A BROKEN PROMISE

By lilscaredy

5.3K 1K 233

[ BOOK 2 ] Ada banyak hal yang Haruto langgar begitu dirinya menginjak bangku Sekolah Menengah Atas, mulai da... More

O1. Tentang Mereka
O2. Asumsi Mereka
O4. Mengalah
O5. Traktiran Doyjin
06. Double Date
07. Kondisakta
08. Sharing

O3. A Promise

706 188 29
By lilscaredy

Seharian ini Jihan uring-uringan, perasaannya campur aduk karena pernyataan Zoa tempo lalu menghantuinya. Gadis itu menatap bangku kosong di sebelahnya, Yuna sedang berada di aula—berlatih untuk perlombaan tari beberapa minggu lagi.

Kalau boleh jujur, Jihan sempat menaruh rasa pada Jeongwoo. Tapi itu dulu. Duluuu bangeeeet, bahkan Jihan aja nggak inget sebesar apa rasa sukanya pada sosok pemuda humoris satu itu. Sekadar naksir karena Jeongwoo selalu ada buat dia, sih, kayaknya. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan itu perlahan pudar.

Jihan takut banget kalau perkataan Zoa tempo lalu benar, hubungannya akan renggang. Jihan... nggak bisa jauh dari Jeongwoo. Tapi, kemarin Jihan sempet mergokin Jeongwoo ngobrol sama Doyoung di pinggir lapangan, dan pembicaraan mereka berhasil bikin bahu Jihan merosot seketika.

"Han!"

Jihan sedikit tersentak saat oknum yang sedang ada di pikirannya dengan tiba-tiba duduk di sampingnya. Tangan kanan Jeongwoo memegang sebuah buku tulis lalu menaruhnya di atas meja. Cowok itu mulai menulis sesuatu di lembaran buku dengan tangan kirinya.

"Numpang di sini bentar ya, Beb." ujar Jeongwoo.

Jihan sih nggak ambil pusing, cewek itu manggut-manggut aja. Pun perihal panggilan 'Beb', Jeongwoo emang biasa nyeplos kayak gitu. Nggak cuma ke Jihan kok, ke anak kelas yang lain juga sering, kayak Yoon sama Seeun. Jadi yaa... Jihan juga nggak mikirin perihal itu lebih jauh.

Tapi kayaknya sekarang Jihan sedikit kepikiran deh. Apalagi... setelah secara nggak sengaja denger obrolan Doyoung sama Jeongwoo.

"Lo ngerjain apa, Woo?" tanya Jihan, kepalanya sedikit ia miringkan. Tentu saja mau liat apa yang di tulis Jeongwoo.

"Tugas ekonomi gua belum, Han." jawab Jeongwoo, masih fokus menulis. "Lo mah udah lah ya pasti, lo kan rajin."

Jihan memutar kedua bola matanya malas. "Tetep aja pinteran lo."

Jihan bener. Jeongwoo tuh tipe-tipe anak jenius yang nggak belajar pun bisa. Kalo kalian pernah ketemu orang yang tiap pelajaran kerjaannya haha-hihi dan tidur tapi tetap menyabet peringkat 1 paralel seangkatan, perlu dicatat bahwa Jeongwoo termasuk ke dalam tipe itu. Lihat aja sekarang, pemuda dengan kulit eksotis tersebut mengerjakan soal ekonomi dari Pak Yege dengan sangat mudah, padahal semalem Jihan ngerjainnya sampe sakit kepala.

"Oi, mau roti nggak?" seruan Doyoung yang baru saja datang langsung mengalihkan perhatian Jihan dan Jeongwoo.

Dua anak itu kompak mengangguk sambil menunggu Doyoung menghampiri mereka. Si Pemuda Kim mengambil kursi kosong di barisan sebelah dan menariknya ke sebelah Jeongwoo, kemudian menyerahkan satu kotak bekal kepada dua temannya.

"Itu dari Yujin." Doyoung memberi tahu.

"Kok lo kasih ke kita, Nyet?" Jeongwoo natap Doyoung bingung.

"Yujin bilang 'bagi-bagi sama temen kamu ya, Doyie'. Gua sebenernya ogah. Tapi gue kan amanah ye, jadi sok dah tu ambil." Doyoung menggeser kotak bekal tersebut.

Jihan tersenyum sumringah, sementara Jeongwoo buru-buru membuka kotak bekal itu dan mengambil satu potong roti.

