Karin melemparkan tasnya di sofa ruang tamu rumah kedua orang tuanya begitu saja, ibunya melirik karin dengan sengit tapi dihiraukannya dan berjalan santai kearah kulkas di dapur. Diambilnya satu botol air dingin lalu ditandaskannya dengan cepat.
"Pelan-pelan na minumnya. Nanti kamu sakit kepala loh, itu kan air dingin." Kata ibu karin sedikit sewot.
"Bu, sumpah panas banget. Kenapa jalanan macet sih hari ini. Awal bulan sih ya orang baru pada gajian jadi pergi deh jalan-jalan." Sewot karin.
Ibunya menggeleng pelan sambil terus mencoba fokus memotong tempe yang akan dimasaknya. Sementara karin sudah kembali keruang tv dan memasang channel kegemarannya.
"Astaga ini anak perawan udah gede tontonannya masih spongebob. Malu sama umur na." Ibu karin kembali sewot saat menemukan anak perempuan satu-satunya sudah mengganti bajunya dengan kaos kumal dan celana tidur sambil tergeletak diatas sofa. "Ini lagi baju udah dari jaman batu masih aja disimpen. Buang na, itu udah sobek-sobek juga."
"Dingin bu. Baju rumahan itu semakin compang camping semakin enak dipakenya." Jawab karin sambil mengunyah snack yang diambilnya dari kulkas.
Ibu karin menepuk jidat melihat kelakuan putrinya itu. "Kalau leon lihat, habis kamu malu gak ketolongan."
"Dia udah sering lihat juga. Dia lebih parah dari ina. Di rumah cuma boxeran doang seharian." Jawab karin berniat membela diri.
"Hah? Boxeran doang? Dirumah? Seharian?" Ibu karin sedikit bingung. "Kok kamu tau?"
Karin mendadak berhenti mengunyah makanannya. Tidak mungkin dia mengatakan kepada ibunya kalau leon sering bermalam di rumahnya. Walaupun mereka tidak melakukan hal-hal aneh tetap saja itu akan menimbulkan masalah untuk mereka.
"I-itu bu. Ina pernah main ke rumahnya leon, jadi karin lihat."
"Oh, ibu sudah mikir yang engga-engga tadi." Jawab ibunya sambil beranjak kearah dapur.
Karin menghembus nafas lega. Hampir saja mereka diseret paksa ke KUA untuk segera dinikahkan karena mulut karin yang tidak ada remnya. Bukannya karin tidak siap menikahi leon, mereka sudah berada ditahap hubungan yang sangat serius. Tapi, kalau dinikahkan karena ketahuan sering menginap kan jadi ada kesan negatif untuk pernikahan mereka nanti.
"Suruh leon main kesini na, udah lama kan dia nggak main kesini." Teriak ibu karin dari dapur. "Biar ibu masak banyak nih."
"Iya bu! Ina coba telepon orangnya dulu."
Karin langsung mendial nomor leon yang sudah menjadi panggilan prioritas di handphonenya. Cukup lama karin menunggu, sampai dia berdecak kesal karena leon tidak kunjung mengangkat teleponnya.
"Kemana sih dia." Kesal karin.
Kembali dia mendial nomor leon dan lagi -lagi karin tidak mendapatkan jawaban dari panggilannya.
"Orangnya nggak ngangkat telepon bu. Mungkin lagi sibuk."
"Yasudah kalau begitu. Ibu masak untuk kita bertiga saja deh."
Karin terlihat cemas dia mencoba sekali lagi menelepon pria yang kini sudah sepenuhnya merajai hatinya.
"Astaga, kemana sih dia!" Karin melemparkan handphonenya geram.
Semenit, dua menit, lalu lima menit dia melirik terus kearah handphonenya. Ada rasa penasaran dihatinya kenapa leon susah dihubungi. Biasanya pria itu cepat tanggap jika karin menelepon.
Karina wijaya : kamu kemana sih? Kok telepon aku nggak diangkat. Ibu nyuruh kamu kerumah nih.
Dia kembali menimbang-nimbang chat yang sudah dikirimnya via whatsapp.
Karina wijaya : hubungin aku secepatnya kalau bisa. Aku khawatir sama kamu sayang.
