I'm Sorry

By Bylans

197K 17.4K 1.9K

Menyamar menjadi laki-laki demi menyelamatkan banyak orang, itulah yang dilakukan Son Eunseo. Dia bukan super... More

Awal
Persiapan
Trending Topik
Insiden Tak Terduga
Publikasi
Pertunangan
Hari yang Buruk?
Kabar buruk?
Permintaan
Perjanjian
Kiss Your Lips?
Kelicikan Tak Terlihat
Happy Wedding!
Mencicipi Musim Semi
Be Close With You
Aku Percaya Padamu
Pembuat Masalah Telah Kembali
Ku Lepas Kau dengan Paksa
Berbeda?
Insting Seorang Ibu
Kembali Menjadi Juyeon
I Miss You
Dingin yang Terasa Hangat
Aku Cemburu
Rencana Gagal, Bencana Datang
Save Me
Save You
Secret?
Anak Adalah Kehormatan
Hmph!
Apa Kau Bermain Api?
Hati-hati
Ketahuan
The Heart You Hurt
Deportasi Cinta
Lindungi Aku
Got You or Get You
Menagih Janji
How?
Ayo Pulang? (19+)
I'm Sorry
Never-ending
Let Me In (extra chapter)
My Wife (Bonus Chapter)
Iklan
Antara Iklan dan Bukan
Iklan Bukan Layanan Masyarakat

Tolong Jaga Dia

4.3K 371 168
By Bylans

"Kembali ke Seoul?" Tanya Eunseo.

"Iya, kita bisa kembali ke Seoul."

"Tapi ayahmu..."

"Aku akan mengurusnya."

Eunseo tersenyum senang, akhirnya ia bisa pulang. Ia pun mendekati Bona dan langsung memeluknya. "Terima kasih, terima kasih banyak."

Bona membalas pelukan Eunseo. Ia senang bisa membuat suaminya tersenyum karena dirinya.

Kedatangan Bona di New York tidak hanya untuk menemui suami tercintanya tetapi ia juga berniat membawa pulang sang suami usai menyelesaikan perjanjiannya dengan sang ibu. Entah apa isi perjanjiannya, yang pasti Nyonya Kim telah berjanji akan membantu Bona membujuk ayahnya sehingga Bona bisa mengajak pulang suaminya.

"Tapi ada syaratnya."

Eunseo melepas sedikit pelukannya dan menatap Bona yang menaikkan selimutnya yang sempat turun. "Apa?"

Bona menyeringai lalu berkata, "Cium aku."

Bibir Eunseo berkedut. Ia tidak keberatan dengan syarat yang diajukan Bona tapi ia khawatir jika dirinya tetap mencium Bona hal yang tadi tertunda akan kembali berlanjut. Namun Eunseo tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Mau tidak mau Eunseo pun mulai memajukan bibirnya menuju bibir Bona.

Tinggal beberapa inchi, telunjuk Bona menahan bibir Eunseo. Eunseo dibuat bertanya-tanya, kenapa Bona menghentikannya?

"Aku ingin ke kamar mandi sebentar."

Gadis mungil itu kemudian melesat dengan selimut masih melilit tubuhnya dan ia meninggalkan Eunseo dengan wajah bodohnya.

Beberapa saat kemudian Bona keluar dari kamar mandi. Bukannya menghampiri Eunseo ia malah membuka kopernya yang belum dirapikan dan mencari sesuatu.

Tidak menemukan yang ia cari, Bona berubah menjadi gelisah. Eunseo yang sejak tadi memperhatikan lalu bertanya, "Kau mencari sesuatu?"

"Iya." Bona mengangguk sambil terus mencari. Namun sepertinya ia lupa menyiapkan barang itu.

"Mencari apa?"

Wajah Bona memerah mendengar pertanyaan Eunseo. Ia hanya malu mengatakan jika sebenarnya ia sedang mencari pembalut karena secara tak terduga ternyata dirinya sedang datang bulan sekarang.

"Mmm..."

"Apa?"

Setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya mengatakan pada suaminya jika ia tengah datang bulan. Bagaimanapun 'Juyeon' harus tahu jika acara malam pertama mereka harus kembali tertunda.

"Sepertinya aku sedang datang bulan." Ucap Bona.

"Oh! Kau sedang mencari pembalut?"

Pertanyaan spontan dan blak-blakan dari Eunseo membuat Bona semakin malu karena meskipun Eunseo seorang wanita tapi di mata Bona Eunseo masih lah seorang pria. Dan hal seperti ini sangatlah memalukan bagi Bona sehingga ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Eunseo.

