"Fan. Lo percaya gak sih, ada cowok pertama kali yang ngatain gue pelacur?" Tanya Nara sambil memasukkan cemilan Ship rasa keju ke dalam mulutnya dan menatap langit-langit kamar Fany, dia sekarang berada dirumah Fany sejak satu jam yang lalu dan dirinya ditinggalkan membaca novel menyebalkan.
Fany yang mendengar itu langsung menatap Nara dengan dahi berkerut. "Emang siapa yang ngatain lo pelacur? Berani bener."
Nata menatap Fany. "Lo kaget nggak?"
Fany menatap Nara aneh. "Ngapain gue kaget? Salah minum obat lo?"
Nara kembali menatap langit kamar Fany. "Gue kaget sih, masa pertama kali ini gue dikatain pelacur sama cowok, bikin hati gue sakit aja."
Fany berdecak. "Emang lo ngelakuin apa sampai cowok yang lo maksud itu ngatain lo pelacur?"
"Gue godain sampai marah." Ucap Nara tanpa beban sambil kembali memasukkan cemilan Ship lagi dimulutnya.
Fany yang mendengar itu langsung menatap Nara jengkel. "Ya iya lah oon! Lo goda dia sampai marah, sarap lo."
Nara mendengus. "Tapi ya jangan ngatain gue pelacur kali, mana dia bilang ke gue kalau gue itu lemparin tubuh gue secara suka rela sama cowok lain. Sakit hati gue dengernya, padahal gue gak pernah lihat bokep apalagi begituan. Paling gue cuma ciuman aja, terus gue pelacur dari mananya?"
"Nara Nara. Untung gue mau sahabatan sama lo, lo cantik iya, tapi jangan juga pelihara kegoblokan lo selalu kalik. Ya pantes lah dia ngatain lo pelacur, orang lo yang mulai goda duluan." Cibir Fany tapi matanya tak lepas dari buku novel.
"Ya kan cuma bercanda, situnya aja yang baperan."
"Ya sama aja bego! Emang cowoknya siapa sih? Dari tadi lo gak sebutin namanya." Ucap Fany kepo.
"Lo kepo mulu kayak Arsyil." Heran Nara membuat Fany berdecak.
"Gue kasih tau tapi lo jangan kaget ya?" Ucap Nara menatap Fany.
"Ngapain gue kaget? Gue udah tau lo kalik."
Nara mengangguk. "Alvaro."
"What!!" Pekik Fany disamping telinga Nara membuat Nara menutup telinga dan menatap Fany dengan sebal, tidak terkejut apanya.
"Tuh kan lo kaget, kesel deh gue."
"Tunggu, jadi ketua osis itu yang ngatain lo pelacur?" Tanya Fany tak percaya dengan itu.
"Iya lah siapa lagi, cowok yang gue goda cuma ketua sosis itu aja."
"Wow, gue harus kasih tau Arsyil." Ucap Fany segera mengambil ponselnya.
"Arsyil lagi les bego, lo mau kena amuk emaknya?" Ucap Nara menatap Fany yang menepuk jidatnya lupa.
"Oh iya gue lupa."
"Emang kapan dia ngatain lo?" Tanya Fany lagi.
"Tadi, makanya gue langsung kerumah lo dari pada congor gue kebablasan ngomong jelek." Ucap Nara kembali memasukkan Ship lagi kedalam mulutnya.
"Lah! congor lo kan emang suka ngomong jelek-jelek, apa salahnya?" Heran Fany dengan Nara.
"Kaya lo kagak tau gue aja gimana kalo ngamuk, lupa lo sama kejadian dulu?"
Fany mengingat kejadian itu. Disaat itu Nara emosi pada Adik kelas dan mengatakan hal-hal jelek sampai Nara hampir dituntut karena mulutnya tidak bisa dikontrol saat marah ngatain orang. Kejadian itu cukup menyebar seluruh sekolah SMA Widjaya.
"Iya juga, tapi buat apa lo takut? Alva kan orangnya cuek, kalau lo hina mungkin dia gak bakal ladenin ocehan lo." Ucap Fany ikut menyomot Ship.
"Ck! Udahlah jangan bahas lagi, bikin sakit hati aja." Ucap Nara mendesah.
