****
Kukira diriku berharga ...
****
Wendy memaksakan dirinya untuk ke sekolah hari ini. Meski ulangannya telah selesai, Wendy tetap harus ke sekolah untuk latihan. Berhubung, pentas seninya akan berlangsung besok. Kabar buruknya, Wendy harus menghadapi itu dengan suasana hati yang amat sangat buruk.
Bengkak dan kantung mata terlihat jelas di mata gadis itu. Setelah semalaman menangis hingga tertidur, Wendy akhirnya harus ke sekolah dengan penampilan yang menyedihkan. Ia bahkan harus berangkat pagi-pagi sebelum ibunya bangun agar sang Ibu tak melihat dirinya yang hancur. Beruntung, Weni telah tidur saat Wendy pulang semalam.
Sampai sekarang, Wendy tidak mengaktifkan ponselnya sama sekali. Meliriknya pun tidak. Entah hanya karena harapannya yang tinggi atau tidak, Wendy merasa bahwa Saga pasti telah menghubunginya. Karena itu, Wendy tak akan mengaktifkannya. Wendy ... bahkan sedang tidak berminat mendengar suara Saga.
Kecewa. Wendy lagi-kagi kecewa setelah memiliki harapan yang begitu tinggi. Wendy harusnya sadar, bahwa ia memang bukan siapa-siapa bagi Saga. Hingga saat hal seperti ini terjadi, Wendy tak perlu terlalu kecewa pada lelaki yang bahkan bukan miliknya.
Begitu miris dan bodoh. Wendy bahkan tidak tahu bahwa cinta bisa sesakit ini. Sekali lagi, Wendy bisa mengendalikan diri jika sakit itu hanya sebatas diabaikan oleh Saga. Namun,jika telah menyangkut gadis lain ... rasanya Wendy tak bisa baik-baik saja.
Wendy sedang menunggu kedatangan sahabat-sahabatnya yang katanya akan datang sebentar lagi. Selain Yuri dan Shella yang memang ikut klub musik, Yola dan Airin memutuskan untuk datang juga. Menghibur sahabatnya yang memang telah tahu tentang apa yang terjadi semalam. Tidak perlu heran, semalam, Natan juga absen ikut balapan hingga membuat anak-anak Avigator bertanya-tanya. Alhasil, mereka terus saja memaksa Natan untuk bicara hingga akhirnya mereka semua tahu.
"Wendy!"
Wendy mendongak, tersenyum tipis begitu melihat keempat sahabatnya telah datang. Mereka mendekati Wendy yang saat ini sedang bersandar di sebuah tiang parkiran.
"Hai. Udah pada dateng. Gue udah lama tahu nunggunya." Wendy terkekeh pelan. Berdiri tegak, menyambut para sahabatnya dengan senyum lebar. Seolah tak ada beban.
"Stop! Jangan senyum!" Sahut Airin keras.
"Kenapa?"
"Gue tahu elo gak baik-baik aja, Wen. Plis ... jangan tunjukin senyum itu. Gue .. gue jadi pengen habisin si Saga." Airin menghela nafas. Memeluk Wendy erat dari samping.
"Kalian tahu?" Wendy menyahut bingung.
"Iya. Hiks, Wendy .... jadi si setan itu enggak jemput elo tapi malah sama si-"
"Iya." Sahut Wendy cepat, memotong perkataan Shella yang akan menyebut nama Jane. Wendy ... bahkan tak ingin mendengar nama itu sekarang. "Gak usah di jelasin lagi, ah."
"Maaf." Shella mengusap air matanya, sebelum memeluk Wendy juga. Mengusap-usap bahu sahabatnya. "Gue tahu elo pasti sedih."
Airin menarik dirinya. Menghapus air matanya yang juga mengalir. Tak berbeda jauh dari Yuri dan Yola. Mereka ... ikut merasakan sedih. Bukan tanpa alasan, mereka sangat tahu bagaimana perjuangan Wendy, hingga Wendy yang mulai dekat dengan Saga. Terlebih ... hidup Wendy yang memang awalnya telah susah. Menurut mereka, Wendy sudah terlalu banyak merasa sakit.
"Gue .. keliatan bodoh ya sekarang?" Wendy tersenyum hambar. Setelah memperlihatkan kedekatannya dengan Saga, Wendy sekarang merasa seperti gadis bodoh yang menyakitkan sekarang. Begitu mudahnya berharap, lalu begitu mudah pula merasa sakit.