"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambilkannya."

"Mengambilkannya?" Tanya Bona terheran-heran karena tidak mungkin seorang pria memiliki pembalut.

Eunseo yang menyadari itu kemudian meralat ucapannya. "Maksudku aku akan membelikannya untukmu. Tunggulah sebentar, aku akan segera kembali."

Kurang lebih 10 menit kemudian Eunseo kembali dengan sekantong pembalut berbagai ukuran, jenis dan merk.

"Untuk apa kau membeli sebanyak ini?"

"Aku tidak tahu berapa ukuranmu, jadi aku membeli semua ukuran. Aku juga tidak tahu mana yang sering kau gunakan jadi aku memilih semua merk dengan beberapa jenis yang berbeda. Aku tidak mengerti tentang pembalut dan aku juga malu jika harus bertanya pada pegawai minimarket. Jadi aku langsung membelinya untukmu." Dengan sok polos Eunseo berkata demikian.

Sebenarnya Eunseo hanya berpura-pura tidak mengerti tentang ukuran pembalut supaya Bona tidak curiga karena akan sangat aneh jika dirinya yang seorang 'pria' bisa mengetahui ukuran pembalut. Padahal sesungguhnya Eunseo bisa menebak berapa ukuran Bona.

Bona terharu dengan tindakan suaminya untuk dirinya. Ia lalu mengambil satu bungkus pembalut yang biasa ia gunakan lalu pergi ke kamar mandi tanpa banyak bertanya lagi.

....

"Urus pemakamannya dengan baik, jangan sampai ada orang yang tahu. Jika publik ingin tahu katakan yang meninggal adalah Eunseo bukan Juyeon."

"Baik, Tuan."

"Kau boleh pergi."

Orang yang diminta pun membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan Tuan Son.

Pria paruh baya itu bersandar lemah di kursi kebesarannya setelah orang kepercayaannya melaporkan keadaan putranya. Sekarang ia benar-benar merasa jahat.

Sudut matanya berair. Ia telah kehilangan salah satu anaknya. Sekuat apapun seorang ayah pasti akan sedih ketika anaknya pergi untuk selamanya.

Tuan Son memijat pelipisnya karena rasa pening yang muncul. Ia lelah, akhir-akhir ini hidupnya hanya sendiri. Istrinya masih menjalani perawatan sebab keadaannya kembali tidak stabil sejak Eunseo pergi, kemudian putrinya saat ini juga masih berada di luar negeri dan sekarang putranya telah tiada.

"Maafkan Appa, Seo." Tuan Son kemudian duduk dengan tegak. "Appa tidak bisa kehilangan nama Juyeon sebelum JK Grup menjadi milikmu." Senyum tipis terlihat dari bibir Tuan Son.

....

"Selamat, Tuan! Putri anda lahir dengan selamat."

Ekspresi cemas Dawon seketika menjadi senyum bahagia. Begitu juga dengan Nyonya Nam dan Soobin.

"Bagaimana keadaan ibunya? Apa dia baik-baik saja?"

"Nyonya tidak perlu cemas. Menantu anda baik-baik saja. Dia masih istirahat karena efek obat bius." Dokter itu beralih kepada Dawon. "Karena lahir prematur bayi kalian masih harus dalam perawatan khusus. Jika ingin melihatnya, kau bisa pergi ke ruang inkubator."

"Terima kasih banyak, Dok."

"Sama-sama. Saya permisi dulu."

Usai dokter yang menangani Luda pergi, Soobin mendekati Dawon.

"Selamat! Kau memiliki seorang putri." Dawon menengok kemudian hanya tersenyum sebagai reaksi membalas Soobin.

....

Bona dan Eunseo sudah berada di dalam pesawat. Hari ini mereka akan kembali ke Seoul secepatnya. Sebab pagi-pagi sekali datang kabar duka dari Tuan Son yang mengatakan jika adik Juyeon telah meninggal dunia akibat keracunan makanan.

Ada rasa kesal di hati Eunseo karena dirinya masih hidup dan sehat namun malah menerima kabar kematiannya. Siapa yang tidak sakit hati? Dirinya dianggap telah mati padahal masih hidup. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyangkalnya.

Sebuah genggaman menyadarkan Eunseo yang termenung. Ia melihat tangannya yang kini tengah digenggam oleh tangan mungil orang yang ia cintai. Eunseo pun menoleh ke samping menatap Bona yang berusaha menyemangati dirinya.

"Kau sudah menjadi seorang ayah. Jangan terlalu larut bersedih karena ditinggal saudaramu."

