Mark duduk di sofa ruang tamu sambil mengotak-atik ponselnya.
"Chaniee, mau makan malam apa? Biar Mark pesenin."
Haechan menghampiri Mark.
"Oh! Haechan dirumah biasanya masak sendiri Mark hyung."
"Emangnya Chaniee bisa masak?"
"Bisa, Mark hyung."
"Masa sih?"
"Mark hyung nggak percaya? Yasudah nggak usah makan."
"Chaniee~ Mark bercanda tau."
Haechan membalikkan badannya lalu berjalan ke arah dapur.
Haechan menyiapkan bahan dan alat yang dia butuhkan.
Malam ini dia akan memasak nasi goreng. Ya, nasi goreng resep dari ibunya, Ten.
"Chaniee, Jangan marah dong."
Haechan tidak menghiraukan Mark.
Haechan sedikit kesulitan mengikat tali cooking apron bagian belakangnya.
"Sini mark ikatin."
"Ng-
Haechan belum sempat menolak, Mark sudah berada dibelakangnya.
"Makasih-nya mana?"
"Makasih." ucapnya dengan nada malas.
"Kok nggak ikhlas gitu?"
"Yang penting kan Haechan udah bilang. Mark hyung pergi sana duduk di sofa." usir Haechan.
Haechan kembali fokus ke kegiatan masaknya.
Mark merasa dicueki, dia segera mengeluarkan jurusnya.
Mark tanpa persetujuan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Haechan dan meletakkan kepalanya di pundak Haechan.
"Chaniee." suara berat Mark menusuk ke pendengaran Haechan.
Haechan terkejut bukan main.
Merasakan pelukan dan suara berat Mark membuat jantungnya berdegup kencang.
"Eh? Mark hyung ngapain?! Kok Haechan dipeluk." ucapnya panik.
"Mark hyung, lepasin!"
Sebaliknya Mark semakin mempererat pelukannya.
"Gak bakal lepas sebelum Haechan maafin Mark."
Mau tidak mau Haechan mengiyakan keinginan Mark.
"Iy-iya Haechan maafin kok. Sekarang lepasin ya, Mark hyung."
"Yay!" Mark berseru.
Mark melepaskan pelukannya lalu mencari kesempatan untuk mengecup pipi Haechan singkat.
"Mark hyung?!" Haechan menyentuh pipinya.
"Hehe." Mark kembali ke sofa ruang tamu dan menyalakan televisi.
"Dasar tukang modus." gumam Haechan.
•
"Nasi goreng ala chef Haechan siap!"
Mark terbangun gara-gara suara teriakan Haechan.
Haechan membawa piring berisi nasi goreng itu ke ruang tamu.
"Loh kok cuman satu piring?"
"Punya Mark mana?"
"Gak ada." jawab Haechan singkat, padat dan jelas.
Dengan semangat Haechan melahap nasi goreng buatannya.
"Hmp! Maknyus."
Mark menyenggol lengan Haechan.
"Chaniee bagi dong, Mark laper juga."
Mark mengusap perutnya sambil memasang wajah memelas.
"Lucu! tapi rasain tuh."
Haechan kembali fokus ke makanannya sambil menonton televisi.
"Kalau Haechan ga kasih Mark, Mark pergi nih." ancamnya.
"Yaudah gapapa. Hush Hush." Haechan dengan santainya mangusir Mark.
Mark berdiri dari sofa lalu berjalan ke pintu keluar tanpa bicara sepata katapun.
Mata Haechan mengikuti langkah Mark.
Ceklekk...Blam!
"Loh? Mark beneran pergi?"
"Ah gatau deh."
Tidak lama Mark pergi, hujan tiba-tiba turun sangat deras.
"Hujan?"
Hujan turun semakin deras. Terdengar suara kilat yang menyambar kuat.
Haechan menjadi khawatir akan Mark karena takut dia kehujanan.
"Coba gue telepon deh."
"Loh mana sih hp gue."
"Oiya di kamar."
Haechan bergegas berlari ke kamarnya.
"Nah ketemu!"
Haechan langsung mencari kontak Mark dan meneleponnya.
Tutt..Tutt
*Nomor yang anda hubungi tidak aktif.
"Eh? kok nggak aktif?"
Haechan mencoba menelepon Mark lagi.
Berkali-kali tetapi nomor tetap tidak aktif.
Haechan semakin khawatir. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena membuat Mark marah.
"Harusnya tadi gue kasih makan aja."
"Gue harus pergi nyari Mark." final Haechan.
"Mark hyung dimana!"
Haechan turun sambil berteriak, mengambil payungnya dan langsung membuka pintu rumah.
Bukk
"Aduh! Kok jidat gue basah."
"Si-siapa?" Haechan mengangkat kepalanya.
