Tentang Allysia

By TehGrintiii

11.6K 2K 445

Malam itu... yang seharusnya menjadi akhir dari hidup Allysia, justru malah membuat Allysia membuka lembaran... More

Warning!!
Akhir yang menjadi Awal
Allysia's Mental State
01. TENTANG ALLYSIA
02. ZONA MERAH
03. RASA TERTARIK
05. BERBEDA
06. LUKA
07. BROKEN
08. TAK BISA BERSAMA
09. PENOLAKAN LAGI
10. RASA BERSALAH
11. PELUKAN HANGAT
12. KECEWA
13. GO AWAY
14. AKU MAU DIA
15. SEBUAH FAKTA
16. SATU ATAP
17. SHE NEEDS A HUG
18. HITAM MALAM
19. ALONE
20. PELAMPIASAN AMARAH
21. KEBOHONGAN
22. BUBUR MANG UJANG
23. "Aku minta maaf"
24. PERINGATAN
26. EMOTIONAL
26. MENGERTI
27. RASA SAKIT
28. HILANG
29. MAKE A HAPPINNESS
30. UJUNG TANDUK
31. CHILDISH?

04. GARIS BATAS

343 69 28
By TehGrintiii

Hampir seharian ini Allysia menghabiskan waktunya di dalam kamar, baginya, kegiatan saat weekend yang cocok hanyalah menghabiskan waktu diatas kasur king sizenya.

Dan memang moodnya naik turun secara drastis, membuat dirinya lebih baik di dalam kamar daripada bertingkah aneh di luar rumah, Allysia sedang malas meminum obatnya.

Sedang asyik dalam lamunannya, suara ketukan pintu terdengar dari indra pendengaran Allysia.

Allysia berjalan mendekat kearah pintu lalu membuka kenop pintu secara perlahan.

"Bi Sukma? kenapa?" tanya Allysia.

"Ada Nathan di depan non" jawab Bi Sukma.

"O-oh oke Bi" ragu Allysia.

"B-Bunda ada dirumah bi?" tanya Allysia, yap. Ia ragu karena takut Sandra mengetahui Nathan menghampirinya, bisa habis dia.

"Tadi siang pulang, tapi barusan berangkat lagi non"

Allysia menghembuskan nafasnya lega, "Hufft, yaudah makasih ya bi" ujar Allysia lalu berjalan turun dari tangga rumahnya, menemui Nathan yang sudah menunggu di depan.

"Nath?"

"Ngapain kesini?" tanya Allysia polos.

Kedua mata Nathan membelalak "Kamu bilang ngapain?!"

"Loh.. iya.. kamu ngapain kesini?" tanya Allysia.

Nathan menghembuskan nafasnya kasar, memang susah kalau memiliki pacar yang lemot nya bukan main.

"Gila ya kangen lah!" celetuk Nathan mengacak rambut Allysia dengan gemas dan kesal.

"Ohh ciee kangenn, bilang dong" goda Allysia mencolek pipi Nathan.

"Nye nye nye"

"Lagian kamu sih, kenapa ga berangkat Jumat kemarin?" todong Nathan.

"Naaaath, kan aku udah bilang, aku terlambat dan gak dibukain gerbang" ujar Allysia berbohong.

"Bener? gak ada lagi?"

"Gak ada sayang"

"Yaudah" jutek Nathan sembari menyubit gemas pipi pacarnya itu.

"Kamu mau kemana? kok rapih banget?" tanya Allysia menatap Nathan dari ujung kepala sampai ujung kaki yang nampak sangat rapih tak seperti biasanya, Cowok itu juga membawa mobil, padahal hari-hari biasa ia selalu menggunakan motor.

"Ke.."

"Ke Gereja"

Deg.

Satu kata yang membuat dada Allysia seperti dihujam batu yang sangar besar, Sesak sekali setiap mengingat ada tembok besar dan kokoh diantara mereka.