Shella menggeleng keras. "Bukan elo yang bodoh, Wen! Tapi Saga! Berengsek! Bajingan!"
"Kalo maksud elo, lo bodoh karena masih harapin Saga ... sorry, Wen. Gue setuju." Airin memalingkan wajahnya. Menghapus air matanya lagi. "Gue udah gak bisa ngeliat elo dibodohi kayak gini sama cinta."
"Wen, jatuh cinta itu gak harus sama Saga, kok. Dunia terlalu luas untuk harapin satu orang aja, Wen." Yola tersenyum menenangkan, meraih tangan Wendy.
"Kak Yola benar. Saat perasaan kita sudah tidak dihargai, untuk apa bertahan, Kak? Yuri dukung Kak Wendy sama Kak Saga. Tapi kalo udah kayak gini ..." Yuri menghela nafas. Padahal, Yuri baru saja percaya pada Saga yang akan melindungi dan menyayangi kakaknya itu. Bahkan bertengkar dengan Jane kemarin karenanya.
Wendy hanya bisa tersenyum menanggapi semua temannya. Karena sejujurnya, Wendy sudah tidak tahu harus berkata apa membalasnya. Hanya ada satu kata. Kecewa. Wendy bahkan sudah tidak bisa mendeskripsikan apa yang ia rasakan pada sahabat-sahabatnya. Alhasil,Wendy hanya bisa berterima kasih. "Thanks. Gue baik-baik aja kok sekarang."
"Pokoknya lo harus stay cool ya, Wen. Buktiin kalo elo bisa jalani semua ini. Ohiya, Lo mau labrak si Saga kan? Ayo! Kita tungguin sampe tuh bajingan datang!" Sahut Shella berapi-api. Setelah menghapus air matanya.
"Emang kapan si Jane kecelakaan, sih? Hih, kok gue gak ada kasihan-kasihannya, ya?" Yola berdecak.
"Gue aja baru tahu kalo Jane kecelakaan." Yuri tampak berfikir. Fikirannya jatuh pada pertemuan keluarga mereka yang membuat Jane dan Yuri sempat bertengkar. Karena itu ...Yuri sedikit menaruh curiga pada sepupunya itu.
"Gue malah pengen syukurin tapi takut dosa." Shella berdecak kesal.
"Udaaah, ini kita tungguin Saga apa gimana, Wen? Kita labrak bareng-bareng! Seenaknya aja si Berengsek!!" Seru Airin kesal.
"Ngapain ditunggu?" Wendy tersenyum kecut. Menunduk dalam. "Gak ada gunanya. Toh, gue bukan siapa-siapa."
"Wen-!"
"Bener, kan?" Wendy mendongak, menatap nanar pada Airin. "Sejak awal emang gue bukan siapa-siapa. Gue ... enggak berhak apapun."
Mendengar itu, semuanya terdiam. Menyadari bahwa ... sepertinya batas kesabaran Wendy telah hampir sampai pada puncaknya. Tidak heran, ini ... memang melelahkan. Airin memeluk bahu Wendy. Mengusap-usapnya. "Gue ngerti. Gue ngerti. Udah ya .."
Tepat saat itu, sebuah mobil berwarna kuning memasuki parkiran SMA Nusa Bangsa. Mobil kuning yang tentu saja sangat Wendy kenali. Atapnya yang terbuka, memudahkan Wendy untuk melihat Saga yang sedang menyetir. Sebelum ... matanya menangkap sosok perempuan yang duduk di samping Saga.
Wendy mematung ditempatnya. Matanya mengikuti gerak mobil tersebut hingga terparkir. Berusaha mengendalikan dirinya, begitu melihat Saga yang turun darisana bersama ... Jane.
"ANJING!!" Seru Shella keras. "BERENGSEK LO!"
Wendy menyentuh lengan Shella. Membuat Shella segera menoleh. Wendy kemudian tersenyum kecil, menggeleng. "Udah, ayo masuk."
Rupanya, teriakan itu berhasil di dengar oleh Saga dan Jane. Membuat perhatian mereka beralih pada sekumpulan perempuan ... yang sangat mereka kenali.
