Padang Tomahawk (โœ”)

By Edodeff27

741 141 110

๐Ÿ…ฒ๐Ÿ…พ๐Ÿ…ผ๐Ÿ…ฟ๐Ÿ…ป๐Ÿ…ด๐Ÿ†ƒ๐Ÿ…ด๐Ÿ…ณ Kota Padang sebagai Ibukota dari provinsi Sumatera Barat merupakan kota yang sangat berbud... More

โ—Peringatanโ—
Prolog
1.
2.
3.
4.
6.
7.
8.
๐Ÿ“• GANTI COVER BUKU ๐Ÿ“•
9.
10.
11.
12. (LAST PART)
Epilog
โค Ucapan Terima Kasih โค

5.

28 6 4
By Edodeff27

"Ada apa, Rendi?" tanya Poppy.

Rendi yang hendak keluar rumah menanggapi Poppy, Windi, Gucci dan Seno yang berada di ruang keluarga. "Uh... Kalian pergi saja ke lantai dua di kamar Jujun! Aku tidak bisa membicarakannya! Aku harus pergi ke kantor polisi!".

"Hah? Kantor polisi? Memang ada apa? Rendi? Rendi! Rendi!!".

Rendi sudah keluar dari rumah Jujun dan akan pergi ke Kantor Polisi menggunakan sepeda motor miliknya. Sementara yang berada di ruang keluarga merasa heran dengan Rendi yang terburu-buru keluar rumah.

"Ada apa di lantai dua?" heran Windi.

"Manalah aku tahu! Ayo kita kesana!". Seno beranjak dari sofa dan menuju ke kamar Jujun bersama dengan Trio Drakor.

Sementara diluar rumah, Rendi hendak pergi ke kantor polisi dengan menggunakan sepeda motornya yang terparkir di garasi Rumah Jujun.

Buk Buk Buk Buk Buk Buk Buk Buk

Terdengar suara langkah kaki yang menggunakan sepatu boot yang berada di sekitar Garasi. Bulu kuduk Rendi meremang saat mendengar suara derapan langkah kaki yang terdengar olehnya.

"Siapa ya? Perasaan, hanya aku saja yang ada disini!".

Buk Buk Buk Buk Buk Buk Buk Buk

Suara langkah kaki semakin terdengar jelas dan seolah-olah suara itu akan mendekati Rendi. Rendi yang merasa gelisah menoleh kebelakangnya dengan perlahan-lahan.

"Tidak ada siapa-siapa. Apa aku salah dengar ya?".

Saat Rendi kembali menoleh kedepan, tiba-tiba muncul sosok bertopeng tengkorak hitam tepat didepan wajahnya. Hal itu membuat Rendi kaget dan hampir berteriak.

"AAAAA.....".

Buuuuuuukkkkkk

"ARGH.....".

Beruntung sosok bertopeng itu langsung meninju wajah Rendi sebelum teriakkannya terdengar oleh para penghuni rumah. Rendi yang dipukul wajahnya oleh sosok bertopeng itu pingsan seketika di dalam garasi.

Sosok itu menyeret Rendi ke gudang yang tersambung dengan garasi Rumah Jujun dengan menarik salah satu kakinya itu. Tidak lupa pula, di tangan kirinya memegang senjata Tomahawk yang menjadi senjata andalannya dalam membunuh Jujun dan Tio.

Sesudah berada di gudang, sosok itu mengikat Rendi di tiang kayu yang berada di gudang dengan menggunakan tali tambang yang tersedia di gudang.

Rendi masih belum sadarkan diri dan kini ia diikat oleh sosok bertopeng itu, dari kaki hingga lehernya. Sosok itu juga memasang lakban di mulut Rendi agar saat dia sadar, dia tidak berteriak meminta pertolongan.

Sosok itu sudah mengikat dan melakban Rendi di gudang. Ia pun keluar dari gudang dan mengunci semua akses keluar di Rumah Jujun, seperti pintu depan, pintu belakang, pintu samping, jendela rumah, jendela kamar dan berbagai jalan keluar lainnya.

Di kamar Jujun di lantai dua, Deni dan yang lainnya kecuali Nina dan Salsa berusaha menutupi jasad Jujun dan Tio dengan menggunakan selimut dan peralatan seadanya yang ada di Kamar Jujun.

"Apa yang terjadi disini?!" panik Gucci melihat darah berceceran di kamar Jujun.

"Darah siapa nih?!" takut Windi melihat darah yang berada di sekitar kamar Jujun.

"Itu siapa yang kalian tutupi pakai selimut?" tanya Poppy.

"Sebaiknya kalian jangan kesini! Kalian kembali ke ruang keluarga dulu! Nanti aku, Simon, Indra, Nina dan Salsa akan menjelaskan semuanya!" perintah Deni.

"Baru juga kami kesini, malah kembali ke ruang keluarga!" cemberut Seno. "Lagipula kenapa ada banyak darah disini?".

"Nanti kami akan menjelaskannya! Ayo kita berkumpul di ruang keluarga!".

Dengan perasaan tidak puas, akhirnya Seno, Poppy, Windi dan Gucci mengikuti Deni, Indra, Salsa dan Nina menuju ke ruang keluarga. Simon menutup pintu kamar Jujun dan ia pun mengikuti teman-temannya yang berada di ruang keluarga.

"Katakan pada kami, Deni! Apa yang sebenarnya terjadi?" gelisah Gucci.

"Oh ya? Mana Jujun dan Tio? Bukankah mereka ada di kamar itu?" tanya Poppy.

Deni mulai memberitahukan apa yang terjadi dengan Jujun dan Tio kepada teman-temannya. "Jujun dan Tio..... mereka telah.....".