"Ah, ya.. yaudah.. mau berangkat sekarang?" ujar Allysia seolah kehilangan kata-kata.

"Iya, kamu udah Shalat ashar?" tanya Nathan dengan perasaan campur aduk.

Kalau ditanya apakah Nathan juga merasa Sesak? Jelas sesak luar biasa, berkali-kali keduanya ditampar oleh keadaan bahwa mereka berbeda, mereka tidak searah, mereka berbeda tujuan, tidak seharusnya mereka bersama.

"Udah dong" jawab Allysia berpura-pura ceria walau dada nya masih terasa sakit, sesak.

"Anak pinter! pacar aku gitu lohh!" gemas Nathan sembari mengacak rambut Allysia.

"Yaudah aku berangkat dulu ya" ujar Nathan.

Allysia mengangguk sembari tersenyum simpul.

"Habis Maghrib jangan lupa ngaji sayang" teriak Nathan yang mulai menjauh dari pandangan Allysia.

"Siap pa bos! hati-hati" balas Allysia sembari melayangkan kiss bye untuk pacarnya itu.

Walau mereka berbeda, keduanya tak ada hentinya untuk saling mengingatkan Ibadah mereka satu sama lain, Juga mereka sadar, sedalam apapun cintanya, diantara mereka tidak akan pernah ada yang mengambilnya dari Tuhan-Nya.

Tak lama dari mobil Nathan meninggalkan halaman rumah Allysia, tiba-tiba mobil putih datang seolah bergantian.

Namun Allysia tahu betul siapa yang berada di dalam mobil itu, Allysia berjingkrak kegirangan lalu berlari kepada mobil yang terparkir diluar pagar rumahnya.

"Aa!!" pekik Allysia sembari berlari dan menubruk badan Zayn lalu memeluk Kakaknya itu.

"Kangen gak?" tanya Zayn mulai menciumi pipi Adik perempuannya.

"Kangen banget gilak!" sahut Allysia semangat sembari melepas pelukan mereka.

Zayn mencibir "Dih, baru juga ketemu empat hari yang lalu"

"Oh jadi gak boleh nih kangen sama Aa?" rengek Allysia.

Zayn terkekeh mendengar tingkah Adiknya yang menggemaskan ini, "Gak boleh"

"YAUDAH! GAK JADI KANGEN!" semprot Allysia menatap Zayn setajam silet.

Zayn terbahak "Becanda ih" ujarnya lalu kembali mencium kedua pipi Adiknya.

"By the way ngapain Aa kesini?" tanya Allysia.

"Kangen aja"

"Boong ih" elak Allysia.

"Beneran ih" sahut Zayn mengikuti nada bicara Allysia.

"Ke Bogor yuk?" ajak Zayn.

"Ke rumah Ayah?"

Zayn mengangguk.

"Gimana ya, enggak deh A, nanti lagi aja" jawab Allysia sembari menggigit bibir bawahnya, sejujurnya Ia ingin sekali ke rumah Ayahnya di Bogor, namun..

"Kenapa, Al?" tanya Zayn menatap Allysia serius.

"G-gue t-takut habis sama Bunda" lirih Allysia pelan membuat Zayn seolah ditampar sangat keras.

Ia merasa gagal, sangat gagal menjadi seorang Kakak yang baik, damn. Apa yang harus ia lakukan?

Zayn mendadak terbata, "A-Al.."

"Nggak apa-apa A, ini bukan salah lo" tutur Allysia sembari mengelus pelan lengan Zayn.

Zayn menghela nafasnya berat, "Gue.. gue nggak tau harus gimana"

"Maksudnya?"

"Gue lagi ada di dua pilihan yang sulit Al"

"D-dua pilihan apa?"

"Nanti lo tau"

"Hufft, gini deh kalau lo gabisa ke Bogor, gue ajak makan disini aja gimana? mau makan dimana?" tawar Zayn.

Allysia menaikkan sudut bibirnya dengan lebar, "AYOK!"