Eunseo meremas tangan Bona. "Aku mencintaimu."

Bona dibuat merona dengan ucapan Eunseo yang tiba-tiba. Tidak biasanya suaminya itu mengatakan kata-kata cinta padanya. Bahkan dulu dia sempat tidak mengakui perasaannya. Rasanya seperti ada ular menggeliat di perut Bona sekarang.

"Aku juga mencintaimu."

....

Para pelayat berdoa di depan foto Eunseo yang terpampang. Dari teman Eunseo hingga kolega Tuan Son dan Tuan Kim pun datang untuk memberi penghormatan terakhir.

Tuan Son nampak tertunduk sedih. Semua orang memberi semangat kepada beliau. Tuan dan Nyonya Kim juga berada di sana mendampingi Tuan Son.

Dayoung sedih dan tidak percaya sahabatnya pergi lebih dulu meninggalkannya. "Eunseo-ya~ kita belum main bersama~ huhuhu..."

"Berhentilah menangis. Kau jelek jika begitu." Ucap Soobin yang ada di samping Dayoung. Ia kesal dengan ekspresi Dayoung yang berlebihan.

"Unnie! Kau tidak mengerti bagaimana rasanya kehilangan sahabatmu. Kenapa dia harus pergi disaat aku sudah membeli tiket liburan? Padahal aku sudah berencana mengajaknya pergi ke Bali untuk berlibur."

Soobin hanya memutar malas bola matanya. "Terserah kau saja."

Hari berlalu hingga malam menjelang. Eunseo bersama Bona dan Hyunjung baru sampai di tempat duka untuk memberi penghormatan terakhir.

Mata Eunseo memerah dan berair menatap foto di hadapannya. Meski foto yang terpajang adalah foto dirinya, wajah itu tidak berbeda jauh dari milik kakaknya.

Semua orang mungkin mengira dirinya telah mati dan mendoakannya. Tapi bagaimana dengan Juyeon? Siapa yang mendoakannya padahal ia yang telah pergi?

Tanpa menyadari tatapan semua orang karena Eunseo tidak menyapa ayah dan mertuanya, Eunseo langsung berlutut memberi penghormatan terakhir untuk kakaknya.

Bona kemudian mengikuti suaminya setelah memberi hormat dan minta maaf pada orang tua dan ayah mertuanya atas perilaku Eunseo.

Sedangkan Hyunjung yang tadi bersama mereka kini mendekati istrinya usai berbelasungkawa kepada Tuan Son. Ia berniat melakukan penghormatan terakhir setelah Eunseo.

Oppa, aku berharap kau bahagia di sana, walaupun tidak banyak orang yang mendoakanmu. Terima kasih telah menyayangiku selama ini. Kau selalu menjagaku di akademi. Saat aku merajuk kau pasti membelikanku ice cream, tapi sekarang kau tidak akan pernah bisa membelikanku satu cup besar ice cream coklat.

Oppa, aku merindukan telur gosong buatanmu. Aku juga merindukan lelucon garingmu. Aku rindu semuanya.
Kau tahu? Aku sudah lulus. Kau tidak bisa lagi mengejekku. Meski kau menjengkelkan tapi aku selalu menyayangimu.

Oppa, maaf aku bukan adik yang baik. Tuhan pasti menyayangimu dan memberikan Surga untukmu. Selamat tinggal dan semoga kau bahagia...

Tetesan air mata merembes dari balik mata Eunseo yang terpejam. Kilasan balik tentang sang kakak membuat rasa sedih menyerang hati Eunseo.

....

Esok harinya demi mengalihkan kesedihan sang suami, Bona mengajak Eunseo menemui Luda dengan alasan menjenguk anaknya yang telah lahir.

Bona mengetuk pintu ruang perawatan Luda lalu membukanya. Terlihat Dawon tengah menyuapi sang istri.

Tatapan Eunseo heran melihat itu. Sejak kapan mereka sedekat itu?

Bona mengerti tatapan heran Eunseo karena Eunseo tidak tahu jika Luda dan Dawon sudah menikah. Ia lalu mengaitkan tangannya dan menarik Eunseo agar masuk ke dalam.

Luda dan Dawon yang menyadari kehadiran keduanya lantas menoleh. Dawon kemudian berdiri dan memberikan salam hormat pada Bona dan Eunseo. Begitu pula dengan Bona dan Eunseo membalas salam dari Dawon.

Luda menatap Dawon dan Dawon mengerti tatapan Luda. Selanjutnya Dawon meletakkan mangkuk bubur. Setelah itu ia mendekati Luda kemudian mengelus pipinya dan mengecup kening Luda sejenak. "Aku akan mencari kopi sebentar, kalian mengobrol lah." Dawon pergi meninggalkan mereka bertiga.

