STUCK

By halulogy

193K 22.3K 6.1K

WARNING 21+ 🔞 Tentang Darren Gautama, mahasiswa biasa yang menjalankan hidupnya dengan biasa saja. Bagi Darr... More

intro
1 - Darren Gautama
2 - Ryuna Kasella
3 - Darren's one fine day
4 - Ryuna day
5 - she's back
6 - girls talk
7 - perkara jaket
8 - perusak pagi Darren
9 - breakdown
10 - what a crazy world
11 - aftermath
12 - another shocking news
13 - hello again?
14 - satnight
15 - struggle
16 - peaceful times
17 - big news
18 - kronologi I
19 - kronologi II
20 - kontradiksi
21 - it begins
22 - tamu tak diundang
23 - alone
24 - you are not alone
25 - no turning back
26 - together
27 - developments
28 - end of the day
29 - i'm an uncle!
31 - count on each other
32 - pillow talk
33 - I hope so
34 - they meet
35 - chaos
36 - hormones
37 - she knows
38 - I'm the worst
39 - two sides
40 - Wedding Dream?
41 - Mixed
42 - The Day
43 - meet up?
44 - confrontation
45 - inner voices
46 - Closure?
47 - is revealed
48 - missing out

30 - the real deal

2.8K 438 86
By halulogy

"Kak, gue tau ini situasi genting. G-gue paham banget lo panik, tapi mutusin buat nikahin anak orang bukan hal yang bisa lo asal janjiin," Leo berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir volume bicaranya. Bagaimanapun, ia tetap ingat untuk menjaga perasaan Ryuna yang menunggu di ruang tengah sedangkan mereka berdua masih berbincang di kamar Darren.

Bohong kalau Leo tidak panik, ia bahkan sudah tidak peduli jika akhirnya harus ketinggalan rombongan choir kampus. Urusan dengan Darren jauh lebih menyita perhatiannya. Lagi pula, mana bisa Leo fokus dengan acaranya di sana jika ia tahu Darren sedang menghadapi sebuah masalah yang tidak kecil.

"Kasih tau gue dulu kek gitu. Kenapa lo diem-diem bae," oceh Leo tak menampik rasa kecewanya mengetahui sang Kakak memilih untuk menghadapi masalahnya seorang diri.

Lagi-lagi begini.

"Sekarang lo uda tau situasinya, dan menurut lo gue harus gimana?" Darren bertanya balik. Tidak ada emosi yang jelas tergambar di wajah maupun nada bicaranya, tidak marah, tidak panik, namun tetap terlihat tidak baik-baik saja.

Nada bicara Darren terdengar tenang, namun Leo tau, alih-alih tenang, Darren sesungguhnya berada di titik buntu. Ia hanya berusaha melakukan apa yang ia rasa harus ia lakukan tanpa benar-benar mempertimbangkan banyak hal.

"I-I don't know," respon Leo menghempaskan diri di ranjang tempat Darren duduk kini.

Kepala Leo ikut pusing memikirkannya, sedangkan Darren? Ia mungkin sudah mulai terbiasa. Ia layaknya seorang narapidana yang pasrah menunggu penghakiman atas perbuatannya.

"Yang pasti, gue tetap berpendirian sama ucapan gue sebelumnya, lo gak bisa asal ngajak Ryuna nikah, Kak. Seenggaknya deh, seenggaknya, kalau emang keputusan lo udah bulat buat tanggung jawab dengan nikahin Ryuna, our parent deserve to know first," lanjut Leo mempertegas maksud ucapannya.

Kali ini, giliran Darren yang menghempaskan tubuhnya di sebelah Leo.Helaan nafas Darren terdengar berat, "now that's the real deal I should face."

"Mampuslah kita, Kak."

•••

"Telepon," pintah Denise menyerahkan sebuah ponsel pintar kepada Ryuna yang nampak menatap ponsel tersebut dengan tatapan gentar. Ponsel itu adalah ponsel pribadinya yang sengaja tak ia aktifkan dan ia serahkan pada Denise selama beberapa hari ini demi menghindari Papa dan Mama.