"Mau makan apa?" tanya Zayn.

"Bubur!" sahut Allysia semangat.

Zayn mengangkat sebelah alisnya heran, "Bubur?" beo Zayn.

Gadis itu mengangguk mantap, "Iya bubur! ini tuh bukan sekedar bubur biasa tau A, pokoknya tempatnya oke banget, A Zayn pasti suka!" cerca Allysia semangat.

"Gue dulu 15 tahun tinggal di Bandung belum tau orang dagang bubur yang tempatnya enak" ujar Zayn sembari berfikir.

"Iya gue juga baru tau sekarang soalnyaa!!"

"Lo tau darimana?" tanya Zayn.

"DARI TEMENN, UDAH AYO IH BURUANN" ujar Allysia sembari menarik tangan Zayn agar Kakaknya segera memasuki mobil.

"O-okey okeey" pasrah Zayn.

***

Setelah mengajak Allysia jalan-jalan sekaligus makan Bubur di tempat yang menenangkan, Zayn kini sudah kembali ke rumahnya yang berada di Bogor, cowok itu menutup pintu dengan wajah ditekuk.

Setyo yang menyadari raut wajah anaknya yang nampak tak baik-baik saja segera menanyakan keadaannya, "Kenapa Zayn?"

Zayn menoleh lalu menghampiri Setyo yang sedang terduduk di kursi ruang tamu sembari membaca koran di tangannya.

"Zayn mau ngomong sesuatu sama Ayah" ujar Zayn.

Setyo mulai melepas koran yang berada di genggamannya, tatapannya fokus kepada anak lelakinya sekarang, "Ya, mau ngomong apa?"

Zayn menunduk dalam, Ia mengambil satu tarikan nafas, "J-Jadi gini yah.."

"Z-zayn.."

"Keterima di London University" tutur Zayn dengan ragu sembari menunduk.

Kedua mata Setyo seketika membelalak mendengar kabar gembira dari anak lelakinya, "Masya Allah Zayn?! kamu kapan daftarnya? kok Ayah nggak tauu?!"

"J-Jadi.. waktu itu Zayn cuma iseng daftar dan ikut test via online yah, tapi.. Zayn gatau bakal diterima" jelas Zayn masih menunduk.

Memang tak heran, dibalik kelakuan Zayn yang sembrono, dia bisa dibilang amat jenius, bahkan test tanpa belajar saja dirinya sudah diterima di London university.

Deven dan Zayn memang bisa dikatakan 11 12 otak encernya, keduanya memang jenius bukan main, Deven bahkan mampu menuntaskan S2 kuliah kedokteran hanya dalam waktu 5 tahun.

Dari ketiga bersaudara, bisa dikatakan, Allysia yang paling berbeda, Allysia tidak memiliki keunggulan di bidang akademik, memiliki otak yang lemot bukan main. Katakanlah ia memang beruntung karena dapat masuk kelas IPA walau dengan nilai pas-pasan.

"Ya Allah Zayn.. Alhamdulillah banget sih nak.." haru Setyo sembari merangkul Zayn dengan senyum yang masih terpatri di bibirnya.

"Tunggu, kok kamu kelihatan sedih sih?" tanya Setyo sembari menatap Zayn yang masih menunduk bahkan ketika dirangkul oleh Setyo.

"Allysia gimana Yah kalo Zayn ke London?" tanya Zayn sembari menatap Setyo.

"Astaga Zayn lo mau ke London?!" cerca Deven turun dari tangganya dengan terburu-buru.

"Zayn lo kenapa nggak berunding dulu sama Ayah sama gue kalo lo ikut test London University Zayn?!"

"Deven.." ujar Setyo pelan.

"Apa salahnya memang kalo Zayn kuliah di London? ini awal yang bagus buat Zayn loh"

"Ya nggak salah memang Yah, tapi aku juga sebentar lagi dikirim ke Singapura karena ada tugas disana Yah!" ujar Deven, emosinya mulai tersulut.

