganya sesuai dengan yang kumau, dan itu membunuhku. Enam tahun kemudian dan aku berumur tiga belas tahun, melihat semangat adikku sendiri memudar setelah kehilangan banyak hal.
Setelah kecelakaan, Eliza hanya pasrah. Menyerah pada hidup, menyerah padaku, menyerah pada segala-galanya. Semua yang ia lakukan hanyalah menangis. Aku berusaha semampuku untuk menyelamatkannya, namun mungkin aku sudah tahu bahwa itu tidak mungkin. Bagaimana bisa aku menyelamatkan hidupnya di saat aku yang bertanggung jawab atas kematian orang tua kami? Aku saat itu berharap bahwa mungkin seseorang akan membiarkan Eliza hidup, tidak untukku, tapi deminya. Ia masih terlalu muda, masih terlalu cerah dan dia tidak melakukan kesalahan apa pun. Mungkin Tuhan akan menjangkau dan menolong kami, kumohon, tolong aku, selamatkan Eliza, aku tidak bisa kehilangan dirinya juga, k u m o h o n. Aku duduk di sampingnya tiap hari, dan Jade akan menggantikanku, menggenggam tangannya erat di saat kehidupan memudar dari dirinya. Aku terlalu takut untuk mengucap selamat tinggal kepada seorang gadis yang aku tahu tak bisa kupertahankan.
Hati Niall mencelos sedikit, kedua tangannya mempererat genggaman pada kertas putih tersebut.
Eliza punya sebuah boneka yang dulu biasa ia bawa bersamanya kapan pun ia pergi ke rumah sakit. Boneka kecil, terbuat dari bulu kempa dan wol dengan dua kancing biru sebagai sepasang mata. Bibi kami yang memberikan boneka tersebut pada Eliza ketika ia mampir dari Australia saat Eliza masih berumur empat tahun. Aku juga punya satu, dengan rambur merah dan mata hijau yang berkilau karena glitter. Aku menamakannya Emerald. Milik Eliza bernama Sapphire. Ia masih memeluk boneka itu saat ia meninggal.
Ia ingin... Niall tidak tahu apa yang ia inginkan. Untuk melidungi Charlie, untuk membantunya, untuk memeluknya erat dan memberi tahunya bahwa ia cantik, untuk menyelamatkan adiknya dan keluarganya dan semua orang yang ia kenal dan pernah kehilangan, hanya menyelamatkan Cahrlie juga.
Kami menguburkan Eliza dengan bonekanya.
Aku rasa setelah kehilangan Eliza, aku semacam kehilangan diriku juga. Aku ingin menghilang, bersembunyi di bawah selimut, menutup mata dan mungkin dengan cara itu ketika aku membuka kedua mataku, aku akan kembali di rumah, bersama seorang ibu dan seorang ayah serta seorang adik, semua hidup dan baik-baik saja. Namun yang ada hanyalah sebah rumah besar dengan banyak anak yang saling berteriak, ada konselor dan tatapan kasihan, sekolah baru, bisikan-bisikan, seorang anak laki-laki jangkung dengan mata coklat berdiri di pintu meminta maa padaku dan berkata bahwa seharusnya ia tidak menyembunyikan sesuatu seperti itu dariku, dan aku tak bisa berhenti berpikir;
Apakah kau akan mati juga?
Karena hanya itu yang dilakukan semua orang di hidupku. Empat orang, empat orang yang berarti segala-galanya untukku, menghilang satu demi satu. Inilah mengapa aku tidak suka memiliki hubungan dekat dengan orang lain - aku selalu kehilangan mereka. Bahkan dengan Alice saat ini, aku hanya... takut. Ia adalah sahabatku. Bagaimana jika aku kehilangan ia juga?
Aku rasa mungkin aku akan benar-benar kehilangan diriku nanti.
Dan mungkin Niall ingin mengenal Charlie lebih jauh juga, membahagiakan Charlie.
Akhir-akhir ini sudah tidak hujan. Cuacanya cukup hangat, sebenarnya. Aku rasa Dave akan mengadakan berbekyu untuk kami nanti malam. Aku tidak yakin, tapi lagipula ini juga tidak penting. Ia mungkin akan menggosongkan barbekyunya dan kemudian seseorang akan komplain dan memulai sebuah pertengkaran dan merusak acaranya karena memang itulah yang terjadi ketika tinggal di panti asuhan. Bodoh.
Sekolah akan dimulai lagi minggu depan, sehingga aku tidak yakin apakah aku akan sesering ini menulis surat. Atau mungkin aku memang akan sering menulis. Tergantung. Lagipula kau juga tidak akan pernah membacanya.
Beribu cinta,
Charlie ♥
Aneh rasanya, bagaimana perasaan ini begitu udahnya datang ke Niall. Betapa bodohnya dirinya untuk tidak pernah emikirkan ini sebelumnya. Semua yang ia tahu hanyalah bahwasanya ia mesti menemukan Charlie, memeluknya erat dan memberi tahunya bahwa ia selama ini membaca surat-surat yang dikirmkan Charlie. Bahwa kedua pluh satu surat ini tidak terabaikan. Bahwamungkin Niall selama ini jatuh cinta padanya sejak awal.
Ia harus menemukan Charlie.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
sorry baru update lagi setelah uts dan pelatihan ini itu ugh.
enjoyyy.
ohiya, aku sedih nih :( zayn left. gue ngelanjutin fanfic zayn gue ga ya?
lol ngapain gue nanya di sini