Saga terdiam di tempatnya. Menatap langsung pada Wendy yang juga sedang menatapnya dengan tatapan ... nanar. Sebelum gadis itu memutuskan untuk pergi darisana. Melihat itu, Saga tidak tinggal diam. Saga berlari cepat, mengejar Wendy yang semakin melebarkan langkahnya. "Wen. Aku jelasin-"
Wendy menghentikan langkahnya. Menghembuskan nafas berat sebelum menoleh ke belakang. Sedikit mendongak untuk menatap Saga. Ia harus menghadapi ini, ia tidak akan terlihat lemah di depan Saga. "Jelasin apa?"
"Maaf."
Wendy sontak terkekeh, memalingkan wajahnya. Berusaha keras menahan air matanya yang mulai terasa di pelupuk mata. "Gak ada yang perlu dijelasin dan dimaafin, Ga. Sejak awal, kita bukan siapa-siapa."
Saga tampak frustasi. "Wen-"
"Jadi, stop buat gue seolah berarti di hidup elo. Maaf .. kalau selama ini gue cuma ganggu." Wendy kembali menatap Saga, berusaha tersenyum dengan air matanya. Sebelum pergi darisana. Meninggalkan Saga ... yang hanya bisa terdiam di tempatnya.
****
Setelah pertemuan Wendy dan Saga tadi pagi, Wendy memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan membaca lirik-lirik dari dua lagu yang akan ia bawakan nantinya saat tampil solo. Meski sejujurnya Wendy tak bisa menghilangkan rasa sesaknya, Wendy tetap berusaha. Gak masalah, gue bakalan baik-baik aja setelah ini.
Wendy sedang memojok sendirian di sudut kanan belakang basecamp klub musik ini. Wendy ingin sendiri saja, memetik gitar sembari membaca liriknya. Meski sesekali ia akan melamun di tempatnya. Gadis itu bahkan menolak banyak sekali orang yang menawarkan untuk menemani dirinya. Termasuk .. keempat temannya, serta Vian dan Jay yang ada disana.
"Kalo liat Wendy kayak gini tuh rasanya gue pengen nangis terus." Sahut Shella mengibaskan tangannya di depan wajah.
"Temen kamu tuh!!" Airin menyahut emosi pada Vian. Ia bahkan menatap tajam pada kekasihnya.
"Bodo ya, By. Mau temen apa enggak, aku juga kesel sama Saga." Vian menggerutu.
Jay tersenyum kecil, menatap Wendy. "Kasian. Si Saga bentar lagi bakal nyesel. Gue yakin ... kali ini Wendy pasti nyerah."
"Nyerah enggak nyerah, gue bakalan jauhin Saga dari Wendy kalo tuh cowok enggak berubah-berubah. Liat ajaa!!" Sahut Shella berapi-api. Sebagai sahabat Wendy sejak 2 tahun yang lalu, Shella telah menganggap Wendy sebagai saudaranya. Tentu saja, Shella tidak akan membiarkan Wendy jatuh terlalu dalam.
"Terus Kak Saga dimana sekarang?" Tanya Yuri.
"Mana gue tahu. Tadi gue dateng langsung kesini." Sahut Vian ogah-ogahan. Berhubung karena latihan basketnya belum di mulai, ia memilih untuk menemui Airin saja.
"Saga paling lagi di tempelin sama Jane. Hih, gatel. Ngapain juga dia harus balik lagi sih?" Yola berdecak. Ia cukup mengenal Jane. Sebagai anak dari pebisnis, Yola pernah mendengar tentang cucu Wicaksana yang belajar di luar negeri.
"Halah, si Saga juga mau di tempelin." Airin menyahut emosi.
"Bangsat," Jay terkekeh sinis. "Si Saga bego amat. Kalo dia beneran nyesel, ga bakalan gue bantuin. Emosi anjir, jelas-jelas si Wendy selalu ada buat diaa. Lah, dia malah lebih milih si ular setan. Tolol."
"Tapi keknya ada yang janggal gak sih? Jane abis kecelakaan kok malah ke sekolah? Bukannya dia harus istirahat ya?" Yuri mengerutkan keningnya. Merasa aneh dengan kehadiran Jane yang terlihat baik-baik saja pagi ini. "Tadi pas gue ikut latihan cheers juga, dia keliatan ketawa-ketawa aja."
"Tenang, ntar gue selidikin." Sahut Vian, tersenyum miring. Menatap Jay penuh arti.