"Lo yang bahas duluan." Sinis Fany.
"Shipnya abis. Ada cemilan lagi nggak?"
"Lama-lama cemilan gue abis sama lo."
"Udahlah, sama sahabat sendiri juga."
***
Nara membuka pagar rumah setelah diantarkan Fany pulang naik sepeda motor metik. Nara masuk dan mengunci pagar lagi, Nara mengerutkan dahinya melihat mobil Alvaro yang masih ada disini. Kenapa cowok itu belum juga pulang padahal ini sudah jam 10 malam.
Nara tanpa memperdulikan masuk kedalam rumahnya dan melihat Adrian sedang duduk disofa sambil menonton televisi sepak bola sendirian. Nara menghampiri Adrian dan duduk disamping Adrian membuat Adrian langsung menatap Nara.
"Kamu dari mana baru pulang?" Tanya Adrian kembali melihat televisi.
"Dari rumah Fany, Pa. Mama mana?" Tanya balik Nara.
"Mama kamu lagi tidur, kamu buruan tidur gih, udah malam." Ucap Adrian mengusap kepala Nara.
"Sebentar." Ucap Nara.
"Pa?"
"Apa sayang?"
"Besok Papa libur gak kerjanya? Besok kan hari minggu." Tanya Nara.
Adrian menatap Nara. "Iya Papa libur." Ucap Adrian membuat Nara tersenyum.
"Emang kenapa?" Tanya Adrian mengusap kepala Nara.
"Besok jalan-jalan ke pantai yuk, Pa? Nara pengen ke pantai." Ucap Nara menyadarkan kepalanya dibahu Adrian.
"Kamu mau jalan-jalan dipantai?"
Nata mengangguk.
"Boleh, besok kita jalan-jalan dipantai sama-sama." Ucap Adrian membuat Nara senang langsung mencium pipi Adrian dengan sayang.
"Makasih Pa."
"Udah kamu tidur sana, besok kamu kesiangan gimana?" Ucap Adrian mengacak-acak rambut Nara.
"Tapi gendong." Ucap Nara manja.
"Enggak ah, Papa lagi lihat sepak bola, lagian kamu juga udah berat." Ucap Adrian membuat Nara cemberut dan itu membuat Adrian tertawa.
"Bercanda sayang." Ucap Adrian langsung senyuman Nara mengembang.
"Sini." Ucap Adrian sambil memunggungi Nara. Tanpa pikir panjang Nara langsung memeluk leher Adrian dari belakang dan melingkarkan kakinya dipinggang Adrian, Adrian langsung berdiri dan membawa Nara kekamarnya digendongnya.
"Nara nggak berat kan, Pa?"
"Gak berat apanya? Pinggang Papa seperti encok saja."
"Ih Papa nyebelin!" Kesal Nara.
"Lagian kamu udah besar masa minta gendong, malu sama umur." Cibir Adrian membuat Nara tekekeh.
"Manjain anak itu dapat pahala, Pa." Ucap Nara tersenyum.
Adrian berdecak melihat putrinya ini sangat manja bila dengannya. Tapi Adrian juga senang, kalau Nara masih mau berbicara padanya padahal dia selalu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak sempat menghabiskan waktu bersama Nara dan besok adalah momen penting untuk Adrian bisa berlibur dengan keluarga kecilnya.
"Eh, Alva. Kamu mau kemana?." Tanya Adrian begitu melihat Alvaro yang keluar dari kamar Akbar, sedangkan Nara hanya menatap datar Alvaro dalam gendongan Adrian.
"Alva mau pulang om, kasian Mama dirumah sendirian." Ucap Alvaro, lalu menatap Nara yang ada digendongan Adrian. Mata Alvaro menatap lekat mata Nara yang juga ikut menatapnya datar, tatapan datar dari Nara yang tidak pernah Alvaro lihat, Nara langsung memutuskan tatapan mereka. Jelas Nara sangat marah dengan penghinaan yang dilontarkan untuk Nara sangat kelewatan.
"Oh ya udah, kamu hati-hati dijalan ya." Ucap Adrian tersenyum.
"Pa buruan, Nara ngantuk." Desak Nara yang memang tidak ingin lama-lama dengan adanya Alvaro.