"Gak mau."

"Harus mau, gak bisa begini terus. Cepat atau lambat, lo harus ngobrol lagi sama Om dan Tante. Mereka setiap hari nanyain lo ke gue," tutur Denise membujuk.

"Gak usah lo jawab kalau emang it-"

"You think?! Ryu, uda cukup kaburnya, lo harus siap duduk bareng dan ngobrolin ini sama mer-"

"Lo enggak paham, Den!"

Nada bicara itu meninggi, pengaruh hormon sepertinya membuat Ryuna jadi agak hilang kendali atas emosinya sendiri.

Beruntung, setidaknya Denise tidak ikut tersulut.

"G-gue malu, Den," tambah Ryuna melirih. Ingatannya terlempar ke memory tadi pagi, ketika Darren juga bersikukuh untuk menemui orangtua Ryuna sore nanti. Beruntung, kembalinya Leo yang partiturnya tertinggal secara mendadak tadi bisa membuat Darren berubah pikiran. Ryuna tidak tahu apa yang Leo dan Darren bicarakan, ia tidak peduli. Yang pasti, Ryuna lega mengetahui perubahan pikiran Darren.

Dalih Ryuna tadi memang karena mengkhawatirkan kesehatan Darren. Walau tidak seratus persen bohong, namun alasan sesungguhnya Ryuna kukuh ingin menunda pertemuan Darren dengan kedua orang tua, ya tidak lain sama dengan apa yang baru saja ia katakan pada Denise.

Ryuna merasa malu dan bersalah.

Terlebih ketika ia ingat bagaimana dengan begitu kurang ajar dan teganya ia menyeret mendiang Kakaknya, Adrian. Membuka kembali luka masa lalu kedua orang tua.

"Tapi gak bisa begini terus, Ryu," ucap Denise mencoba menenangkan dengan mengelus punggung Ryuna.

"Mereka khawatir," lanjut Denise. Sebagai 'juru bicara' dadakan dan penyambung komunikasi antara Ryuna dan Papa Mamanya, Denise tahu sekhawatir apa Mama dan Papa Ryuna.

"Mereka gak nyalahin lo, ayo seenggaknya let them know that you are fine so they can sleep well at night," tambah Denise.

"Den, ini berat."

"Iyalah berat, that's why lo ga boleh nunda terus. You must talk and meet your parents!" tegas Denise lagi.

"Ryuna, listen to me, gue ngerti posisi lo dan gue juga bilang kan ke lo kalau gue siap bantu lo sebisa gue. I meant it when I said I support whatever your decision is, but bukan berarti gue bantuin lo lari terus-terusan. Gak bisa begitu."

"But, Denise-"

"Take back your phone, dan pikirin sampe lo siap. Kalau hp lo masih tetep di gue, lo bakal kabur mulu yang ada," ujar Denise lagi tanpa memberi kesempatan bagi Ryuna untuk berdalih lagi dan lagi.

Ryuna pasrah, jauh di lubuk hatinya ia menyetujui semua perkataan Denise. Walau tetap akan berat, lari bukanlah pilihan, Ryuna harus menghadapinya. Cepat atau lambat.

"Tapi gak sekarang, gak hari ini," batin Ryuna.

"Ryu, am I a bad influence for you?" tanya Denise tiba-tiba.

"What? Kenapa nanya begini tiba-tiba? Lo sama gue dari awal emang sama-sama setan, makanya sefrekuensi kan kita, cocok," jawab Ryuna enteng, berlawanan dengan dahinya yang mengernyit bingung mendengar pertanyaan Denise.

"Gue gak tau kudu lega apa nggak denger jawaban lo," decih Denise menendang sekilas kaki sang sahabat.

"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

Denise menggeleng, "just asking."

"Really?" Ryuna enggan percaya karena Denise tak berani menatap matanya langsung, berbeda dari sebelumnya.