"Kalo beneran ada udang di balik mie ayam. Asli!! Saga begonya gak ketolong!! Gedek gue, anjirr. Untung aja temen gue!" Sahut Jay berapi-api. Jiwa-jiwa julidnya sudah tak bisa ia kendalikan lagi jika menyangkut ketololan Saga.
"Asli sih," Vian menghisap rokoknya. Tak peduli pada tatapan tajam anak-anak klub musik disana karena telah merokok. Meski sebenarnya tak ada yang berani juga untuk menegurnya.
"Eh, Kevin mana? Hari ini bocil itu gak ada kabar." Lanjut Vian.
"Gak usah sok ngatain Bocil! Tingkah lu aja kayak bocil. Dasar anak pungut." Cibir Jay. Jay kalau sedang kesal, apa aja bakal di julid-in.
"Enak aja. Gue udah 18++ ya, Jay! Mulut lu tuh perlu di cuci. Pake rinso biar wangi!" Balas Vian tak mau kalah. Melotot pada Jay.
Yuri tergelak. "Kak Kevin katanya gak dateng hari ini. Dia ada urusan negara katanya."
"Gaya amat si bocil. Paling juga lagi mandi susu beruang." Jay tergelak.
"Banyak amat anjir, habis berapa kaleng tuh." Timpal Vian, tertawa keras.
"Gak usah heran, Apapun bisa keluarga Bramantio dapetin. Busett temen gue sultannya kebangetan." Jay menggeleng tidak habis fikir.
Tepat saat itu, seorang siswi berseragam cheers memasuki basecamp klub musik tanpa menoleh. Membuat teman-teman Wendy serta Jay dan Vian yang duduk di dekat pintu pun terkejut. Menatap siswi tersebut yang tampak mendekati Wendy. Mengatakan sesuatu, yang membuat Wendy berdiri meski dengan raut wajah malas.
Melihat Wendy yang bersiap mengikuti siswi itu, membuat mereka ikut berdiri dari tempatnya. Berniat mengikuti langkah Wendy, yang bahkan hanya terus menghela nafas sejak tadi. Maklum saja, suasana hatinya belum begitu baik sekarang.
Siswi tersebut membawa Wendy ke samping bangunan basecamp klub musik. Tempatnya cukup sepi, karena jalanan di samping bangunan itu bukanlah jalan yang sering para siswa lalui karena arahnya yang menuju ke gerbang tua di belakang sekolah.
Wendy kemudian menghentikan langkahnya, begitu melihat sosok perempuan dengan perban di dahinya, sedang tersenyum puas di depannya. Sosok yang tak lain adalah Jane itu .. mendekati Wendy. Membuat Wendy seketika menahan nafas. Cobaan apalagi ini?
Jujur saja, setelah melihat Jane, rasa sakit dan kecewa yang Wendy rasakan kembali terasa jelas. Sebagai seorang manusia biasa, tentu saja rasa ingin memaki Jane habis-habisan itu pasti ada. Tapi rasanya ...tidak lucu jika Wendy melakukan itu hanya untuk seorang lelaki .. yang bahkan tak menganggap dirinya berharga.
Alhasil, Wendy hanya bisa terdiam di tempatnya. Menatap datar, dengan tangan mengepal. Gapapa, Wen. Lo bisa hadapin ini.
"Aduh, mukanya kusut banget. Sedih ya?" Jane terkekeh sinis. "Makanya jadi cewek gak usah ke PD-an."
"Apa mau lo?" Tanya Wendy langsung. Merasa jengah dengan kehadiran Jane.
"Gak ada sih," Jane tertawa keras. "Cuma mau kasih tahu, Saga semalaman bareng gue."
"Terus? Gue peduli?" Wendy tersenyum hambar. Sudah sekecewa ini, Wendy rasanya tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa. Tentu saja Wendy peduli semua tentang Saga, kecuali ... jika itu menyangkut tentang Jane. Wendy bahkan tak ingin mencari tahu apa yang mereka lakukan semalam. Sial, Wendy merasa akan menangis lagi.
"Gak usah sok hebat deh, lo. Baru aja kemarin elo sombongin diri karena deket sama Saga. Ehh ..." Jane tersenyum mengejek. "Tahunya Saga masih peduli sama gue."