"Kalau begitu saya pamit dulu, om. Permisi." Ucap Alvaro lalu pergi setelah mendapatkan anggukan dari Adrian, Adrian pun langsung masuk kedalam kamar Nara dan menurunkan Nara diranjang.
"Kamu tidur gih, Papa keluar dulu, mau lanjutin nonton sepak bola." Ucap Adrian mengusap kepala Nara.
"Iya Pa. Selamat malam."
"Selamat malam juga, sayang." Ucap Adrian mencium dahi Nara, lalu keluar dari kamar Nara.
Nara pun langsung membaringkan tubuhnya melentang sambil memainkan ponselnya, dia belum mengantuk bagaimana bisa tidur. Nara teringat dengan Akbar, Nara minta ayam krispy sama Akbar. Nara pun langsung beranjak dari kasurnya dan berlari kecil kekamarnya Akbar.
"Bang!!" Panggil Nara keras sambil membuka pintu kamar Akbar membuat Akbar yang bermain ps terjingkat.
"Kaget asu!" Sentak Akbar mendelik pada Nara, Nara hanya meringis lalu menutup pintu, Nara mendekati Akbar dan duduk disamping Akbar.
"Bang, pesenan ayam gue mana?" Tanya Nara dengan senyum, tapi Akbar mengabaikannya dan asik main ps membuat Nara kesal.
"Bang!" Pekik Nara disamping telinga Akbar membuat Akbar terkejut lagi.
"Ngapain sih lo teriak dikuping gue!! Tuh gara-gara lo gue kebobolan anjing!!"
"Mana ayam krispy pedes gue?" Tagih Nara lagi.
Akbar geram sekali dengan bocah satu ini, selalu mengganggunya. Untung Adik tersayangnya, kalau enggak udah Akbar lempar dilaut.
"Resek banget sih lo, noh ayam lo dimeja gue." Ucap Akbar kembali bermain ps lagi.
Nara tersenyum melihat meja Akbar yang ada bingkisan kerdus bertuliskan KFC berukuran lumayan besar. Tanpa menunggu lagi, Nara berdiri dan mengambil paket ayam krispy itu dimeja Akbar, lalu membukanya. Aroma lezat langsung menyeruak dihidung Nara.
"Makasih Bang Akbar yang gantengnya pas-pasan, Nara kekamar dulu." Ucap Nara tersenyum lalu keluar sambil membawa paket ayam kripsy itu.
"Dasar Adek gak tau diri." Cibir Akbar tanpa menatap Nara.
Saat Nara keluar dari kamar, Nara terkejut melihat Alvaro yang ada didepan pintu Akbar. Nara mengerutkan dahinya dengan adanya Alvaro yang masih disini, bukannya dia cicak buaya itu sudah pulang.
"Ngapain lo balik lagi?" Ketus Nara pada Akbar yang menatapnya datar.
"Ponsel gue ketinggalan." Ucap Alvaro datar.
Nara hanya mengangguk paham, lalu berjalan melewati Alvaro. Buat apa lama-lama sama cicak buaya yang nyebelin itu, bisa membuat Nara darah tinggi saja. Namun, belum genap empat langkah, tangannya lengannya sudah dicekal Alvaro membuat Nara mau tak mau berhenti dan menatap Alvaro dengan sebelah alis terangkat.
"Lo tadi dari mana?"
Nara menatap Alvaro aneh. "Apa urusannya sama lo gue dari mana?"
Mendengar itu, Alvaro juga mengutuk bibirnya karena bertanya hal tidak penting.
Nara melihat keterdiaman Alvaro tersenyum miring. "Gue tadi muasin cowok, lo mau lihat rekamannya nggak?" Bohong Nara.
"Lo bisa nggak, gak ngerendahin diri lo?" Tajam Alvaro semakin kuat mencengkram lengan Nara.
"Kenapa lo jadi komplen? Lo mau juga gue puasin juga?" Tanya Nara tersenyum membuat Alvaro bungkam.
Kenapa Nara jadi menekannya begini membuat rasa bersalah Alvaro semakin besar saja.
"Buruan lo ambil tuh hp lo, terus pergi dari sini." Ucap Nara melepaskan cekalan Alvaro dilengannya, lalu pergi memasuki kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Akbar.
To be continued...
11Juli2021