Zayn dan Setyo kompak membelakkan matanya dan menatap Deven dengan tatapan terkejut dan penuh tanda tanya.

"Allysia sama siapa? Deven nggak bisa tinggalin dia gitu aja Yah"

"Tadi Deven barusan tanda tangan kontrak buat dikirim ke Singapura, karena Deven pikir ada Zayn yang bisa jaga Allysia Yah!" cerca Deven, matanya mulai berkaca-kaca.

"Kalo gini, Deven harus gimana? Deven nggak tega biarin dia sendirian Yah" sambung Deven, ucapannya mulai bergetar.

"Kalo gitu gue nggak akan ambil kuliah di London" sahut Zayn mantap sembari menatap Setyo dan Deven secara bergantian.

Setyo sontak melebarkan matanya lagi, "Zayn apa-apaan sih? Zayn banyak banget yang berharap ada di posisi kamu sekarang. Jangan di sia-siain Zayn" tutur Setyo menatap Zayn dengan penuh harapan.

"Tapi Zayn juga nggak bisa biarin Allysia sendirian Yah!"

"Dunia udah kejam banget sama dia, masa kita mau kejam juga sama dia?" sambung Zayn.

"Bila perlu Zayn kuliah di Bandung aja, biar Zayn beli apart di Bandung, sekalian temenin Allysia."

"Nggak Zayn enggak!" potong Setyo cepat.

"Zayn nggak mau Yah! tolong kali ini.. Zayn mau jagain Allysia.." titah Zayn.

"Ada Ayah, Zayn"

"Ayah yang akan jagain Allysia."

"Ya tapi tetep aja Yah, Ayah kan banyak kerjaan, harus butuh banyak istirahat, tolong Yah, aku cuman gak mau Allysia kenapa-napa. Sesederhana itu permintaan aku Yah, tolong.." ujar Deven sembari menatap Ayahnya penuh harap.

"Kalian nggak percaya sama Ayah?" ucap Setyo membuat mereka terdiam seribu bahasa.

"B-bukan gitu Yah.." ujar Zayn terbata.

"Kalian berangkat, Allysia aman sama Ayah" ujar Setyo memegang bahu kedua anaknya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.

***

Gimana sama chapter ini? btw males bgt dikit yang komen, bikin males up tau😭

Allysia sabar ya.. ini baru awal beb😗

Aku mau review dari kalian dong sama cerita ini.

Hope you enjoy & love it! see you!

Love uu!🤍

Jangan lupa follow!

Continue Reading

You'll Also Like

741K 23.5K 28
Nathan sama sekali tidak menyangka jika hidupnya akan berubah hanya karena seorang perempuan yang ternyata masih duduk di bangku SMA. Kesalahan satu...
19.2K 745 77
𝗦𝗨𝗗𝗔𝗛 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗟𝗨𝗜 𝗧𝗔𝗛𝗔𝗣 𝗥𝗘𝗩𝗜𝗦𝗜 ᴅᴇsᴋʀɪᴘsɪ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ᴛᴇʟᴀʜ ᴅɪᴜʙᴀʜ. 𝘙𝘦𝘷𝘢𝘯𝘥𝘳𝘢 𝘑𝘰𝘷𝘢𝘯𝘰 𝘈𝘣𝘳𝘢𝘩𝘢𝘮, laki-laki yang masi...
4.4M 222K 49
[Sebelum baca ini boleh follow dulu ya] Semula Ayesha berpikir kalau kehadirannya bagi Elkairo Danadyaksa bukanlah apa-apa. Ia bukan seseorang yang d...
5M 379K 47
Aksa Ghadi Alhayyan adalah jenis manusia otoriter, pemaksa dan perfeksionis. Bagi Keira, pria itu adalah pangeran yang diturunkan ke bumi dan dikemas...
Wattpad App - Unlock exclusive features