Menghela nafas sejenak, Denise nampak menimbang apakah ia harus menceritakannya atau tidak.

"Kenapa? Tell me-"

"Denise, Ryuna, boleh duduk bareng?" Natty yang entah dari mana langsung mengambil posisi duduk di sebelah Ryuna. Pertanyaan barusan sepertinya hanya basa-basi belaka. Toh, siapa pula yang akan menolak jika dihampiri tempat duduknya oleh seorang Natty, si aktris muda yang sedang naik daun.

Untung saja Ryuna dan Denise sudah tak membicarakan topik sebelumnya.

Sudah beberapa lama Ryuna dan Denise menghindari teman-teman mereka ini. Alasanya tentu sudah jelas, karena Ryuna sedang mengandung anak dari kekasih -mantan- salah satu sahabat terdekat Natty.

Ryuna jadi merasa bersalah karena harus ikut menyeret Denise.

"Den, lo kenapa susah dikabarin sih? Kemarin-kemarin gue ada kirim info casting ke lo tau."

Baru saja dibicarakan.

Koneksi Natty itu tidak main-main. Denise yang memang mengincar industri seni peran bisa sekali mendapat banyak kesempatan jika dibantu Natty. Namun karena masalah Ryuna, Denise jadi melewatkan banyak kesempatan emas.

"Eh iya? Lo ada hubungin gue? Sorry, asli gue keteteran urusin teater kelas," dalih Denise.

"Ah, iya ya teater kelas lo berdua buat semesteran ini ya? Share ya nanti posternya, gue bisa bantu promosiin," dengan begitu baik hati Natty menawarkan bantuan.

"Widih, rate cardnya bagi dong, Kakak. Takut budget pubdok kita gak cukup," canda Denise.

"Gratislah buat kelas lo berdua mah, hahaha."

"Ngomong-ngomong, tumbenan lo ke kantin sini?" Denise mempertanyakan kehadiran Natty di tempat ini. Kantin belakang kampus yang belakangan menjadi 'markas' Denise dan Ryuna bukanlah tempat yang cukup layak bagi seorang sekelas Natty, Laura dan teman-teman mereka -alasan utama juga kenapa tempat ini menjadi pilihan Denise dan Ryuna.

"Habis dari gedung seberang, terus liat kalian jadi ya samperin aja," jawab Natty sembari mengeluarkan kotak bekalnya hari ini.

"Caesar Salad? Lo diet?" Denise harus melatih mulutnya untuk mengurangi celetukan maupun pertanyaan kurang penting seperti barusan.

"Disuruh diet sama manager, ya sudahlah," sahut Natty enteng, nampak ogah-ogahan menyantap saladnya.

"Yang lain kemana? nanti nyusul?" kini Ryuna yang bertanya.

Natty menggeleng, "Gak masuk, Nako ke Jepang, Cherry ikut rombongan choir ke Bandung, terus Laura sakit."

Ryuna berharap ia tak membuat ekspresi apapun saat mendengar info tentang Laura. Atau setidaknya, jangan sampai Natty menyadari itu.

"Lah, Darren juga sakit tuh," celetukan Denise serta merta membuat Ryuna memelototinya. Denise dengan hobby keceplosannya itu harus Ryuna sentil sesekali.

"Ih, gak peduli gue mah dia mau sakit kek, mau jungkir balik kek, bodo amat," jawab Natty memutar bola matanya, seakan malas mendengar nama Darren.

Denise kali ini memutuskan untuk menahan responnya, daripada harus keceplosan, ia mending diam saja.

Tapi ternyata, Natty tak perlu menunggu tanggapan Ryuna dan Denise untuk melanjutkan perkataannya.

"Darren mutusin Laura dong kemaren, tsk!" Natty menggerutu.

Denise melirik Ryuna sekilas, ia tentu saja sudah tahu cerita ini dari Ryuna.