"Gue udah bilang ... kalo Saga itu .. milik gue."
Wendy tertawa hambar. Memalingkan wajahnya. Jika memang itu benar, bagaimana bisa Saga mengizinkannya untuk berharap lebih? Jika itu benar, mengapa ... Saga tetap mengizinkannya untuk masuk ke dalam hidup lelaki itu? Ini .. terdengar lucu. Dan ... miris.
"Terserah. Gue punya urusan yang lebih penting dari sekedar denger bacotan elo." Wendy kembali menatap Jane. Ia sudah terlalu muak. "Gue pergi."
Setelah mengatakan itu, Wendy segera berbalik. Bersiap meninggalkan Jane.
"Harusnya lo tuh Sadar, Wen! Gak seharusnya elo rebut kebahagiaan gue setelah lo rebut keharmonisan keluarga gue!!" Jane berteriak marah. Kali ini, ia telah benar-benar terbakar emosi karena Wendy yang terkesan mengabaikannya. "Gue minta elo buat jauhin Saga mulai sekarang!!"
"Jangan egois! Lo harus tahu diri! Setelah buat Ayah gue berubah, elo harusnya gak perlu ngusik apa yang jadi milik gue! Ngerti lo?" Jane merasakan nafasnya yang memburu. Ia tersenyum miring di tengah-tengah air matanya yang mulai mengalir.
Ucapan Jane begitu keras, hingga orang-orang yang berada disana pun dapat mendengarnya dengan keras. Membuat Airin dan Shella ikut terbakar emosi. Bersiap maju,namun di tahan oleh Jay dan Vian. Jay menggeleng, masalah ini ... biar Wendy saja yang menyelesaikan. Jay dan Vian ... penasaran, apa yang akan terjadi.
Sementara itu,
Wendy terdiam di tempatnya. Mengepalkan tangannya dengan tundukan dalam. Egois katanya? Egois?! Setelah penderitaan Wendy selama ini Jane masih menyebutnya egois?! Katakan, apakah kebahagiaannya adalah sebuah keegoisan? Wendy merasa geram. Ia berbalik. Menatap tajam. "Lo pikir hidup gue gak susah?! Lo pikirr cuma elo yang mau bahagia, hah?! Cih, BANGSAT!!"
"Lo emang pantes buat dapatin itu! Anak haram gak tahu diri! Lo tuh cuma sampah di keluarga kami!"
Wendy melangkah mendekat. "Keluarga elo yang lebih sampah!!"
"Nyokap lo pelacur-"
Plak!
Jane jatuh tersungkur di lantai. Memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras dari Wendy yang kini menatapnya penuh amarah.
"Lo pikir lo siapa bisa ngomong kayak gitu tentang nyokap gue, hah?! Mulut busuk lo harusnya diem aja!!" Teriak Wendy keras. Setelah begitu banyak mendapatkan rasa sakit dan hinaan, Wendy rasanya tak bisa menahan diri lagi. Rasa sakit dari cinta dan keluarga ini ... rasanya akan membunuh gadis itu.
Jane menatap nanar, ia segera bangkit. Berdiri, sebelum akhirnya maju, menjambak rambut Wendy kuat. "Berani lo nampar gue, sialan!"
Wendy mengaduh kesakitan, sebelum akhirnya membalas jambakan Jane tak kalah kuat. Wendy tak tahan lagi, jambakan kuat Jane tak memberinya pilihan selain membalasnya. Sekali saja, Wendy tak akan diam saja saat dimaki oleh saudara tirinya itu. Terlebih, Jane telah membawa-bawa ibunya, maka ... tak ada alasan bagi Wendy untuk tetap diam.
Adegan jambak-jambakan akhirnya tak bisa dihindari. Vian dan Jay sudah heboh sendiri melihat adegan secara live itu di depan matanya. Berbeda dengan Shella, Airin, Yuri, dan Yola yang telah panik. Mereka bersiap menengahi, sebelum sosok laki-laki menghampiri Wendy dan Jane. Berusaha memisahkan mereka. Dia ... adalah Saga.
"Berhenti!" Seru Saga, setelah berhasil menengahi keduanya. Nafasnya memburu, menatap Wendy dan Jane bergantian.