"Emang ya biasanya temen kalo udah punya pacar jadi medit kayak babi, tapi pacarnya mah uuuu bageur pisan." cerocos Jeongwoo. "Yujin paling baik sedunia deh ini mah, salamin ya, Doy!"

Doyoung berdecih. "Gue masih inget dulu lo ngatain Yujin ondel-ondel ya."

Dibilang kayak gitu, Jeongwoo protes. "Dih bukan gua anying, si Tono itu mah!"

"Haruto pernah bilang gitu??" tanya Jihan polos.

Jeongwoo ngangguk. "Iya waktu Doyoung pingsan."

"Duh, Woo, gak usah diingetin lagi kali." Doyoung melas.

"Maaf brader, hehehe." kekeh Jeongwoo sambil cengengesan. "Omong-omong nih, kapan traktirannya? Udah hampir dua minggu jadian masa belum ada peje. Ya nggak, Han?"

Jeongwoo ngelirik Jihan.

Otomatis, Jihan mengangguk dengan senyum antusias. "IYAAA! Kapan, Doy?"

"Hadah paja peje paja peje mulu otak lu." sungut Doyoung. Doi mau protes lagi, tapi bahunya keburu di tepuk sama seseorang.

Pas Doyoung noleh, ternyata udah ada Yuna di sampingnya sama Haruto.

"Iyalah peje, kurang afdol kalo nggak ada peje tuh." cetus Haruto, tiba-tiba nimbrung.

"Lo datang tak diundang anying, kayak jailangkung." ceplos Jeongwoo.

"Sembarangan!"

"Doy, geser napa." Yuna mengayunkan tangannya supaya Doyoung menggeser bangkunya sedikit. Pemuda itu menurut.

Sementara Haruto lebih memilih berputar arah dan membawa kursinya di samping Jihan.

"Ck, ni anak dua cepet amat lagi kelarnya." Doyoung berdecak, merujuk pada Yuna dan Haruto.

Yuna nggak peduliin omongan Doyoung, pun Haruto. Pemuda keturunan Jepang tersebut malah menunjuk kotak bekal berisi roti yang tergeletak di meja.

"Punya siapa tuh?"

"Punya Doyoung dari Yujin, ambil aja, To." jawab Jihan.

"Heheheh, oke."

"Seneng lo?" sungut Doyoung. "Itu pejenya."

"Dih apa-apaan!" Yuna ikut protes. "Nggak bisa gitu dong."

"Doy, lo kayak nggak tau mereka aja." Jihan bersuara. "Sampe lebaran monyet juga pasti bakal terus ditagih."

"Bwetul, Han!" Jeongwoo manggut-manggut dengan mulut penuh makanan. "Jadi... besok ya?"

"Gue tanya Yujin dulu." jawab Doyoung final.

Sontak Haruto ngacungin jempolnya. "Nah gitu dong, Brader! Auto langgeng sampe punya cicit ini mah, apalagi kalo traktirannya di restoran bintang 5."

"Gua aminin, tapi buat permintaan lo, lo gua jadiin tumbal dulu. Mau?" tawar Doyoung.

Haruto tersenyum pahit. "Serem, tolo."

"Lagian lo di kasih hati minta jantung, anjir." ceplos Yuna.

"Tau dah." Jeongwoo dan Jihat kompak menyahut.

"Hehehe." Lagi-lagi, Haruto terkekeh. "Enak ya Doy punya cewek? Jadi pengen.."

"Halah, bullshit." semprot Doyoung. "Kemaren Wonyoung lo anggurin, dasar nggak jelas. Cewek yang ngejar lo banyak To, lo nya yang terlalu milih-milih."

"Gue nggak klop sama dia." jawab Haruto.

"Padahal kalo diliat-liat kalian cocok loh." komentar Yuna. "Inget nggak sih waktu MOS? Lo dapet predikat terganteng terus Wonyoung dapet predikat terhits."

"Nggak nyambung, Yun." tolak Haruto.

"Mau sama yang tercantik, To? Lami?" Jeongwoo menyebutkan nama anak kelas sebelah yang mendapat predikat tercantik dan sempet jadi inceran Doyoung beberapa bulan lalu.

"Kagak lah, udah sama Doyoung."

"Gue sama Yujin, anjing."

"Iye iye maap. Maksud gue, udah pernah dideketin sama si Duyung."

"Kan baru dideketin, To." Yuna berujar. "Apa salahnya?"

"Salahnya bukan mereka yang dia mau." ujar Doyoung, imenyipitkan matanya, menatap Haruto seolah menelisik ekspresi pemuda tersebut.