"Loh? Seriusan?" tanya Denise memasang raut wajah terkejut -yang tentunya hanya sandiwara. Melihat itu, Ryuna menyimpulkan kalau Denise harus lebih giat lagi untuk berlatih. Aktingnya buruk sekali!

"Iya, semaleman gue nemenin Laura nangis doang weh! Nih, lo liat muka gue uda macem panda," Natty menunjuk ke arah wajahnya yang memang cukup terlihat kelelahan.

"Putus kenapa mereka?" mendengar tanya yang Denise ajukan, tubuh Ryuna mendadak terasa lemas.

"Sumpah, lo pada gak bakalan- Argh, gak gak, gue belum bisa ceritain ini. Nanti dah kalau Laura uda baikan, mungkin dia bakalan cerita ke kalian juga," tutur Natty.

"O-okay, hope she's getting well. Sampe sakit begitu anaknya, Laura sayang banget berarti ya sama Darren," simpul Denise dengan maksud ingin mengakhiri pembahasan ini. Cukup sudah ia menjahili Ryuna yang sedang mengandung calon keponakannya.

"Iya, kaget juga gue liat Laura sampe segitunya. Kena karma kali ya dia, malah jadi sayang beneran sama Darren," pernyataan Natty barusan bukan hanya memancing rasa kepo Denise namun juga Ryuna. Apa maksud Natty barusan?

"Jadi dulu, dia cuma pura-pura doang sayangnya ke Darren?"

Denise yang ingin bertanya pertanyaan yang kurang lebih sama justru disela lebih dulu oleh Ryuna.

"Oopsie, maminya si bocil kok jadi emosi," batin Denise melihat kilatan emosi yang tersirat di ekspresi nada bicara Ryuna.

•••

"Udah baikan lo?" Ryuna baru saja pulang dan melihat Darren sedang terbaring di sofa dengan TV menyala.

"Sore banget lo baliknya," bukan menjawab, Darren malah berkomentar.

"Latihan teater dulu tadi," sahut Ryuna berjalan menghampiri Darren untuk mengecek suhu tubuh sang pemuda. Ada sedikit rasa lega mendapati suhu tubuh Darren mulai menurun. Meski ekspresi dan raut wajah Darren masih tampak agak pucat dan lemas.

"Kabarin lain kali," ucap Darren terlihat tak terganggu dengan kehadiran Ryuna.

"Leo mana?"

"Ke Bandung, tadi gue paksa dia buat nyusulin sendiri pake mobil," jawab Darren sekenanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.

Ryuna ragu Darren benar-benar menonton tayangan pada layar televisi di sana.

Melihat situasi Darren kini, mau tak mau membuat nama Laura melintas di benak Ryuna. Terlebih setelah mengetahui sebuah fakta baru dari Natty di kantin tadi.

Ryuna tak pernah mau peduli, apalagi ikut campur hubungan orang lain, termasuk Darren sekalipun. Hanya saja, rasa ingin tahu membuat mulut Ryuna gatal untuk bertanya.

"Ren, lo masih mikirin Laura?" dan Ryuna kalah dengan rasa penasaran tersebut.

Pertanyaan itu berhasil mengalihkan lamunan Darren dari layar televisi. Tak ada kata terucap, hanya ada raut heran di wajah sang pemuda. Ia merasa aneh mendengar pertanyaan tadi.

Tumben?

Gelengan kepala menjadi jawaban Darren.

Ia tak berbohong. Melihat waktu yang terus berjalan dan segala yang terjadi, Darren sadar bahwa sudah tak ada waktu lagi baginya untuk meratapi Laura.

Sudah tidak sempat.

Ada perkara yang lebih penting yang harus segera ia lakukan.

"Bohong," Ryuna tidak percaya dan Darren memaklumi itu.

"Ryu, malem ini lo bisa nginep dulu di rumah Denise?" entah untuk mengalihkan pembicaraan atau apa, kini gantian Ryuna yang dibuat bingung.

Mengapa Darren memintanya pergi?