"Hiks, Saga ... liat deh, Wendy nampar aku tadi. Sakit banget!" Sahut Jane memegang pipinya yang memang sedang memerah. Gadis itu mulai menangis, mendekati Saga. Berlindung di baliknya seolah ia lah yang paling tersakiti.
"Itu karena mulut lo yang kurang ajar!!" Sentak Wendy keras. Ia bahkan sudah tidak peduli bagaimana Saga yang menatap Jane di depannya. Terlalu muak, terlalu marah. Wendy mengepalkan tangannya.
"Tetep aja lo yang duluan pake kekerasan! Gilaa lo yaa! Pipi gue sampe memar tahu gak!" Bentak Jane tak kalah keras. "Padahal ....gue baru aja keluar dari rumah sakit. Tega lo, Wen!"
"Lo yang cari gara-gara!! Dasar ular!!" Wendy berteriak. Lihat? Bukankah Jane yang mengusiknya duluan? Lalu mengapa sekarang Jane yang terlihat seolah-olah tersakiti? Wendy sudah terlampau sabar, ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Hingga membuatnya kembali maju, bersiap menjambak kembali Jane.
Namun, Saga segera menahannya dengan cepat. Membuat Wendy meronta. "Lepasin gue!!"
"Jangan-"
"Lo gak tahu apa-apaa!! Minggir!!"
"WENDY!" Bentak Saga keras. Menatap tajam. "Jane itu lagi sakit!"
Wendy tertegun di tempatnya. Menangis pelan, sebelum mendongak. Menatap nanar pada Saga. Lihat? Saga ... bahkan lebih membela Jane daripada dirinya. Wendy melepaskan pegangan Saga padanya dengan kasar. Melirih pelan, bahkan tanpa suara. Merasa sesak. "Hati gue lebih sakit, Ga ..."
"Sejak kapan lo jadi kasar kayak gini, Wen?!" Saga menggeleng tak habis fikir. Wendy, gadis yang ia kenal dengan perilaku lemah lembutnya meski banyak bicara, gadis yang selalu terlihat sabar. Bagaimana bisa berubah menjadi kasar seperti ini? Saga .. terlihat kecewa sekarang. "Jaga sikap lo-"
Plak!
Saga terdiam. Terkejut, memegang pipinya yang ... baru saja ditampar oleh Wendy.
"Kenapa?! Kalo gue kayak gitu emang kenapa, Ga?! Gak suka lo?!" Bentak Wendy keras. Menghapus air matanya, dengan bibir bergetar. Berusaha terlihat tegar. Meski terbesit rasa menyesal telah menampar pipi Saga, namun Wendy benar-benar tidak bisa menahannya. Saga bahkan tidak tahu apa-apa tentangnya, tapi mengapa ia harus mengucapkan kalimat yang menyakitkan padanya?!
"Elo gak tahu gimana sakitnya gue, Ga! Elo gak tahu gimana penderitaan gue selama ini! Lo tuh gak tahu apa-apa!!" Wendy beringsut mundur. Mulai menangis terisak. "Hiks .."
Saga terpaku di tempatnya. Menatap Wendy yang menangis keras. Rasa bersalah tiba-tiba saja muncul dari dalam dirinya. Tidak seharusnya ia membentak Wendy seperti tadi. Saga mendekat. "Wen-"
Wendy menggeleng. Berjalan mundur. "Lo gak bisa seenaknya ngenilai gue!! Lo gak tahu apa yang udah gue lalui selama ini, Ga!"
Saga semakin terlihat merasa bersalah. "Wendy ... Maaf-"
"Cukup. Cukup, Ga." Wendy mendongak, menatap Saga dengan air mata berlinang. Tersenyum sakit. "Gue ... capek. Gue rasa ... ini udah cukup."
Wendy merasakan bibirnya bergetar, menahan isakannya. "Gue udah gak bisa nahan ini lagi. Itu ... yang elo mau kan selama ini, Ga?"
Saga menggeleng. "Enggak, Wen. Aku-"
"Maaf kalau selama ini gue cuma jadi beban buat lo. Maaf kalo gue terlalu berharap sama elo yang bahkan gak nganggap gue berarti. Tapi kali ini lo udah bebas, Ga." Wendy berusaha tersenyum ditengah-tengah air matanya yang mengalir deras. "Gue pergi."