Haruto hanya menunjukkan seulas senyum aneh sebagai balasan. Jihan yang sedari tadi hanya mendengarkan pun meneguk salivanya sendiri, diam-diam melirik Haruto yang menundukkan kepala.

"Ck, ribet lo." omel Yuna.

Tiba-tiba, topiknya berubah karena Jeongwoo nanya sesuatu ke Doyoung.

"Lo kan konsep jadiannya from enemy to lover, ya. Kalau from best friend to lover gimana ya?"

Doyoung kaget ditanya gitu, cowok itu ngelirik Yuna. Dalam hati sih, mereka udah suudzon—buat yang tahu-tahu aja. Tapi begitu lensa Yuna menangkap raut wajah Jihan dan Haruto yang nggak kalah panik, gadis itu menghela nafas lega.

"Y-ya... nggak gimana-gimana, Woo." jawab Doyoung kaku. Cowok itu ngelirik Yuna lagi.

Paham dengan maksud lirikan Doyoung, Yuna ikut menimpali. "Emang lo naksir temen lo, Woo?"

"Uhuk—" Haruto batuk-batuk, bikin empat pasang mata lain melirik ke arahnya.

Jihan sendiri buru-buru mengambil botol minum dari kolong meja dan memberikannya pada Haruto.

"Thanks, Han."

"Sama-sama." jawab Jihan.

Tiga orang lain yang melihat pemandangan itu saling lirik, terutama Doyoung dan Yuna.

"Keselek roti, To?" tanya Doyoung. "Atau keselek gara-gara pertanyaan Yuna?"

Lagi-lagi, Haruto terbatuk.

"Keselek kesemek." jawabnya.

"Kagak jelas."

"Nggak usah deh suka sama temen sendiri, apalagi di antara kita." Jihan berujar. Ia kemudian melirik Jeongwoo, Doyoung, Yuna, dan terakhir Haruto.

"Iya, ribet." Yuna mengangguk setuju.

Jihan menjentikkan jarinya.  "Bener. Janji, ya,  jangan ada suka-sukaan?"

Kali ini, yang batuk Jeongwoo. Cowok itu dengan beringas mengambil botol minum Jihan dan meminumnya hingga tersisa sedikit. Haruto diam dengan wajah datar, sementara Doyoung dan Yuna kompak saling pandang seolah memikirkan satu hal yang sama.

"Ya gue sih, udah ada Yujin." Doyoung mengangkat bahu.

"Gue juga gak minat sama tiga begundal ini." ujar Yuna.

"Gue....." jawaban Jeongwoo menggantung. Pemuda itu sadar kalau Doyoung tengah melihat raut wajahnya seolah mencari kebohongan di sana. "....juga."

"Lo To?" Bukan Jihan yang bertanya, melainkan Yuna.

Haruto mengangkat wajahnya. Ia menatap Jihan lalu mengulum bibirnya karena ragu. Namun, ketika sadar tiga pasang bola mata lain melirik ke arahnya, Haruto terpaksa mengangguk.

"Fine."

Yang tidak satu sama lain tahu adalah... bahwa mereka telah melanggar perjanjian tersebut bahkan sebelum hal itu dibuat.

Jihan tersenyum lega, walau ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Ada sedikit rasa sakit yang tertinggal. Namun, Jihan tahu rasa itu nggak akan bertahan lama. Atau mungkin juga tidak. But...

Being his friend is more than enough, right?


:::





## p.s :

ASLIIII aku takut kalau cerita ini jatuhnya bakal cringe cringe gajelas gitu asdfhjkll. kalo ada saran dan kritik, let me know yaaa! makasih semua <3

Continue Reading

You'll Also Like

68K 3.6K 24
[18+] Semua bermula saat Jeongwoo tidak sengaja ditabrak oleh Haruto saat perjalanannya ke sekolah barunya. Mereka mulai akrab sebagai teman namun mu...
75.1K 8.7K 29
Haruto aja bisa menaklukkan cinta pertamanya, gue juga harus bisa dong - Junghwan 2019 Nb : absurd story
36.5K 2.2K 27
Trigger Warning ⚠️ harsh words, violence, drug, blood, mature, m-preg, family issue. Sejak awal mereka memang berbeda, hanya sebuah kebetulan karena...
1.5K 274 16
[ MINI STORY ] Perpindahan sekolah dan kembali beradaptasi dengan lingkungan baru memanglah sulit, terutama bagi Yoohyun yang notabennya adalah anak...
Wattpad App - Unlock exclusive features