"Kenapa gue harus nginep ke tempat Denise? L-lo ngusir gue?" terdengar bodoh memang, namun Ryuna mengakui kini pikirannya seketika dipenuhi berbagai asumsi.

Apakah Darren mengurungkan niatnya untuk bertangung jawab dan mau mengusirnya pergi?

Apakah Darren menyerah dan memutuskan untuk tak mau peduli lagi?

Apakah Darren berencana untuk lari?

Apak–

"Gak gitu, Ryu. Gue lagi butuh waktu sendiri dulu."

"Gak, gue gak mau."

"Ryu, sebentar aj–"

"Ren, jangan bilang kalau lo mau kabur?" Ryuna tidak paham dengan dirinya sendiri. Rasa takut akan ditinggal begitu kuat menghantui pikiran Ryuna. Padahal ia bukanlah jenis orang yang gampang panik begini.

Perasaannya tidak karuan. Dan ia sendiri tak paham mengapa suasana hatinya terus menerus kacau beberapa waktu belakangan ini.

Apakah Darren berubah pikiran dan memutuskan untuk kembali pada Laura?

Apa ia seharian ini masih terus memikirkan Laura?

Dan banyak sekali asumsi-asumsi liar berputar di pikiran kalut Ryuna. Membuat emosinya memanas tanpa alasan yang jelas.

"Darren, jawab! Lo beneran mau pergi ninggalin gue?" Bahkan air mata merembes dari kedua mata Ryuna. Ia sungguh takut harus kembali menghadapinya seorang diri lagi seperti dulu.

Tanpa sadar, Ryuna kini hanya memiliki Darren sebagai pegangannya.

Bersambung...

HALO HAI? Pada masih baca & nungguinkah?
Terimakasih ya kalau kamu masih di sini bersama perjalanan Darren Ryuna ❤️
Maaf sebesar-besarnya buat hiatus dadakanku, hehe
Sekarang aku juga belum bisa janji untuk update rutin, BUT i'll try my best ❤️

Menurutmu, Darren mau kemana nih gengs?
Kasihan ya si calon ibunda, perasaannya serba gak stabil huhuhu 😥

Ayuk comment, aku kepo sama  skenario tebakan temen-temen hehehehe...

FOLLOW ME!

Instagram/Twitter/TikTok: halulogy_

Continue Reading

You'll Also Like

51.1K 6.1K 20
"ᴋᴀᴜ ᴛᴇʀʙɪᴛ ʜᴀʀɪ ɪᴛᴜ, ᴅᴀɴ ᴛᴇɴɢɢᴇʟᴀᴍ sᴀᴀᴛ ɪɴɪ"-ʜᴜᴀɴɢ ʀᴇɴᴊᴜɴ 🌱ʟᴏᴋᴀʟ ɪɴᴅᴏɴᴇsɪᴀ 🌱 ᴅɪʜᴀʀᴀᴘᴋᴀɴ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴠᴏᴛᴇ sᴇʙᴇʟᴜᴍ ᴀᴛᴀᴜ sᴇsᴜᴅᴀʜ ᴍᴇᴍʙᴀᴄᴀ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ɪɴɪ ᴍᴜʀɴɪ ᴅ...
40.1K 6.1K 86
[Minta tolong banget, jangan diplagiat yaㅠ_ㅠ makasih atas perhatiannya] Sebuah deretan kata yang masih penuh cacat. "Cinta itu ibarat frasa. Gabungan...
1.9M 67.8K 24
【COMPLETED】 Hanya tentang Jaemin, Renjun dan kegiatan panas mereka. ⚠️ Jaemin top! ⚠️ Renjun bot! ⚠️ Jaemren only! ⚠️ BDSM, explicit content dan bany...
81.6K 4.6K 15
Intinya, semua berawal dari kedatangan Renjun sebagai murid baru, yang mengubah seorang Jaemin dan Haechan. Atau lebih tepatnya mereka berdua naik ta...
Wattpad App - Unlock exclusive features