Setelah mengatakan itu, Wendy segera berlari meninggalkan tempat tersebut. Menangis terisak seiring dengan langkahnya. Meninggalkan Saga yang hanya bisa terpaku. Menatap hampa pada Wendy yang perlahan menghilang dari pandangannya.
"Berengsek lo, Ga! Berengsek!" Teriak Shella sebelum ikut berlari mengejar Wendy. Diikuti oleh ketiga temannya yang lain.
"Saga-"
Saga menaikkan tangannya. Memotong perkataan Jane yang baru saja memanggilnya. Ia sudah tidak bisa berfikir jernih lagi. Saga bahkan tidak tahu harus bereaksi apa setelah merasakan sesak tiba-tiba dalam hatinya.
"Ga, selamat ya. Cewek yang paling tulus sama lo ... udah nyerah sekarang." Jay tiba-tiba saja muncul di dekat Saga, menyentuh bahu lelaki itu. Tersenyum kecut. "Sorry, tapi gue harus bilang ... Mampus lo."
****
Saga merasakan nafasnya memburu, memilih untuk berhenti di dekat lapangan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Sibuk mencari keberadaan seorang gadis yang sejak tadi ia cari tapi tak kunjung ia temukan.
Tidak bisa begini. Saga ... harus segera menemukan Wendy. Berkali-kali ia merutuki kesalahannya, mengakui bahwa dirinya memang benar-benar bodoh dan berengsek karena telah menyakiti Wendy begitu dalam. Saga mengepalkan tangannya, meninju tembok di sisinya dengan keras hingga meninggalkan bekas kemerahan pada tangannya.
Saga bahkan tidak mendengarkan ocehan-ocehan sahabatnya lagi. Ia hanya fokus pada satu orang saja. Wendy ... yang benar-benar menghilang dari jangkauannya.
Sungguh ... Saga amat sangat menyesali perbuatannya. Lebih memilih Jane di depan Wendy itu jelas sangat menyakiti hati dari gadis yang telah merebut hatinya belum lama ini. Gadis ... yang seharusnya telah menjadi miliknya jika saja ia tidak melalukan sesuatu yang bodoh. Saga menggeram lagi. Entah bagaimana bisa Jane membuat hubungannya dengan Wendy rusak begitu saja dalam sekejap. Saga bahkan sudah tidak ingin peduli lagi dengan keberadaan Jane. Hal yang ... seharusnya ia lakukan sejak kemarin.
Namun, apa yang Saga lakukan? Saga ... hanya mengikuti rasa kasihannya pada Jane. Hanya sekedar kasihan, namun tanpa disangka dapat merusak hubungan cintanya bersama Wendy.
Saga tidak akan membiarkan Wendy pergi dari hidupnya. Tidak akan. Saga ... pasti akan membuat Wendy kembali lagi padanya.
Saga menghela nafas, menatap sekelilingnya. Lalu mulai berfikir bahwa ... mungkin saja Wendy telah pulang hingga Saga tak kunjung menemukannya di sekolah ini? Ya, benar. Saga mengangguk, bersiap untuk pergi dari sana. Sebelum ... sosok yang sangat ia kenali, telah berdiri di depannya. Menatap penuh amarah pada Saga.
Saga menahan nafas, menatap frustasi. "Natan-"
Bug!
Saga terjatuh ke samping, tak siap dengan pukulan Natan yang tiba-tiba di layangkan padanya. Membuat Saga meringis, menyentuh sudut bibirnya yang telah mengeluarkan darah.
"Bangsat!! Lo ngomong apa sama Wendy, Ga?! Sadar gak lo? Lo udah nyakitin Wendy!!" Natan berteriak marah. Kembali mendekati Saga, hingga akhirnya memukul Saga kembali bahkan sebelum berhasil bangkit. Membuat Saga kembali terhempas ke belakang.
"Bangun lo! Gue udah bilang sama elo kan? Gue gak bakalan tinggal diam kalo elo berani nyakitin, Wendy!" Natan menarik kerah Saga. Menatap tajam pada Saga yang hanya bisa pasrah sekarang. Tak berniat sama sekali untuk membalas pukulan Natan.
Saga ... mengakui bahwa dirinya salah.
"Pukul, Nat." Saga menatap Natan serius. Tampak jelas bahwa lelaki itu sedang frustasi. "Pukul gue!"