Dia mengernyitkan dahi menilai kalau isi chatnya tidak terlalu berlebihan.
Hingga malam menjelang tidak ada balasan yang didapat karin dari leon. Ayah dan ibu karin sedang seru memberi makan ikan di kolam belakang rumah mereka, karin hanya bisa melihat itu dengan tatapan kosong karena dia sedang cemas memikirkan keberadaan leon. Satu hal yang ditakutkan karin, kisah cintanya akan kembali tragis seperti bersama bram. Dulu, bram juga seperti ini diawal renggangnya hubungan mereka. Dimulai dari dia yang sulit untuk memberi kabar. Lalu masuk ketahap tidak pernah ada kabar. Karin mulai gusar membayangkan jika itu terjadi pada hubungannya kali ini. Dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada leon, pria itu yang bisa menyembuhkan luka hati akibat ulah bram dan pria itu pula yang pertama kali berani bertemu ayahnya yang terkenal galak. Dia berhasil meluluhkan kedua orang tua karin, bisa dikatakan leon lebih special daripada bram. Karena bram dulu belum pernah bertemu dengan orang tua karin.
"Na, kok ngelamun aja sih? Ana masalah?" Tanya ayah karin yang menyadari kebisuan putrinya.
"Leon dari tadi pagi nggak bisa dihubungi yah. Di telepon nggak pernah diangkat. Whatsapp ina juga nggak dibales. Ina khawatir." Raut wajah karin terlihat sangat khawatir.
"Ya kamu jangan langsung berfikiran yang tidak-tidak. Siapa tau dia memang banyak kerjaan atau ada urusan. Tunggu sampai besok, jangan langsung berfikiran negatif." Hibur ayahnya.
Karin mengangguk setuju.
"Kamu malam ini nginep saja disini na. Ayah nggak mau kamu pulang dengan pikiran begitu. Besok juga kamu libur kan."
"Iya yah. Ina ke kamar duluan ya." Jawab karin lesu.
Karin berjalan lesu menuju kamarnya. Dia masih setia memandang handphonenya siapa tau leon akan menghubungi. Tapi hingga pagi menjelang karin tidak mendapatkan kabar apapun dari leon melainkan anna yang mengirimkan banyak chat whatsapp kepadanya.
Anna : rin! Pacar lu rin ! Si leon!
Anna : anjir ini beneran apa boongan sih? Ibunya si meninggal
Anna : lihat berita hari ini rin, gue syok banget
Anna : demi apa si leon itu ternyata sepupu si bram. Dia keluarga abishar
Anna : pacar lu pura-pura doang jadi orang biasa padahal anak orang kaya
Anna : bales karin, lu udah tau ini?
Karin merasa pusing membaca chat anna, dia tidak mengerti apa yang dimaksud anna. Karin membuka berita hari ini mengetikkan 'berita keluarga abishar' betul aja, muncul berita duka bahwa istri dari richard abishar meninggal dunia.
Keluarga abishar merupakan keluarga pelopor dunia fashion tanah air. Banyak butik ataupun outlet branded dunia yang dipegang mereka di tanah air. Ada pula beberapa bisnis fashion keluarga abishar yang sukses bekerjasama dengan brand ternama dunia. Rasti ningsih abishar juga merupakan keturunan ningrat dari tanah jawa. Dan anak tunggal mereka leon abishar, bekerja sebagai sekretaris bram.
Karin mengerjapkan matanya berkali-kali, dia tidak yakin dengan berita yang ditulis media tapi disana benar foto leon yang ada diantara richard abishar dan almarhumah rasti ningsih abishar. Karin kembali mendial nomor leon, belum ada tanggapan juga sampai sekarang. Dia mulai menelusuri informasi tentang kelurga abishar, banyak hal yang membuat karin tercengang pagi ini. Mulai dari fakta bahwa leon adalah anak tunggal dari orang terpandang, leon merupakan mantan model untuk brand buatan ibunya sendiri, dan yang terakhir rumor bahwa leon digadang-gadang menjadi pewaris ibunya untuk memiliki keraton peninggalan keluarga rasti.
Karin meremas rambutnya pelan. "Apa-apaan ini." Katanya pada diri sendiri.