Setelah kepergian Dawon, suasana menjadi canggung. Eunseo masih bingung dengan hubungan Luda dan Dawon. Bona masih sedikit berat membiarkan suaminya bertemu dengan mantannya. Sedangkan Luda hanya sesekali memandang Eunseo dan Bona bergantian sambil menunggu mereka untuk memulai.

Keheningan menyelimuti sebelum akhirnya Bona memecah suasana. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?"

"Kami juga baik-baik saja." Bukan Bona yang menjawab melainkan Eunseo.

Luda tersenyum. "Kalian bahagia?"

"Tentu kami bahagia." Sergap Bona.

"Benarkah begitu Juyeon-ah?"

Eunseo terdiam, apa ia bahagia?

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Bona tidak suka dengan pertanyaan Luda yang seakan mengatakan mereka tidak pernah bahagia.

Dengan tenang Luda menjawab. "Aku hanya ingin memastikan."

Eunseo kemudian menatap Bona dengan tatapan cintanya lalu berkata, "Kami sangat bahagia."

Melihat itu Luda meyakinkan dirinya lalu berkata, "Jika begitu, anak itu menjadi milik kalian."

Eunseo dan Bona terkejut. Bona mengingat syarat yang ia ajukan dan niatnya memisahkan Luda dengan anaknya. Sedangkan Eunseo tidak menyangka Luda berubah pikiran karena sebelumnya Luda menolak dengan tegas permintaannya sebelum pergi ke New York.

"Mengapa? Mengapa tiba-tiba kau berubah pikiran?"

"Saat kau meminta anak itu, aku memang menolaknya. Tapi aku telah memikirkannya lagi. Ku pikir anak itu akan lebih bahagia bersama dengan kalian."

Bona menatap Eunseo. Ia tidak menyangka suaminya benar-benar meminta anak itu demi menepati janjinya.

Ia lalu mendekati Luda dan meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Luda. "Luda-ssi, kau tidak perlu melakukan ini."

Luda menatap wajah serius Bona. Ia mengernyit karena Bona tiba-tiba lembut kepadanya.

"Maafkan aku, dulu aku pernah berniat jahat padamu. Waktu itu aku ingin membalasmu dengan memisahkan dirimu dan anakmu, sehingga aku meminta Juyeon agar anak itu di bawah asuhanku. Namun sekarang berbeda. Sekarang aku sudah percaya pada suamiku. Kau tidak perlu memenuhi permintaannya."

Luda menampilkan senyum manisnya. Ia lalu menggenggam tangan Bona dengan kedua tangannya.

"Aku tahu, kau tidak perlu minta maaf. Aku melakukan ini bukan karena itu." Luda menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. "Kalian akan sulit memiliki keturunan dan keluarga Son harus memiliki penerus. Anak itu, satu-satunya darah Juyeon. Aku tidak mungkin egois setelah kebaikan yang telah kau berikan." Lanjut Luda diakhiri dengan tatapan mengarah pada Eunseo di kalimat terakhir.

"Kemarilah!"

Eunseo mendekat di sisi lain Luda. Luda meraih tangannya lalu menyatukannya dengan tangan Bona.

"Kalian saling mencintai dan aku berharap itu akan selamanya. Jadi, tolong jaga Yeoreum."

....













Note: Silahkan tebak, kira-kira bagaimana Eunseo akan ketahuan jika dirinya perempuan.

FYI: Sedikit spoiler, bab selanjutnya kebenaran Eunseo akan terbongkar.

Selalu jaga kesehatan dan selamat menikmati!

Continue Reading

You'll Also Like

53.8K 4.2K 24
"Kau gila?" "Kenapa? Kau takut jatuh cinta denganku?" "Tidak ada yang akan mencintai orang payah sepertimu"
4K 173 7
Kim jo eun, gadis yatim piatu yang tinggal bersama neneknya yang miskin dipinggir kota seoul. Suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis yang hampir...
12.9K 1.5K 57
"Aku sudah biasa hidup sendirian. Jadi kau tak perlu masuk ke hidupku." "Bagaimana jika aku memaksakan diri?" "Mengapa begitu?" "Karena kau sangat be...
24.7K 2.6K 26
Bercerita tentang seorang guru SMA bernama Kim Bona yang sangat polos. Dia tergiur untuk masuk bar dimana temannya mendaftarkan namanya di sana. Kare...
Wattpad App - Unlock exclusive features