"Tanpa lo bilang, berengsek!" Natan kembali memukul wajah Saga. Mengizinkan sahabatnya itu tersungkur kembali ke aspal. Natan menatap nyalang. "Wendy tulus sama elo, Ga! Buka mata lo, sialan!"
Saga meringis. Ia benar-benar mengizinkan Natan untuk memukulnya bertubi-tubi sekarang. Karena ... Saga merasa bahwa dirinya memang pantas mendapatkan ini.
Saga meringis pelan, ia yakin bahwa dirinya telah babak belur sekarang. Hingga ... kedatangan sahabat-sahabatnya, membuat Saga selamat dari amukan Natan.
"Udah, Nat! Udah! Busett si Saga udah babak belur!" Seru Jay, berusaha menarik Natan untuk menjauh dari Saga, dibantu Ajin.
Natan sedikit berontak, menatap tajam pada Saga. "Lo gak tahu aja gimana penderitaan dia selama ini, Ga!! Rasa sakit elo sekarang bahkan gak sebanding sama rasa sakit Wendy!"
"Gue tahu .. gue tahu .. gue .. salah." Lirih Saga pelan.
"Bangsat!!" Umpat Natan, mengusap wajahnya kasar. Kemudian memalingkan wajahnya. Terbesit rasa kasihan pada Saga, karena bagaimana pun ... Saga adalah sahabatnya yang selalu mendukungnya juga. Namun, Natan tak bisa pula tinggal diam saja saat Saga menyakiti hati Wendy. Gadis ... yang ia cintai.
"Udah, Nat! Stop! Gue tahu elo marah sama Saga. Tapi, meskipun lo buat Saga babak belur kayak gini, gak akan mengubah semuanya, Nat! Selesaikan ini baik-baik. Jangan cuma emosi aja!!" Sentak Heri keras. Mendorong Natan untuk segera mundur, dipegangi oleh Jay. Heri menghela nafas, ia tidak menyangka akan menjadi seperti ini.
Tak berbeda jauh dengan yang lainnya. Jay, Vian, Ajin juga tidak habis fikir. Sungguh, mereka tidak ingin jika pertemanan mereka terancam karena ini.
Ajin dan Vian segera membantu Saga untuk segera bangun. Meringis saat melihat luka lebam di sudut bibir serta pelipis lelaki itu.
Ajin menghela nafas. "Busett,udah anjir! Berantem aja bisanya! Gue udah peringatin ya kalo gak ada berantem-berantem di pertemanan kita! Jangan kayak bocah lo pada! Kita sahabat yang udah kayak saudara. Gak bijak tahu gak!!"
Jay mengangguk. "Gini ya, gue paham elo kesel sama Saga, Nat. Gue tahu lo peduli sama Wendy. Gue gak ngelarang elo buat ngasih pelajaran sama Saga. Tapi jangan kelewatan, oke? Cukup sekali ini aja."
Jay kemudian beralih menatap Saga. "Bukan berarti gue belain elo ya, Ga! Jangan ke PD-an, nanti gue sleding juga! Elo tetap berengsek di mata gue. Lo pantes dimampusin. Tapi karena lo temen gue, gue bakalan maafin elo. Gimana pun, kita udah lama bareng-bareng."
"Gue setuju. Gue harap habis ini elo sadar, Ga. Meskipun gue gak bisa jamin kalo keadaan bakalan kembali lagi kayak semula. Lo udah liat sendiri gimana kecewanya Wendy sama, elo." Vian menyahut serius.
Saga mengatur nafasnya, rasa sakit fisiknya ini bahkan tidak berarti apa-apa bagi lelaki itu. Yang ada hanyalah rasa sesak pada hatinya. Rasa penyesalan ... yang menyiksanya. Saga hanya bisa terdiam, meresapi perkataan teman-temannya yang memang benar adanya.
Natan menatap Saga lagi. "Gue maafin elo karena lo temen gue, Ga. Gue juga gak punya hak apapun ke Wendy. Gue ... cuma berusaha ngelindungi Wendy karena gue peduli. Selebihnya ... itu keputusan, Wendy."
****
Haii, Haloo! Update lagi! Asli sih,part ini nyesek banget menurutku. Ngefeel gak di kalian? Semoga ngefeel ya :))
Honestly, aku masih tim Saga meskipun pengen banget ngeliat dia nyesel. Hehe.
Jangan lupa vote dan komentarnya, ya!!
-queenaars-