"Telah apa? Jangan membuat kami takut, Deni!" takut Windi.

"Uh... mereka telah... dibunuh".

"HAH?!! DIBUNUH?!!" kaget Seno, Poppy, Windi dan Gucci.

"Jadi selimut yang kalian tutupi itu adalah.....".

"Iya, Poppy. Itu adalah Jujun dan Tio".

Semua yang ada di ruangan keluarga pun akhirnya menangis karena mereka kehilangan Jujun dan Tio yang dihabisi oleh seseorang. Bukan hanya menangis, mereka juga diliputi ketakutan yang luar biasa sesudah Jujun dan Tio dihabisi oleh sosok misterius.

"Siapa yang telah menghabisi Jujun dan Tio?!" isak tangis Windi.

"Kami tidak tahu, Windi. Saat kami sampai di kamarnya, Jujun dan Tio sudah dibunuh disana" kata Nina yang berderai air mata karena sedih bercampur takut.

"Hiks... Hiks... Hiks... Tapi Rendi sudah pergi ke Kantor Polisi. Semoga saja dia berhasil dan menolong kita semua!" kata Indra.

"Pantas saja tadi Rendi terburu-buru pergi! Hiks... Hiks... Aku mengerti sekarang!" kata Gucci.

"Yang harus kita lakukan adalah tetap tenang dan jangan pergi kemana-mana! Kita harus tetap disini! Entah mengapa firasatku mengatakan kalau sesuatu yang berbahaya sedang mengintai kita semua" titah Simon.

Mendengar perkataan Simon, mereka yang berada di ruang keluarga merasa ketakutan dan mengikuti saran dari Simon. Kini, mereka terpaku di ruang keluarga dengan keheningan tanpa suara yang kini sudah tidak ada lagi setelah sebelumnya suara kemeriahan pesta terjadi di rumah yang mereka tempati. Sunyi, hening, takut dan isak tangis melanda mereka semua yang berada di rumah Jujun.

Sementara itu, sosok bertopeng kembali ke gudang setelah mengunci semua akses keluar masuk yang berada di Rumah Jujun. Sosok itu memandangi Rendi yang masih terikat dan tidak sadarkan diri.

Setelah memandangi Rendi selama beberapa menit, akhirnya Rendi siuman dari pingsannya. Rendi memandangi sosok bertopeng yang berada tepat di wajahnya. Matanya yang melotot, aura yang menyeramkan dan diam membisu adalah hal yang dilihat Rendi dari sosok bertopeng tersebut. Ia juga melihat dirinya terikat tali tambang dan tidak bisa bergerak. Ditambah lagi mulutnya yang dilakban oleh sosok bertopeng itu.

"Hmmm!! Hnnggh!! Mmmmm....!!". Rendi tidak bisa mengatakan kata-kata dengan jelas karena lakban yang telah menutupi mulutnya telah mengunci omongannya.

Sosok itu tidak mengatakan sepatah kata apapun. Diam dan menatap Rendi dengan tatapan membunuh adalah ciri-ciri dari sosok bertopeng tengkorak hitam itu.

"HMMM!! NGHHH!! MMMMMM.....!! MMMMM...!! HHHMMMHH....!!".

PLLLAAAAAKKKKK

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rendi. Sosok itu menampar kuat pipi remaja malang tersebut dan masih menatap kejam kearah remaja itu.

"Hiks... Hiks.... Hiks... Hmm?! Ngghh!? Hiks... Hiks...".

Melihat Rendi menangis sesudah ditampar, sosok itu justru menunjukkan kasih sayangnya dengan menghapus air mata korbannya itu menggunakan jarinya yang diselimuti sarung tangan hitam yang terbuat dari kulit.

Rendi yang tadinya menangis karena takut berubah menjadi diam dan menatap sosok bertopeng yang telah menghapus air matanya.

Sesudah menghapus air mata Rendi, sosok itu pergi lagi meninggalkan Rendi yang masih diikat. Kali ini, sosok itu masuk ke dalam rumah melalui celah sempit yang ia buat sendiri di gudang sesudah mengunci akses keluar masuk di Rumah Jujun.

Rendi yang tidak tahu harus berbuat apa, terdiam seribu bahasa dan tidak bisa berteriak seperti sebelumnya karena tertahan oleh batinnya yang berbicara.

(Kenapa aku merasa kalau orang itu ada hubungannya denganku ya? Siapa dia? Apa dia yang telah membunuh Jujun dan Tio? Kalau iya, kenapa dia tidak membunuhku dan justru mengikatku seperti ini? Aneh sekali! Siapa orang itu? Aku harus keluar dari sini dan memperingatkan teman-temanku kalau ada orang jahat di rumah ini!) batin Rendi.

Rendi pun berpikir untuk melepaskan dirinya dari ikatan tali tambang dan mulutnya yang dilakban oleh sosok misterius bertopeng sesudah sosok itu telah pergi meninggalkannya.

Bersambung

Continue Reading

You'll Also Like

13.5K 1.3K 54
[JANGAN LUPA FOLLOW SEBELUM MEMBACA] โš ๏ธTYPO BERTEBARANโš ๏ธ ______ Ini kisah tentang seorang gadis yang memiliki seorang tetangga baru yang bersebelahan...
294 54 11
CERITA INI MURNI KARYA AUTHOR. DILARANG KERAS PLAGIAT. NERAKA MENUNGGUMU! Renata Tsalisatunnisa memutuskan untuk pergi dari rumahnya karena sang ayah...
7.1K 350 40
Sedang mengumpulkan niat untuk merevisi Revisi sesuka hati,awokawok Namanya NARACIA TENERESIA,Naracia yang berarti cerita dan Teneresia diambil dari...
Wattpad App - Unlock exclusive features