"Chanie..."
"Loh? Mark hyung?!"
Mark berdiri di depan pintu rumah Haechan dengan kondisi yang rambut hingga kakinya basah kuyup.
"Astaga! Mark hyung!"
Haechan langsung menarik Mark masuk ke dalam rumahnya.
Haechan berlari ke kamar mengambil handuk.
"Mark hyung kok bisa basah kuyup begini sih. Haechan telepon juga kenapa nggak aktif?"
Haechan mengeringkan rambut Mark dengan handuk di tangannya sambil mengomeli Mark.
Mark tersenyum kecil.
"Chaniee."
"Hm?" Haechan masih sibuk mengeringkan rambut Mark.
"Chaniee khawatir ya sama Mark?"
Tangan Haechan terhenti.
"Hah apa? nggak tuh."
Haechan langsung melempar handuk ditangannya ke muka Mark.
"Hayoo~ tuhkan keliatan boongnya."
"Apasih nggak ya!"
Haechan hendak berdiri tapi tangannya ditarik oleh Mark.
"Selesain dulu ini keringin rambut Mark."
Haechan kembali duduk.
Tuk tuk
Mark sesekali menusuk pipi gembul Haechan, mencubitnya lalu menguyel-nguyelnya.
"Chaniee, kiyowoo~"
"Mark hyung stop! Atau Haechan nggak bantu keringin lagi."
"Okay siap!"
"Mark hyung ganti bajunya dulu! Nanti masuk angin!"
"Nanti aja Chaniee."
"Bandel ya!"
Haechan menjewer telinga Mark lalu menarik ke kamar.
"Baju Haechan mana ada yang muat sama badan Mark."
"Muat, Mark hyung. Noh liat baju Haechan."
Haechan membuka lemari bajunya.
Tergantung berbagai jenis motif baju kaos oversized.
"Chaniee suka pakai yang oversized?"
Haechan mengangguk.
"Udah jangan banyak tanya. Sana pilih terus cepetan ganti."
Seperti biasa Mark yang bucin menurutinya.
"Nah pas kan!"
"Iya pas." Mark mengacak rambut Haechan.
"Mark mau makan nasi goreng kan? Haechan buatin ya."
Mark mengangguk semangat. Dia benar-benar lapar.
"Tapi Mark bantuin ya."
"Sip."
Setelah selesai memasak. Mereka berdua duduk di ruang tamu menikmati makanan sambil menonton film horror.
Kebetulan lagi hujan deras di luar. Film horror adalah pilihan yang terbaik.
Sesekali mereka berdua sama-sama kaget karena jumpscare.
Mark yang sedang menikmati masakan Haechan juga hampir tersedak.
"Uhuk-uhuk."
"Pelan-pelan, Mark hyung."
Haechan menyodorkan susu pisang sambil menepuk pundak Mark.
"Makasih, Chaniee."
Mereka melanjutkan tontonannya. Sesekali Haechan berteriak kuat saat melihat hantu yang muncul.
Tanpa sadar entah sudah berapa kali dia memeluk Mark ataupun menyembunyikan wajah di pelukan Mark.
Mark ya seneng. Senyum-senyum sendiri.
Rejeki anak soleh.
Mark sendiri kebanyakan ikutan kaget karena teriakan Haechan yang sepertinya bisa didengar sampai ke tetangga sebelah.
Waktu terus berjalan. Film yang mereka tonton pun sudah hampir selesai.
"Chaniee filmnya udah mau selesai. Kita beres-beres yuk."
"Chaniee??"
Dukk
Mark tersentak pelan saat merasa ada sesuatu di bahunya.
Ya. Haechan tertidur. Entah bagaimana dia yang tadinya antusias berteriak tiba-tiba sudah berada di alam mimpinya.
Pada saat itu juga film berakhir.
Mark tersenyum sambil menggeleng.
Mark perlahan berdiri, dia mulai membersihkan sisa makanan dan merapikan semuanya. Sebisa mungkin dia tidak membuat suara.
Melihat Haechan yang sedikit mengigil, Mark berinisiatif pergi mengambil selimut.
Mark mematikan televisi.
Kembali duduk di samping Haechan. Memberinya sandaran kepala di bahu lebarnya yang nyaman.
Mark menyelimuti dirinya dan Haechan.
Menoleh melihat kekasihnya yang tetap terlihat imut meksipun tidur.
Mark mengecup kepala Haechan dengan penuh kasih sayang.
"Good night, sweetie."
Mark ikut menyenderkan kepalanya, menutup matanya kemudian ikut menyusul Haechan ke alam mimpinya.
TBC
Enjoy Reading!!💚
Mau jadi Haechan apa Mark?
╰(⸝⸝⸝´꒳'⸝⸝⸝)╯